Takdir Gintani

Takdir Gintani
Mengunjungi Makam Ilona


__ADS_3

Sinar mentari pagi menyeruak melalui tirai jendela kamar Gintani. Mungkin karena terlalu lelah, dia bangun kesiangan. Gintani segera pernah ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Untung saja hari ini dia sedang mengalami datang bulan, jadi tidak terlalu khawatir jika bangun agak siang.


Setelah membersihkan diri, Gintani pun segera ke dapur menyiapkan makanan untuk putri semata wayangnya. Gintani cukup terharu dengan sikap Putri yang tak pernah rewel. Hanya saja, semalam tidurnya agak terganggu. Putri sering bangun karena kegerahan. Rupanya dia belum terbiasa tidur tanpa AC. Menjelang subuh, karena udara mulai terasa dingin, putri akhirnya bisa tidur nyenyak. Bahkan belum bangun hingga pagi ini.


Waktu menunjukkan pukul 8 tepat. Sebuah mobil box tiba-tiba berhenti di pekarangan rumah yang Gintani tempati. Dua orang pria dan seorang wanita yang usianya kira-kira seumuran dengan Gintani, keluar dari mobil tersebut. Wanita itu memerintahkan kedua pria itu untuk mengeluarkan barang yang berada di mobil box tersebut. Rasa penasaran menuntun langkah Gintani untuk keluar.


"Permisi! Ada yang bisa saya bantu?" tanya Gintani menghampiri mereka.


"Oh, iya ... kenalkan nama saya Geisha, adiknya bang Alex. Saya diminta bang Alex untuk menyerahkan mesin jahit ini kepada Anda. Maaf, bang Alex tidak bisa mengantarkannya secara langsung, karena beliau ada meeting pagi-pagi sekali di kantornya," ucap Geisha.


Gintani tersenyum, rupanya bang Alex tidak pernah main-main dengan ucapannya, batin Gintani.


"Nama saya Gintani, jangan terlalu formal. Cukup panggil saya Gintan saja," ucap Gintani mengulurkan tangannya.


Geisha menyambut uluran tangan Gintani.


"Mulai sekarang, kita akan menjadi teman yang baik," ucap Geisha.


"Mesinnya mau ditaruh di mana, Bu?" tanya salah seorang pria yang sedang mengangkat mesin tersebut.


"Di ruang tamu saja, Mas," jawab Gintani.


Kedua orang pria itu kembali menggotong mesin jahit tersebut dan memasuki rumah Gintani. Mereka menyimpan mesin itu di sudut ruang tamu, tempat yang telah Gintani sediakan.


Gintani pergi ke warung untuk membeli kopi. Dia lalu menyeduh kopi tersebut dan menyajikannya kepada kedua pria yang sedang bekerja merancang mesinnya.


"Sebenarnya ini mesin lama, Gin. Aku nggak tahu apa masih berfungsi atau tidak. Makanya aku membawa tukang, biar sekalian di cek," ucap Geisha.


"Iya, tidak apa-apa. Mudah-mudahan masih bisa berfungsi dengan baik," jawab Gintani.


Tak berapa lama kedua pria itu menghampiri mereka.


"Alhamdulillah, semua komponen mesin jahit masih aman, Bu. Mungkin hanya perlu diolesi pelumas saja, agar pergerakannya tidak terlalu kaku," kata si tukang.

__ADS_1


"Alhamdulillah. Iya, nanti biar saya cari di pasar pelumasnya. Terima kasih ya, Mas," ucap Gintani.


"Sama-sama, kalau begitu kami permisi dulu. Bu Geisha, apa mau ikut bersama kami?" tanya salah seorang tukang kepada Geisha.


"Kalian duluan saja. Biar aku pulangnya naik ojek online," jawab Geisha.


"Baiklah. Mari Bu!" pamit kedua pria itu.


Gintani dan Geisha mengangguk. Setelah kepergian mereka, Gintani mengajak Geisha untuk sarapan bersama.


"Waah, sepertinya enak sekali ini," ucap Geisha saat melihat nasi goreng sudah tersaji di meja makan.


"Ayo, Ge dicoba ... nasi goreng ala-ala chef Gintan, hehehe.." gurau Gintani sambil terkekeh.


"Hmm, boljug tuh," ucap Geisha.


Gintani mengernyitkan keningnya. Boljug?" Gintani mengulang perkataan Geisha.


"Bolju ... boleh juga, maksudnya. Hehehe.." tawa Geisha.


Mereka pun sarapan begitu lahapnya.


🍀🍀🍀


Menjelang makan siang, Argha meminta izin untuk pergi ke luar. Rencananya, siang ini dia ingin mengajak Miki mengunjungi makam Ilona yang tak lain adalah ibu kandungnya.


"Sudah siap, Ki?" tanya Argha saat menjemput Miki di apartemennya.


Miki enggan menjawab pertanyaan Argha. Dia hanya mengayunkan langkahnya ke luar apartemen.


Sekali lagi, Argha hanya bisa mengelus dada melihat sikap bocah itu. "Mungkin dosa hamba terlalu besar, hingga Engkau memberikan hamba ujian melalui anak itu," gumam Argha. Dia kemudian menyusul Miki yang sudah duluan manaiki lift.


Setelah melewati perjalanan selama 45 menit, akhirnya mereka tiba di tempat pemakaman umum.

__ADS_1


Miki mengernyitkan keningnya. Dia heran kenapa orang dewasa itu membawanya ke tempat ini? Apa tujuannya? Apa dia ingin melenyapkan aku? Berbagai pikiran buruk timbul dalam benak Miki.


"Untuk apa kita kemari?" tanya Miki masih dengan bahasa tubuhnya yang kaku.


"Turunlah, nanti juga kamu akan tahu sendiri," jawab Argha.


Tak ingin beradu argumen lagi, Miki pun turun dari mobil. Dia mengikuti Argha yang sudah berjalan duluan. Setelah melewati beberapa blok, akhirnya mereka tiba di depan makan Ilona.


"Chantika Ilona Prasetya," gumam Miki. Apa dia orang yang sama yang mengaku sebagai kakakku Ilona Prasetya? batin Miki.


"Makam siapa ini? tanya Miki, dengan nada yang dingin.


Argha berjongkok di depan makam itu. "Ini makam kakak kamu," jawab Argha.


Miki bergeming. Ternyata ini makam orang yang sama, yang mengaku sebagai kakakku, padahal dia ibuku. Huh, pantas saja dia sudah tidak menghubungi aku lagi. Rupanya dia telah mati. Miki bermonolog dalam hatinya. Entah kenapa, semuanya terasa hambar. Tak ada gurat kesedihan pada raut wajah Miki.


"Berjongkoklah, Ki. Kita do'akan agar kakak kamu diberikan tempat yang terbaik di sisi Tuhan," ucap Argha.


Miki masih bergeming di tempatnya. "Percuma, dia lebih pantas tinggal di neraka daripada di sisi Tuhan," gumam Miki yang masih bisa di dengar oleh Argha.


Seketika Argha bangkit dan berteriak. "Miki! Jaga bicaramu!" Argha begitu emosi mendengar perkataan Miki.


"Kenapa? Apa aku salah? Apa hukumannya bagi seorang ibu yang tidak mau mengakui anak kandungnya sendiri? Dosa!! Dosa yang sangat besar. Tak ada yang tak mungkin, Tuhan Maha Pengampun. Tapi ampunan tersebut akan orang dapatkan jika dia bertobat. Lalu, apakah Anda yakin jika wanita yang terbaring di bawah tanah itu sudah bertobat? Bahkan hingga ajal menjemputnya pun, wanita itu tidak pernah mau mengakui aku sebagai anaknya. Apa orang seperti itu akan mendapatkan tempat di sisi Tuhan, hah?" jawab Miki panjang lebar.


Sungguh sebuah jawaban yang sangat mengejutkan bagi Argha. Ilona bilang jika selama ini Miki mengenal dia sebagai kakak perempuannya. Tapi pada kenyataannya, Miki telah mengetahui keadaan yang sebenarnya. Dia tahu jika selama ini Ilona adalah ibu kandungnya.


"Dengar Miki, urusan pengampunan dan tempat yang terbaik, itu adalah urusan Tuhan. Tugas kita hanya mendo'akan orang yang sudah meninggal, semoga Tuhan mengampuni segala dosanya dan menempatkannya di tempat yang terbaik," ucap Argha, memegang kedua pundak Miki.


"Aku tidak butuh ceramah Anda!" jawab Miki sambil menepiskan kedua tangan Argha dari pundaknya.


Miki kemudian pergi meninggalkan Argha.


Astaghfirullah, Bram ... gue nggak tahu lagi harus bagaimana ngedidik anak lo....

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2