
Wajah Duan Du dan Tu Long seketika membeku, di sertai air mata langsung menetes saat melihat wajah mereka yang mengenakan jubah hitam di selembaran kertas.
Tentu saja mereka paham betul jika tidak ada yang mengenal wajah mereka di tempat asing seperti ini, dan tiba-tiba saja seseorang datang membawa selembaran gambar wajah mereka. Itu artinya pasti orang yang membuat selembaran pencarian ini adalah salah satu keluarga mereka.
“Si..Siapa... Siapa nama Tuanmu?” Tanya Duan Du dengan nada sedikit bergetar.
“Namanya Xiu Bai, atau biasa ku panggil Tuan muda Bai,” jawab Qian Liyun.
Duan Du dan Tu Long pun saling memandang sesaat. “Apakah itu Tuan muda?” Tanya Tu Long.
“Mana ku tahu idiot, kau kan tahu jika kita telah bersama setelah kemunculan kita di tempat tidak kita kenal ini selama 10 tahun,” dengus Duan Du.
“Tapi aku rasa itu mungkin saja kakak, atau bisa jadi Ye'er, Han'er,” sambung Duan Du memegangi dagunya.
Wung..!!
Bam..!!
“Dari pada banyak berpikir, lebih baik kita temui saja dia, terlebih kita juga bisa bebas dengan mengikutinya,” ucap Tu Long langsung menepuk kepala Duan Du dengan keras hingga menyebabkan bunyi ledakan kecil.
Terlihat kini wajah Duan Du sedikit menghitam, tapi tak lama ia tersenyum kecil. “Ada kalanya otakmu cukup encer juga paman, hehe,” kekeh Duan Du.
“Lalu kapan kami akan menemui Tuan-mu itu?” Tanya Duan Du kini melirik Qian Liyun dengan wajah serius.
“Eeh,, apa tadi ucapanku tidak jelas ya,” ucap Qian Liyun.
“Jika begitu akan ku ulangi sekali lagi, aku datang kesini tidak datang menjemput kalian, Tuan hanya menyuruhku menunjukkan gambar ini terhadap kalian dan ingin melihat reaksi kalian.” Ucap Qian Liyun.
Tepat setelah Qian Liyun selesai bicara, entah sejak kapan Qian Liyun mengambil tokennya kembali dari tangan Duan Du, kini Qian Liyun langsung mengalirkan token tersebut. Bersamaan dengan itu, tubuh Qian Liyun menghilang.
“Kalian tunggu saja di sana, setelah Tuan mengidentifikasi pertemuan kita dan percakapan kita, mungkin ia sendiri yang akan datang menjemput kalian,” teriak Qian Liyun yang terlihat tersisa hanya mulutnya saja.
...
Melihat Qian Liyun telah pergi, wajah Duan Du dan Tu Long seketika berubah.
“Awas kau bangsat, berani sekali kau mempermainkan ayahmu ini, tunggu saja setelah aku keluar dari sini. Akan ku buat kau jadi samsak tinjuku setiap hari,” teriak Tu Long langsung meraung.
“Dasar idiot, kecilkan suaramu,” teriak Duan Du mengayunkan kaki kanannya tepat ke arah mulut Tu Long.
Wuss..!!
__ADS_1
Bom..!!
Bom bom bom..!!
***
Sementara di sebuah kedai, Xiu Bai, Du Jian, Meng Chen dan Han Liu kini terlihat duduk santai sambil membahas tentang wilayah-wilayah yang ada di Kekaisaran ini.
Tap tap..!!
Pandangan Du Jian dan Han Liu pun langsung mengarah ke pintu masuk saat mendengar suara langkah kaki.
Kini mereka berdua melihat sosok mengenakan tudung melangkah masuk dan berjalan ke arah tempat duduk mereka.
“Salam Tuan muda, Tuan Jian, Tuan Chen, Tuan Liu,” sapa sosok bertudung yang tak lain Qian Liyun.
“Duduk lah lalu nikmati dulu arak atau teh yang ada di meja,” ucap Xiu Bai langsung menyuruh Qian Liyun duduk.
Qian Liyun pun langsung duduk sambil menuang teh ke gelas kecil lalu mencicipinya secara perlahan.
5 menit kemudian.
“Bagaimana? Apa kau sudah merekam apa yang aku minta?” Tanya Xiu Bai.
“Sudah Tuan muda, tapi sebelum itu, bolehkah aku bertanya?” Ucap Qian Liyun mengangguk sambil berharap di berikan izin bertanya.
“Silahkan, tanya sesukamu,” melihat Xiu Bai mengangguk ringan, Qian Liyun pun merasa lega.
“Mengapa Tuan muda menyuruh ku merekam aktipitasku selama setahun ini dan menyuruhku merekan semua area Tambang termasuk dua orang yang Tuan muda cari?” Tanya Qian Liyun penasaran.
“Padahal jika Tuan muda mau, Tuan muda bisa melihat ingatanku,” sambung Qian Liyun.
Mendengar itu, Xiu Bai yang kini menyeruput tehnya, terdiam sesaat.
“Hemm..!! Apa kau benar lupa atau memang tidak menyadarinya jika ingatanmu telah di pasang segel oleh Pihak Kekaisaran, jadi jika aku menelusuri ingatanmu, maka yang ku dapat hanya ingatan yang tidak berguna saja.” Kata Xiu Bai melirik Qian Liyun.
Qian Liyun tentu tahu akan hal tersebut, tapi ia tak menduga jika hanya ingatan tidak berguna saja yang bisa di lihat jika menggunakan metode penjelajah ingatan. Padahal setahunya, metode Tuan mudanya itu adalah teknik yang luas biasa.
“Jadi seperti itu ya, pantas saja Tuan muda dulu langsung bertanya kepadaku tanpa menggunakan metode penjelajah ingatan,” ucap Qian Liyun mengangguk paham.
Ia pun kini mengeluarkan giok perekam suara dan gambar, atau biasa di sebut Giok Phoenix Biru.
__ADS_1
Melihat jumlah Giok Phoenix Biru ada 13, Xiu Bai pun langsung paham jika satu giok hanya mempunyai batas waktu merekam satu bulan.
“Mana Giok yang kau rekam saat bersama dengan dua orang yang aku cari?” Tanya Xiu Bai melirik Qian Liyun.
“Ini Tuan muda,” tunjuk Qian Liyun ke arah Giok yang memiliki pancaran paling terang, seolah-olah akan meledak kapan saja.
Xiu Bai pun langsung meraihnya lalu bangkit. “Aku akan ke kamar untuk melihatnya terlebih dahulu, kalian tunggu saja di sini,” ucap Xiu Bai langsung melangkah ke arah tangga yang di atasnya adalah penginapan.
Tap tap..!!
Melihat Xiu Bai sudah tidak terlihat, Du Jian, Meng Chen dan Han Liu yang dari tadi diam sambil menikmati arak mereka, kini menatap tajam Qian Liyun.
“Hei, bisa kau ceritakan secara rinci tentang dua orang yang kau temui itu? Apakah mereka kuat dan berbahaya? Atau hanya kultivator pada umumnya seperti dirimu.” Tanya Du Jian dengan wajah yang di penuhi rasa penasaran.
“Hemm..!! Katakan juga sifatnya, apa ia memiliki ciri-ciri seperti Tuan muda Klan Besar, Tuan muda Jenius Sekte sombong dan angkuh yang hanya bisa menggertak orang lemah?” Sambung Meng Chen dengan nada serius.
“Hem hem,, aku hanya ingin tahu apakah mereka kuat, jika ia, mungkin mereka cocok sebagai alat latihanku,” balas Han Liu terlihat dengan mata sedikit bersinar.
Glek..!!
“I..Ini,” Qian Liyun terlihat tidak mampu menyelesaikan ucapannya lantaran saking gugupnya. Terlebih ia saat ini tidak bisa menggerakkan tubuhnya akibat tekanan yang hanya tertuju ke dirinya dari aura yang keluar dari tubuh ketiganya saat ini.
“Ini apa?” Tanya Du Jian mendesak.
“Jangan takut, katakan saja,” sambung Meng Chen.
“Ini itu, ini itu, katakan dengan jelas,” dengus Han Liu seketika wajahnya berubah drastis dari wajah penuh ceria menjadi menyeramkan.
“Sialan, mengapa nasibku sial seperti ini?” Gumam Qian Liyun dalam hati. “Ayolah Tuan muda, cepat datang agar aku bisa lepas dari dua iblis dan satu iblis jadi-jadian ini,” sambung Qian Liyun berharap.
...
Sementara Xiu Bai yang kini telah duduk di kursi kamarnya langsung mencengkram erat Giok Phoenix Biru.
Krak krak..!!
Piar..!!
Bersamaan dengan hancurnya Giok tersebut, muncul lintasan energi membentuk gambar dan suara percakapan.
Saat pandangan Xiu Bai melihat dua pemuda saling berhadapan yang terlihat ingin bertarung, entah mengapa jantung Xiu Bai seketika berdetak melewati batas normal.
__ADS_1
Deg deg..!!
Deg deg..!!