Takdir Gintani

Takdir Gintani
Kebenaran


__ADS_3

"Kamu sudah sadar, Gin?" tanya Argha.


Nadhifa menarik diri dari pelukan kakak iparnya. Dia bangkit saat melihat ayah dan kakaknya memasuki kamar.


Gintani hanya menatap suaminya. Kecemasan berangsur hilang saat dia melihat suaminya baik-baik saja.


"Masih ada yang sakit, Nak?" tanya Tuan Jaya mengusap lembut pucuk kepala Gintani.


"Tidak, Pah! Alhamdulillah, sakitnya sudah reda." jawab Gintani.


"Syukurlah! Sebaiknya kalian tidur di sini saja. Ini sudah sangat malam."


Gintani menatap Argha. Sejurus kemudian, dia melihat Argha menganggukkan kepalanya.


"I-iya, Pah," jawab Gintani.


"Ya sudah, Papah tinggal dulu," ucap Tuan Jaya. "Fa, minta mbok Siti untuk membawakan makanan ke kamar kakakmu. Mereka pasti belum makan malam," perintah Tuan Jaya kepada putrinya.


Tidak usah, Pah! Biar nanti Gintan turun ke bawah saja," ucap Gintani.


"Tidak apa-apa, Kakak istirahat saja! Biar Fa bawakan, sekalian buat Kak Argha juga."


"Makasih ya, Dek!" ucap Argha seraya mengacak pelan rambut adiknya. "Kamu memang adik Kakak yang paling baik."


"Sama-sama."


Keheningan terjadi saat semua orang pergi dari kamar mereka.


"Mas!"


"Gin!"


Mereka saling pandang saat tanpa sengaja saling memanggil satu sama lain.


"Kenapa, Mas?"


"Kamu duluan! Ada apa?"


"Apa Gintan masih punya hak untuk meminta sesuatu sama Mas?" tanya Gintani sambil menundukkan kepalanya.


Argha mendekati Gintani dan duduk di sampingnya. Dia kemudian meraih bahu Gintani, menariknya ke dalam pelukan.


"Apa yang akan kamu lakukan, Ar?"


Argha diam. Pikirannya benar-benar kosong.


Tuan Jaya mendekati putranya.


"Sejatinya seorang lelaki dapat dilihat dari seberapa besar dia bertanggung jawab. Ikatan pernikahan itu bukan hanya tentang rasa ataupun cinta, namun lebih kepada komitmen dan tanggung jawab. Jika kamu telah mengambil keputusan untuk menikahi seorang wanita, maka kamu harus bisa bertanggung jawab penuh atas dirinya." Tuan Jaya diam sejenak.


"Pertanyaan Papah, akankah kamu melepaskan tanggung jawabmu demi masa lalu yang telah memberimu luka?" tanya Tuan Jaya penuh penekanan.


"Tapi Ilona tidak bersalah, Pah?" bantah Argha.


Tuan Jaya menarik napasnya dalam dan menghembuskannya dengan perlahan.


"Katakanlah, Ilona tidak bersalah. Lalu kenapa dia harus pergi meninggalkan kamu? Kenapa dia tidak berkata jujur tentang kecelakaan yang menimpanya?"

__ADS_1


Argha diam.


"Satu lagi Ar? Apa Gintani bersalah padamu, sehingga dia harus mendapatkan ketidakadilanmu? Jangan lupa, siapa pria yang telah merusak hidupnya, Ar? Papah tidak pernah mengajarkan kamu untuk menjadi seorang pengecut. Tapi jika kamu masih mengharapkan Ilona. Hari ini juga, Papah akan memutuskan pernikahan kalian. Itu jauh lebih baik daripada Gintani tersakiti oleh sikapmu."


Tuan Jaya mengeluarkan ponselnya, dia kemudian menghubungi seseorang.


"Mal, tolong kamu urus perceraian a_"


"Papah apa-apaan, sih! Sampai kapan pun, Argha tidak akan pernah berpisah dengan Gintani!" ucap Argha, merampas ponsel milik ayahnya.


"Halo...! Halo Tuan...! Hallo...!


Tut.


Argha mematikan ponsel itu dan menyerahkan kembali kepada ayahnya.


"Papah anggap itu keputusanmu, Ar. Jangan pernah kecewakan orang-orang yang sudah jelas-jelas menyayangi kamu!"


"Mas...!"


Panggilan Gintani menyadarkan Argha dari lamunannya. Dia kemudian mencium pucuk kepala Gintani.


"Kamu memiliki hak penuh atas diriku. Apa pun permintaan kamu, jika mampu aku penuhi, pasti akan aku lakukan, Gin. Asal jangan menyuruhku mengambil bulan di langit saja, he..he..," gurau Argha.


"Untuk apa Gintam menyuruh Mas Argha mengambil bulan. Bukankah Tuhan sudah mengirimkan sinar purnama pada Gintan?"


Argha mengurai pelukannya. Sejenak dia menatap istrinya. Tatapan mata itu seakan bertanya, apa maksudmu?


Gintani tersenyum, dia menangkup kedua pipi suaminya dengan telapak tangan kanan kirinya.


"Tuhan telah mengirimkan Gintan sinar purnama dalam wujud seorang imam yang soleh dan tampan. Hidup Gintan sudah cukup sempurna setelah kamu hadir. Gintan hanya tinggal mensyukuri semua nikmat yang telah Dia berikan. Dan wujud syukur Gintan, dengan menjadi seorang istri yang berbakti padamu."


Gintani menatap suaminya. "Gintan mohon, tolong jangan biarkan hawa nafsumu menguasai dirimu lagi, Mas! Jujur Gintan takut melihatnya... ka-kamu tidak seperti Mas Argha yang Gintan kenal. Ja-ngan membuat Gintan berdosa karena tidak mampu menjadi penyejuk hatimu. Gi-Gintan tidak sanggup menanggung dosa itu, Mas!"


Argha terkejut mendengar ucapan Gintani. Argha pikir, Gintani akan meminta dia untuk melepaskan masa lalunya. Namun wanita itu sama sekali tidak mengungkit tentang masa lalu Argha. Bahkan dia tidak bertanya tentang siapa Ilona. Argha sungguh merasa bersalah.


"Maafkan aku, Gin!" jawab Argha kembali menarik Gintani ke dalam pelukannya.


🍀🍀🍀


Pukul 10.25, Jessica tiba di tempat yang telah mereka sepakati sebelumnya.


"Ma-maafkan aku! Jalanan sangat macet, jadi aku terlambat," ucapnya begitu tiba di bangku sudut taman kota.


"Tidak apa-apa, Mbak. Duduklah!" jawab Gintani.


Jessica duduk di samping Gintani. Sudut matanya melirik ke arah wanita yang selalu tampak tenang itu. Benar-benar wanita aneh. Tidak mungkin kan, kalau dia tidak tahu apa-apa tentang Ilona? Tapi, kenapa dia begitu tenang sekali? batin Jessica.


"Apa Mbak Jessi baik-baik saja?" tanya Gintani yang seketika membuyarkan lamunan Jessica.


"A-aku? Aku baik-baik saja. Kenapa kamu bertanya seperti itu?"


"Tidak apa-apa! Syukurlah kalau Mbak baik-baik saja. Jujur, semalaman aku mencemaskan keadaan Mbak," jawab Gintani.


Jessica terkejut mendengar ucapan Gintani. Apa? Wanita yang aku benci justru malah mencemaskan aku? Hei...! Apa dia sudah tidak waras? Jessica kembali bermonolog dalam hatinya.


Gintani mengubah posisi duduknya menghadap Jessica. Dia kemudian meraih tangan Jessica dan menatapnya penuh penyesalan.

__ADS_1


"Mbak, Gintan meminta bertemu dengan Mbak, untuk meminta maaf atas nama Mas Argha. Tolong maafkan semua sikap kasarnya dia tadi malam! Jujur, Gintan tidak tahu jika Mas Argha akan semarah itu. Maafkan dia, Mbak! Gintan mohon!" ucapnya lirih.


Sekali lagi, Jessica dibuat terkejut oleh semua ketulusan wanita yang dianggap rivalnya. Dia benar-benar tidak menyangka jika wanita yang dianggapnya lemah, justru memiliki keberanian untuk menyelamatkan harga diri suaminya yang sangat arrogant.


"Mbak?"


"Eh...! I-iya Gin...sudahlah, ini bukan kesalahan kamu. Wajar jika Argha marah padaku, aku yakin wanita ular itu telah berbicara yang tidak-tidak tentang kejadian itu. Semua ini salahku juga. Dulu, aku terlalu takut untuk berkata jujur tentang kecelakaan yang menimpa Ilona."


"Kecelakaan?" tanya Gintani seraya mengernyitkan keningnya.


"Iya, kecelakaan Gin."


"Ta-tapi maaf, Mbak...semalam, gadis itu bilang sama Mas Argha jika Mbak telah menyiram wajahnya dengan air raksa karena dia menolak perintah Mbak untuk meninggalkan Mas Argha. Apa itu benar?"


"Hmm...sudah kuduga," gumam Jessica.


"Maksud Mbak?"


Jessica menghela napasnya sejenak, kemudian dia menatap lurus hamparan bunga di taman itu.


"Saat itu..."


Jessica merasa geram karena dia selalu mendapat teror dari seseorang. Karena merasa terancam, akhirnya dia meminta temannya yang jago IT, untuk melacak si peneror. Dari data ponsel yang berhasil diretas, diketahui jika si peneror itu adalah Ilona. Jessica pun mulai mencari tahu tentang siapa Ilona.


Dua minggu setelah mengetahui keberadaan Ilona, Jessica dibuat kesal karena tanpa sebab Argha memutuskan hubungan mereka yang baru beberapa bulan terjalin. Argha menuduh Jessica telah bersikap kasar pada Ilona. Padahal saat itu, dia sama sekali tidak mengenal Ilona. Yang dia tahu, Ilona adalah sahabat Argha dan Bram. Bahkan Jessica tidak mengetahui cinta segitiga di antara mereka. Hingga suatu hari, tanpa sengaja dia melihat Ilona di kampusnya. Ternyata, Ilona datang untuk menemui Bram.


Tanpa sepengetahuan mereka, Jessica membuntuti Ilona dan Bram yang berjalan menuju taman belakang kampus. Di sanalah Jessica tahu jika Bram, Argha dan Ilona terlibat cinta segitiga.


Ilona bahkan berlutut kepada Bram, agar Bram mau membantunya mendekatkan dia dengan Argha. Jessica benar-benar marah dengan semua itu. Dia pun meyakini jika hancurnya hubungan dia dan Argha, itu pasti ulah Ilona.


Hari itu, Jessica sengaja menemui Ilona di kampusnya. Teman-teman Ilona mengatakan jika Ilona sedang berada di laboratorium IPA. Jessica bersama temannya pun mencari ruangan itu. Benar saja, gadis itu sedang melakukan sebuah percobaan kimia di lab IPA. Tanpa basa-basi, Jessica menyambar tangan Ilona yang tengah memegang gelas kimia.


"Apa maksud kamu menjelekkan aku di depan Argha, hah?"


Ilona tersenyum sinis. "Aku rasa, kamu tahu apa maksudku yang sebenarnya."


"Cukup Ilona! Aku memang tidak pernah mengenalmu, tapi aku tidak akan membiarkan kesalahpahaman terjadi dalam hubungan aku dengan Argha. Ingat Ilona, Argha membelamu karena dia menganggap kamu sahabatnya, bukan cintanya! Lagipula, aku tidak yakin apa Argha mau menerima cintamu jika dia tahu sahabatnya mencintai kamu?"


"Huh, coba saja kalau berani! Asal kau tahu, kak Argha sudah menyatakan perasaannya padaku. Dia bilang, dia sangat mencintai aku. Dan kamu..., kamu tidak pernah ada artinya dibandingkan aku!" ucap Ilona penuh percaya diri.


"Kau! Berani-beraninya kau_"


"Kenapa? Apa kau tidak suka mendengar kenyataan ini, cewek murahan? Dasar cewek sok kegatelan, ja_"


Plakkk!


Belum selesai Ilona berkata, Jessica telah menamparnya dengan keras.


Tidak Terima dengan tamparan yang mendarat di pipinya, Ilona mengacungkan tangannya hendak menyiramkan cairan yang berada di gelas Kimia yang sedang dipegangnya. Beruntungnya, teman Jessica melihat itu dan segera menepis tangan Ilona.


Dan akhirnya, cairan kimia itu mengenai wajah Ilona dan tangan teman Jessica. Karena panik, Jessica segera membawa temannya pergi ke dokter. Dia meninggalkan Ilona yang tengah meraung-raung kesakitan.


"Seperti itulah kebenarannya, Gin! Aku sama sekali tidak pernah dengan sengaja melakukan penganiayaan terhadap siapa pun. Aku berani bersumpah, Gin. Aku tidak pernah mencelakai dia. Semua itu hanya sebuah kecelakaan."


Gintani diam. Dia sendiri tidak pernah tahu siapa yang harus dia percayai. Namun dia bisa melihat jika Jessica tidaklah seburuk yang orang kira. Malam itu, Gintani bisa merasakan sebuah ketulusan Jessica yang telah menolongnya tanpa mengenal siapa Gintani.


"Anggap saja aku percaya padamu, Mbak!"

__ADS_1


Bersambung.....


Jangan lupa like, vote n komennya yaaaa 🙏🤗


__ADS_2