Takdir Gintani

Takdir Gintani
Mengakui Kebenaran


__ADS_3

Semua orang tampak terkejut mendengar teriakan seorang laki-laki. Mereka menoleh ke arah laki-laki yang tengah melangkah dengan tegap menuju meja panitia.


"Permisi, saya Papa kandungnya Putri. Jika Anda tidak percaya, Anda bisa menanyakannya langsung kepada Mamanya Putri, atau kepada laki-laki yang diakui Om oleh anak saya. Jadi, apa anak saya masih bisa mengikuti lomba ini?" tanya Argha penuh penekanan.


Pihak panitia pun tercengang mendengar pengakuan Argha. Sejenak mereka menatap ke arah Gintani.


"Apakah benar apa yang dikatakannya, Bu Gintan?" tanya salah seorang panitia itu kepada Gintani.


Tak ingin membuat putrinya kecewa. Gintani menganggukkan kepalanya. Argha tampak tersenyum penuh kemenangan. Alex mendengus kesal melihat gurat senyum di wajah Argha. Sedangkan Putri, dia hanya menatap bingung kepada orang-orang dewasa itu.


Setelah mendapatkan kepastian tentang siapa laki-laki yang baru datang itu, akhirnya pihak panitia kembali mengizinkan Putri untuk mengikuti lomba. Meskipun merasa kebingungan, tapi tidak dipungkiri jika Putri sangat senang karena bisa mengikuti lomba ini.


Putri berlari menghampiri Argha. Sejurus kemudian, dia memeluk Argha. "Terima kasih, Om," bisik Putri di telinga Argha.


Argha tersenyum senang mendapatkan pelukan hangat dari sang anak. Meskipun dia sedikit kecewa karena Putri masih memanggilnya Om. Namun, semua itu tidak jadi masalah. Perlahan Argha akan memenangkan hati Putri. Dan suatu hari nanti, gadis kecil itu akan memanggilnya Papa, pikir Argha.


Akhirnya, lomba memasak pun dimulai. Suasana halaman sekolah tampak ramai. Para ayah dan anak itu berlomba-lomba untuk memberikan hasil yang terbaik. Mereka tampak solid memainkan perannya masing-masing. Begitu juga dengan Argha dan Putri. Sesekali ayah dan anak itu saling bercanda dengan melemparkan tepung terigu ke arah muka masing-masing.


Bunyi dentingan spatula yang beradu dengan wajan dari masing-masing peserta, semakin menambah suasana menjadi ramai. Para ibu berteriak dan bertepuk tangan riuh memberikan semangat untuk anak dan suaminya. Mungkin hanya Alex dan Gintani yang menatap nanar pasangan ayah dan anak itu.


Alex bisa merasakan sinar kebahagiaan dari kedua orang yang telah terpisah begitu lama. Seulas senyum tipis penuh ketulusan terpancar dari wajahnya. Seandainya saja kamu bisa sedikit menghilangkan sifat aroganmu, Ar. Semuanya tidak akan pernah terjadi seperti ini, batin Alex.


Aku senang melihat kalian tersenyum bahagia. Tapi untuk saat ini, aku sudah tidak bisa mempercayai kamu lagi, Ar. Selama kamu masih memiliki keegoisan yang tinggi, aku tidak yakin jika Gintani akan baik-baik saja hidup bersamamu. Alex bermonolog dalam hatinya.


Tidak akan aku biarkan kamu mengambil perhatian anakku begitu saja, Mas, batin Gintani menatap sinis mantan suaminya.


Bibirnya memang tersenyum melihat kegembiraan di wajah sang anak. Tapi hatinya merutuki kedatangan Argha. Terlebih lagi saat dia menyaksikan dengan seenaknya Argha mengakui sebuah kebenaran di hadapan umum.


Aku tidak akan pernah tergugah oleh sikapmu ini, Mas. Kamu benar-benar licik. Bisa-bisanya kamu menggunakan kesempatan di atas kesempitan, gumam Gintani dalam hati.

__ADS_1


.


.


.


Satu setengah jam berlalu. Akhirnya panitia membunyikan peluit panjang sebagai tanda jika waktu lomba telah berakhir. Semua peserta menghentikan kegiatannya. Selesai tidak selesai, masakan yang sudah tersaji di atas piring harus mereka serahkan kepada tim juri. Panitia memberikan waktu istirahat selama satu jam kepada para peserta. Sementara itu, dalam waktu istirahat tersebut, tim juri pun harus melakukan penilaian terhadap hasil masakan para peserta.


Argha terlihat mengambil minuman yang telah disediakan oleh panitia. Dia kemudian mendekati Gintani yang tengah duduk menyuapi Putri di samping Alex. Argha menyodorkan ketiga botol minuman yang tadi dia ambil kepada Alex, Putri dan Gintani.


"Terima kasih, Om," ucap Putri mengambil air minum yang disodorkan Argha.


"Aku tidak haus, simpanlah!" ucap Alex menolak pemberian Argha.


Begitu juga dengan Gintani yang tak ingin melihat sedikit pun ke arah Argha.


"Putri, apa Putri bisa bermain dulu dengan Om Alex? Om mau bicara sebentar dengan Mama Putri. Boleh, 'kan?" pinta Argha.


Argha memang tidak pernah berubah. Dia selalu memberikan perintah seenak jidatnya saja. Dan itulah yang membuat Gintani semakin muak kepadanya.


"Tidak apa-apa, Ma. Lagi pula Putri sudah kenyang, kok. Ayo Om, kita main perosotan di sana!" ajak Putri menunjuk sebuah perosotan yang letaknya cukup jauh.


Setengah berlari, Putri menarik tangan Alex. Akhirnya mau tidak mau, Alex bangun dan mengikuti Putri.


"Mas mau bicara sebentar, Gin," ucap Argha begitu Putri dan Alex pergi.


"Tapi saya tidak pernah ingin bicara dengan Anda," jawab Gintani dingin.


Argha menghela napasnya. "Gin, Mas tahu kamu masih marah sama Mas. Tapi Mas mohon, beri Mas kesempatan untuk menjelaskan semuanya. Mas akui, Mas memang salah karena tidak mempercayai kamu. Tapi kamu sendiri harus bisa mengerti perasaan Mas saat itu. Suami mana yang tidak akan marah melihat istrinya berada dalam pelukan lelaki lain tanpa sehelai benang pun? Wajar kalau saat itu Mas marah. Maafkan Mas, Gin!" ucap Argha.

__ADS_1


"Jadi Anda meminta waktu saya hanya untuk mengungkit masa lalu? Benar-benar keterlaluan!" ucap Gintani, geram.


"Bukan begitu maksud Mas, Gin! Mas hanya ingin kamu memahami posisi Mas saat itu. Mas ha–"


"Cukup! Saya sudah tidak ingin mendengar apa pun lagi dari mulut Anda. Selamat siang!" pamit Gintani seraya beranjak dari tempat duduknya.


"Tunggu, Gin! Ada yang harus Mas bicarakan sama kamu!" cegah Argha seraya mencekal pergelangan lengan Gintani.


"Saya rasa, sudah tidak ada lagi yang harus dibicarakan di antara kita. Apa Anda sudah lupa, sekarang status kita seperti apa?" kata Gintani begitu dinginnya.


"Tidak Gin, tentu saja Mas tidak akan pernah lupa dengan status kita saat ini," jawab Argha dengan santainya.


"Hmm, baguslah. Kalau begitu, lepaskan tangan saya! Apa Anda tidak melihat jika saai ini kita menjadi pusat perhatian? Saya tidak mau orang memberikan penilaian buruk terhadap kita," ucap Gintani penuh penekanan.


"Memangnya apa yang akan mereka pikirkan tentang kita? Bukankah kita ini suami istri?" tanya Argha dengan senyum menggoda.


"Jangan mimpi! Antara saya dan Anda sudah tidak ada hubungan apa pun lagi. Semuanya telah berakhir. Sekarang, lepaskan tangan saya!" ucap Gintani dengan tegas.


"Semuanya belum berakhir, Gin," jawab Argha tak kalah tegasnya.


"Apa maksud Anda? Apa Anda sudah lupa jika kita sudah resmi bercerai? Anda telah melayangkan surat gugatan cerai itu dan saya sudah menandatanganinya. Jadi sudah tidak ada hubungan apa pun lagi di antara kita," ucap Gintani, geram.


"Kamu masih istriku, Gin. Dan selamanya akan menjadi istriku!" ucap Argha penuh keyakinan.


"Gila kamu, Mas!" Gintani semakin geram melihat keyakinan Argha. Dia kemudian melangkahkan kakinya untuk menjauhi Argha.


"Perceraian kita cacat hukum. Karena itu kamu masih sah menjadi istriku saat ini!"


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2