
“Tidak perlu berterimakasih,” ucap Xiu Bai sambil melirik ke arah dimana sosok Ren Ji dan Ren Len berada.
“Hemm..!! Dari aura kalian berdua, maka kalian lah orang tua dari Ren Jiang,” ucap Xiu Bai.
Mendengar nama putri mereka di sebut, tubuh Ren Ji dan Ren Len langsung bergetar hebat.
Mereka berpikir jika putri mereka telah membuat Sang Iblis Asura marah.
Tap tap..!!
Tapi Ren Len memberanikan diri untuk maju, karena ini terkait putrinya, ia tidak akan membiarkan putrinya terluka atau mengalami masalah apapun lagi.
“Ya..Yang Mulia Asura, apa yang putri saya perbuat sehingga anda sampai mencari kami?” Tanya Ren Len.
“Ji..Jika ia berbuat salah, mohon jangan sakiti dia, biarkan aku yang menanggung semua kesalahannya.” Sambung Ren Len.
“Hem,, aku juga akan ikut menanggung semua kesalahan putriku Yang Mulia,” ucap Ren Ji kini ikut maju dan berdiri di samping istrinya.
“Aku juga Yang Mulia,” kini terdengar suara satu persatu dari para tahanan ikut membantu kedua pasangan suami istri.
Sementara Xiu Bai yang melihat ikatan mereka semua dalam saling membantu, hanya bisa tersenyum hangat.
“Jika saja semua orang memiliki pemikiran seperti mereka, aku yakin Alam ini akan damai,” gumam Xiu Bai dalam hati.
“Ehem, kalian semua tidak perlu takut, terutama kalian berdua, karena kalian-”
“Len'er.”
Wuss wuss..!!
Bomm..!!
“Len'er dimana kau nak,” teriak Ren Saxin yang langsung muncul setelah menghancurkan pintu yang menuju penjara.
Pandangan Ren Saxin pun mengarah ke Xiu Bai, setelah itu, ia melihat putrinya bersama menantunya.
“Len'er,” teriak Ren Saxin kembali melesat.
Bruk..!!
“I..Ibu,” ucap Ren Len kini ikut memeluk Ren Saxin.
Melihat keduanya berpelukan dalam isak tangis, semuanya pun ikut meneteskan air mata.
Karena tahu jika Ren Saxin pasti sangat menderita di luar sana.
Tapi di satu sisi, mereka juga sedikit tegang, karena merasa Ren Saxin sangat tidak sopan, lantaran menghiraukan Xiu Bai.
Tap tap..!!
Tak lama setelah kedatangan Ren Saxin, terlihat Bai Han, Bai Chu Ye, Bai Ha dan Bai Hu muncul.
“Ayah,” sapa Bai Han dan Bai Chu Ye.
“Tuan,” sapa Bai Ha dan Bai Hu secara serempak dengan kedua putra Xiu Bai.
“Hemm..!! Apa semuanya sudah beres?” Tanya Xiu Bai dengan hangat.
“Tentu, kami sudah membereskan semuanya tanpa sisa, dan semua penduduk yang tidak bersalah juga tidak terluka sama sekali,” jawab Bai Han dengan bangga.
Mendengar jawaban putranya yang sangat ingin di puji, Xiu Bai hanya menggelengkan kepalanya.
Sementara para mantan tahanan yang mendengar itu, termasuk Ren Ji, langsung memasang wajah bahagia.
“A..Apa yang Tuan muda maksud adalah semua bawahan Gu Chen?” Tanya Ren Ji.
__ADS_1
Pandangan Bai Han pun melirik ke arah Ren Ji, dan ia langsung mengerutkan keningnya, karena merasakan aura Ren Ji ada kemiripan dengan aura Ren Jiang.
Pandangan Bai Han pun mengarah ke adiknya dengan seutas senyum kecil.
“Ini bagianmu Ye'er,” ucap Bai Han melalui telepati.
Tap tap..!!
“Hemm..!! Semua bawahan yang tadi anda sebutkan tadi, sekitar 1/4 saja yang telah kami bunuh, sisanya mungkin paman kami sudah membereskannya,” jawab Bai Chu Ye dengan nada sedikit dingin dan canggung.
Ren Ji yang mendengar itu, semakin bahagia, ia tidak terlalu memperdulikan ekspresi Bai Chu Ye, karena yang ia inginkan adalah jawabannya.
Bukan hanya Ren Ji, semua mantan tahanan pun ikut bahagia.
...
Wuss wuss..!!
Tap tap..!!
“Woah, semuanya telah kumpul ya,” teriak Tu Long, yang kini di penuhi oleh darah musuhnya.
Sret..!!
Bruk..!!
“Tuan, aku membawa satu, apakah kau ingin membunuhnya atau aku yang akan menyelesaikannya?” Tanya Tu Long langsung melempar monster kepala Elang.
Terlihat monster tersebut dalam keadaan setengah mati, tubuhnya di penuhi luka lebam akibat pukulan Tu Long. Bahkan wajahnya kini hancur hampir seutuhnya.
“I..Ini,” ucap Ren Ji dan semua mantan tahanan saat melihat sosok yang Tu Long lempar.
Mereka terkejut akan sosok yang sering menyiksa mereka, kini dalam keadaan tragis.
Glek..!!
“Urgh, senyumnya sangat mengerikan,” ucap Ren Ji, tanpa sadar mundur hingga bersembunyi di balik istri dan ibu mertuanya yang masih saling memeluk.
“Kalian kenapa hah? Apa aku keren karena telah membantu kalian?” Tanya Tu Long langsung mengangkat kepalanya dengan bangga.
Wung..!!
Brak..!!
Tepat saat Tu Long mengangkat kepalanya, seketika muncul bayangan Duan Du di atas kepala Tu Long. Lalu Duan Du terjatuh tepat di atas kepala Tu Long.
“Aduh duh,.dasar bocah sialan, kau pasti sengaja,” teriak Tu Long saat kepalanya di tindih oleh bokong Duan Du.
Dengan cepat Duan Du bangkit dan melesat ke arah Xiu Bai.
Seutas senyum mengejek pun Duan Du perlihatkan saat ia ke arah kakaknya.
“Jangan sembunyi kau sialan, jika kau berani cepat kesini dan lawan aku bertarung,” teriak Tu Long langsung bangkit, sambil memasang wajah penuh amarah.
...
Pfftt..!!
Seketika Ren Ji dan semua mantan tahanan menutup mulut untuk menahan tawa saat melihat kelakuan Duan Du.
Mereka juga tidak menyangka jika Tu Long sebenarnya sangat lucu, lucu karena sedikit ceroboh serta bodoh.
***
Wuss wuss..!!
__ADS_1
Di tempat Ren Jiang, ia kini terlihat berlari sekuat tenaga dan di belakangnya Meng Chen terus mengikuti.
“Ayo cepat paman, tadi paman Bai memberitahu Ren'er jika Ibu dan Ayah Ren'er masih hidup,” teriak Ren Jiang dengan nada penuh kebahagiaan dan isak tangis.
Tap tap..!!
Langkah Ren Jiang pun terhenti tepat di depan bangunan yang sangat besar.
“Dimana? Dimana paman Bai berada?” Teriak Ren Jiang.
Ren Jiang yakin jika Xiu Bai pasti mampu mendengar teriakannya.
Tap tap..!!
“Ayo sini, ikuti paman,” ucap Meng Chen yang terlihat selalu menggelengkan kepalanya akan kelakuan Ren Jiang.
Wuss..!!
Bruk..!!
“Ayo, tunjukan jalannya paman,” teriak Ren Jiang langsung melesat ke punggung Meng Chen tanpa malu.
“Ya ya, paman tahu kini perasaanmu campur aduk, jadi paman tidak akan memarahimu kali ini,” ucap Meng Chen.
Dret..!!
Wuss wuss..!!
Duarr..!!
“Ibu, Ayah, dimana ka-”
Ren Jiang langsung menutup mulut saat melihat Ibunya yang kini sedang memeluk Neneknya.
Wuss..!!
“Ibu,” teriak Ren Jiang langsung menerjang ke arah Ibu dan Neneknya.
Bruk..!!
“Urgh, dasar nakal,” teriak Ren Saxin yang merasakan punggungnya sakit akibat terjangan cucunya.
“Hiks hiks, ibu, apa kau baik-baik saja,” ucap Ren Jiang yang terlihat menghiraukan ucapan Neneknya.
Ren Len pun terlihat sama, ia kini mengangguk penuh air mata. “Hem, ibu baik-baik saja nak, apa kau baik-baik saja?” Jawab Ren Len dan balik bertanya sambil melihat seluruh anggota tubuh putrinya, apakah ada luka lecet.
Tapi melihat tidak ada luka, Ren Len pun menghela nafas lega.
Tap tap..!!
“Nak,, kau terlihat sangat sehat, apa benar kau ini benar-benar putriku?” Tanya Ren Ji terlihat bingung, lantaran mertuanya terlihat di penuhi luka dan bercak darah musuhnya.
Wung..!!
Brakk..!!
“Aduh, sakit Ibu,” ucap Ren Ji saat merasakan pukulan Ibu mertuanya.
Bukannya mengasihani, Ren Saxin, bahkan Ren Len kini ikut mengayunkan tangan mereka.
Glek..!!
“Apa salahku sehingga kalian ingin memukulku,” teriak Ren Ji langsung berniat melarikan diri.
Dret..!! Wuss wuss..!!
__ADS_1