Takdir Gintani

Takdir Gintani
Persiapan Pernikahan


__ADS_3

Semua keluarga tampak terkejut mendengar keputusan Argha.


"Apa kamu yakin?" tanya tuan Jaya.


Argha mengangguk.


"Tapi, kenapa mendadak seperti ini?" Tuan Jaya bertanya kembali.


"Sebenarnya ini tidak mendadak, Pa. Argha sudah memikirkannya sejak lama. Argha hanya butuh waktu untuk merasa yakin saja bahwa langkah yang Argha ambil tidak salah." Argha menjawab pertanyaan ayahnya dengan penuh keyakinan.


"Baiklah, itu keputusanmu. Papa harap itu yang terbaik bagimu," jawab tuan Jaya.


Tuan Jaya berlalu pergi meninggalkan Argha di ruang kerjanya. Setelah kepergian tuan Jaya, pintu kembali terbuka. Nadhifa datang menghampiri kakaknya.


"Ada apa ini, Kakak? Kenapa Kakak memutuskan sesuatu tanpa bertanya dulu kepada Fa?" tanya Nadhifa dengan raut wajah yang tak suka.


"Apa itu penting, Fa?" Argha malah balik bertanya.


"Apa Kakak sudah tidak menganggap Fa sebagai adik Kakak lagi?" Nadhifa semakin gencar bertanya.


"Ish, bukan begitu maksud Kakak, Dek!" jawab Argha.


Argha bangkit dan berjalan menghampiri Nadhifa. Sejurus kemudian, dia merangkul dan menarik Nadhifa ke dalam pelukannya.


Nadhifa mulai terisak dalam pelukan sang Kakak. Sungguh, dia tidak menyangka jika kakaknya akan mengambil keputusan yang tidak baik menurutnya. Ilona bukan wanita yang tepat untuk mendampingi kakaknya. Setidaknya itu yang ada dalam pikiran Nadhifa.


"Ssstt, sudahlah Dek, jangan menangis!" Argha berusaha menghentikan tangis adiknya.


"Tapi, dia bukan wanita yang baik untuk Kakak!" protes Nadhifa.


"Hei ... dari mana kamu tahu hal itu? Kamu tidak mengenalnya Dek, karena itu kamu bisa beranggapan seperti tadi. Saran Kakak, luangkan waktu untuk hangout bersama. Supaya kalian bisa saling mengenal satu sama lain," jawab Argha.


"Tidak! Jika dia memang wanita baik-baik, dia tidak akan mengambil kesempatan di atas kesempitan!" pekik Nadhifa


Argha diam. Apa yang dikatakan adiknya memang benar. Seharusnya, Ilona meninggalkan dia pada saat dia sedang berusaha melecehkannya. Bukankah fisik orang yang sedang mabuk itu sangat lemah? Kenapa Ilona tidak bisa melawanku saat itu? batin Argha.


"Sudahlah, Dek. Yang terpenting, sekarang kamu pikirkan tentang kebahagiaan kakak saja, ya!" pinta Argha.


"Apa Kakak bahagia?" tanya Nadhifa.


Argha diam mendapati pertanyaan Nadhifa.


🍀🍀🍀


Di rumah sakit umum daerah Cijantung.


"Ah, syukurlah Bapak sudah datang," ucap perawat senior saat melihat Heru membuka pintu ruangan.

__ADS_1


"Kenapa, Sus? Apakah sesuatu terjadi pada ... i-istri saya," ucap Heru, gugup saat mengucapkan kata istri.


"Tidak Pak, tapi saya cukup kesulitan untuk menyeka istri Anda. Semalam, tangan saya terkilir. Jadi, bisakah Bapak membantu saya?" tanya perawat itu lagi.


Heru tergamam, dia tidak menyangka dirinya akan mendapatkan kejutan di pagi hari.


"Ti-tidak bisakah Anda meminta bantuan perawat yang lainnya, Sus?" tanya Heru tergagap .


"Ish, Pak ... teman saya juga sedang melakukan tugasnya masing-masing," dengus perawat senior itu, kesal.


"Tapi Sus," Heru hendak protes, tapi perawat itu memotong kalimatnya


"Sudahlah jika Anda memang tidak ingin membantu saya. Tapi saya mohon maaf jika hari ini tidak bisa membersihkan tubuh istri Bapak. Mungkin agak siangan, saya bisa minta bantuan suster yang lainnya setelah dia menyelesaikan tugasnya," tukas perawat itu dengan ketusnya.


"Baiklah-baiklah, saya akan membantu Anda. Apa yang harus saya lakukan?" Heru akhirnya menyerah.


Perawat itu tersenyum penuh kemenangan. "Tolong buka pakaian istri Anda!"


Deg!


Jantung Heru seakan berhenti berdetak mendengar perintah suster itu. Apa dia sudah gila? Bagaimana mungkin aku membuka pakaiannya? Dia bukan mahramku, batin Heru.


Bukannya membuka pakaian Gintani, Heru malah terpaku menatap wajah Gintani yang tertidur dengan penuh kedamaian.


*Pak, kenapa diam? Ayo cepat buka pakaiannya, nanti airnya keburu dingin," perintah perawat itu lagi.


"Eh, i-iya, Sus," jawab Heru.


Heru bergumam pelan sekali karena tidak ingin memancing kecurigaan perawat itu. Perlahan, Heru membuka satu persatu kancing piyama rumah sakit yang Gintani kenakan. Jantungnya berdegup kencang saat dia melihat dua buah bukit polos terpampang jelas di hadapannya. Segera Heru menutupi tubuh Gintani dengan selimutnya. Perlahan, tangannya mulai menyusup di balik selimut untuk membuka celana panjang Gintani.


Darah Heru berdesir cepat saat kulit tangannya tanpa sengaja menyentuh pangkal paha Gintani. Berulang kali Heru menelan ludahnya mencoba menguasai pikirannya yang mulai dihantui gairah.


Astagfirullahaladzim ... astagfirullahaladzim... Heru terus beristighfar dalam hati menghalau bisikan setan agar tidak memasuki otak, hati dan jiwanya.


"Sekarang, silakan Anda seka tubuh istri Anda dengan handuk kecil ini!"


"Apa?!"


🍀🍀🍀


Dua minggu telah berlalu. Bram sangat sibuk mengikuti perkembangan pembangunan pabrik otomotif milik Bagas. Meskipun otomotif bukan bidangnya, tapi kehadiran Bram dalam pembangunan ini sangat dibutuhkan. Maklumlah, Jaka sendiri seorang mandor yang otodidak. Mungkin dia memiliki pengalaman kerja yang cukup banyak. Namun, secara teori, Jaka bukanlah orang yang mengenyam bangku kuliah. Terlebih lagi dalam ilmu arsitektur.


"Jadi, ada berapa orang yang Anda pekerjakan untuk membangun pabrik ini?" tanya Bram kepada Jaya saat mereka berada di lokasi proyek.


"Cukup banyak. mungkin sekitar 50 sampai 60 orang," jawab Jaka.


"Hmm, jika semuanya bekerja dengan tekun, saya yakin pembangunan pabrik ini bisa selesai tepat waktu," ucap Bram.

__ADS_1


"Ya, semoga saja," timpal Jaka. "Oh, ya, ngomong-ngomong, apa kamu akan kembali bersama Bagas esok hari?" tanya Jaka lagi.


"Tidak, sepertinya saya akan tinggal di sini beberapa minggu lagi," jawab Bram.


"Baguslah kalau begitu, karena saya sangat membutuhkan bimbinganmu," ucap Jaka.


"Insya Allah, saya akan membantu Kakak sebisa saya," kata Bram.


"Terima kasih, Bram," jawab Jaka. "Hei, Nan!" Tiba-tiba, Jaka memanggil seseorang. "Permisi sebentar Bram, saya ada perlu dengan anak itu."


Bram mengangguk, sepintas dia melihat wajah orang yang dipanggil Jaka. "Sepertinya aku pernah melihat orang itu, tapi di mana?" gumamnya.


🍀🍀🍀


Sementara itu, di Jakarta. Argha terlihat sibuk mengurusi proyek pembangunan rumah sakit internasional yang tinggal finishing. Sesekali dia juga meluangkan waktu untuk menemani Ilona mempersiapkan pernikahan mereka. Seperti hari ini, Argha sedang duduk manis menunggu Ilona yang sibuk memilih gaun pengantinnya.


"Bagaimana kalau yang ini Kakak?" Ilona menunjukkan sebuah gaun pengantin yang ada di patung manekin.



Argha yang sedang memainkan ponselnya, mendongak. Dia melihat baju pengantin tanpa lengan berwarna white bone yang dipadukan dengan rose gold. Gaun panjang dengan pola lurik yang begitu indah, Gaun yang mampu menambah kecantikan dan mengeluarkan pesona serta aura yang amat intens bagi penggunanya. Bak burung merak yang selalu memamerkan kecantikannya, gaun ini pun selayaknya mencuri perhatian siapa saja yang melihat keelokannya. Sungguh sebuah baju pengantin yang begitu mewah dan elegan. Tapi itu bukan selera Argha.


"Apa tidak sebaiknya kamu cari yang warna putih saja, Na," saran Argha.


Ilona cemberut, tetapi dia menuruti saran Argha. Ilona kembali melihat-lihat pakaian pengantin yang berjajar terpasang di patung manekin. Matanya terkunci pada satu gaun berwarna putih yang terbelah di bagian dadanya. Pikir Ilona, dirinya pasti akan terlihat cantik dan seksi jika mengenakan gaun pengantin itu.


"Bagaimana kalau yang ini, Kak?" tanyanya lagi.



Argha bergidik ngeri melihat pakaian itu.


"Tidak adakah yang lebih pantas lagi yang bisa kamu kenakan? Auratmu terlihat sangat jelas jika kamu memakai baju itu," dengus Argha kesal.


Argha bangkit dan menyusuri patung-patung manekin yang memperlihatkan berbagai model gaun pengantin.


"Tidak ada yang cocok," gumam Argha. Namun, saat dia hendak keluar ruangan, tiba-tiba matanya melihat sebuah gaun pengantin yang terpajang terpisah di ruangan lain.


"Gaun itu?"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗


Untuk yang masih penasaran tentang siapa sosok Heru, bisa di baca di kisah Aldi dan Aira ya, dalam novel "Kenapa Harus Menikah Denganmu" Karya Meylani Putri Putti


Khairuman Heru Satria

__ADS_1




__ADS_2