
Argha segera berlari menuju lift dan menekan tombol angka lantai apartemen Kevin. Beberapa menit kemudian, pintu lift terbuka, Argha kembali berlari menuju apartemen sahabatnya itu. Pikirannya benar-benar kacau. Entah apa sebenarnya yang terjadi. Kenapa para pemburu berita itu seolah sedang mencarinya.
Argha menekan pintu apartemen Kevin. Namun, rupanya sang pemilik apartemen masih tenggelam dalam mimpinya. Karena masih tak mendapatkan jawaban, Argha pun menggedor pintu apartemen Kevin.
Sementara itu, di kamar luas dengan kasur king size yang empuk, seorang pemuda tampak membuka matanya.
"Hooaam...."
Pemuda itu menguap seraya menggeliatkan badan. Tidurnya yang lelap sangat terganggu dengan suara berisik di luar kamarnya. Dengan mendengus kesal, dia pun bangkit dan keluar untuk membukakan pintu.
"Ya, sebentar!" teriak Kevin yang tidurnya terusik akibat gedoran pintu apartemennya.
"Ish, siapa pagi-pagi sudah datang bertamu?" gerutu Kevin.
Klek!
Kevin hanya bisa melongo saat pintu terbuka, seorang pria masuk begitu saja tanpa permisi.
"Emang nggak ada akhlak, lo! Udah ganggu tidur orang, eh ... masuk tanpa permisi," ucap Kevin semakin kesal.
"Diem lo, jangan banyak ngomong!" teriak Argha yang mendaratkan bokongnya di atas sofa.
"Ngapain pagi-pagi lo datang ke apartemen gue?" tanya Kevin menghampiri Argha.
"Ish ... mundur-mundur lo!" usir Argha pada Kevin yang hendak duduk di sampingnya.
"Lo kenapa sih, Ar?" Kevin semakin berdecak kesal dengan perintah Argha.
"Setidaknya lo cuci muka dulu, napa? Noh, jigong lo masih nempel di pipi. Iiiyyy...!" Argha bergidik geli melihat raut muka kevin yang masih berwajah bantal.
"Ah, rese lo...!" Kevin menggerutu, tapi dia pun pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Tak lama kemudian, Bram datang menemui Argha.
"Gawat, Bos! Aku tahu kenapa para wartawan itu berkerumun di kantor kita?" ujar Bram begitu mendaratkan bokongnya di kursi dan berhadapan dengan Argha.
"Kenapa memang?" tanya Argha.
"Bos lihat ini!"
Bram menyalakan televisi. Seketika Mulut Argha terbuka lebar saat melihat sebuah tayangan di televisi.
"What!" pekik Kevin dari arah belakang mereka.
"Ish, ngagetin aja lo!"
Argha dan Bram terkejut dan langsung melemparkan bantal sofa kepada bocah tengil, sahabat mereka.
__ADS_1
"Gila lo, Ar! Lo ngapain tidur sama cewek itu? Lo? Ish, lo bener-bener nggak punya hati. Ya Tuhan, Ar... gue nggak bisa bayangin reaksi kakak ipar kalau lihat ini," cerocos Kevin.
"Diam! Berisik lo! Jangan bawa-bawa dia lagi dalam urusan gue, ngerti lo!" Argha membentak Kevin.
Kevin hanya bisa melongo melihat kemarahan Argha. Bisa-bisanya dia lebih galak dari gue. Bukankah dia yang telah berbuat kesalahan? batin Kevin.
"Sepertinya, mereka ngejar-ngejar lo untuk meminta klarifikasi soal ini, bos," ujar Bram.
Argha terdiam.
Ya Tuhan ... apa yang harus aku lakukan? Reputasiku benar-benar dipertaruhkan saat ini. Ish, kenapa aku bisa seceroboh ini? batin atrgha.
Belum hilang rasa keterkejutan Argha oleh berita skandal itu, tiba-tiba ponsel Argha berdering. "Papa," gumam Argha. Mereka hanya saling pandang menanggapi telepon yang terus berdering.
"Angkat Bos!" kata Bram.
Argha diam. Sungguh saat ini dia ingin memiliki ilmu menghilang agar tidak harus berhadapan dengan siapa pun.
"Lo nggak mau angkat telpon om Jaya, Ar? Ya sudah, biar gur saja yang angkat teleponnya," ucap Kevin seraya menyambar telepon yang dipegang Argha.
"Halβ"
"Argha, pulang!"
Tut.. Tut.. Tut...
"Ar, bokap lo nyuruhβ"
"Iya, gue tahu." Argha memotong ucapan Kevin. "Ayo, Bram ... antar gue pulang!" perintah Argha kepada Bram.
Mereka pun beranjak pergi dari apartemen Kevin.
πππ
Di apartemen yang lainnya. Ilona tersenyum lebar saat melihat tayangan televisi. Berita tentang seorang pengusaha muda yang terlibat skandal, menjadi trending topic dalam berbagai acara di stasiun TV swasta. Terlebih lagi, dalam video yang berdurasi sekitar 5 menit itu terlihat jelas sang pemain utama.
"Hmm, kali ini kamu tidak mungkin bisa berkelit lagi, kak. Akan aku pastikan, cepat atau lambat kamu harus menikahi aku," gumam Ilona.
"Astaghfirullah hal adzim, Nona!"
"Ish, kamu...? Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu dulu jika ingin memasuki kamar orang?" tanya Ilona dengan kesalnya.
"Ma-Maaf, Nona. Kedua tangan saya membawa nampan, dan saya melihat pintu kamar terbuka. Jadi saya langsung masuk saja. Sekali lagi saya minta maaf. Ini, saya bawakan sarapan dan obat Anda, Nona. Tadi pagi, saya lihat Anda masih tertidur, jadi saya tidak berani membangunkan Anda," jawab perawat itu.
"Taruh saja di sana!" perintah Ilona.
Perawat itu mengangguk. Dia kemudian menaruh nampan yang berisi sarapan Ilona beserta obat-obatannya di meja makan.
__ADS_1
"Ma-Maaf Nona, apa yang diberitakan di televisi itu, benar adanya?" tanya perawat itu.
"Bukan urusanmu!" jawab Ilona ketus.
"Saya tahu, tapi bukankah pak Argha telah memiliki istri? Saya rasa, tidak baik menjalin hubungan dengan seorang pria yang telah beristri. Lagi pula, Nona sangat cantik. Saya yakin, di luar sana, pasti banyak laki-laki yang mendambakan Nona," ucap perawat itu lagi.
"Aku tidak minta pendapatmu, jadi pergi dari sini sebelum aku melakukan sesuatu yang tidak akan pernah kamu lupakan seumur hidupmu. Paham!" bentak Ilona
"Ba-Baik, Nona."
Tak ingin membuat majikannya bertambah marah, perawat itu pun keluar dari kamar Ilona.
πππ
Plak!
Entah untuk ke berapa kalinya tamparan keras itu mendarat di pipi Argha. Sejak tiba 10 menit yang lalu, hanya tamparan yang dia dapatkan dari ayahnya.
"Papa cukup...! Jangan pukul Kak Argha lagi!" jerit Nadhifa sambil merangkul tubuh Argha yang terduduk di lantai.
Ya, sejak kecil ... sehebat apa pun kemarahan sang ayah, Argha tidak pernah bisa melawannya. Dia hanya akan diam dan menerima semua kemarahan ayahnya. Karena dia sangat mengenal baik sifat sang ayah. Tuan Jaya tidak akan mungkin bisa semarah ini jika hatinya tidak terluka oleh perbuatan sang anak. Selalu ada maaf untuk setiap kesalahan, tapi tidak untuk kesalahan yang telah melukai harga dirinya dan mencoreng nama baik keluarga.
"Jawab Argha! Kenapa kamu bisa bertindak sejauh itu? Belum ada sehari Ar ... belum ada sehari kamu resmi bercerai dari istri kamu, tapi kamu malah bermain gila dengan perempuan itu. Apa kamu sudah tidak waras, hah?" teriak Tuan Jaya.
"Papa, sudahlah! Jangan terlalu emosi, nanti darah tinggi Papa bisa kumat. Lagi pula, mereka sudah dewasa, jadi mereka tahu apa yang harus mereka lakukan untuk menyelesaikan masalah ini." Nyonya Rosma mencoba menenangkan suaminya.
"Jangan pernah ikut campur, Rosma. Ini urusan aku dengan anakku," ucap Tuan Jaya dingin.
"Tapi, Pa...."
"Pergi!" teriak Tuan Jaya kepada istrinya.
Nyonya Rosma mendengus kesal. Dia pun berlalu menuju kamarnya.
"Argha bisa jelaskan, Pa. Argha sendiri tidak tahu kenapa Argha bisa berada di sana. Argha tidak ingat apa pun, Pa." Argha berusaha membela diri.
Tuan Jaya berjongkok dan meraih kerah baju anaknya.
"Apa maksud kamu dengan tidak ingat apa-apa, hah? Apa kamu ingin mempermainkan ayahmu yang sudah tua ini, begitu?" tanya Tuan Jaya.
"Bukan begitu maksud Argha, Pa. Demi Tuhan, Argha tidak bermaksud mempermainkan Papa, tapi Argha tidak bohong. Argha tidak ingat apa pun tentang kejadian itu. Argha hanya tahu Argha sudah berada di kamar itu bersama Ilona. Malam itu Argha mabuk, Pa ... Argha tiβ"
Plak!
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa π€π
__ADS_1