Reinkarnasi Sang Asura ( 10.000 Kehidupan )

Reinkarnasi Sang Asura ( 10.000 Kehidupan )
Kebahagian Adik-Adik Mo Yanse


__ADS_3

“Awas saja kalian berdua, akan ku buat kalian bersenang-senang dengan nenek nanti,” dengus Xiu Bai dalam hati.


...


“Tuan muda. Apa kau baik-baik saja?” Tanya Qian Liyun kini memberanikan diri untuk menepuk pundak Xiu Bai.


Xiu Bai pun seketika tersadar dari lamunannya.


“Ahh tidak apa-apa, mari kita lanjutkan perjalanan menuju tempat tinggal kawan kecil kita,” ucap Xiu Bai kini melirik ke arah Mo Yanse.


Mo Yanse yang sempat berhenti pun kembali melanjutkan perjalanan untuk menuntun Xiu Bai dan Qian Long ke tempat tinggalnya.


Tap tap..!!


Tidak sampai beberapa menit, kini Mo Yanse berhenti di sebuah tempat kumuh dan lokasinya terjadi cukup jauh dari Kota.


Tap tap..!!


“Kakak Yan, semuanya, kakak Yan telah kembali, dia kali ini pasti membawa banyak makanan,” teriak anak perempuan yang terlihat seusia dengan Xiu Bai.


Ia langsung berlari menghampiri Mo Yanse dengan wajah gembira.


Tapi langkahnya seketika terhenti saat ia menyadari ada orang asing ikut datang bersama kakaknya.


Terlihat jelas raut wajahnya yang ketakutan saat melihat orang asing.


Xiu Bai yang melihat itu pun langsung menyadari jika mereka dulunya pasti di siksa oleh penduduk kota yang tak lain adalah bawahan Qian Liyun yang menguasai kota pada saat itu.


“Ka..Kakak Yan, apa mereka datang untuk memukul kakak lagi?” Tanya anak perempuan tersebut langsung bersembunyi di balik punggung Mo Yanse.


Tap tap..!!


Tepat setelah anak perempuan tersebut selesai bertanya, ada 2 anak perempuan yang seusia dengan anak yang di belakang punggung Mo Yanse datang dengan berlari kecil bersama 3 anak laki-laki berusia sekitar 3 tahun.

__ADS_1


Namun langkah mereka juga langsung terhenti saat melihat dua orang asing.


“Siapa kau? Apa kau juga ingin memukul kakak Yan,” teriak salah satu anak laki-laki langsung menunjuk Xiu Bai dan Qian Liyun tanpa rasa takut.


“Nhe'er, jaga sikapmu, Tuan muda Bai adalah penolong kita, dia kesini untuk membawakan kita makanan, jadi cepat minta maaf,” ucap Mo Yanse dengan nada tegas sambil melirik Mo Nhe.


Mo Nhe yang mendengar itu seketika menjadi salah tingkah saat mendengar ucapan kakaknya.


“I..Itu itu, aku-” Sebelum Mo Nhe menyelesaikan ucapannya.


Xiu Bai lebih dulu berbicara.


“Tidak apa-apa, kawan kecil kita yang pemberani ini, sama sekali tidak salah, bahkan itu pantas ia lakukan jika berhadapan dengan orang asing,” ucap Xiu Bai dengan senyum kecil.


“Terlebih lagi saat melihat wajah mereka yang khawatir serta di liputi rasa takut, aku menduga jika dulu kalian pasti pernah di perlakukan tidak senonoh oleh pemilik Rumah makan bersama para bawahannya bukan,” sambung Xiu Bai sambil melirik Mo Yanse dan anak-anak yang lainnya.


“Itu benar, setiap kali mereka kesini, kakak pasti akan di pukuli, tapi kakak tetap mencoba untuk terlihat kuat dan berusaha datang ke kota untuk mencarikan kami makanan.” Teriak anak perempuan dengan nada lantang dan terdengar kesal, namun terlihat sangat polos.


“Hemm..!! Kami juga ingin mengikuti kakak, tapi mereka mengancam jika kami ikut, maka kakak pasti akan di culik dan di jadikan budak, jadi kami hanya bisa diam saja.” Sambung Mo Nhe dengan wajah di penuhi dendam.


Melihat reaksi Qian Liyun, tentu saja Mo Yanse cukup cerdas jika saat ini Qian Liyun pastinya merasa bersalah.


“Anda tidak bersalah Tuan Jendral, jadi jangan menyalahkan diri anda lagi,” ucap Mo Yanse.


Mendengar ucapan Mo Yanse, tentu saja Xiu Bai dan Qian Liyun sedikit terkejut, lantaran kata-kata tersebut lebih cocok untuk orang dewasa mengatakannya.


“Kau cukup berpikir dewasa juga kawan kecil, aku tidak salah menilaimu saat pertama kali melihat dirimu,” ucap Xiu Bai langsung melangkah lalu menepuk pundak Mo Yanse.


Entah mengapa saat tangan merasakan tangan Xiu Bai yang menepuk pundaknya, Mo Yanse seketika merasakan nyaman.


“Hem hem..!! Terimakasih Tuan muda Bai,” ucap Mo Yanse dengan nada polos.


“Baiklah jika begitu, apa kalian semua lapar?” Tanya Xiu Bai kini mengalihkan pembicaraan.

__ADS_1


“Tentu saja Tuan, tapi mana makanannya? Kenapa Li'er tidak melihatnya?” Teriak Mo Li celingas celingus melihat tangan Xiu Bai yang tidak membawa apa-apa.


“Ooh,, makanannya ada di sini, apa kalian ingin makan di tempat seperti ini atau makan di dalam,” ucap Qian Liyun langsung menunjuk cincin penyimpanan yang terselip di jarinya.


“Eeh, apa paman berbohong? Mana ada makanannya di situ, itu kan cincin pernikahan paman,” ucap Mo Ji Ling sambil memiringkan kepalanya.


“Benar benar, apa paman membohongi kami ya,” sambung Mo Nhe dengan memasang wajah cemberut.


Mo Yanse, 'Xiu Bai dan Qian Liyun pun langsung tersenyum lucu saat melihat wajah kelima anak tersebut yang terlihat sangat lucu saat marah dan memasang wajah cemberut.


“Hehe,, kalian tenang saja, Tuan Jendral tidak berbohong kok, bahkan kakak melihat dia menyimpan benda yang jauh lebih besar tadi dan memasukkannya ke dalam cincin tersebut.” Ucap Mo Yanse langsung meyakinkan adik adiknya.


Mendengar itu, mereka semua pun langsung percaya, karena tentu saja mereka tahu jika kakak tertua mereka tidak akan pernah berbohong. Walau kakak tertua mereka berbohong sekalipun, mereka tentu akan lebih percaya ucapan Mo Yanse dari pada orang asing.


“Kalau begitu, ayo kita masuk,” ajak Mo Li dengan wajah penuh semangat.


“Ayo ayo, Nhe'er juga sangat lapar, semoga saja makanannya banyak kali ini,” sambung Mo Nhe dengan teriakan lantang.


Tap tap..!!


Xiu Bai dan Qian Liyun yang di seret oleh kelima adik Mo Yanse pun hanya bisa tersenyum kecil sambil mengikuti anak-anak.


...


Beberapa saat kemudian, setelah masuk ke dalam rumah yang cukup besar, namun telah di tinggal oleh pemiliknya. Qian Liyun langsung mengeluarkan banyak makanan yang langsung membuat anak-anak berseru di penuhi wajah bahagia.


“Nyam nyam,, itu punya ku kak, kau jangan mengambilnya,” teriak Ling'er langsung cemberut saat hendak mengambil sebuah ayam bakar, Mo Nhe lebih dulu mengambilnya.


Bukan hanya Mo Ji Ling dan Mo Nhe saja yang berebut makanan. Bahkan kini Mo Li, Mo Gian dan Mo Zang juga saling berebut makanan.


“Sudah-sudah, kalian tidak perlu berebut makanan, lihatlah, makanannya masih banyak, jadi kalian bebas memilih,” ucap Xiu Bai langsung menengahi agar mereka tidak lagi berebut makanan.


Bukannya mendengarkan, mereka malah semakin jadi dalam merebut makanan masing-masing. Bahkan saat akan memasukkannya ke dalam mulut pun, mereka langsung saling menyambar satu sama lain.

__ADS_1


Melihat tingkah mereka semua, Xiu Bai hanya bisa menggelengkan kepala sambil tersenyum hangat. Karena ia merasa wajah mereka begini, lantaran mereka terlihat tidak pernah merasakan makanan enak dan tidak pernah hidup nyaman.


Terlihat jelas jika mereka semua memaksakan diri untuk saling mendorong menjadi dewasa, di karenakan tekanan hidup yang mereka jalani.


__ADS_2