
Nando kembali menggulirkan foto-foto yang berada dalam galeri ponselnya. Satu persatu kenangan yang tercipta antara dirinya dan Gintani, kini mulai menari indah di pelupuk matanya. Semua candanya, tawanya, manjanya, kini kembali terngiang-ngiang di dalam telinga Nando. Sungguh kenangan yang sangat indah dan akan tetap menjadi yang terindah, batin Nando.
Drrt... Drtt...
Tiba-tiba getaran ponsel di tangannya membuyarkan lamunan Nando. "Kevin," gumamnya. "Hai Bro," sapa Nando pada orang yang tengah meneleponnya.
"Hai Man, lo jadi, kan, datang ke acara launching coffee shop gue?" tanya Kevin di ujung telepon.
"Jadilah, gue, kan, brand ambassador di sana. Bener, nggak? Hehehe,..." canda Nando.
"Hahaha..., terserah lo, lah! Grand opening-nya jam 10. Gue harap, lo bisa datang tepat waktu," ucap Kevin.
Nando melirik jam yang melingkar di pergelangan tangannya. Penunjuk waktu berhenti di angka 08.56. Masih banyak waktu tersisa untuk bersiap-siap sebelum berangkat ke acara temannya itu.
"Oke!" jawab Nando. Setelah sambungan telepon terputus, Nando segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Pertemuan Nando dengan Kevin terjadi dua tahun silam. Saat Nando mengantar adiknya berobat ke rumah sakit, tanpa sengaja dia melihat seorang pria yang tengah kebingungan di koridor rumah sakit. Ternyata pria tersebut sedang mencari seorang pendonor darah untuk korban yang telah ditabraknya. Karena memiliki golongan darah yang sama dengan korban, akhirnya Nando pun bersedia menjadi pendonor bagi kakek tua yang tanpa sengaja tertabrak oleh mobil yang dikendarai Kevin. Sejak saat itulah, mereka pun berteman baik.
🍀🍀🍀
"Ma, Gintan pergi dulu." Gintani meminta izin kepada ibu mertuanya.
"Mau pergi ke mana?" tanya Nyonya Rosma dengan nada sinis.
"Hari ini ada acara pembukaan coffe shop milik teman Gintan. Gintan diundang ke acara itu, Ma," jawab Gintani.
"Teman kamu? Siapa?" tanya Nyonya Rosma penuh selidik.
"Al-Alya, Ma," jawab Gintani gugup.
"Apa? Jadi kamu masih berhubungan dengan wanita penggoda itu? Atau, jangan-jangan, kamu mau pergi untuk bernostalgia dan kembali menjerat laki-laki hidung belang, iya?" tuding Nyonya Rosma.
Gintani hanya mengusap dadanya saat mendengar tuduhan ibu mertua. Tak ingin menjadi menantu yang durhaka, akhirnya Gintani memilih diam dan segera pergi dari hadapan Nyonya Rosma.
Dengan diantar Pak Munir, Gintani pergi untuk menghadiri acara pembukaan coffee shop milik sahabatnya.
🍀🍀🍀
Setelah beberapa minggu, akhirnya Ilona kembali ke apartemen.
"Aargh!" pekik Ilona.
__ADS_1
Rasa sakit itu kembali menyerang perut bagian bawah Ilona. Kali ini begitu hebat, hingga Ilona tak mampu berdiri. Ilona hanya mampu menarik napas panjang dan menghembuskannya dengan perlahan untuk meredakan rasa sakit tersebut
Ish, kenapa akhir-akhir ini badanku terasa lemas? batin Ilona.
Sejak tragedi kaburnya dari rumah sakit, Ilona memang semakin sering merasakan sakit di area perut bagian bawahnya. Meskipun tak mengerti, namun Ilona enggan untuk memeriksakan dirinya ke dokter. Kembalinya Ilona ke apartemen pun tak luput dari pertengkaran kecil dengan sahabatnya.
Pagi itu, Ilona kembali meringis kesakitan saat bangun tidur. Karena khawatir dengan keadaan Ilona. Celine pun memberikan saran agar Ilona pergi ke dokter untuk memeriksakan kondisinya. Sayangnya, hati Ilona yang tengah diselimuti amarah, membuat dia salah paham akan maksud Celine. Ilona pun memutuskan untuk meninggalkan rumah Celine dan kembali tinggal di apartmennya.
Selang beberapa menit, rasa sakit itu mulai mereda. Ilona mencoba berdiri dan melangkahkan kakinya menuju dapur. Semalam dia tidak bisa tidur namun juga tidak mampu bangun karena rasa sakit yang melandanya. Hingga akhirnya, dia mengabaikan rasa laparnya.
Ilona membuka lemari pendingin untuk melihat bahan apa saja yang bisa dia olah. Matanya menangkap sekerat daging di sudut freezer. Ilona pun mengambil daging tersebut dan membiarkannya sebentar. Setelah dirasa daging itu cukup lunak, Ilona mengolahnya menjadi steak daging yang menggugah selera.
Sambil menikmati makanannya, Ilona mengaktifkan kembali nomor ponsel lamanya.
Drrrt... Drrt... Drrt...
Begitu banyak sekali bunyi notifikasi pesan masuk, dan panggilan tak terjawab. Semua panggilan dan pesan itu berasal dari Dokter Richard. Ya, bagi Ilona saat ini, hanya Dokter Richard-lah satu-satunya teman yang dia miliki.
Ilona mulai menekan tombol read dan membaca pesan Dokter Richard satu persatu.
Apa yang kamu lakukan, Na? Kenapa kamu pergi dari rumah sakit?
Na, aku mohon. Balas pesanku!
Na, kamu di mana? Ada hal penting yang harus kita bicarakan.
Na, aku mohon....Kita harus bicara, ini tentang kesehatan kamu. Balas pesanku!
Ilona menghela napasnya, "Mungkin tidak ada salahnya aku bertemu Richard," gumam Ilona. Jari-jemari Ilona mulai menari lincah di atas keypad ponselnya.
Saat ini aku sedang berada di apartemen. Mau ketemuan di mana?
Ilona membalas pesan Richard. Setelah itu dia pun melanjutkan makannya.
Drrt...
Tak lama kemudian, ponselnya kembali bergetar. Ilona meraihnya dan membuka pesan Richard.
Ok, aku jemput kamu ke apartemen sekarang. Tunggu, dan jangan ke mana-mana!
Ilona tersenyum membaca pesan itu. Hmm, jadi penasaran, apa yang sebenarnya ingin dia bicarakan? Aneh sekali, apa ada sesuatu hal yang sangat penting? batin Ilona.
__ADS_1
🍀🍀🍀
Syukurlah tidak macet, jadi aku tidak akan terlambat tiba di sana, batin Gintani.
Ya, hari ini, jalanan memang tampak sepi. Mungkin karena masih jam kerja juga, jadi volume kendaraan masih berada dalam batas normal.
Gintani tiba di tempat Alya, tiga puluh menit sebelum acara di mulai. Coffee shop milik Alya terbilang cukup mewah, karena salah satu investor di sana merupakan artis terkenal. Tentunya, desain interior pun harus mengikuti selera orang-orang entertainment.
Gintani tersenyum bangga melihat kemajuan yang dialami sahabatnya. Dia tahu betul, jika mengelola usaha sendiri, merupakan impian Alya sedari kecil.
"Hai Tan!" Sapaan suara cempreng itu membuyarkan lamunan Gintani
Alya berlari kecil untuk menghampiri sahabatnya. "Makasih ya, kamu sudah datang," ucap Alya seraya memeluk Gintani.
"Sama-sama," jawab Gintani membalas pelukan Alya. "Selamat ya, Al. Akhirnya cita-cita kamu tercapai juga."
"Terima kasih, Tan. Semua ini berkat campur tangan Bang Alex juga," jawab Alya.
"Oh ya, aku kok belum lihat Bang Alex. Dia belum datang?" tanya Gintani.
"Bang Alex pulang kampung, Tan. Semalam dia dapat kabar jika ibunya meninggal dunia."
"Innalillahi wa inna ilaihi rajiun. Kenapa Bang Alex tidak memberitahu Mas Argha?" tanya Gintani.
"Entahlah, mungkin belum sempat. Karena kabarnya juga baru dia terima jam dua dini hari."
"Ya, mungkin saja. Nanti aku coba telepon Mas Argha jika acaranya telah selesai."
"Ya sudah. Ayo, aku ajak kamu ketemu sama investor tempat ini!" ajak Alya.
Mereka pun berjalan beriringan menuju meja VVIP yang sudah penuh dengan para tamu undangan.
"Permisi!" sapa Alya. "Mohon maaf mengganggu waktunya. Nah Gintan, beliau adalah investor terbesar tempat ini, salah satu artis terkenal di negara kita, namanya Bapak Kevin." Alya mengenalkan Gintani kepada Kevin yang tak lain adalah sahabat suaminya.
Kevin tersenyum, dia kemudian berdiri dan menyalami Gintani. "Hallo kakak ipar, apa kabar?"
Hening
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa... 🤗🙏
__ADS_1