
...Masih area 21+...
...Dimohon bijak dalam membaca....
"Apa yang kamu rasakan, Sayang?" bisik Argha di telinga Gintani.
"Hot rain," jawab Gintani tersipu malu.
Argha masih terus bergerak maju mundur cantik di depan Gintani. Sedangkan Gintani melingkarkan kedua tangannya di leher Argha. Sesekali bibir meraka beradu untuk lebih menikmati perjalanan cintanya.
Argha melepaskan pagutannya. Dia menempelkan keningnya di kening Gintani. Tubuh bagian bawahnya terus bergerak berirama di depan Gintani. Senyumnya terukir indah di bibirnya yang sedikit tebal.
"Apa kamu menikmatinya?" tanya Argha.
Gintani mengangguk pelan. Dia tidak bisa berbohong jika dia pun sangat menikmati semua yang telah diberikan suaminya. Sentuhannya, kecupannya, dan semua permainan-permainan kecil Argha yang mampu membuat dirinya merasakan foreplay.
Tangan Argha menahan pinggang Gintani. Dia mulai memacu gerakannya semakin cepat, secepat kucuran air hujan yang semakin deras.
"Aarggghhhh....."
Dengan satu hentakan yang kuat, Argha mengerahkan pasukannya untuk menerobos masuk ke bagian terdalam goa kenikmatan itu. Tubuh keduanya bergetar hebat saat merasakan puncak cinta yang luar biasa indahnya.
"Peluk aku, Gin!" titah Argha.
Gintani menurunkan kedua tangannya dari leher Argha. Dia pun mulai memeluk tubuh kekar itu dengan erat. Untuk sejenak, mereka saling berpelukan menikmati setiap rasa yang kini telah mereka salurkan satu sama lain.
Argha menatap Gintani penuh kehangatan. Tak ada lagi tatapan intimidasi yang terpancar dari manik mata yang tampak kehitaman itu. Yang ada hanyalah sinar kebahagiaan atas apa yang telah dia rengkuh saat ini. Kamu milikku, dan selamanya akan selalu menjadi milikku. Kalimat itu pernah Argha ucapkan dulu. Dulu, saat untuk pertama kalinya Argha merengkuh kenikmatan meskipun dengan cara memaksa. Dan kini.... Kini Argha telah membuktikan bahwa Takdir Gintani adalah miliknya! Bersamanya untuk selamanya.
Puas menatap istrinya yang semakin terlihat bersinar, perlahan Argha menarik Perkututnya dari dalam goa penuh kenikmatan itu.
Syeerrr....
Lava hangat keluar dari mulut goa, mengalir menuju pangkal paha yang putih bersih. Argha mengusap lava itu dengan senyum menyeringai. Tangan jahilnya kembali bermain-main di mulut goa yang menyimpan sejuta kenikmatan. Argha sangat bahagia melihat tubuh Gintani menari eksotis di antara derasnya air hujan. Sungguh kebahagiaan yang tidak mampu diungkap dengan untaian kalimat.
"Mas.... Ishhh... sa... sakit...." rintih Gintani dengan mata terpejam. Sakit kok merem sih, Gin..., batin othor.
"Tapi enak, kan?" goda Argha tersenyum jahil. Jari telunjuknya masih terus lincah menari-nari di depan goa kenikmatan.
Kedua pipi Gintani, merona mendengar godaan suaminya.
__ADS_1
Argha menghentikan tariannya. "Kemarilah!" ujarnya seraya menarik tangan Gintani menuju sebuah ayunan kursi. Dia mendaratkan bokongnya di kursi itu dan menarik tubuh Gintani hingga duduk menyamping di pangkuannya.
Gintani semakin tersipu malu saat tangan Argha mulai menyusuri lekukan tubuhnya.
"Mas... apa kamu tidak malu, kita seperti ini di sini?" tanya Gintani yang merasa risih karena harus berduaan di luar ruangan tanpa sehelai benang yang menutupi tubuh mereka.
"Maksud kamu?" Argha balik bertanya tanpa menghentikan gerakan tangannya. Lidah nakalnya seolah tak mau berhenti menari di ceruk leher gintani. Sesekali, jari jemari yang jahil itu memainkan bukit kembar istrinya.
"Kamu tahu, Mas? Kita seperti manusia primitif saja, yang hidup di alam liar tanpa mengenakan apa-apa," jawab Gintani seraya menundukkan kepalanya.
"He... he... he... kau benar, Sayang!" kekeh Argha. "Tidak apa-apa, sekali-kali kita harus menciptakan momen yang akan membuat hubungan kita semakin erat," jawab Argha.
"Tapi ini keterlaluan, Mas! Bagaimana kalau ada orang yang bertandang ke apartemen kita?" tanya Gintani.
"Memangnya, siapa yang mau bertamu di tengah hujan begini, Gin? Lagipula, kalaupun ada yang bertamu, aku pasti akan mengusirnya," jawab Argha sombong.
"Huh... dasar Tuan Muda yang Arrogant!" jawab Gintani seraya mengerucutkan bibirnya.
Argha semakin tergelak melihat ekspresi wajah Gintani yang semakin imut. Entahlah, Argha selalu merasa, semakin lama dia menatap Gintani, wajah itu semakin tak asing dalam benaknya.
"Mas...aku kedinginan. Bisakah kita mengakhirinya sekarang?" cicit Gintani. Tubuhnya memang sudah terlihat menggigil.
Hup....!!
Sejurus kemudian Argha mengangkat tubuh Gintani dan membawanya ke kamar mandi. Argha mendudukkan Gintani di tepi bathtub. Setelah itu dia mulai mengisi bathtub tersebut dengan air hangat.
"Masuklah!" perintah Argha saat melihat bathtub telah terisi air hangat.
Dengan menahan rasa sakit di area sensitifnya, Gintani pun melangkahkan kaki memasuki bathtub.
"Eh, Mas! Mau ngapain?" tanya Gintani terkejut ketika suaminya ikut masuk ke dalam bathtub.
"Sekali lagi ya, Gin?" pinta Argha seraya mengedipkan matanya.
"Mas kita belum so_hummmpph...."
Argha membungkam mulut Gintani dengan ciuman yang semakin ganas.
Tak mampu melawan. Gintani pun hanya pasrah ketika Argha menerkamnya kembali untuk season kedua.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Setelah solat asar, Gintani pergi ke dapur untuk membuatkan makanan. Selepas bermain hujan, perutnya terasa lapar. Dan gintani yakin, jika suaminya pasti merasakan hal yang sama.
Dengan tertatih-tatih, Gintani melangkahkan kakinya menuju dapur.
Argha sudah melarangnya, karena dia tak sampai hati jika Gintani harus memasak dengan kondisi kesakitan di area sensitifnya. Namun Gintani tetap memaksa. Sejak penyatuan yang mereka lakukan beberapa menit lalu, Gintani bertekad untuk melakukan yang terbaik dalam memupuk cinta di antara mereka.
Gintani mulai asyik memainkan spatula di atas panci kecil. Kali ini, dia sedang membuat chicken cream soup untuk mengganjal perutnya yang tengah keroncongan.
"Hmm... wanginya enak sekali, Gin!" ucap Argha seraya melingkarkan tangannya di pinggang istrinya.
Gintani tersenyum. "Mudah-mudahan kamu suka, Mas," jawabnya seraya mengaduk pelan soup itu.
"Masih sakit, Gin?" tanya Argha.
"Hanya sedikit perih, Mas," jawab Gintani, malu.
Argha bergerak mundur. Dia memeluk Gintani dari arah belakang. Argha menopangkan dagunya di bahu Gintani. "Maaf ya, Gin?" bisiknya pelan.
Gintani melepaskan spatula yang sedang dipegangnya. Dia membalikkan badannya, tangan lembut itu menyentuh pipi Argha. "Tidak apa-apa, Mas. Sudah kewajiban Gintan untuk melayani suami sebaik mungkin," jawabnya.
"Nanti malam, aku obati ya, lukanya? Biar kamu nggak ngerasa perih lagi," ujar Argha berbisik pelan di telinga Gintani.
"Caranya?" tanya Gintani.
Argha menyentuh tangan Gintani yang tengah mengelus pipinya. Dia kemudian menarik tangan itu dan menempelkannya pada suatu benda yang telah mengeras di bawah sana. Rupanya sang Perkutut kembali bangun akibat gesekan-gesekan yang dilakukan si empunya.
"Astagfirullah!" Gintani tersentak kaget saat menyentuh benda yang telah mengeras di balik celana pendek suaminya. Seketika dia menarik tangannya dari dalam celana itu.
"Jangan mulai lagi deh, Mas! Sudah... Mas duduk saja, ya!" ujar Gintani seraya menuntun Argha menuju meja makan. Setelah Argha duduk. Gintani kembali mengaduk supnya.
Argha tersenyum bahagia melihat Gintani yang tampak lihai mencampur bahan-bahan makanan. Matanya tak lelah, menatap wanita cantik yang kini mulai bertahta di relung hatinya.
Aku berjanji, Gin! Aku akan mulai menata kisah baru dan membuang semua lembaran yang telah usang. Mulai detik ini, hanya kamulah ratuku, Gin! Ratu dunia dan akhiratku, kelak. Batin Argha.
Bersambung....
Mumpung nggak ada kelas, up lagi yuk...!
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa... 🙏🤗