Takdir Gintani

Takdir Gintani
Menyingkir dari Sana!


__ADS_3

Dokter Richard mencekal dan menarik lengan kanan Ilona agar mau mengikutinya.


"Ish, apa-apaan sih, Rich?" protes Ilona yang merasa kesal dengan sikap dokter Richard.


"Sst, diam!" bisik dokter Richard tepat di telinga Ilona.


"Nggak usah narik-narik juga kali, Rich!" gerutu Ilona mengerucutkan bibirnya.


Dokter Richard melepaskan tangan Ilona begitu tiba di ruangannya. "Apa maksud kamu bikin keributan di tempat umum?" tanya dokter Richard, geram.


"Siapa juga yg bikin keributan?" Ilona mencoba mengelak.


"Itu? Tadi? Apa maksud kamu berbicara seperti itu pada Gintani? Apa kamu ingin mempermalukan dia?" tuduh dokter Richard.


"Dia memang pantas untuk dipermalukan. Dia sudah berani melarang kak Argha menemui aku. Apa aku salah mempertanyakan hal itu padanya?" Ilona mencoba membela diri.


"Ya Tuhan, Na. Aargh! Aku tidak habis pikir sama kamu. Kenapa kamu harus menyalahkan Gintani jika Argha memang tidak mau mengunjungi kamu lagi. Lagi pula, Gintani punya hak untuk membatasi pergaulan Argha, terutama dengan perempuan. Tolong posisikan diri kamu sebagai Gintani. Apa kamu rela melihat suami kamu mengurusi wanita lain?" tanya dokter Richard.


"Sudahlah Rich, jangan ceramahi aku terus! Satu lagi, aku bukan Gintani, dan aku tidak akan pernah sudi memposisikan diri aku sebagai dirinya. Karena aku bukan wanita perebut kekasih orang. Jelas!" teriak Ilona.


Ilona keluar dari ruangan dokter Richard dengan membanting pintu. Dokter Richard hanya bisa mengelus dadanya melihat sikap Ilona yang semakin menjadi-jadi.


🍀🍀🍀


Sementara itu, di depan poli bedah syaraf.


"Kamu tidak apa-apa, Nak?" tanya ibu paruh baya yang membela Gintani tadi.


Gintani menggelengkan kepalanya. "Saya tidak apa-apa, Bu."


"Ini, minumlah!" Ibu itu menyodorkan sebotol air mineral kepada Gintani.


"Terima kasih," ucap Gintani, mengambil air mineral itu dan mereguknya.


"Sudah, jangan hiraukan ucapan pelakor seperti dia. Nanti juga kena batunya," Ibu paruh baya itu memberikan saran pada Gintani. Tangannya mengusap punggung Gintani untuk menenangkannya.


"I-iya, Bu," jawab Gintani yang masih merasa shock dengan kejadian tadi.


Tiba-tiba, seorang perawat keluar dari ruangan bedah syaraf. "Nyonya Gintani!" Perawat tersebut memanggil pasien berikutnya.


Gintani segera berdiri, "Saya tinggal dulu, Bu!" pamit Gintani yang dijawab dengan anggukan ibu paruh baya itu.


Gintani segera menghampiri perawat, "Saya, Sus," ucapnya.

__ADS_1


"Mari, silakan masuk Bu!" ucap sang perawat membuka lebar pintu ruang pemeriksaan. Sedetik kemudian perawat iru menutup kembali pintunya.


"Selamat sore, Nyonya Gintani. Bagaimana, keluhan seperti apa yang Anda rasakan saat ini?" tanya dokter paruh baya yang masih terlihat jelas guratan ketampanannya.


"Akhir-akhir ini, kepala saya suka terasa sakit Dok. Rasanya seperti ditusuk-tusuk jarum. Terkadang saya juga sering melihat bayangan-bayangan yang melintas begitu saja. Apa mungkin itu bagian dari masa lalu saya, Dok?" tanya Gintani.


"Hmm, sebenarnya saya tidak bisa menduga-duga, karena Anda sendiri tidak tahu persis tentang apa yang menimpa diri Anda. Tapi, jika saya lihat hasil CT Scan yang kemarin, saya melihat ada cedera otak yang cukup parah dan mungkin terjadi puluhan tahun yang lalu. Mohon maaf, apa sebelumnya Anda pernah mengalami kecelakaan yang mencederai bagian kepala Anda?" tanya dokter Andre.


"Saya sendiri kurang yakin, Dok. Tapi, kakek saya pernah bercerita, jika saya memang pernah menjadi korban tabrak lari waktu usia saya sekitar 6 tahun. Apa mungkin itu yang menjadi penyebabnya?" tanya Gintani lagi.


"Bisa jadi. Begini saja, saya akan berikan resep pereda rasa sakit. Saya juga akan memberikan alamat sebuah klinik hypnotherapy. Anda bisa berkonsultasi dengan dokter setempat tentang bagaimana cara yang tepat untuk bisa mengingat apa yang pernah terjadi pada diri Anda," ucap dokter Andre.


"Baiklah, Dok. Terima kasih," ucap Gintani.


"Sama-sama. Ini resepnya, Anda bisa menebusnya di apotek depan. Dan ini kartu nama teman saya seorang dokter senior yang menggunakan hypnotherapy dalam mengobati pasien-pasiennya." Dokter Andre menyerahkan sebuah kartu nama kepada Gintani.


Gintani mengambil resep obat beserta kartu nama itu. Setelah berpamitan, dia kemudian keluar dari ruang pemeriksaan.


Gintani mengayunkan langkahnya melewati koridor rumah sakit yang terlihat sangat sepi. Entah kenapa, perasaannya begitu tidak enak. Sesekali dia nenengok ke belakang untuk memastikan tidak ada orang yang membuntutinya. Gintani mempercepat langkahnya.


Brugh!


Tanpa sadar dia menabrak seseorang yang tengah berjalan di depannya.


"Loh, Gintan! Kamu mau ke mana?" tanya orang itu yang tak lain adalah dokter Richard.


"Do-Dokter? Sekali lagi Gintan minta maaf. Gintan tidak sengaja menabrak Dokter. Maaf!" Kembali Gintani membungkukkan badannya.


"Sudahlah Gintan. Tidak apa-apa, kok! Lagian, aku baik-baik saja. Tak lecet seujung kuku pun," gurau dokter Richard.


"Ah, iya Dok," ucap Gintani seraya membenahi kerudungnya.


"Ngomong-ngomong, kamu mau ke mana? Kok tumben lewat sini?" tanya dokter Richard.


"Gintan mau menebus obat di apotek depan," jawab Gintani.


"Memangnya tidak ada di apotek rumah sakit ini?" tanya dokter Richard, heran.


"Entahlah, tapi tadi dokter Andre menyuruh Gintan untuk menebusnya di apotek depan," jawab Gintani.


"Oh, ya sudah. Ayo aku antar!" Dokter Richard menawarkan dirinya.


"Memangnya Dokter tidak kerja?" Gintani malah bertanya.

__ADS_1


"Kebetulan jam kerjaku sudah selesai. Ayo, silakan!" jawab dokter Richard.


"Terima kasih."


Gintani dan dokter Richard kemudian berjalan beriringan menuju apotek depan untuk menebus obat milik Gintani. Apotek tersebut berada di seberang rumah sakit, jadi Gintani dan dokter Richard harus menyeberangi jalan raya terlebih dahulu untuk tiba di sana.


Begitu sampai, Gintani pun segera memberikan salinan resep dari dokter yang tadi menanganinya. Butuh waktu beberapa menit sebelum akhirnya petugas apotek menyerahkan obatnya langsung kepada Gintani.


"Jadi, berapa total semuanya, Mbak?" tanya Gintani saat menerima obat-obatan tersebut.


"Satu juta dua puluh lima ribu rupiah, Bu," jawab petugas apotek.


Gintani mengeluarkan beberapa uang lembar pecahan seratus ribuan. "Ini, kembaliannya buat Mbak saja," ucap Gintani.


"Masya Allah, terima kasih, Mbak," ucap petugas apotek itu terharu.


"Sama, sama. Mari Mbak, saya permisi dulu!" pamit Gintani


"Ah, iya. Semoga lekas sembuh," jawab gadis si penjaga apotek.


"Aamiin," jawab Gintani dan dokter Richard berbarengan.


"Mau langsung pulang?" tanya dokter Richard.


"Nunggu jemputan, Dok," jawab Gintani.


"Panggil kak Richard saja. Ini bukan rumah sakit lagi loh, Gin!" ucap dokter Richard mencoba membuat hubungan agar tidak terasa kaku.


"Ba-Baiklah, Kak," jawab Gintani.


"Jadi gimana, mau aku antarkan pulang?" dokter Richard mengulang pertanyaannya.


"Tidak usah, terima kasih Dok, eh, Kak. Tadi mas Argha sudah bilang dia akan menjemput Gintan."


Saat mereka sedang asyik berjalan di tepi jalan, tiba-tiba ponsel milik dokter Richard berbunyi.


"Ya, hallo!"


"Menyingkir dari sana!"


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya, ya... 🤗🙏

__ADS_1


__ADS_2