
Heru memainkan balpoin di tangannya. Itulah yang selalu dia lakukan jika pikirannya sedang gusar. Entah kenapa, percakapan Alex dan Gintani tempo hari, sangat mengganggunya.
Apa sebelumnya Alex pernah mengenal Gintani? Mereka terlihat begitu akrab, seperti sudah cukup lama saling mengenal, batin Heru. Dan Gintani? Entah kenapa Heru merasa jika Gintani bisa dengan sangat mudah bercerita secara gamblang kepada Alex. Seolah tidak pernah ada jarak di antara mereka. "Ya Tuhan ... aku bisa gila jika hanya menerka-nerka," gumam Heru.
Heru menghentikan pekerjaannya. Dia bangkit dari kursi kebesarannya dan berjalan menuju ruangan Alex.
.
.
.
"Apa kamu sedang sibuk, Lex?" tanya Heru begitu dia bertemu dengan Alex.
"Tidak, Her ... kenapa?" Alex balik bertanya sambil merapikan berkas-berkas yang sudah diperiksanya.
"Apa kita bisa bicara sebentar?" tanya Heru sambil menarik kursi di depan meja kerja Alex dan mendudukinya.
"Apa semuanya baik-baik saja?" Alex menelisik wajah Heru yang penuh ketegangan.
"Entahlah, aku tidak terlalu yakin, Lex," jawab Heru.
"Ada apa, Her? Tidak biasanya kamu seperti ini. Apa ada hal yang menggangu keseharian kamu? Cerita padaku! Siapa tahu aku bisa membantu kamu," ucap Alex.
Heru menghela napasnya sejenak. Jujur, dia merasa risih harus membicarakan soal perasaan kepada asistennya. Tapi Heru tak bisa terus-terusan menduga. Dia butuh kepastian.
Sebenarnya, ada hubungan apa di antara Alex dan wanita yang dikaguminya?
"Apa kamu sudah lama mengenal Gintani?" Akhirnya pertanyaan itu meluncur bebas dari bibir Heru.
Alex mengernyit, dia merasa heran dengan pertanyaan Heru barusan. Apa alasan Heru bertanya demikian? Hmm ... Terlalu jauh jika Alex beranggapan, 'Heru sedang cemburu'. Tapi, bukankah itu mungkin terjadi?
"Kenapa tiba-tiba kamu bertanya seperti itu?" tanya Alex.
"Tidak apa-apa. Aku hanya merasa, hubungan kalian seperti sudah lama terjalin. Tidak ada kecanggungan dari percakapan kalian. Dan setiap kalian bertemu, kalian selalu membicarakan hal-hal yang sepertinya sudah lama terjadi," jawab Heru.
"Apa kamu sedang cemburu, Her?" Alex malah menggoda Heru.
"Cemburu? Aku? Ah, ayolah Lex ... mana mungkin aku cemburu pada kawanku sendiri," jawab Heru menutupi kegugupannya.
"Hmm, baguslah kalau begitu. Kalau iya, tentunya akan aku bilang kalau kamu sungguh keterlaluan," kata Alex.
"Tapi, kamu belum menjawab petanyaanku, Lex?" tanya Heru lagi.
"Baiklah, akan aku ceritakan," jawab Alex sambil menyandarkan punggungnya.
__ADS_1
"Oke, aku dengarkan," kata Heru, terlihat begitu antusias.
"Aku mengenal Gintani jauh sebelum dia menikah dengan suaminya. Dulu, dia adalah karyawanku. Dia gadis yang cukup ceria, meskipun beban hidupnya sangatlah berat. Hingga pada suatu hari, tiba-tiba dia menghilang begitu saja. Tiga tahun tanpa kabar, akhirnya aku bertemu dengannya lagi pada saat dia menikah dengan Argha, sahabatku," tutur Alex.
"Jadi, dia menikah dengan sahabatmu. Lalu, apa kamu tahu kenapa dia sampai bercerai?" tanya Heru.
"Gintani pernah bilang padaku, kalau dia bercerai karena telah terjadi kesalahpahaman antara dia dan suaminya. Argha menuduh dia berselingkuh hingga menjatuhkan talak," jawab Alex.
"Hmm, dia juga mengatakan alasan seperti itu padaku. Apa kamu percaya jika orang seperti Gintani mampu untuk mengkhianati suaminya?" tanya Heru lagi.
"Jujur, aku tidak percaya. Aku kenal betul bagaimana sikap dan sifat Gintani," jawab Alex, tegas.
"Jika aku saja yang baru mengenal Gintani sudah bisa mempercayai kejujuran wanita itu, lalu kenapa suaminya meragukan dia?" tanya Heru, semakin penasaran akan sosok mantan suaminya Gintani.
"Dia memang pria yang sangat bodoh, Her. Dia rela kehilangan berlian demi sebuah batu kali. Aku sendiri merasa heran, kenapa bisa dia sebodoh itu? Padahal istrinya begitu baik, ramah dan lemah lembut," jawab Alex sambil meraih cangkir kopi dan menyeruputnya.
"Apa kamu mencintainya?" tanya Heru
"Uhuk...!" Alex tersedak begitu mendengar pertanyaan Heru.
"Hei, Hati-hati Lex!" kata Heru.
Alex meletakkan cangkir kopinya. "Harusnya aku yang bertanya seperti itu padamu. Apa kamu mencintai Gintani?" Alex balik bertanya.
"Hei ... ini tidak adil! Aku yang bertanya terlebih dahulu. Seharusnya kamu menjawabnya, bukan malah balik bertanya," keluh Heru.
Heru sedikit terkejut dengan pertanyaan Alex. Tapi, apa pun jawabannya, Heru sudah siap untuk menerimanya hari ini. Jika memang Alex menyukai Gintani, maka dia akan mundur. Baginya, pantang mempertaruhkan persahabatan demi cinta.
"Sudah sangat siap, Lex," jawab Heru, pasti.
"Baiklah. Bagiku, Gintani adalah sosok wanita yang layak untuk dikagumi. Dia wanita yang sangat mandiri, tegar dalam menghadapi cobaan dan selalu bersabar ketika diterpa ujian. Selama aku mengenalnya, tak pernah sedikit pun dia mengeluhkan hidupnya. Itulah yang membuat aku selalu mengaguminya. Namun, seiring berlalunya waktu, aku selalu melihat ketidakadilan menimpa hidup Gintani. Karena itu, aku bertekad untuk selalu melindunginya seperti aku melindungi Geisha. Kebahagiaan Gintani adalah tanggung jawabku. Seperti aku bertanggung jawab akan kebahagiaan Geisha," jawab Alex panjang lebar.
Heru tersenyum mendengar penuturan Alex. Itu artinya, rasa yang dimiliki Alex tidak lebih dari rasa sayang seorang kakak terhadap adiknya.
"Kenapa tersenyum? Apa kamu sudah bisa menyimpulkan sendiri bagaimana perasaanku padanya?" tanya Alex.
"Hmm, sepertinya ... iya," jawab Heru.
"Lalu, perasaanmu sendiri? Apa yang kamu rasakan untuk Gintani? Apa kamu mencintainya?" tanya Alex.
"Mungkin. Aku sendiri tidak tahu apa yang aku rasakan. Hanya saja, bayangan wanita itu tidak pernah mau hilang dari kedua pelupuk mataku. Rasanya, dia selalu menjadi energi yang positif bagiku dalam menjalani hari-hari," jawab Heru.
"Itu artinya, kamu mencintai dia Her. Saran aku, sebaiknya kamu ungkapkan perasaanmu sebelum aku menikungmu di sepertiga malam, hehehe," goda Alex.
"Aish, sialan lo!" gerutu Heru sambil melemparkan balpoin yang berada di hadapannya ke arah Alex.
__ADS_1
"Ya sudah, aku ke gudang dulu. Halim bilang, bahan baku sudah mulai menipis. Aku akan melihat bahan apa saja yang harus kita pesan untuk produksi kita esok hari," ujar Alex
Heru hanya mengangguk menanggapi ucapan Alex.
🍀🍀🍀
Waktu pun terus berlalu. Bayi kecil yang terlahir prematur itu, kini telah berusia tiga tahun.
"Apa kamu sudah siap, Tuan Putri?" tanya Heru kepada putri asuhnya.
"Ciap, Pa," jawab Putri.
"Ya sudah, cepat panggil mama kamu. Kita berangkat sekarang ke panti," perintah Heru.
"Mama, ayo cepat, nanti kita telambat!" teriak Putri kepada ibunya.
Hari ini mereka akan merayakan ulang tahun Putri yang ketiga di panti asuhan tempat Gintani dulu dibesarkan hingga usia 5 tahun. Setiap tahunnya, Heru memang selalu merayakan ulang tahun Putri di panti asuhan itu. Dia ingin berbagi kebahagiaan dengan anak-anak di sana. Terlebih lagi, usaha Gintani sudah mulai membuahkan hasil.
"Ayo Nak, Nama sudah siap," jawab Gintani menghampiri Putri
Heru begitu terpesona melihat Gintani memakai pakaian berwarna senada dengan putrinya.
"Ayo, Mas!" ajak Gintani.
"Eh, iya ... ayo!" jawab Heru tergagap.
"Tunggu, Pa!" teriak Putri.
"Apa lagi, Nak. Tadi ngajakin Mama buru-buru," ucap Gintani.
"Papa, Putli mau difoto dulu cama Mama. Boleh, 'kan?" pinta Putri.
Heru tersenyum. "Tentu saja boleh, Nak. Ayo berdiri di sana, biar papa foto kalian!" ucap Heru.
Putri menarik tangan Gintani. Mereka berfoto bersama dulu sebelum pergi ke panti.
"Coba lihat, Pa!" ucap Putri menghampiri Heru. "Waah, cantik Pa," pekiknya.
"Tentu saja cantik. Karena kalian adalah kedua bidadari Papa. Ayo, berangkat!"
Putri tersenyum, kedua tangannya pun menggandeng tangan Heru dan Gintani. Ah sungguh pemandangan keluarga yang begitu harmonis.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗