
Saat pandangan Xiu Bai melihat dua pemuda saling berhadapan yang terlihat ingin bertarung, entah mengapa jantung Xiu Bai seketika berdetak melewati batas normal.
Deg deg..!!
Deg deg..!!
“I..Ini, apa yang terjadi?” Gumam Xiu Bai langsung mencengkram erat kepalanya saat melihat dua pemuda asing baginya.
Urgh..!!
Ingatan demi ingatan dan rasa sakit seketika muncul di kepala Xiu Bai.
Urgh..!!
Bruk..!!
Saking sakitnya dampak yang Xiu Bai terima saat ingatan tentang dua pemuda yang muncul di kepalanya, Xiu Bai langsung terjatuh pingsan.
...
Di tempat yang sama, Du Jian, Meng Chen dan Han Liu yang baru selesai mendapat informasi tentang Duan Du dan Tu Long hanya bisa melonngo tak percaya.
“Hemm..!! Aku yakin jika mereka berdua itu orang gila, benar sekali jika mereka berdua pastilah orang gila,” ucap Du Jian mengangguk-angguk.
“Bukan itu yang harus di bahas bodoh, yang perlu di bahas dan di pertanyakan adalah, tentang kekuatan mereka, dengan tingkat kultivasi serendah itu, bagaimana bisa mereka memukulmu tanpa perlawanan. Ini di luar logika,” sambung Meng Chen terlihat tidak percaya.
“Tapi aku suka itu, mereka berdua kuat-kuat, itu sesuai harapanku, jadi aku tidak sabar ingin melawan mereka dan perjalananku ternyata tidak sia-sia,” balas Han Liu terlihat dengan mata bersinar cerah.
Qian Liyun yang mendengar ucapan ketiganya hanya bisa bergumam dalam hati.
“Itu sama gilanya denganmu bodoh,” gumam Qian Liyun dalam hati membalas ucapan Du Jian.
“Heh,, apa kau tidak sadar jika yang di luar logika itu sebenarnya Tuan muda Xiu Bai, bagaimana bisa Tuan muda sekuat itu, padahal umurnya terlihat puluhan tahun,” dengus Qian Liyun dalam hati, dan sampai saat ini Qian Liyun masih belum tahu jika umur Xiu Bai masih 3 tahun, jika ia tahu umur Xiu Bai masih 3 tahun. Maka ia mungkin akan muntah darah mengetahui itu.
Dan mungkin akan mengumpati Meng Chen yang tidak mempercayai tentang kekuatan Duan Du dan Tu Long. Padahal ada yang lebih di luar batas, itu adalah Tuan muda mereka.
“Heng,, aku yakin jika tingkat kultivasi mereka setara denganmu, mungkin kau akan di hajar oleh mereka berdua, jadi jangan sombong kau,” dengus Qian Liyun membalas Han Liu dalam hati.
10 menit berlalu.
“Hei, bukankah ini terlalu lama,” ucap Du Jian kini melirik Meng Chen dan yang lainnya.
“Benar juga, apa sebaiknya kita naik saja melihat Tuan muda, mungkin saja ada sesuatu yang terjadi di dalam,” sambung Qian Liyun.
__ADS_1
Meng Chen pun langsung mengedarkan kesadarannya. Tak lama ia pun langsung menghilang saat kesadarannya melihat Xiu Bai tergeletak di lantai kamarnya.
Wuss..!!
Melihat Meng Chen menghilang tanpa memberitahu mereka apa-apa, Du Jian, Han Liu dan Qian Liyun pun dengan cepat menyusul.
Wuss..!!
Wuss..!!
Wuss..!!
Tap tap..!!
“Tuan muda,” ucap Meng Chen dengan nada panik langsung mengangkat Xiu Bai lalu membaringkannya di ranjang.
Tap tap..!!
“Apa yang terjadi?” Tanya Du Jian saat ia muncul.
Pandangan Meng Chen pun mengarah ke Du Jian sambil menggelengkan kepalanya. “Aku juga tidak tahu, saat aku mengedarkan kesadaranku, aku melihat Tuan muda sudah terbaring di lantai.” Jawab Meng Chen menghela nafas berat lantaran ia lengah. Bisa-bisanya ia mengendurkan kewaspadaannya dan ini juga akan menjadi pelajaran baginya untuk kedepannya agar tidak lengah lagi.
“Apa mungkin Tuan muda begini gara-gara melihat rekaman tentang kedua pemuda yang ingin ia cari?” Ucap Han Liu kini melirik Meng Chen, Du Jian dan terahir Qian Liyun.
“I..Ini,” ucap Qian Liyun merasa tidak tahu harus mengatakan apa.
“Sial, bisa-bisanya aku menjadi kambing hitamnya,” umpat Qian Liyun dalam hati, ia kini berharap jika Xiu Bai cepat-cepat tersadar.
***
Jauh di dalam tambang wilayah Barat.
Duan Du dan Tu Long kini saling melirik dengan serius.
“Bagaimana? Apakah kau sudah mendapatkan cara untuk kita keluar dari tempat ini? Ini sudah 10 tahun kita di sini, pastinya semua wilayah ini sudah kau hafal bukan?” Tanya Tu Long terlihat bosan.
“Tentu sudah, tapi tempat perisai yang paling rentan saat ini mengarah ke pusat kota, karena itu akan menembus langsung menuju pemukiman penduduk, akan gawat jika kita ketahuan kabur,” ucap Duan Du menghela nafas karena kini memikirkan resikonya.
“Jadi satu-satunya harapan kita saat ini adalah menunggu orang itu, jika dalam satu hari ia tidak datang, maka kita akan ambil resiko,” sambung Duan Du.
“Heh,, kenapa harus menunggu lama, langsung saja kita hancurkan tempat yang kau maksud, ayo tunjukkan dimana lokasinya, biar aku yang akan menghancurkannya,” dengus Tu Long langsung bangkit.
__ADS_1
“Dasar otak dongol, tunggu saja selama sehari, apa kau tidak bisa diam untuk sehari saja. Selalu mengajak ribut,” dengus Duan Du.
“Apa kau bilang? Rupanya kau yang mengajak ribut, mulutmu itu harus di ajari sopan santun,” teriak Tu Long langsung mengayunkan tinjunya.
Para budak yang cukup jauh dari lokasi Duan Du dan Tu Long yang melihat itu kembali menjauh.
“Mereka mulai lagi, jika begini, bisa-bisa aku mati bukan karena kelelahan bekerja, melainkan mendengar suara teriakan dan pertarungan mereka setiap hari.” Ucap salah satu pria tua yang terlama di tambang.
***
Urgh..!!
“Tuan muda, akhirnya kau sadar juga,” ucap Du Jian dan Meng Chen serempak dua jam setelah Xiu Bai pingsan.
“Ooh,, apakah aku pingsan?” Tanya Xiu Bai terlihat memastikan.
Keempatnya langsung mengangguk.
Xiu Bai pun menghela nafas.
“Tenangkan dirimu dan minumlah ini, ini adalah teh yang telah ku campur dengan beberapa herbal yang berasal dari Sekteku,” ucap Han Liu langsung mendekati Xiu Bai.
Xiu Bai pun langsung menerima semangkok teh yang bewarna hijau terang lalu meminumnya.
Setelah merasa tenang, Xiu Bai pun mencoba mengingat rekaman yang ia lihat sebelum ia pingsan akibat ingatan yang tiba-tiba muncul di kepalanya.
Cukup lama Xiu Bai merenung, di saksikan oleh Du Jian, Meng Chen, Han Liu, Qian Liyun dalam diam, tanpa berani mengganggu.
Pandangan Xiu Bai pun mengarah ke Qian Liyun. “Bawa aku ke tempat mereka berdua,” ucap Xiu Bai dengan nada serius.
“Walaupun aku tidak tahu siapa mereka berdua secara pasti, namun aku merasakan keakraban dan entah hatiku merasa bahagia saat membayangkan wajah mereka tadi,” gumam Xiu Bai.
“Jadi untuk memastikan, lebih baik aku menemui mereka secara langsung, mungkin saja mereka tahu mengapa mereka selalu muncul di dalam ingatanku, atau bisa jadi mereka mengenal leluhurku,” sambung Xiu Bai dalam hati.
Qian Liyun yang mendengar perintah Xiu Bai, langsung mengangguk.
“Kapan anda mau di bawa kesana?” Tanya Qian Liyun.
“Sekarang, hanya kita berdua saja,” jawab Xiu Bai sambil melirik ketiga pamannya. “Kalian tunggu saja di sini, atau kalau bisa, lihat rekaman giok ini lalu coba ambil beberapa hal yang penting saja,” ucap Xiu Bai memberikan 12 Giok kepada Meng Chen lalu melangkah keluar bersama Qian Liyun.
“Ayo,” ajak Xiu Bai tanpa basa basi sambil memasang wajah serius.
Tap tap..!!
__ADS_1