Takdir Gintani

Takdir Gintani
Pengkhianatan


__ADS_3

Seminggu telah terlewati. Argha dan Gintani telah kembali dari bulan madunya. Seperti biasa, mereka mulai menjalani rutinitas kesehariannya. Meski ada banyak hal baru yang dia dapatkan dari sikap Mama Rosma, tapi Argha dan Gintani berusaha untuk tidak menghiraukannya.


"Mas, hari ini aku boleh minta izin keluar?" tanya Gintani sambil memasangkan dasi di lipatan kerah kemeja suaminya.


"Memangnya kamu mau kemana?" tanya Argha, menatap intens kepada istrinya.


"Alya mengundang Gintan di acara pembukaan coffee shop-nya. Gintan nggak enak kalau tidak datang, bagaimanapun juga, Alya, kan sahabat Gintan," jawab Gintani.


"Ya, sudah. Nanti biar Pak Munir saja yang mengantar kamu ke tempat Alya," ujar Argha seraya meraih tas kantornya. "Turun, yuk! Mas ada meeting penting pagi ini," ajak Argha menggandeng tangan Gintani.


Gintani mengangguk. Mereka akhirnya keluar kamar, berjalan berdampingan menuruni tangga menuju ruan makan.


"Sarapan, Nak!" perintah Tuan Jaya begitu melihat mereka tiba di ruang makan.


"Tidak, terima kasih, Pa. Hari ini, Argha ada meeting penting. Argha sarapan di kantor saja," jawab Argha.


Setelah mencium tangan kedua orang tuanya, Argha pun pamit pergi ke kantor. Gintani mengantarnya sampai di pintu utama sambil menenteng tas kerja suaminya.


"Hati-hati di jalan, ya, Mas!" ucap Gintani, mencium punggung tangan suaminya.


"Kamu juga, hati-hati perginya. Ingat, kabari Mas jika sudah sampai di tempat Alya!" ucap Argha.


Gintani mengangguk, sejurus kemudian, Argha melayangkan kecupan penuh kelembutan di kening Gintani.


🍀🍀🍀


Matahari mulai merangkak dari peraduannya. Seorang pemuda masih tampak malas beranjak dari tempat tidurnya. lingkar hitam terlihat jelas di bawah matanya. Pertanda jika semalaman pemuda tersebut tak mampu memejamkan mata.


Pemuda itu adalah Nando, yang sejak semalam terus-menerus menatap foto Gintani di galeri ponselnya. Tidak bisa dipungkiri jika hatinya masih memiliki perasaan yang kuat untuk gadis itu. Terlebih lagi saat melihat foto Gintani yang telah berhijab. Tiba-tiba saja, kerinduan yang amat sangat, membuncah di dadanya.


Tapi, apa pantas aku mengharapkan dia kembali, setelah terang-terangan aku memutuskan dia hanya karena hal sepele? batin Nando.


Nando menengadahkan wajahnya. Matanya terpejam merasai semilir angin menerpa helaian rambut yang mulai tak terurus.


"Ayolah, Tan! Sekali saja," pinta Nando.


"Maaf, Nan. Aku tidak bisa," jawab Gintani menundukkan kepalanya.

__ADS_1


"Apa salahnya kita melakukan semua itu, Tan? Setiap orang yang menjalin hubungan, pasti pernah melakukan hal seperti itu. Lagi pula, permintaanku masih ada dalam batas kewajaran, kan?" desak Nando.


"Wajar bagimu, tapi tidak bagiku, Nan. Aku tahu, setiap pasangan mungkin memang pernah melakukan itu, tapi aku ingin kita menjadi pasangan yang berbeda. Aku mohon, Nan, mengertilah. Aku ingin menjaga utuh semua yang aku miliki, tentunya untuk dirimu juga. Tapi nanti, setelah Tuhan menghalalkan hubungan kita," ucap Gintani mencoba memberikan pengertian kepada Nando.


"Terserah! Tapi jangan salahkan aku jika aku mencari apa yang tidak bisa kamu berikan dari gadis lain!" ancam Nando.


Gintani hanya tersenyum menanggapi rasa emosi Nando. Gintani paham betul dengan sikap Nando yang suka menggertaknya. Hingga suatu hari.


"Aku tunggu kamu di villa Oma!"


Bunyi pesan yang masuk dari Celine membuat Gintani mengerutkan keningnya. Ada apa Celine memintaku untuk datang. Tumben, batin Gintani. Segera Gintani berkemas dan meminta izin bibinya untuk pergi ke villa Oma.


Satu jam menempuh perjalanan menggunakan bus, akhirnya Gintani tiba di villa Omanya. Istri pertama dari kakek Wira. Villa tersebut memang tidak ditempati, hanya sesekali penjaga villanya datang untuk membersihkan villa itu.


Tok.. Tok... Tok...!


"Celine! Apa kamu ada di dalam?" ujar Gintani sambil mengetuk pintu utama villa.


Hening, tak ada satu pun jawaban dari dalam. Hingga di ketukan ketiga, tiba-tiba pintu itu pun terbuka.


"Ish, kenapa pintu nya tidak dikunci?" tanya Gintani dalam hati.


Sepertinya ada orang, batin Gintani. Dia pun mulai mendekati kamar tersebut.


Lambat laun, suara-suara aneh itu semakin jelas terdengar. Suara sepasang muda-mudi yang sepertinya sedang memadu kasih, menggema dalam kamar itu.


"Aaahhh, sa-yang....ini...benar-benar luar biasa...," ucap suara wanita diiringi deru napas yang menggebu.


Rasa penasaran semakin muncul dalam benak Gintani. Tanpa sadar, dia mendorong pintu yang sedikit terbuka.


Deg... Deg... Deg...


Jantung Gintani berpacu dengan cepat begitu mendapati sepasang tubuh polos yang tengah asyik bergerak berirama di atas ranjang.


"Nando!" gumam Gintani yang masih bisa didengar oleh pemain pria.


Spontan Nando mendorong tubuh Celine yang sedang berada di atasnya.

__ADS_1


"Tan!"


Nando terkejut mendapati sang kekasih tengah berdiri di ambang pintu. Nando segera bangkit dan langsung mengenakan celana boxer-nya dengan terburu-buru. Sejurus kemudian, dia mengejar Gintani yang sudah berlari keluar kamar.


Celine hanya menyeringai dingin melihat pemandangan yang baru saja terjadi.


"Apa pun yang kamu miliki, pasti akan berakhir menjadi milikku," gumam Celine.


"Gintan, tunggu!" teriak Nando yang masih bertelanjang dada.


Gintani menghentikan langkahnya. Sedetik kemudian, dia membalikkan badan. Air mata sudah tak mampu dia bendung lagi. Sakit, rasanya sakit sekali saat rasa yang telah tersimpan, terkhianati.


"A-aku bisa menjelaskan semuanya, Gin!" ucap Nando dengan napas yang masih tersengal.


"Penjelasan apa yang bisa kamu berikan, Nan? Semuanya sudah cukup jelas bagiku," ucap Gintani, berurai air mata.


"Gin, aku laki-laki normal. Wajar jika aku menginginkan hal yang lebih. Jadi bukan salah aku jika aku mencarinya di luar. Bukankah selama ini kamu tidak pernah mengizinkan aku menyentuhmu? Jangankan tubuhmu, bibirmu pun tidak bisa aku kecup. Ayolah, model pacaran seperti apa itu?! Kamu itu terlalu kuno, Gin. Terlalu kolot!" gerutu Nando yang mulai menyalahkan Gintani.


Bagaikan tersambar petir, Gintani hanya mampu bergeming mendengar semua ucapan Nando.


"Lalu, model pacaran seperti apa yang kamu inginkan, Nan? Apa kamu pikir, pacaran yang saling menyerahkan tubuh satu sama lain, itu adalah model pacaran yang sehat? Tidak Nan, itu gila! Itu sudah sangat keterlaluan. Aku benar-benar kecewa sama kamu. Serendah itukah kamu memandangku?" tanya Gintani yang sudah tidak bisa menahan emosinya.


"Maaf, Nan. Aku tidak bisa menjadi seperti yang kamu inginkan. Sebaiknya, kita akhiri hubungan kita," lanjut Gintani.


"Tidak! Aku tidak akan pernah membiarkan hal itu terjadi!" bentak Nando.


"Lalu apa, maumu? Apa aku harus merelakan diriku jatuh dalam sebuah pengkhianatan? Dan...itu? Celine..., kamu mengkhianati aku bersama dengan sepupuku sendiri. Kamu... Aaargghhh...! Aku tidak tahu kata apa yang pantas untuk pengkhianatan kalian hari ini?! ujar Gintani seraya membalikkan badannya.


Namun, sesuatu yang tak pernah diduganya tiba-tiba terjadi.


"Awwww...."


Bersambung....


Hai pendukung setia Gintani, semoga masih suka sama ceritanya, yaaa...


Jangan lupa like, vote n komennya...

__ADS_1


Makasih... 🙏🤗


__ADS_2