
Keesokan harinya.
"Putri belum bangun, Min?" tanya Gintani yang melihat sudah jam 7 pagi tapi Putri belum berada di meja makan.
"Anu, Nya ... Non Putri tidak mau bangun," jawab Mina.
"Loh, hari ini dia sekolah, 'kan?" tanya Gintani lagi.
"Sekolah, Nya," jawab Mina.
"Ya sudah, biar aku yang bangunkan Putri," ucap Gintani seraya pergi ke kamar anaknya.
Gintani membuka pintu kamar Putri. Terlihat anak itu sedang tidur menyamping. Tapi Gintani tahu jika Putri hanya pura-pura tidur. Gintani pun mendekati Putri dan duduk di belakangnya.
"Apa kamu tidak ingin sekolah hari ini?" tanya Gintani.
Putri diam.
"Kalau tidak mau sekolah, Mama tidak akan memaksa. Tapi Putri harus makan. Putri pasti lapar, bukankah sejak semalam Putri belum makan?" tanya Gintani lagi.
Sama sekali tak ada reaksi dari Putri.
Hati Gintani sakit melihat Putri mendiamkannya, tapi dia tidak ingin berputus asa. Dia masih berusaha membujuk Putri agar bisa kembali ceria.
"Mama tahu Putri marah. Tapi, Putri nggak boleh telat makan. Mama nggak mau Putri sakit gara-gara telat makan. Apa Putri tidak kasihan sama cacing-cacing yang berada dalam perut Putri?" ucap Gintani.
Putri malah menarik selimut dan menutupi wajahnya.
Gintani menarik napasnya panjang, kemudian mengembuskannya dengan perlahan. Paham jika anaknya tidak ingin diganggu, Gintani pun keluar kamar.
"Tolong nanti kamu antarkan sarapan Putri ke kamarnya!" pinta Gintani kepada Mina.
Mina mengangguk.
"Terima kasih ya, Min," ucap Gintani menepuk pelan bahu Mina, sejurus kemudian Gintani pun kembali menuju ruang kerjanya.
"Ibu nggak makan dulu?" tanya Mina yang heran majikannya pergi kerja tanpa sarapan terlebih dulu.
Gintani menghentikan langkahnya. "Nanti saja, Min. Aku tidak lapar," jawab Gintani.
Mina diam.
Tiba di ruang kerjanya, Gintani segera menghubungi Heru.
"Assalamu'alaikum, Gin!" sapa Heru di ujung telepon.
"Wa'alaikumsalam," ucap Gintani. Suara Gintani terdengar parau karena menahan tangisnya.
__ADS_1
"Kenapa, Gin? Kamu nangis?" tanya Heru yang mendengar suara Gintani berbeda dari biasanya.
"Nggak, Mas. Gi-Gintan cuma sedih saja," ucap Gintani. Tangannya mulai menyeka air mata yang jatuh tanpa permisi.
"Sedih kenapa?" Tanya Heru.
Putri ... Putri tidak mau bicara sama Gintan, Mas," jawab Gintani.
"Tapi kenapa, Gin?" tanya Heru heran.
"Se-sepertinya, Putri marah sama Gintan, Mas. Dia juga tidak mau sarapan. Sampai detik ini, dia tidak mau keluar kamar," jawab Gintani.
"Ya sudah, nanti siang Mas telepon Mina untuk disambungkan sama Putri. Pagi ini, Mas ada meeting penting. Nanti kalau sempat, Mas usahain makan siang di rumah kamu," ucap Heru.
"Iya, Mas. Terima kasih, maaf sudah mengganggu waktunya," ucap Gintani merasa tak enak harus terus menyusahkan Heru.
"Tidak apa-apa. Mas tutup teleponnya ya, Gin. Assalamu'alaikum!" ucap Heru mengakhiri pembicaraannya.
"Wa'alaikumsalam," jawab Gintani.
🍀🍀🍀
Argha mengerjapkan matanya saat sayup-sayup dia mendengar suara nin Ifah memanggilnya. Argha pun bangun dan menggeliatkan badan. Sedetik kemudian, dia berjalan untuk membuka pintu kamarnya.
"Sudah siang, Di. Mandi dulu, setelah itu sarapan," ucap nin Ifah begitu melihat cucunya berdiri di ambang pintu.
"Ya sudah kalau begitu. Hari ini, Enin mau ke makam kakekmu dulu, kamu nggak akan ke mana-mana, 'kan?" tanya Nin ifah.
"Nggak, Nin. Adi nggak punya acara keluar. Nin ke makan sama siapa? Mau Adi antar?" tanya Argha.
"Tidak usah. Nin berangkat sama kakek Abdul dan nek Khalimah. Ya sudah, Nin siap-siap dulu. Kamu tolong jaga rumah, ya!" pinta nin Ifah.
"Iya, nin. Hati-hati di jalan," ucap Argha.
Nin Ifah tersenyum. Setelah mengelus pipi cucunya sebentar, nin Ifah pun pergi ke kamarnya untuk bersiap-siap.
Argha kembali menutup pintu. Dia melangkahkan kakinya dan berhenti di depan jendela kamarnya. Argha pun duduk di jendela kamarnya. Matanya menatap kosong hamparan bunga mawar putih di taman samping dekat jendela kamar. Semerbak wanginya memasuki ruangan kamar Argha.
Argha tersenyum lucu mengingat pertemuan pertamanya dengan Putri. Tuhan memang selalu memiliki cara yang unik untuk mempertemukan takdir seseorang dengan pasangannya. Tapi takdir miliknya? Argha merasa bahwa takdir dirinya seperti sebuah lelucon saja.
"Bertahun-tahun aku mencari keberadaan Na. Padahal sebenarnya Na ada di hadapanku. Entah kenapa aku tidak bisa mengenalinya? Lucu sekali bukan? Dan sekarang, aku bahkan tidak mengenali anakku, darah dagingku sendiri. Ya Tuhan, permainan takdir seperti apa ini?" gumam Argha.
Argha tertawa, mentertawakan takdir hidupnya. Orang yang sejak kecil ingin dia lindungi. Tapi justru malah dia sendiri yang menghancurkan masa depannya. Tidak Na ... aku tidak mau kehilangan dirimu untuk yang kedua kalinya. Aku akan berjuang untuk kembali meraih cintamu. Karena aku yakin, kita tercipta untuk saling melengkapi, batin Argha.
🍀🍀🍀
kemarahan Putri membuat Gintani merasa bersedih. Dia sangat khawatir karena Putri sama sekali tidak ingin menyentuh makanan. Pada akhirnya, dia meminta Heru untuk membujuk Putri.
__ADS_1
"Di mana dia?" tanya Heru begitu tiba di rumah Gintani.
"Di kamarnya, Mas," jawab Gintani terlihat cemas.
Heru menyimpan tasnya di sofa. Dia kemudian pergi ke kamar anak asuhnya.
"Assalamu'alaikum Putri-nya Papa, apa Papa boleh masuk?" tanya Heru mengetuk pintu kamar Putri.
"Masuk saja, Pa! Pintunya tidak dikunci, kok," jawab Putri dari dalam kamar
Heru menekan handle pintu kamar Putri dan membukanya. Tampak Putri sedang duduk bersandar pada headboard ranjang.
"Kata mama, Putri lagi mogok makan, ya?" tanya Heru mendekati putrinya.
"Putri cuma nggak lapar saja, Pa," jawab Putri.
"Kenapa? Apa Putri masih kepikiran soal kemarahan mama semalam?" tanya Heru lagi.
Putri menggelengkan kepalanya.
"Lalu?" Heru merasa penasaran.
"Putri masih kepikiran kenapa Papa nggak pernah pulang ke rumah? Apa Papa marah sama mama? Atau Papa marah sama Putri? Putri janji, Pa! Putri bakalan jadi anak yang baik. Putri akan jadi anak yang berbakti pada mama dan Papa. Putri nggak bakalan ngecewain Papa - mama lagi. Tapi Putri mohon, Papa mau pulang ke rumah, ya!" Papa mau tinggal sama mama sama Putri di sini. Putri mau kita tidur bersama, Pa! Seperti Eca yang selalu tidur sama mama - papanya. Tapi putri nggak bisa tidur sama Papa, 'kan? Karena setiap kali Papa datang, pasti Papa akan kembali pulang ke rumah Papa. Padahal Putri hanya ingin tidur bersama Papa," pinta Putri, memelas.
Heru terenyuh mendengar keinginan Putri. Maafkan Papa, Put. Sebenarnya Papa ingin mewujudkan keinginan kamu. Papa juga mau tinggal sama kalian. Tapi mama kamu tidak pernah mengizinkan Papa memasuki hatinya, batin Heru.
Heru hanya tersenyum mendengar permintaan Putri. Dia pun mendekati Putri dan memeluknya. Sementara di balik pintu. Hati Gintani terasa sakit mendengar keinginan sederhana putrinya. Namun, entah kenapa dia tak mampu membuka pintu hatinya untuk yang lain. Maafkan Mama, Sayang, batin Gintani seraya menyeka air matanya yang mulai menetes di pipi.
"Siapa bilang Putri tidak bisa tidur sama Papa. Bukankah malam ini Papa akan menginap di sini? Iya, 'kan, Pa? Malam ini Papa akan tidur sama Putri, dan kita akan tidur bersama, 'kan Pa?"
Heru terkejut melihat kedatangan Gintani. Dan dia lebih terkejut mendengar ucapan Gintani. Namun, tidak bisa dipungkiri jika hati Heru saat ini tengah berbunga-bunga akan ucapan Gintani. Heru pun tersenyum kepada putrinya.
"Benarkah itu, Pa?" tanya Putri memastikan.
"Iya, Sayang," jawab Heru membelai pucuk kepala putrinya.
"Yeayy ... Papa pulang ... Papa pulang...!"
Seketika Putri berdiri dan melompat-lompat di atas tempat tidurnya dengan wajah bahagia yang sulit untuk digambarkan.
"Terima kasih, Mas," ucap Gintani, lirih.
Heru tersenyum nenanggapi ucapan terima kasih dari Gintani.
Apa pun akan aku lakukan untuk kebahagiaan kalian.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏