
Gintani menatap Bram. Dia benar-benar tidak percaya dengan apa yang telah diucapkan oleh Bram. Benarkah Ilona mempunyai niat jahat seperti itu? Tapi kenapa? Apa karena dia masih mencintai Mas Argha? batin Gintani. Dia melirik suaminya yang hanya bisa diam.
Tiba-tiba terdengar suara ketukan pintu yang dibarengi dengan masuknya dokter Richard.
"Ah, sudah sadar kamu, Ar!" ucap dokter Richard.
Argha hanya diam, tak bermaksud untuk menjawab ucapan orang yang selalu dianggap musuhnya.
"Mas, kok diam? Dokter Richard lagi bicara sama kamu, loh!" tegur Gintani.
Argha masih bergeming. Gintani pun hanya bisa menghela napasnya saat melihat sikap kekanak-kanakan suaminya.
"Maaf, ya dok! Mungkin Mas Argha belum sepenuhnya sadar," ucap Gintani menyindir suaminya.
Argha menoleh, dia menatap Gintani dengan perasaan tak suka. Nyali Gintani menciut seketika, mendapati tatapan tajam sang suami.
"Tak apa. Saya periksa dulu, ya?" jawab dokter Richard seraya mendekati Argha.
Argha yang hendak diperiksa pun segera berbaring. Setelah beberapa menit, dokter Richard melepaskan stetoskop-nya dari dada Argha.
"Kondisi kamu sudah semakin membaik, Ar. Kemungkinan, besok kamu bisa dipindahkan ke ruang rawat," ucap dokter Richard.
"Apa tidak bisa sekarang?" tanya Argha.
Dokter Richard mengernyitkan dahinya.
"Aku tidak nyaman berada di sini. Aku butuh privasi lebih untuk menghabiskan waktu berdua bersama istriku," ucap Argha.
"Mas!" Gintani memekik pelan, merasa malu dengan ucapan suaminya yang tak tahu tempat.
Dokter Richard tersenyum memahami ucapan pasiennya. "Baiklah, aku akan perintahkan perawat untuk memindahkan kamu. Kebetulan, ruang VVIP yang dipesan ayah sudah siap," ujar dokter Richard.
"Hmm, itu jauh lebih bagus," jawab Argha.
Gintani hanya menggelengkan kepala melihat sikap arogansi suaminya.
Satu jam kemudian, Argha telah menempati ruang VVIP yang khusus dipesan Tuan Jaya. Tidak terlalu sulit bagi Argha untuk mendapatkan fasilitas terbaik dari rumah sakit terbesar di kotanya, mengingat perusahaan sang ayah merupakan salah satu donatur utama sejak rumah sakit ini dibangun hingga sekarang.
Selang beberapa menit dipindahkan, kunjungan pihak keluarga pun mulai berdatangan. Nadhifa, adik satu-satunya langsung menghambur ke dalam pelukan Argha. Dia mulai menangis.
"Jangan lakukan ini lagi, Kakak. Fa takut," ucap Nadhifa sambil terisak di dada bidang sang kakak.
__ADS_1
Argha hanya bisa tersenyum, mendekap erat adiknya. "Sudah jangan menangis lagi, Fa. Kakak baik-baik aja, kok!" jawab Argha
Nadhifa merenggangkan pelukannya. "Fa nggak mau kehilangan Kakak," ucapnya dengan bibir bergetar.
Argha kembali tersenyum. Kedua tangannya menyeka air mata di kedua pipi adiknya. "Tidak akan, Fa. Kakak janji, Kakak tidak akan pernah meninggalkan kamu,"
"Janji?" ucap Nadhifa, mengacungkan jari kelingkingnya.
"Hmm, janji," balas Argha, menautkan jari kelingkingnya di jari kelingking sang adik. Mereka pun kembali saling berpelukan. Hingga akhirnya momen itu terhenti oleh dehaman Tuan Jaya.
"Ehm-ehm...! Sudah, fa. Lepaskan kakakmu. Biarkan dia beristirahat dulu. Nanti setelah benar-benar sehat, kamu bisa memeluknya sepuas hatimu," ucap Tuan Jaya mendekati kedua anaknya.
"Uuuh, Papa....," rengek Nadhifa seraya melepaskan pelukannya.
Semua orang tersenyum lucu melihat ekspresi Nadhifa yang menggerutu karena ulah ayahnya.
"Cepat sembuh, Nak! Papa sudah siapkan kejutan untuk kamu dan istrimu," ucap Tuan Jaya seraya mengusap lembut rambut putranya.
"Kejutan?" tanya Argha dan Gintani berbarengan.
"Hmm, kalian memang benar-benar berjodoh, sampai berbicara pun berbarengan seperti itu," gurau Tuan Jaya.
"Kejutan apa untuk mereka, Pa?" tanya Nadhifa yang ikut penasaran mendengar ucapan ayahnya.
"Diih, anak kecil mau tahu saja," ledek Tuan Jaya, memijit hidung putrinya.
"Huuhh...." Nadhifa semakin mengerucutkan bibirnya mendengar ledekan ayahnya.
"Iya, Pa. Memangnya, kejutan apa?" tanya Argha .
"Ini!" Tuan Jaya menyerahkan sebuah amplop putih kepada anaknya.
Argha menerima dan membuka amplop tersebut. Bola matanya membulat sempurna saat melihat dua lembar tiket pesawat menuju Lajuan Bajo.
"Ini untuk kami, Pa?" tanya Argha.
Tuan Jaya mengangguk.
"Tapi untuk apa?" tanya Argha lagi.
"Papa pikir, ini waktu yang tepat untuk kalian memberikan cucu untuk Papa," jawab Tuan Jaya.
__ADS_1
"Maksud Papa?"
"Nak, maafkan Papa. Setelah kamu menikah, Papa justru membebani kamu dengan proyek-proyek Papa yang tertunda. Sampai kamu tidak punya waktu untuk menikmati waktu bersama dengan istrimu. Dan sekarang, kamu harus mengurusi proyek besar dari daddy Hanzel. Jadi Papa pikir, sebelum kamu menangani proyek itu, ambillah cuti dan nikmati kebersamaan kalian. Ya, hitung-hitung me-refresh pikiran kalian, lah!" saran Tuan Jaya, seraya melirik ke arah menantunya.
"Ide yang bagus. Gimana, Gin?" tanya Argha meminta pendapat istrinya.
"Gintan terserah Mas saja. Yang penting Mas sehat dulu. Percuma kita liburan kalau kondisi Mas dalam keadaan sakit seperti ini."
"Kenapa? Nggak bisa main kuda bareng, ya?" ucap Argha seraya menaikturunkan kedua alisnya.
"Ish, Mas!" seru Gintani, memukul pelan lengan suaminya. Wajahnya sudah memerah bak kepiting rebus saat mendengar omongan ngelantur suaminya di depan mertua, Nadhifa dan asisten suami juga mertuanya.
"Kok, Papa curang sih? Fa, kan mau juga liburan ke Labuan Bajo," rengek Nadhifa seraya memeluk ayahnya.
"Nikah dulu, Dek! Baru minta ke Labuan Bajo," ledek Argha.
"Benar apa yang kakak kamu bilang, Fa. Kamu nikah dulu, baru nanti Papa kasih tiket honey moon ke Labuan Bajo. Benar, kan, Mal?"
"Uhuk... uhuk...!"
Bram yang sedang meminum air mineralnya langsung tersedak mendengar ucapan bos ayahnya. Sedangkan Pak Jamal hanya tersenyum kecut menanggapi omongan tuannya. Jangan sampai takdir menyatukan mereka, atau hubunganku dengan Tuan Jaya akan menjadi kaku, batin Pak Jamal.
Nadhifa tersipu malu, mendengar ucapan sang ayah. Diam-diam, dia mencuri pandang ke arah kekasihnya. Tatapan mereka bertemu, ada binar kebahagiaan yang menyiratkan isi hati masing-masing.
"Ya sudah, sebaiknya kita pulang sekarang, agar kakakmu bisa beristirahat."
"Tapi, Pa. Fa boleh tinggal di sini, kan, buat jagain Kak Argha."
"Tidak perlu, kakakmu sudah ada yang mengurusnya. Lagi pula, keberadaan kamu hanya akan menjadi nyamuk di tempat ini. Memang kamu mau?" Kembali Tuan Jaya meledek putrinya.
"Ish, Papa ini. Ya, enggaklah...siapa juga yang mau jadi kambing congek?" gerutu Nadhifa.
"Ya, sudah. Ayo, ikut Papa pulang. Biarkan kakak dan kakak iparmu merencanakan perjalanan bulan madunya tanpa gangguan darimu. Bram, ajak Nadhifa pulang!" perintah Tuan Jaya.
Tentu saja perintah itu semakin membuat wajah Pak Jamal terlihat kusut. Namun Pak Jamal tak mampu protes. Dia hanya bisa mengusap dadanya saat tuannya menggoda putra-putri mereka.
Bersambung...
Mohon maaf, baru bisa up kembali.
Jangan lupa like, vote n komennya, ya...??
__ADS_1