
“Jangan takut, dan makanlah semua makanan yang kau sembunyikan itu, nanti aku akan menyuruh Liyun membuat makanan yang jauh lebih banyak untuk keluargamu.” Ucap Xiu Bai tertawa kecil.
Xiu Bai yang melihat raut wajah Mo Yanse ketakutan tentu mencoba sebisa mungkin untuk mencoba membuat Mo Yanse merasa senyaman mungkin.
Terlebih ia juga tentu tahu jika Mo Yanse saat makan tadi, sempat menyisihkan beberapa makanan untuk keluarganya.
Mo Yanse yang mendengar itu seketika menjadi sedikit malu lantaran ia ketahuan menyembunyikan makanan.
“Eeh itu, itu aku-”
“Tidak perlu di jelaskan, makanlah sekenyang yang kau bisa kawan kecil, kau tidak perlu malu atau ragu.” Ucap Xiu Bai langsung memotong ucapan Mo Yanse.
Xiu Bai juga terlihat memberikan isyarat untuk membersihkan tubuh Cang We dan darah yang ada di ruangan ini, agar Mo Yanse bisa makan dengan nyaman.
Qian Liyun terlihat dengan cepat melambaikan tangannya.
Wuss..!!
Tak lama, semua bau darah, bercak darah maupun tubuh Cang We langsung lenyap dalam sekejap.
Mo Yanse yang melihat itu seketika memasang wajah bersinar-sinar. Karena baru pertama kali melihat hal seperti itu.
“Hoo..!! Apa kau tertarik dengan apa yang telah ia lakukan tadi kawan kecil?” Tanya Xiu Bai dengan senyum kecil.
Entah mengapa ia merasa tertarik dengan Mo Yanse sehingga mau menemani Mo Yanse hingga saat ini.
...
Mo Yanse yang mendengar itu dengan cepat mengangguk. “Hem hem..!! Apakah aku bisa melakukan hal seperti tadi Tuan muda Bai?” Tanya Mo Yanse terdengar penuh semangat.
“Tentu kau bisa, asalkan kau mempunyai jumlah energi yang cukup untuk memindahkan semua benda yang ada di depanmu ke dalam cincin penyimpananmu. Karena apa yang Liyun lakukan tadi adalah memindahkan tubuh dan darah yang ada di depannya ke dalam cincin penyimpanannya, lalu untuk bau darah. Liyun hanya menyebar energinya ke seluruh ruangan untuk menghilangkan bau darah.” Ucap Xiu Bai langsung menjelaskan.
Mo Yanse langsung terdiam sesaat untuk mencerna apa yang Xiu Bai katakan.
“Jadi begitu ya, tapi aku tidak mempunyai energi di dalam tubuhku. Aku juga bukanlah seorang kultivator,” ucap Mo Yanse dengan nada lemas.
Melihat raut wajah Mo Yanse yang lesu. Xiu Bai pun langsung berkata. “Jika kau ingin, aku bisa mengajarkanmu untuk menjadi kultivator kuat kawan kecil, karena jika kau kuat, maka kau bisa melindungi keluargamu.”
“Bagaimana, jika kau setuju, aku yakin tidak akan lagi ada yang berani menggertak atau mencoba melukai keluargamu. Itupun asal kau kuat,” sambung Xiu Bai dengan senyum kecil.
Qian Liyun yang melihat senyum Xiu Bai, entah mengapa merasa jika ada yang di rencanakan oleh Tuan mudanya dari awal, karena ia sadar jika Tuan mudanya tidak akan mau bergerak jika tidak mendapat untung atau tujuan tertentu.
“Hais, entah malang atau bahagia nasib anak ini kedepannya," gumam Qian Liyun dalam hati, tentu Qian Liyun berani bergumam seperti itu, lantaran sadar jika Mo Yanse pasti akan menyetujui ucapan Xiu Bai.
__ADS_1
Dan benar saja, sesuai tebakan Qian Liyun. Mo Yanse dengan polosnya bangkit lalu berteriak.
“Aku mau, aku mau kuat, dan jika dengan kuat aku bisa melindungi keluargaku, akan ku lakukan apapun yang Tuan muda Bai perintahkan,” ucap Mo Yanse dengan penuh tekad.
“Nah, itu baru namanya kawan kecil kita yang pemberani,” ucap Xiu Bai langsung menyanjung Mo Yanse.
Tentu Mo Yanse merasa bangga saat di sanjung dan ia pun kini memakan semua makanan yang di sisihkan tadi atas permintaan Xiu Bai.
Sementara Qian Liyun sudah pergi untuk memesan makanan untuk keluarga kecil Mo Yanse pun kini kembali.
Tap tap..!!
Cklek...!!
Qian Liyun pun langsung masuk lalu mendekati Xiu Bai.
“Sudah Tuan muda,” ucap Qian Liyun.
Xiu Bai pun mengangguk lalu bangkit. “Ayo kita ke tempat keluargamu kawan kecil,” ajak Xiu Bai kini melirik Mo Yanse yang sudah selesai makan.
“Hem hem..!! Ayo,” ajak Mo Yanse penuh semangat.
Tap tap..!!
Saat ketiganya melangkah, terlihat jelas tidak ada yang berani mendekati ketiganya dalam jarak 10 meter.
Tentu saja mereka semua sangat ketakutan, apalagi saat Qian Liyun turun membantai para penjaga tanpa ampun, itu adalah momok menakutkan bagi mereka.
***
Sementara di wilayah Sekte Harimau Besi.
Saat ini Duan Du, Han Liu dan Anggota Iblis Pembantai terlihat begitu cepat meletakkan Bom Waktu dalam jarak 100 meter tanpa di ketahui oleh musuh.
Tentu saja sebelum berangkat, Duan Du sempat memberitahu mereka jika mereka tidak boleh menaruh Bom Waktu di dekat para budak di tahan, dan semuanya langsung setuju.
Wuss..!!
Tap tap..!!
Duan Du langsung berhenti lalu menempel Bom waktu di dekat kemah buatan para murid sekte.
“Siapa di sana,” teriak seseorang yang berasal dari dalam kemah.
__ADS_1
Duan Du yang mendengar itu, langsung mengambil Bom waktu yang ia tempel lalu berubah menjadi bayangan.
Wuss..!!
Tap tap..!!
Bersamaan dengan itu, sosok yang tadinya berteriak langsung keluar.
“Hem..!! Apa hanya perasaanku saja?” Gumam sosok pria tua yang di yakini seorang penetua Sekte Harimau Besi.
Setelah melihat sekelililingnya dengan teliti, ia pun langsung kembali ke dalam tenda.
Tap tap..!!
Saat ia masuk ke dalam tenda, wajahnya seketika di penuhi amarah lantaran budak wanita yang tadi akan ia nikmati, kini sudah menghilang.
Bukan hanya itu saja, senjata, jubah miliknya, semua harta miliknya yang berharga lenyap dan hanya menyisakan barang rongsokan saja.
“Dasar sialan, siapapun kau, akan ku hancurkan tubuhmu hingga tidak di kenali,” teriak Penetua tersebut.
Teriakan penetua tersebut sangatlah besar, hingga dapat di dengar oleh semua orang yang ada seluruh tenda atau area markas.
...
Wuss..!!
Wuss..!!
Sementara Duan Du yang sedang menggendong seorang gadis berusia 14 tahun kini terlihat tersenyum lebar saat mendengar teriakan yang ia yakini itu di peruntukkan untuk dirinya.
“Heh,, dasar tua bangka cabul, jika saja tidak banyak penduduk yang kalian tahan, sudah ku kebiri alat kelaminmu itu.” Dengus Duan Du.
“Jadi untuk menghilangkan amarah sementaraku, kau harusnya bersukur jika semua hartamu ini di jadikan kompensasi,” sambung Duan Du dengan senyum liciknya.
Wuss..!!
Terlihat Duan Du terus melesat menjauhi markas musuh bersama Han Liu yang terlihat selalu tersenyum lebar tanpa henti seperti Duan Du.
Saat Duan Du tak sengaja melihat jari tangan Han Liu yang di penuhi Cincin penyimpanan, Duan Du seketika merasa jijik.
“Dasar tak tahu malu, orang sekuat dan terhormat seperti dirimu mencuri harta rongsok. Apa kata dunia jika mereka tahu,” dengus Duan Du langsung memprovokasi Han Liu.
“Heh,, kenapa aku mesti malu, kan kau yang mengajariku, jika kau tidak mencuri semua yang ada di dalam tenda tadi, aku tak akan melakukan hal yang seperti ini. Jadi jika ingin menyalahkan seseorang. Maka itu salahmu,” ejek Han Liu langsung membuat Duan Du membeku sesaat.
__ADS_1
“Heng,, siapa juga yang mencuri, aku melakukan ini karena aku akan memberikan gadis ini semua harta ini sebagai kompensasi tahu,” dengus Duan Du langsung berkilah.