Reinkarnasi Sang Asura ( 10.000 Kehidupan )

Reinkarnasi Sang Asura ( 10.000 Kehidupan )
Penyelidikan Penguasa Dinasty Kuno Jing We


__ADS_3

Tanpa menunggu jawaban dari Jing Chen dan Jing Lujie. Penguasa Dinasty Jing We pun menghilang dari tempatnya.


Dret..!!


Wuss wuss. !!


Sementara Jing Chen dan Jing Lujie yang masih di dalam istana kini saling memandang satu sama lain.


“Apakag tidak apa-apa membiarkan ayah menyelidikinya?” Tanya Jing Lujie.


“Aku takut jika ayah terbawa amarah, lalu berada di luar kendali sehingga langsung menangkap Jendral Perang Dong Lu.” Sambung Jing Lujie.


Jing Chen pun langsung menggelengkan kepalanya. “Untuk masalah besar seperti ini, ayah selalu berhati-hati dalam bertindak, jadi kau tidak perlu khawatir.” Jawab Jing Chen.


“Lebih baik kita jalankan saja perintah ayah, jika tidak, ia akan kembali marah,” sambung Jing Chen dan langsung mengajak adiknya pergi.


Wuss..!!


Wuss..!!


...


Tap tap..!!


Penguasa Jing We muncul tidak jauh dari kediaman Jendral Perang Dong Lu.


Jendral Perang Dong Lu adalah sosok Jendral terkuat pertama milik Dinasty Kuno. Jadi ia mempunyai wilayah kekuasaan dan memiliki banyak pengaruh. Bahkan banyak yang menganggap jika wilayah Jendral Perang Dong Lu setara dengan wilayah Istana Kedua yang di pimpin oleh Jing Lujie.


Untuk kekuatan pasukan, wilayah Jendral Perang Dong Lu, dari luar terlihat di bawah Istana kedua, tapi nyatanya itu jauh lebih kuat, bahkan menyamai kekuatan pasukan Istana Pusat Dinasty Kuno. Itulah yang Jing We dengar dari cerita Jing Chen.


Kini Jing We mencoba menyelidiki secara langsung apakah perkataan putranya benar adanya tentang kekuatan pasukan milik Jendral Perang Dong Lu atau salah.


Tap tap..!!


Setelah menyamar menjadi rakyat biasa, Jing We pun melangkah masuk ke wilayah kekuasaan Dong Lu.


“Berhenti, tunjukkan identitasmu jika ingin masuk Kota,” teriak penjaga dengan lantang.


Jing We pun langsung memasang wajah bingung.


“Maaf Tuan, saya berasal dari desa terpencil yang ada di wilayah sana, jadi saya tidak mempunyai apa-apa selain sayur dan daging yang akan saya jual di kota ini,” ucap Jing We menunjukkan buntalan berisi sayur dan daging.


“Jika begitu, kau perlu membayar 1 koin emas untuk biaya masuk,” ucap penjaga mengulurkan tangannya dengan acuh tak acuh.


“Ta..Tapi saya tidak-”


“Jika begitu kau harus bekerja selama 1 minggu dulu di tambang agar bisa tinggal di dalam kota untuk menjual sayur dan dagingmu,” ucap penjaga dengan senyum tipis.


“Apakah saya mendapat upah saat bekerja di tambang?” Tanya Jing We.


“Tentu saja, upahmu sangatlah besar, apakah kau mau?” Jawab sang penjaga lalu melirik Jing We dengan seutas senyum licik.


“Eeh,, jika begitu saya lebih baik ke kota lain saya,” ucap Jing We membalik badannya.

__ADS_1


Bruk..!!


Pundak Jing We seketika di pegang dan di tekan oleh sang penjaga. “Siapa yang memberimu izin pergi hah, sekali melangkah kesini maka kau harus mentaati peraturan kota ini, jadi kau harus bekerja di sini selama 3 hari jika ingin keluar dari kota,” ucap penjaga langsung menyeret Jing We.


Jing We pun pura-pura terkejut dan meronta meminta pertolongan, tapi orang-orang yang ada di sekitarnya terlihat acuh, seolah ia tidak melihat keberadaan Jing We.


Tap tap..!!


Saat di seret, Jing We dalam hati bergumam. “Hemm..!! Benar apa yang Chen'er ceritakan, bahkan ini jauh lebih buruk dari yang Chen'er ceritakan.”


“Mari kita lihat lebih dalam lagi, akan ku hancurkan kalian semua jika semua yang Chen'er katakan benar adanya,” tatapan mata Jing We seketika berubah dingin.


Tap tap..!!


Wuss..!!


Bruk..!!


“Kita mendapat pekerja baru, bawa dia ke tempat tambang yang baru,” ucap sang penjaga yang menyeret Jing We.


Sementara terlihat ada dua penjaga gerbang tambang yang melihat ada orang baru pun langsung mengangguk ke arah sang penjaga gerbang kota.


“Kau tinggal saja dia sini, kami akan membawanya sekarang,” ucap salah satu dari kedua penjaga tersebut.


Tap tap..!!


Ia pun langsung mendekati Jing We yang terlihat ketakutan dan meringkuk.


“Jangan takut Tuan, kami bukanlah penjahat,” ucap penjaga tersebut tersenyum hangat sambil mengulurkan tangannya untuk membantu Jing We berdiri.


“A..Apakah aku tidak di jadikan budak Tuan? Biasanya orang-orang yang di tangkap seperti ini, pastinya akan di jadikan budak tambang?” Tanya Jing We dengan nada polos.


“Tentu saja tidak, bahkan kau akan di gaji dengan layak dan di berikan makan 3 kali sehari,” ucap penjaga pintu tambang dengan lembut.


“Woah,, pastinya semua orang yang kerja di tambang akan betah, aku juga pastinya ingin membawa banyak orang desa kesini, apakah bisa?” Teriak Jing We dengan nada girang dan menatap penjaga dengan tatapan memohon.


Penjaga tambang yang mendengar itu, seketika tersenyum lebar.


“Haha,, tentu saja bisa, ayo akan ku bawa kau melihat-lihat lebih dulu, setelah kau membuktikannya dengan matamu sendiri, kau tentu bisa membawa penduduk desa tempatmi tinggal kesini untuk bekerja,” ucap penjaga tertawa bahagia.


Jing We pun mengangguk bersemangat saat mendengar itu.


...


Tap tap..!!


10 menit kemudian, setelah bekeliling tambang dan melihat semuanya, terlihat mata Jing We sangatlah dingin.


Namun tidak ada yang menyadarinya.


“Bagaimana? Kau melihat semua pekerja tambang sangat bahagia bukan, dan kami di sini selalu memprioritaskan para pekerja dengan baik.” Ucap penjaga tambang.


Jing We pun mengangguk bersemangat sambil memasang mata cerah.

__ADS_1


“Apakah aku bisa kembali membawa para penduduk desa tempatku tinggal?” Tanya Jing We kini menatap sang penjaga.


“Tentu saja, tapi agar kau aman, kami akan menyuruh dua penjaga kota untuk mendampingimu, anggap saja itu sebagai bentuk penghormatanku.”


“Sangat jarang aku melakukan hal seperti ini, yang menyuruh penjaga kota menjadi pengawal penduduk desa saat bepergian,” ucap Sang penjaga tambang.


...


Waktu terus berlalu.


Jing We yang meminta izin tinggal satu hari di kota untuk menjual sayur serta daging buruannya pun di berikan izin.


Dan dalam satu hari itu, diam-diam Jing We menyelidiki seluruh kota.


Setelah mendapat apa yang ia inginkan, ia pun meminta kembali ke desa.


Tap tap..!!


“Apakah desa tempat tinggalmu masih jauh?” Tanya salah satu dari dua penjaga kota.


“Sedikit lagi kita akan sampai Tuan,” jawab Jing We.


Tap..!!


“Nah kita sudah sampai,” ucap Jing We berhenti di tengah-tengah hamparan rumput yang cukup luas.


“Dimana? Dimana desanya? Kenapa aku tidak melihatnya di sekitaran sini?” Tanya salah satu penjaga kota terdengar menggeram.


“Ooh maaf Tuan, aku lupa memberitahumu, jika kita telah sampai di Alam kematian kalian,” ucap Jing We.


Dret..!!


Bom bom..!!


Dengan santai Jing We melambaikan tangannya dan seketika tubuh kedua penjaga kota langsung meledak tanpa bisa merespon.


“Hemm..!! Kalian bisa muncul,” ucap Jing We dengan nada dingin.


Wuss..!!


Wuss..!!


Tak lama dua Jendral Perang pun muncul lalu berlutut di depan Jing We.


“Salam Yang Mulia,” ucap Jendral Perang Fang Liu dan Jendral Perang He Xin.


Tanpa basa basi, setelah Jing We menyuruh kedua yang ia sangat percaya setia terhadap Dinasty Kuno datang, ia pun langsung menugaskan mereka di dua tempat.


Satu mengawasi Jendral Perang Dong Lu dan satu mengawasi seluruh area wilayah kekuasaan Jendral Perang Dong Lu.


“Apa ada pertanyaan?” Tanya Jing We.


Jendral Perang Fang Liu dan He Xin langsung menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


“Jika begitu pergilah,” ucap Jing We melambaikan tangannya.


Wuss..!! Wuss..!!


__ADS_2