Reinkarnasi Sang Asura ( 10.000 Kehidupan )

Reinkarnasi Sang Asura ( 10.000 Kehidupan )
Adu Kecerdasan Ayah dan Anak


__ADS_3

“Bukan hanya itu saja, bagi yang kalah jangan berkecil hati, karena akan hadiah besar yang bisa mengejutkan kalian nanti, dan siapa tahu salah satunya ada di antara yang kalah.” Ucap Xiu Bai.


Woaahh..!! Woahh..!!


Seketika semua tamu langsung bersorak bahagia.


***


Beberap menit kemudian, terlihat kini dua pemuda melangkah turun ke arena yang telah di buat oleh Xiu Bai.


Tap tap..!!


Woahh..!!


“Ayo Kepala kayu, aku mendukungmu,” teriak Tu Long memanggil sosok iblis bertanduk mirip kayu, sehingga ia memanggilnya seperti itu.


Mendengar dirinya di dukung, wajah iblis tersebut langsung bersinar cerah.


Sementara lawannya terlihat cemberut, tapi tak lama, wajahnya ikut bersinar saat mendengar suara teriakan yang ikut mendukungnya.


“Jangan sampai kalah bocah, aku bertaruh banyak untuk mu, nanti jika kau menang, akan ku bagikan kau separuh dari kemenanganku,” teriak Duan Du terdengar tak mau kalah mendukung pemuda berkepala Phoenix.


“Heh,, aku juga akan memberimu lebih dari setengah hasil taruhanku jika kau menang kepala kayu,” teriak Tu Long dengan nada lantang sambil melirik Duan Du dengan tatapan ejekan.


Menyadari dirinya di pandang, Duan Du pun tersenyum tipis.


“Idiot,” ejek Duan Du dengan nada kecil.


Wajah Tu Long sedikit memerah, ia terlihat ingin membalas, tapi ia sadar jika di sini ada ibunya.


...


Xiu Bai yang duduk bersama Duan Diyu, Long Qiu, dan bawahannya, hanya bisa menggelengkan kepalanya.


“Lihatlah, putra kalian terlihat sangat mirip dengan kelakuan kalian,” ejek Wang Si.


Duan Diyu dan Long Qiu langsung tersenyum puas.


“Tentu saja, putra Long Qiu.” Ucap Long Qiu dengan nada bangga.


“Heh heh, putraku walau terlihat diam, tapi aku yakin putramu yang bodoh itu akan selalu kalah melawan putraku,” ejek Duan Diyu.


“Hoo, apa kau yakin?” Ucap Long Qiu terlihat meragukan ucapan Duan Diyu.


“Ayo kita adu mereka, apa kau berani,” tantang Duan Diyu sembari melirik Xiu Bai yang terlihat hanya diam saja.


Melihat Xiu Bai hanya diam, Duan Diyu dan Lonh Qiu langsung tersenyum menyeringai masing-masing, karena jika Tuan mereka diam, tanda itu keputusan mereka masing-masing.


“Aku yang akan bicara, kau tunggu di sini,” ucap Duan Diyu langsung melangkah mendekati Duan Du dan Tu Long.


Tap tap..!!


Melihat ayahnya datang dengan senyuman tipis, sontak Duan Du pun mengerutkan keningnya.

__ADS_1


“Ada apa ayah?” Tanya Duan Du terlihat curiga.


“Hoho,, bocah cerdas, apakah kalian tidak bosan selalu berdebat?” Tanya Duan Diyu.


“Tentu saja tidak, memang ada apa?” Jawab Duan Du dan Tu Long serempak dan balik bertanya.


“Tidak ada, ayah hanya ingin melihat kalian ikut berpartisipasi dalam turnamen ini, terlebih lagi Tuan telah mengizinkan kalian ikut,” ucap Duan Diyu terlihat santai, seolah-olah bukan ia yang menginginkan keduanya ikut turnamen.


Mendengar itu, Duan Du dan Tu Long pun saling memandang satu sama lain.


“Hehe,, tentu saja kami ingin ikut,” jawab keduanya serempak di sertai memasang wajah senyuman penuh maksud.


Mendengar ucapan putranya dan keponakannya, Duan Diyu langsung tersenyum tipis.


“Jika begitu, datangi ibu kalian, lalu beritahu jika kalian ingin ikut dan telah di izinkan oleh Tuan,” ucap Duan Diyu terdengar tergesa-gesa.


“Satu lagi, jangan beritahu ibu kalian jika aku yang menyuruh kalian, ingat, jangan sebut nama ku,” sambung Duan Diyu dan langsung melangkah pergi ke beberapa peserta yang akan bertarung, sebagai alasan ia hanya mengecek keadaan sekitar.


***


Di kejauhan, Mo Meilin dan Fei Sia Ying yang sedari awal melihat Duan Diyu mendekati putra mereka.


Kini saling melirik satu sama lain.


“Apa kau tidak menyadari ada sesuatu yang lain dari Diyu yang sengaja mendatangi putra kita saudari Ying?” Tanya Mo Meilin.


“Tentu saja aku mencurigai Diyu gege, Jie-jie.” Jawab Fei Sia Ying.


“Tidak perlu, suamimu pasti tidak akan menjawab jujur.” Ucap Mo Meilin menggelengkan kepalanya.


“Lebih baik kita tanya langsung putra kita,” sambung Mo Meilin menunjuk ke arah Duan Du dan Tu Long yang menghampiri mereka.


Tap tap..!!


“Ibu, kami ingin ikut bertarung, dan niatnya akan ikut dalam dua sesi, yaitu sesi individu dan sesi kelompok.” Ucap Duan Du terdengar sangat sopan dan ramah.


“Jadi, apakah ibu mengizinkan kami?” Tanya Tu Long kini melirik ibunya dan bibinya.


“Hemm..!! Apakah ini karena hasutan ayahmu nak? Dan apakah dia mengancam mu?” Tanya Fei Sia Ying langsung curiga di sertai tangan terkepal erat.


“Bukan, paman Xiu Bai ingin melihat kemajuan kami, dan kami pun tentu sangat senang, karena jika Tuan Xiu Bai melihat kami bertarung, lalu melihat kekurangan kami, maka ia akan membimbing kami. Bukankah begitu saudara Tu?” Ucap Duan Du dengan nada senang, sambil melirik Tu Long yang mengangguk-angguk.


Mendengar itu, sontak Mo Meilin dan Fei Sia Ying pun melirik ke arah Xiu Bai.


Melihat Xiu Bai tidak menggelengkan kepalanya, mereka pun mengangguk.


“Baiklah, tapi jangan sampai saling membenci, atau melukai terlalu parah. Jika itu terjadi, ibu akan sangat bersalah karena telah mengizinkan kalian.” Ucap Fei Sia Ying dan Mo Meilin.


“Hehe,, ibu tenang saja, kami tahu batasan kami,” ucap Duan Du dan Tu Long serempak.


Mereka pun langsung membalik badan dan melangkah serempak di sertai senyuman tipis.


“Hehe,, apa kau siap?” Tanya Tu Long terkekeh kecil.

__ADS_1


“Tentu saja, akan kita buat mereka yang tua, siapa yang paling cerdas.” Balas Duan Du mengangguk kecil.


“Terahir, kita buat mereka tidak akan bisa memanfaatkan kita lagi, apalagi menipu kita dengan menyebut nama kakak,” sambung Duan Du dengan dengusan kecil.


“Tentu saja, mereka seenaknya saja memerintahkan kita bertarung, huh, walau aku senang bertarung, tapi aku tidak ingin di paksa jika bukan keinginanku sendiri.” Ucap Tu Long mengangkat kepalanya dengan bangga.


Tap tap..!!


...


Duan Diyu dan Long Qiu yang kini duduk bersama, sama sekali tidak mengetahui rencana putra mereka.


Hanya Xiu Bai saja yang menyadari hal tersebut.


“Kalian rupanya semakin menumpul, bahkan kalian tidak sadar jika yang kini di tipu adalah kalian,” gumam Xiu Bai.


***


Wuss wuss..!!


Sementara di arena, kini sudah 10 peserta yang telah bertarung.


Terlihat saat ini ada dua iblis yang saling menyerang satu sama lain.


Trank..!!


Duarr..!!


Iblis yang terlihat berusia 17 tahun, melihat lawannya mundur, langsung menginjak arena dengan kaki kananya, setelah itu langsung melompat.


“Aku akan menyerang saudara,” teriak iblis muda.


Wuss..!!


“Aku menyerah,” teriak iblis yang jauh lebih tua darinya, karena ia menyadari akan percuma melanjutkan, lantaran energinya akan habis.


Tap tap..!!


Iblis yang lebih muda pun menghentikan diri di udara dan mendekati lawannya.


“Terimakasih sudah mau mengalah saudara,” ucap Iblis muda.


”Tidak, aku memang kalah secara resmi, dan aku mengakui kau lebih kuat dariku saudara.” Sambung iblis yang lebih tua menggelengkan kepalanya.


Tap tap..!!


“Baiklah, pemenangnya adalah nomer urut 18, dan kita akan langsung melanjutkan ke peserta nomer urut 50, melawan peserta nomer urut 19,” ucap Meng Chen langsung muncul, lalu memanggil dua peserta individu yang akan bertarung.


Saat mendengar nomer urut mereka di sebut, kedua peserta memiliki nomer 19 dan 59 pun langsung melangkah.


Tapi langkah mereka terhenti saat mendengar suara teriakan dari sosok yang di kenal semua orang.


“Tunggu dulu, aku juga akan ikut bertarung, jadi aku nomer berapa aku dan bocah ini,” teriak Tu Long dengan lantang.

__ADS_1


__ADS_2