
Keesokan harinya.
Pagi-pagi sekali Argha dan Gintani pergi ke rumah Tuan Hanzel untuk mengikuti pemakaman almarhum dokter Richard. Keranda sudah siap dimasukkan ke mobil jenazah begitu Argha dan Gintani tiba. Pada akhirnya, Argha dan Gintani tidak jadi turun. Argha kembali melajukan mobilnya dan mengikuti mobil jenazah yang melaju menuju Tempat Pemakaman Umum.
Perjalanan menuju TPU ditempuh selama kurang lebih 20 menit dari rumah. Tiba di TPU, keranda segera diturunkan oleh beberapa orang yang sudah ditugaskan. Prosesi pemakaman pun dimulai. Perlahan, jenazah dokter Richard mulai diturunkan ke bumi sesuai dengan syariat islam. Dengan tegarnya, Tuan Hanzel mengikuti proses pemakaman dari awal hingga selesai.
Begitu banyak orang yang mengantarkan dokter baik hati itu hingga ke tempat peristirahatannya yang terakhir. Mereka tampak mengikuti proses pemakaman tersebut dengan khidmat. Mereka terpaku menyaksikan perlahan tanah itu mulai menutupi jasad sang dokter yang dermawan.
"Bagaimana langkah yang akan kamu ambil selanjutnya, Han?" tanya Tuan Jaya begitu prosesi pemakaman selesai dan orang-orang sudah pulang.
"Maksud kamu?" Tuan Hanzel malah balik bertanya.
"Maksud aku tentang kecelakaan yang menimpa Richard. Apa kamu akan meminta pihak kepolisian untuk mencari siapa pelakunya?" tanya Tuan Jaya.
"Apa dengan menangkap pelakunya, anakku bisa kembali hidup?" tanya Tuan Hanzel.
"Aku tahu. Tapi setidaknya, kita harus memberikan keadilan untuk anakmu. Pelakunya akan merasa keenakan jika kita tidak memberikan hukuman yang setimpal," balas Tuan Jaya.
"Entahlah, Jay! Tapi satu-satunya yang ingin aku lakukan, adalah kembali ke rumahku. Di sini aku tidak punya siapa-siapa lagi. Istri dan anakku telah meninggalkan aku. Dan sekarang, aku tidak tahu untuk siapa lagi aku bertahan dan berjuang," ucap Tuan Hanzel, menatap nanar pada tanah kuburan yang masih basah.
"Jangan seperti itu, Han. Jika kamu memang ingin kembali ke negaramu, aku tidak akan melarangnya. Tapi tolong jangan larang aku untuk menyelidiki kecelakaan yang menimpa anakmu. Aku dan argha akan berusaha sekuat tenaga untuk mencari pelaku tabrak lari itu," jawab Tuan Jaya yang diikuti oleh anggukan Argha.
Tanpa mereka sadari sepasang mata tengah mengawasi mereka dari balik pohon beringin yang cukup besar. Dia adalah Ilona, gadis yang diam-diam mengikuti upacara pemakaman dokter Richard.
Jantung Ilona berpacu lebih cepat dari biasanya setelah mendengar ucapan Tuan Jaya. Aku harus segera menyingkirkan barang bukti, batin Ilona.
Ilona segera pergi dari tempat itu dengan tergesa-gesa. Tujuannya hanyalah satu, yaitu menghilangkan jejak kejahatannya. Umpatan dan sumpah serapah ia lontarkan untuk Gintani yang dia anggap sebagai kesialannya. Tekadnya untuk menghancurkan wanita itu pun semakin kuat.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Menjelang dzuhur, Argha dan Gintani tiba di rumah. Argha segera merebahkan tubuhnya di atas sofa. Sementara itu, Gintani pergi ke dapur untuk membuat minuman dingin dan juga camilan. Selang beberapa menit, dia kembali ke ruang keluarga dengan membawa nampan yang berisi camilan dan dua gelas jus jeruk.
"Minum, Mas?" Gintani menawarkan minuman untuk suaminya. Dia kemudian meletakkan nampan itu di atas meja.
Argha bangun, "Terima kasih, Sayang!" ucap Argha seraya mengambil segelas jus jeruk dan mereguknya. "Oh iya, Yang. Aku penasaran tentang kecelakaan itu, sebenarnya kronologisnya seperti apa?" tanya Argha kepada istrinya.
Gintani menghela napasnya. Dia merasa berduka ketika harus mengingat kembali kejadian buruk itu.
"Sebenarnya Gintan nggak tahu persis, Mas. Kejadiannya begitu cepat, yang Gintan ingat, kak Richard berteriak memanggil Gintan. Saat Gintan menoleh, tiba-tiba dia mendorong Gintan hingga Gintan jatuh. Saat Gintan bangun, Gintan melihat kak Richard sudah terpental karena tertabrak mobil itu," jawab Gintani mencoba menceritakan kecelakaan yang terjadi di depan matanya kemarin malam.
"Lalu, sedang apa kalian di sana? Bukankah Mas sudah bilang supaya kamu nunggu Mas di dalam rumah sakit. Apa waktu itu, kalian hendak pulang?" tanya Argha lagi.
"Bukan, Mas. Waktu itu kami baru kembali dari apotek di seberang rumah sakit," jawab Gintani.
"Untuk menebus obat Gintan," jawab Gintani.
"Kenapa harus di apotek depan? Kenapa tidak di apotek yang berada di rumah sakit?" Argha kembali bertanya.
"Entahlah, Mas. Dokter Andre memberikan resep obat itu dan menyuruh Gintan menebusnya di apotek depan. Sebenarnya, kak Richard juga bertanya seperti itu, tapi saat dia tahu dokter Andre yang memberikan resep. Dia berkata jika dokter Andre memang selalu menyarankan pasiennya untuk menebus obat di sana," jawab Gintani panjang lebar.
"Hmm, baiklah. Besok Mas dan papa akan melaporkan kasus tabrak lari ini ke kantor polisi. Semoga saja, kita bisa menemukan titik terang," ucap Argha sambil mengusap pelan punggung tangan Gintani.
"Aamiin...," jawab Gintani penuh harap.
🍀🍀🍀
__ADS_1
Ilona berjalan mondar-mandir di apartemennya. Wajahnya terlihat sangat kusut sekali. Sesekali dia berhenti dan meringis menahan rasa sakit di bagian perut bawahnya.
"Tidak! Aku tidak boleh lemah. Pertama, aku harus menyingkirkan mobil itu. Coba aku ingat-ingat, hmm ... kira-kira, siapa orang yang bisa membantuku untuk menjual mobil itu," gumam Ilona sambil terus berjalan ke sana dan kemari.
Sejenak, Ilona duduk di sofa. Kedua tangannya dia lipat di dada. "Celine," gumam Ilona. Apa Celine bisa membantuku? Ish, dia bukan orang yang pintar menyimpan rahasia. Tidak! Dia bukan pilihan yang tepat untuk tugas itu, lalu siapa? batin Ilona.
Senyum menyeringai tiba-tiba terpampang jelas di wajahnya. "Ya, aku tahu aku harus meminta bantuan siapa," gumamnya lagi. Oke, akan aku temui dia sekarang, batin Ilona.
Ilona segera pergi ke kamar untuk berganti pakaian. Setelah dirasa cukup rapi, dia keluar dari apartmennya. Dia melajukan mobilnya menuju ke sebuah tempat.
🍀🍀🍀
Sementara itu di klinik Mahardika Heart Centre. Nando masih terus berusaha menenangkan istrinya. "Sabarlah, Ma! Anak kita pasti bisa bertahan. Dia anak laki-laki yang sangat kuat," ucap Nando, mengusap punggung istrinya.
"Tapi sampai kapan, Pa?" tanya Mela. "Aku sudah tidak sanggup lagi melihat dia kesakitan seperti itu, Pa. Dia masih terlalu kecil untuk selalu merasakan suntikan demi suntikan di beberapa bagian tubuhnya," lanjut Mela.
"Iya, Papa tahu. Papa juga sedang berusaha untuk mengumpulkan uang agar kita bisa melakukan transplantasi jantung untuk anak kita. Papa mohon, bersabarlah!" pinta Nando.
"Pa, apa sebaiknya kita jual rumah saja?" tanya Mela.
"Jangan, Ma. Rumah itu satu-satunya peninggalan orang tua Papa. Apalagi Papa memiliki adik perempuan. Mau tinggal di mana Sarah, jika Sarah keluar dari rumah sakit jiwa?" jawab Nando.
Mela hanya bisa diam dan kembali terisak dalam pelukan suaminya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan, Pa?"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya ya... 🙏🤗