Takdir Gintani

Takdir Gintani
Pengkhianat


__ADS_3

Selama dalam perjalanan, Gintani hanya bisa diam. Dia benar-benar tidak habis pikir kenapa dia bisa berada di kamar itu bersama seorang pria, dan pria itu adalah Nando, mantan pacarnya sendiri. Semakin Gintani mengingat kejadian itu, semakin sakit pula rasa yang menghantam kepala Gintani.


Berulang kali Gintani meringis sambil memegangi kepalanya. Namun sepertinya, Argha sudah tidak mempedulikannya. Itu terbukti dengan sikap Argha yang sudah tak ingin menggubris apa pun yang dia dengar.


"Gintan mohon, Mas... percayalah, Gintan sama sekali nggak tahu kenapa Gintan bisa sampai berada di kamar itu," ucap Gintani memelas. Namun Argha masih tetap tak mengacuhkannya.


🍀🍀🍀


Sarah mengemasi barang-barang yang dia perlukan. Entah apa yang akan terjadi pada keluarganya nanti. Sarah masih ingat saat kakaknya memohon meminta Sarah untuk kembali ke rumah sakit jiwa, padahal dokter sudah menyatakan jika Sarah telah sembuh dari rasa depresinya.


"Kakak mohon, Dek. Untuk kali ini saja, bantu kakak," pinta Nando, memelas.


"Tapi, Kak ... untuk apa Kakak melakukan hal ini?" tanya Sarah, heran.


"Kakak tidak bisa menceritakannya sekarang. Tapi demi Tuhan, Kakak terpaksa melakukan semua ini demi Nanda, demi kehidupan kita juga," jawab Nando.


"Lalu, apa yang harus Sarah lakukan?" tanya Sarah, mengalah.


"Kembali ke rumah sakit dan berpura-puralah sakit supaya kak Gintani mau memaafkan Kakak," ucap Nando.


Tak bisa menolak keinginan kakaknya, sarah pun mengikuti permainan Nando, hingga detik terakhir dia berperan dalam menjebak Gintani. Sarah menghela napasnya, ribuan penyesalan pun sudah tak ada gunanya. Ibarat kata, Nasi sudah menjadi bubur dan Sarah pun tidak tahu harus berbuat apa.


Dug-dug-dug!


Gedoran di pintu rumahnya membuyarkan lamunan Sarah. Dia kemudian pergi ke depan untuk membukakan pintu.


"Apa semuanya sudah siap, Dek?" tanya Nando begitu pintu terbuka dan tampak Sarah berdiri di hadapannya.


Sarah mengangguk.


"Bangunkan kakak iparmu, biar Kakak yang memasukkan barang ke mobil. Kita harus segera pergi dari sini," perintah Nando.


Sarah segera pergi untuk membangunkan kakak iparnya.


"Ada apa, Sar?" tanya Mela di sela-sela rasa kantuknya.

__ADS_1


"Kak Nando bilang, kita harus segera pergi dari sini, Kak," jawab Sarah.


Mela segera menggendong anaknya yang sedang tidur. Dia kemudian pergi mengikuti Sarah.


Malam itu, Nando memboyong keluarganya pergi ke luar kota. Dia berharap, di tempat baru dia akan menemukan kedamaian hidup meski kenyataannya, selamanya dia akan hidup dalam perasaan bersalah.


🍀🍀🍀


Sementara itu di mansion utama. Argha membanting pintu kamarnya begitu dia tiba di rumah.


"Mas, tunggu! Gintan mohon, dengarkan penjelasan Gintan dulu!" teriak Gintani menyusul suaminya ke kamar.


"Tidak ada yang perlu kamu jelaskan Gintan!Mataku sudah cukup melihat dengan jelas semua pengkhianatan kamu!" bentak Argha.


"Tapi Gintan tidak pernah melakukan itu. Gintan tidak pernah mengkhianati Mas Argha." Gintani mencoba membela dirinya.


"Cukup Gintan! Semakin gigih kamu mencari pembelaan, semakin terlihat jelas semua kebusukan kamu!" teriak Argha.


"Mas, Gintan membela diri bukan untuk beralibi. Gintan memang tidak tahu kenapa Gintan bisa berada di sana. Demi Tuhan, Gintan nggak bohong, Mas!" jawab Gintani, kukuh pada pendiriannya.


"Aww!" Gintani menjerit saat tubuhnya terjatuh ke lantai. Namun rupanya tak ada satu pun dari orang rumah yang ingin menolongnya.


Brakk!


Argha kembali menutup pintu kamar dengan keras. Sesaat kemudian, terdengar bunyi gaduh di kamar itu. Mungkin saat ini Argha sedang melampiaskan semua kemarahannya lewat barang-barang yang dia temukan di kamar itu. Terbukti dengan adanya bunyi kaca pecah dan benda-benda jatuh ke lantai.


Dengan perasaan sedih, Gintani bangkit dan pergi ke kamar tamu untuk mengistirahatkan tubuhnya yang terasa lelah. Kepalanya berkunang-kunang, tetapi Gintani tak menghiraukannya. Tatapan sinis dari mama Rosma pun tak dia pedulikan. Gintani tahu, mungkin papa mertuanya sudah menceritakan kejadian itu, sehingga dia harus mendengar sindiran halus sang mama mertua.


"Itulah gunanya mengetahui bibit, bebet, dan bobot sebelum menikah. Sekarang terbukti, 'kan, kualitas istri seperti apa dia? Huh, wajahnya saja yang lugu, kelakuannya masih tetap sama seperti dulu. Cih, menjijikkan!" ucap Nyonya Rosma dengan kejamnya.


Gintani menghela napasnya. Percuma dia membela diri di saat semua orang masih tersulut emosi. Pada akhirnya, dia hanya berlalu begitu saja melewati orang-orang yang memandangnya dengan perasaan yang sulit untuk digambarkan.


Gintani menjatuhkan tubuhnya di atas ranjang. Matanya menatap kosong langit-langit kamar itu. Pikirannya kembali mengembara mengingat kejadian awal yang membawa dia ke kamar itu. Sarah! Ya, Sarah ... aku dan Nando memapah Sarah ke kamar itu. Tapi, kenapa aku bisa tidur satu ranjang dengan laki-laki itu? Kemana perginya Sarah? Apa yang terjadi padaku? Kenapa aku tidak bisa mengingat apa-apa?


"Aargh!" Gintani kembali berteriak sambil memegangi kepalanya. Lagi-lagi, kepalanya terasa sakit saat dia berusaha keras untuk mengingat sebuah kejadian. Tak mampu menahan rasa sakit itu, Gintani pun jatuh tak sadarkan diri di atas ranjang

__ADS_1


🍀🍀🍀


Nando terus melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Pikirannya cuma satu, membawa keluarganya ke tempat di mana tak akan ada seorang pun yang mengenali mereka. Dan tempat itu, tentulah sebuah tempat yang terpencil dan jauh dari suasana kota.


"Pa, sebenarnya kita mau ke mana? Kenapa kamu melewati jalanan sepi seperti ini?" tanya Mela yang merasa heran karena suaminya mengambil jalur yang asing. Jalur perjalanan yang hanya melewati rimbunan pohon jati.


Nando hanya menatap Mela sejenak. Setelah itu dia kembali fokus menyetir.


"Pa?" Mela mulai meninggikan suaranya.


"Sedikit lagi, Ma. Nanti akan Papa jelaskan begitu kita tiba di tempat tujuan. Sabar ya, Sayang!" ucap Nando membelai lembut rambut istrinya.


"Tapi, Pa?"


"Sudahlah kakak ipar, kita ikuti saja ke mana Kakak akan membawa kita. Aku tahu Kak Nando hanya ingin yang terbaik untuk kita semua," ucap Sarah.


Mela pun diam. Meskipun tidak mengerti, tapi Mela yakin Nando tidak akan mengecewakan dia.


Semoga saja, Pa. Semoga saja kamu tidak melakukan sesuatu yang akan merugikan diri kamu sendiri, batin Mela.


Pukul 4 dini hari, Nando dan keluarganya tiba di sebuah rumah sederhana yang memiliki halaman yang cukup luas. Nando membangunkan istrinya


"Bangunlah!" ucap Nando mengguncang pelan bahu sang istri.


Mela mengerjapkan matanya, "Rumah siapa ini, Pa?" tanya Mela.


"Mulai saat ini, rumah ini akan menjadi rumah masa depan kita." Nando menjawab pertanyaan Mela.


Mela pun hanya bengong mendengar jawaban Nando.


Sejauh inikah?


Bersambung


Jangan lupa like vote n komennya 🙏🤗

__ADS_1


__ADS_2