
“Apa salahku sehingga kalian ingin memukulku,” teriak Ren Ji langsung berniat melarikan diri.
Dret..!! Wuss wuss..!!
***
Keesokan harinya.
Kini terlihat Ren Ji muncul dengan wajah babak belur.
Tap tap..!!
“Haha,, da apa dengan wajahmu itu?” Tanya Tu Long terlihat tanpa malu tertawa.
“Huh, Tuan Tu, bukannya kau iba, malah kau ini tertawa di atas penderitaan orang lain,” dengus Ren Ji.
“Benar, kau ini tidak boleh begitu paman, akan lebih baik kau bertanya bagaimana rasanya di pukul oleh wanita, dengan begitu kita mendapat masukan nantinya,” ucap Duan Du terlihat memasang wajah polos, namun ucapan Duan Du jauh lebih menyakitkan dari Tu Long.
Tu Long yang mendengar itu pun langsung mengangguk, dan merasa mendapat pencerahan, lantaran ia akan menikah tinggal menunggu hari.
“Kau ini cerdas juga bocah, jarang sekali kau mendukungku begini,” ucap Tu Long langsung memandang ke arah Ren Ji yang kini memasang wajah jelek.
Tapi Tu Long terlihat tidak peduli.
“Ayo katakan bagaimana rasanya?” Tanya Tu Long menaikkan sebelah alisnya.
“Kau ingin tahu? Maka coba saja rasakan nanti saat kau menikah,” dengus Ren Ji langsung bangkit dan melangkah ke tempat Xiu Bai berada.
Tap tap..!!
Ppfftt..!!
Hahaha..!!
Hahaha..!!
Duan Du yang melihat wajah jelek Tu Long, langsung tertawa bahagia.
Tu Long yang cemberut, kini merasa di kerjai lagi oleh Duan Du.
Tatapannya pun mengarah ke Duan Du. “Dasar bocah sialan, rupanya kau perlu aku pukul,” dengus Tu Long langsung bangkit.
Drett..!!
Sebelum tangan Tu Long meraih kerah baju Duan Du, dengan cepat Duan Du melarikan diri.
__ADS_1
“Dasar bocah sialan, jangan lari kau,” teriak Tu Long langsung melesat mengejar Duan Du.
...
Prok prok..!!
“Haha,, aku menang,” teriak Bai Da Xing terlihat bertepuk tangan bahagia.
Lan Yuheng yang menjadi lawan taruhannya, terlihat memasang wajah jelek. “Sialan, dia memang benar-benar bodoh, bisa-bisanya Paman Tu malah mengejar Paman Du,” dengus Lan Yuheng langsung memberikan cincin penyimpanan miliknya kepada Bai Da Xing.
“Hehe,, terimakasih kakak ku yang tampan,” kekeh Bai Da Xing langsung meraih cincin penyimpanan Lan Yuheng.
Tidak ada yang menduga jika keributan yang Tu Long dan Duan Du lakukan, akan di jadikan taruhan oleh Bai Da Xing dan Lan Yuheng.
Tepat di sebelah Bai Da Xing dan Lan Yuheng, terlihat Bai Ha, Bai Hu, Du Jian dan Meng Chen, kini bermain permainan yang mirip dengan catur.
“Ayo kak, kau pasti menang,” ucap Bai Hu duduk di samping kakaknya Bai Ha, yang fokus berpikir akan memajukan pionnya kemana.
“Ayo, jangan sampai kalah sialan, jika kau kalah, aku tidak akan memaafkanmu,” tak mau kalah Du Jian terdengar ikut menyemangati saudaranya dengan sedikit ancaman.
Meng Chen yang mendengar itu, bukannya tenang, malah semakin risih.
Brak..!!
“Sialan, apakah kau tidak bisa diam,” teriak Meng Chen langsung menggbrak meja.
“Woah, ini tidak bisa di biarkan, mereka pasti sengaja kak,” ucap Bai Hu langsung bangkit.
“Siapa yang sengaja hah, apa kau tidak lihat dia dan kau selalu berteriak tidak jelas, itu sangat menganggu,” dengus Meng Chen melirik ke arah Bai Hu.
“Sstt,, diam,” ucap Bai Ha dengan nada dingin.
Seketika keduanya langsung terdiam.
“Aku sangat ingat dimana tempat poin, Jendral bersama Raja yang tersisa, jadi ayo kita mulai lagi,” ucap Bai Ha.
Mendengar itu, Meng Chen dan Du Jian dengan cepat-cepat menggelengkan kepalanya.
“Itu tidak bisa, kita harus memulai dari awal,” ucap Meng Chen dan Du Jian serempak.
Melihat keduanya keberatan secara serempak, Bai Ha pun sadar jika keduanya sengaja menghancurkan permainan. Tapi Bai Ha mengangguk santai, karena ia merasa tetap akan menang, walau di mulai dari awal.
“Baiklah, ayo mulai dari awal,” ucap Bai Ha.
Prok..!!
__ADS_1
Dengan cepat Meng Chen dan Du Jian bertepuk tangan bahagia.
“Hehe tentu saja,” ucap Meng Chen dan langsung merapikan permainan mereka dari awal.
...
Berbeda dengan anggota keluarga Xiu Bai yang terlihat ribut. Kini terlihat Chen Long dan Bai Han duduk dengan santai sambil menikmati teh yang ada di meja.
“Setelah ini, apa kita akan bersama lagi atau berpisah Han'er?” Tanya Chen Long dengan nada serius.
“Hemm..!! Aku tak tahu paman, mungkin saja kita bersama, dan mungkin saja kita berpisah, karena ini tergantung ayah,” jawab Bai Han sambil melirik ke arah ayahnya yang sedang duduk bersama Bai Chu Ye, Ren Jiang, Ren Len, Ren Ji dan Ren Saxin.
“Aku yakin jika Ye'er jadi menikah, maka ada besar kemungkinan kita akan berpisah secara berkelompok.” Ucap Bai Han kini kembali melirik ke arah Chen Long.
Chen Long pun mengangguk santai. “Aku rasa begitu, dan aku berpikir jika kita pasti akan berpisah dengan Ye'er, karena ia yang menikah, pasti butuh proses untuk berpisah dengan istrinya.” Ucap Chen Long memberikan pendapatanya.
“Hemm..!! Tidak juga,” ucap Bai Han menggelengkan kepalanya.
”Jika Ye'er menikah di waktu bersamaan dengan paman Tu. Maka, ada kemungkinan kita akan pergi bersama,” sambung Bai Han.
“Semoga saja bisa begitu,” balas Chen Long yang terlihat enggan berpisah.
***
“Untuk saya pribadi, itu tergantung Ren'er, jika ia mencintai Tuan muda Ye, dan ingin melakukan pernikahan dalam waktu dekat, maka saya tentu sangat senang, karena Ren'er bisa memilih sosok yang terlihat sangat bertanggung jawab, dan bagi seorang ibu, itu adalah yang terpenting. Yaitu, seorang suami bisa melindungi istrinya dan selalu membuatnya nyaman,” ucap Ren Len dengan nada lembut di sertai tersenyum ke arah putrinya.
“Hem hem..!! Ren'er tentu mau Bu, karena Ye Gege sangat baik dan Dingin, dengan wajah Dinginnya, maka Ren'er yakin tidak akan ada seorangpun yang berani mendekati Ye Gege,” ucap Ren Jiang dengan nada riang.
Mendengar itu, Xiu Bai pun mengeryitkan sebelah alisnya, karena apa yang Ren Jiang ucapkan ada benarnya.
Karena selama ini putranya selalu sendiri, lantaran wajahnya yang dingin, sehingga tidak ada satu wanitapun yang berani mendekatinya.
Di satu sisi, Xiu Bai yang langsung tersadar, kini cukup kagum akan kecerdasan Ren Jiang dalam melihat Bai Chu Ye.
“Ehem,, bagaimana?” Tanya Ren Len kini melirik ke arah Xiu Bai.
Xiu Bai pun langsung melirik ke arah putranya.
Bai Chu Ye yang di tatap, kini terlihat bingung mau menjawab apa.
”Katakan apa yang isi hatimu ungkapkan Nak,” ucap Xiu Bai.
Mendengar itu, Bai Chu Ye pun langsung merasa tertolong. “Aku mau menikah dengan Ren'er, tapi Aku tidak bisa menjamin apakah bisa selalu di sisi Ren'er,” ucap Bai Chu Ye terdiam sesaat.
“Itu karena perjalananku saat ini masih panjang, terlebih lagi musuh ayahku masih banyak yang tersisa. Jadi akan memerlukan waktu yang lama untuk ku kembali jika aku pergi nantinya.” Sambung Bai Chu Ye sambil menatap ke arah Ren Jiang, Ren Len, Ren Saxin dan terahir Ren Ji.
__ADS_1
“Jika Ren'er memang bersedia menikah denganku, maka dia harus siap menerima perpisahan sementara. Dan pada saat yang sama, aku berjanji akan selalu menjaga hatiku untuknya.” Ucap Bai Chu Ye terdengar serius dan mengatakan yang sejujurnya tanpa membohongi pihak manapun.