
“Terlebih lagi aku sudah menemukan muridku yang di masa lalu telah mati, jadi aku harus melatihnya terlebih dahulu, karena ia akan menjadi bala bantuan besar di kemudian hari,” gumam Xiu Bai tersenyum bahagia, tapi tidak memperlihatkan wajahnya yang sedang bahagia di depan semua orang.
...
Kini terlihat sosok Phoenix kecil dalam wujud setengah manusia, setengah phoenix duduk seorang diri dari teman-teman satu Rasnya.
Jika di lihat dengan jelas, usianya masihlah anak-anak, sekitar berusia 13 tahun.
Ia juga seperti di jauhi oleh teman-teman satu Rasnya, hal tersebut mengingatkan Xiu Bai saat ia bertemu muridnya dulu, yang di jauhi oleh anggota keluarga maupun penduduk kota tempatnya terlahir.
“Kau masih sama seperti saat pertama kali kita bertemu Fang Liu, walau kita sempat bertemu saat kau terlahir kembali setelah kematianmu saat itu di Bumi, tapi itu bukanlah dirimu sepenuhnya, dan itulah yang membuatku tidak membawanya, karena itu akan membahayakannnya,” gumam Xiu Bai dalam hati.
Entah mengapa hati Xiu Bai merasa hangat saat ini, setelah ia bertemu kembali dengan murid pertamanya, atau dapat ia anggap murid kedua, karena pada saat itu murid pertamanya adalah Kakeknya sendiri. Jadi, kini ia menganggap Fang Liu adalah murid pertamanya.
Dan yang membuat Xiu Bai hangat adalah karena muridnya ini pernah berkorban demi anggota keluarganya di masa lalu.
Itu adalah pengorbanan serta tanggung jawab yang sangat besar menurut Xiu Bai.
...
“Hemm..!! Apakah ada seseorang yang memperhatikanku?” Gumam sosok Phoenix remaja 13 tahun.
Pandangannya pun mengarah ke segala arah di area tempat para peserta turnamen duduk. Tapi ia tidak merasakan ada yang menatapnya.
Terlihat juga ia melirik ke arah Duan Du, Tu Long dan Bai Da Xing.
Jelas sekali jika murid pertama Xiu Bai yang bernama Feng Lu, ingin di perhatikan oleh mereka yang terbilang jenius.
Bruk..!!
“Heh,, jangan berharap di lihat oleh mereka, kau itu sangat lemah dan aib bagi Ras Phoenix,” ejek Phoenix remaja yang berusia sama dengannya.
“Benar, bagaimana bisa di antara semua phoenix yang sebaya dengan kita, kau adalah yang paling lemah, bahkan dalam 3 tahun terahir, kau masih di tingkat yang sama, tidak ada perkembangan. Sungguh memalukan,” dengus phoenix remaja yang lebih tua dan tinggi.
Kedua phoenix yang datang terdengar terus mengejek Feng Lu.
Tapi Feng Lu hanya diam saja, karena apa yang mereka katakan memang benar, selain jadi yang terlemah, ia juga sama sekali tidak bisa berkembang, yang menyebabkan Ras Phoenix Angin malu terhadap Ras Phoenix lainnya.
__ADS_1
“Sudahlah, nanti jika di ejek terus dia malah menangis, dan juga nanti orang-orang melihat kita, lebih baik kita pergi,” ajak Phoenix remaja yang paling tua langsung mengajak rekannya pergi.
Rekannya pun mengangguk santai. “Hehe,, semoga saja aku akan menjadi lawanmu nanti, akan ku buat kau berhenti bermimpi untuk menjadi yang terkuat itu,” ejek Phoenix remaja yang seusia dengannya.
Tap tap..!!
Mendengar ejekan tersebut, tanpa sadar Feng Lu mencengkram erat tangannya.
“Akan ku buat kalian semua menyesal, lihatlah jika impianku ini bukanlah hanya angan-angan,” gumam Feng Lu dengan mata penuh tekad.
***
“Hemm..!! Anak itu, aku merasakan keakraban darinya,” gumam Bai Han melirik ke arah Feng Lu.
“Dimana aku pernah melihatnya?” Sambung Bai Han mencoba mengingat wajah Feng Lu yang memiliki kemiripan dengan seseorang di masa lalu.
“Ah, dia paman Liu,” teriak Bai Han langsung bangkit.
Sontak Han Liu dan Feng Liu atau pemimpin Ras Phoenix Angin pun melirik ke arah Bai Han, karena merasa namanya di panggil.
“Ah maafkan aku, aku hanya ngelantur saja, kalian duduklah,” ucap Bai Han melirik ke arah Feng Liu dan Han Liu.
Tap tap..!!
“Ayah, ada apa?” Tanya Bai Han kini menghampiri ayahnya.
“Duduklah Han'er,” ucap Xiu Bai melalui telepati, sembari membuat sebuah kursi di sampingnya.
Bai Han pun langsung duduk, pandangannya pun mengarah ke ayahnya.
“Ayah tidak mengira jika kau masih mengenal wajah Fang Liu saat ia masih remaja nak, padahal kedua paman mu, sama sekali tidak mengenalinya, walau ia duduk tidak jauh darinya.” Ucap Xiu Bai santai.
“Tentu saja ayah, saat pertama kali bertemu dengan paman Fang Liu, Han'er masih mengingat jelas wajahnya yang mirip dengan wajah Phoenix remaja berusia 13 tahun itu.” Balas Bai Han dengan nada bangga melalui telepati.
“Lalu, ada apa ayah memanggil Han'er, apa memang dia adalah paman Liu?” Tanya Bai Han dengan wajah penasaran.
“Hemm..!! Itu memang dia, tapi yang ada di depanmu adalah sosok yang hanya memiliki tubuh Dewa Perang, untuk ingatannya, kau sendiri tahu jika ingatannya ada di Bumi,” jawab Xiu Bai dengan nada santai.
__ADS_1
“Eeh,, jadi dapat di anggap jika jiwa paman Liu terpecah ya?” Tanya Bai Han dengan wajah terkejut.
“Benar, dan tujuan ayah memanggilmu adalah untuk tetap diam, jangan sampai ada yang mengetahui ini, walau saat ini Ye'er terlihat curiga akan pembicaraan kita memalui telepati ini, ayah rasa ia tidak tahu.” Jawab Xiu Bai.
“Satu hal lagi, ayah ingin melihat perkembanganmu, jadi apakah kau tidak ingin ikut dalam turnamen ini?” Sambung Xiu Bai melirik ke arah putranya dengan penuh maksud.
“Hehe,, inilah yang Han'er inginkan, dan Han'er tahu maksud ayah, yaitu mendekati paman Liu agar tidak ada lagi yang menekan maupun membullinya,” ucap Bai Han langsung bangkit dengan senyuman penuh kebahagiaan.
Tap tap..!!
***
2 jam telah berlalu.
Kini sudah lebih dari 100 peserta yang bertarung individu, tersisa tinggal 80 peserta lagi, termasuk Bai Han yang sudah ikut mendaftar.
Bai Han yang kini di kerumuni oleh para peserta, terlihat cukup risih, tapi ia tetap menanggapi dengan senyuman ramah.
Pandangan Bai Han pun melirik ke arah Tu Long dan Bai Da Xing yang juga di kerumuni. Melihat mereka sangat bangga di kerumuni, membuat Bai Han menggelengkan kepalanya.
Lalu pandangan Bai Han melirik Duan Du. Duan Du juga terlihat risih, tapi melakukan hal yang sama dengan dirinya, menanggapi dengan senyuman.
“Ehem..!! Apa kalian tidak melihat ke arah pertarungan, karena dengan melihat mereka bertarung, kalian bisa melihat titik lemas yang akan kalian hadapi nanti.” Ucap Bai Han dengan nada ramah.
“Ingatlah, jika kalian menang nanti, maka yang menang di arena, mungkin akan menjadi lawan kalian. Dan juga, kalian juga mungkin akan menjadi lawanku nanti, jadi lebih baik kalian semua bersiap-siap. Dari pada melakukan hal yang tidak jelas ini.” Sambung Bai Han.
Sontak, semua orang yang mengkerumuni Bai Han pun tersadar, terlebih lagi mereka juga ingin menjadi yang terbaik di mata Xiu Bai.
Jika mereka bisa membuat Xiu Bai senang, maka mereka yakin akan mendapatkan sesuatu yang berharga.
Tap tap..!!
Dengan cepat semua peserta berpencar menjadi kursi kosong di setiap sudut.
Bai Han yang kini sendiri pun langsung bangkit.
Tap tap..!!
__ADS_1
“Bolehkah aku duduk di sini adik kecil?” Tanya Bai Han dengan senyuman ramah.