
“Ke wilayah kekuasaan Dewa Naga Air,” ucap Ze Lang terdiam sesaat dan kembali melanjutkan. “Ayo,” ajak Ze Lang.
Dret..!!
Wuss wuss..!!
***
Masih di Alam Dewa, atau biasa di kenal dengan sebutan Alam King Immortal, terlihat di wilayah seribu penguasa, ada dua sosok pemuda yang sedang melarikan diri dari kejaran monster bertubuh manusia.
Wuss wuss..!!
“Sialan, kenapa selama ribuan tahun, bahkan bisa sampai puluhan ribu tahun kita mengelilingi tempat ini, tapi tetap saja kita tidak menemukan jalan keluarnya.” Umpat sosok pemuda yang jauh lebih muda.
“Apa mungkin kita berada di tempat tanpa batas kak?” Sambung pemuda yang jauh lebih muda sambil melirik ke arah kakaknya.
Terlihat sang kakak langsung menggelengkan kepalanya.
“Satu hal yang kakak sadari, kita masih lemah sehingga belum bisa melihat pelindung transaparan yang ada di wilayah ini,” ucap sang kakak.
“Kau ingat bukan manusia yang dulu sekarat kita temui, ia memberitahu kita jika tempat ini hanya wilayah dan juga penghuni tempat ini sangatlah kuat, saking kuatnya, wilayah ini di namakan Seribu Penguasa. Dan tempat kita muncul ini tentunya sangat jauh lebih kuat dari tempat kita berasal.” Sambung sang kakak terlihat terdiam.
“Kakak kini mengambil kesimpulan, hanya dengan menjadi kuat, kita bisa keluar dari tempat ini,” ucap sang kakak melirik adiknya.
Mendengar itu, sang adik pun langsung merenung. “Jika begitu, kita harus melampaui mereka semua yang ada di sini sebelum keluar, karena jika kita bisa keluar, tapi belum melampaui semua yang ada di sini. Maka kita bisa mati, karena kita tidak tahu tentang wilayah luar, apakah wilayah luar jauh lebih kuat atau tidak.” Ucap sang adik yang kini langsung membalik badannya.
Dret..!!
Tak mau kalah, sang kakak pun ikut membalik badan dan langsung melesat maju dengan sebilah pedang di tangan kanannya.
Melihat buruannya tiba-tiba membalik badan dan menyerang, sosok monster bertubuh manusia langsung menyeringai.
“Hehe,, datanglah makanan terbaik ku,” teriak sosok monster bertubuh manusia.
Suaranya yang lantang langsung membuat area sekitar bergemuruh.
Wung..!!
Slash..!!
Tanpa banyak omong, sang kakak yang sudah muncul di depan musuhnya langsung mengayunkan pedangnya ke arah titik buta musuh.
Khehe..!!
“Seranganmu hanya bisa menggelitik tubuhku,” ejek monster bertubuh manusia dengan angkuh dadanya maju ke depan dan berniat menahan dengan dadanya.
“Kena kau,” gumam sang adik yang muncul di belakang musuhnya dengan sebuah tombak menjulur ke titik buta kepala belakang musuhnya.
Merasakan buruannya yang lain menyerang dari belakang dan tahu dimana letak kelemahannya. Dengan cepat sebuah tangan muncul dari punggung monster bertubuh manusia dan juga monster bertubuh manusia dengan santai membalik kepalanya dengan memutarnya.
__ADS_1
Dan tanpa ia sadari, sang adik kini tersenyum lebar di saat musuh yang selalu mengejarnya dengan mudah masuk perangkap.
Sang kakak yang melihat celah terbuka lebar pun langsung mengeluarkan sebuah tombak yang terbuat dari kayu yang ada di hutan wilayah ini.
Dret..!!
Wuss..!!
Jlep..!!
Mata monster bertubuh manusia seketika melotot saat kepala belakangnya kini tertancap oleh tombak.
Tak lama setelah itu, pandangannya pun buram.
Bruk..!!
Melihat musuh yang selalu mengejar mereka selama puluhan tahun kini mati. Kakak beradik tidak terlihat senang.
“Ayo cepat sebelum yang lain bermunculan karena mencium bau darah,” ajak sang kakak.
Sang adik pun mengangguk setuju.
Dret..!!
Wuss..!!
Wuss..!!
Gerr..!!
“Dia milik ku,” ucap sosok monster bertubuh manusia langsung mengklaim mayat yang telah kakak beradik bunuh.
“Heh,, apakah kau mampu melangkahi ku,” ejek salah satu sosok monster berkepala Naga dengan tubuh manusia.
Saat ia bicara, terlihat sebuah api hijau yang tak lain racun keluar dari mulutnya.
“Kau berani menantangku,” teriak salah satu monster berkepala Naga dengan tubuh manusia yang tubuhnya di kelilingi oleh energi aneh.
Terdengar bukan hanya mereka saja yang beradu mulut, beberapa monster lainnya ikut beradu mulut hingga mereka semua langsung saling menyerang satu sama lain.
...
Wuss wuss..!!
Sementara sang kakak beradik yang mendengar suara pertarungan di kejauhan, tidak menghentikan laju mereka. Malah mereka semakin cepat melesat. Karena jika terjadi pertarungan, maka yang lain akan bermunculan lalu menunggu dan di saat ada kesempatan, mereka yang menunggu akan langsung membunuh target mereka.
Tentunya bagi kakak beradik tersebut sudah mengtahui dan menghafal semua sifat penghuni wilayah Seribu Penguasa ini. Karena di sini tidak ada yang namanya kawan, mereka semua bermusuhan dan saling membunuh jika ada kesempatan.
***
__ADS_1
Alam Celestial.
“Hemm..!! Apa sudah waktunya kita pergi?” Tanya Bai Han kini melirik ke arah ayahnya.
Xiu Bai pun mengangguk ringan dan kini melirik ke arah istri, ibu, nenek, ayah dan yang lainnya.
“Apa benar kalian tidak ingin ikut dan tinggal di sini untuk menunggu?” Tanya Xiu Bai kini kembali memastikan.
“Hemm..!! Kami semua lebih baik menunggumu di sini Bai'er, karena jika kita semua ikut pergi, maka Alam Celestial ini akan kosong. Selebihnya kau paham maksud nenek,” ucap Xiu Mu Lian kini mengusap rambut cucunya yang telah tumbuh dewasa menurutnya.
“Benar sayang, jika kami ikut, maka siapa yang nantinya akan menyebarkan kehebatan kalian semua yang telah melindungi seluruh tempat ini di masa depan,” ucap Ling Mei dan Hua Qian serempak.
Mereka berdua yang akur, kini serempak memeluk putra mereka dengan erat.
Tap tap..!!
“Tenanglah nak, ayahmu di sini akan menjaga tempat ini selama kepergianmu bersama mereka, dan jika ayah ikut, maka siapa yang akan menjaga tempat ini.” Ucap Xiu Lou sambil mengangkat kepalanya.
Dan sebenarnya Xiu Lou sangat ingin ikut, tapi para wanita menolak keikut sertaan Xiu Lou, dengan alasan tidak ada yang menjaga mereka.
Xiu Bai seketika tersenyum hangat.
Bruk..!!
“Ingatlah, jika terjadi sesuatu, maka gunakan yang Bai'er berikan kepada ayah, jangan ragu untuk menggunakannya, walau sekecil apapun masalahnya. Karena keselamatan mereka jauh lebih penting,” ucap Xiu Bai melalui telepati kepada ayahnya.
Xiu Lou pun langsung mengangguk.
Melihat keduanya berkomunikasi melalui telepati.
Kini para wanita pun saling melirik dengan tatapan curiga.
Dret..!!
”Apa yang ayah dan kakek rencanakan? Ayo beritahu Xie'er?” Tanya Ling Bai Xie kini dengan senyum cerah yang mencoba merayu ayah dan kakeknya.
“Tidak ada Xie'er, benarkan ayah,” jawab Xiu Bai sambil melirik Xiu Lou.
“Hem hem..!! Ti..Tidak ada,” sambung Xiu Lou terlihat berkeringat dingin saat di tatap oleh puluhan wanita dengan tatapan mengerikan.
“Bohong, pasti ada yang kalian rencanakan, ayo cepat beritahu,” dengus Xiu Mu Lian kini mencoba mendekati Xiu Bai dan Xiu Lou.
Melihat itu, dengan cepat tangan Xiu Bai bergerak dan memberi isyarat kepada Bai Han, Bai Chu Ye, Duan Du, Tu Long, Han Liu, Du Jian, Meng Chen, Bo Wuhan, Peng He, Chen Long, Bai Da Xing dan terahir Qing bersaudara atau Bai Ha, Bai Hu.
Mereka semua yang melihat isyarat tersebut dengan cepat memasang wajah serius dan fokus terhadap portal yang akan muncul.
Dret..!!
Tepat setelah portal muncul. Bai Han, Bai Chu Ye, Duan Du, Tu Long dan yang lainnya pun melesat masuk ke dalam portal.
__ADS_1
Wuss..!!
Wuss..!!