
Bik Susan mendekati ranjang, dia kemudian menyentuh tangan Kakek Wira. "Dingin sekali, Neng," ucap Bik Susan, terlihat khawatir.
Gintani mengangguk. Perasaan cemas mulai menyerangnya. "Apa mungkin Kakek kecapean, Bik?" tanya Gintani.
"Mungkin saja, Neng." Bik Susan menjawab sambil menggosok-gosok kedua telapak tangan Kakek Wira secara bergantian.
"Kek, Kakek bangun, Kek!" kata Gintani memanggil pelan sang kakek.
Namun tak ada pergerakan sama sekali dari Kakek Wira. Embusan napasnya mulai sedikit melemah, detak jantungnya pun semakin lambat. Gintani sangat khawatir melihat kondisi sang kakek yang mulai terlihat pucat.
"Bik, apa sebaiknya kita bawa kakek ke rumah sakit saja?" tanya Gintani.
"Tapi Neng, si mamang lagi panggil pak dokter, sebaiknya kita tunggu saja sampai si mamang pulang," saran Bik Susan.
Gintani diam. Gurat kecemasan semakin nampak jelas di raut wajah Gintani.
Setengah jam kemudian, terdengar bunyi motor yang sedang diparkirkan di pekarangan rumah. Bik Susan segera keluar untuk melihat siapa yang datang.
"Ah, akhirnya datang juga," ucap Bik Susan dengan perasaan lega.
"Gimana keadaannya, Yi? Apa bapak sudah sadar?" tanya Mang Rakib pada istrinya.
"Belum, Kang," jawab Bik Susan.
"Ya sudah atuh. Mari silakan masuk, Pak Dokter!" Mang Rakib mempersilakan dokter Iwan masuk.
Dokter Iwan mengangguk. Dia pun mengikuti Mang Rakib masuk ke kamar Kakek Wira. Dokter Iwan sangat terkejut melihat keadaan Kakek Wira yang sudah pucat pasi. Dia segera mengeluarkan peralatan medisnya dan mulai memeriksa Kakek Wira dengan teliti.
Beberapa menit kemudian.
"Maaf, Kang Rakib, sebaiknya kita membawa Pak Wira ke rumah sakit saja," saran dokter Iwan setelah selesai memeriksa kondisi Kakek Wira.
"Ta-Tapi, kenapa Sok? Apa kondisi Pak Wira sangat serius, sampai harus dibawa ke rumah sakit?" tanya Mang Rakib, gusar.
__ADS_1
Dokter Iwan membisikkan sesuatu di telinga Mang Rakib. Seketika wajah Mang Rakib berubah. Untuk beberapa saat Mang Rakib hanya mampu diam, hingga akhirnya sentuhan tangan dokter Iwan membawa Mang Rakib ke alam sadarnya.
"Kalau begitu, biar saya pinjam mobil ambulan desa dulu, Pak Dokter," ucap Mang Rakib.
"Jangan lama-lama ya, Kang. Kita harus segera membawa Pak Wira ke rumah sakit!" perintah dokter Iwan kepada Mang Rakib.
Mang Rakib hanya bisa mengangguk. Dengan perasaan tak menentu, dia menjalankan motornya dengan kecepatan yang cukup tinggi.
Gintani yang merasa ada yang tidak beres dengan kondisi sang kakek, segera memasuki kamar kakeknya. "Ada apa dengan kakek saya, Dok? Apa yang terjadi padanya? Kenapa kakek saya terlihat sangat pucat?" tanya Gintani.
Dokter paruh baya itu hanya bisa menatap Gintani dengan perasaan iba. "Sabar ya, Nak Gintan. Sebaiknya kita berdo'a saja semoga kakek kamu kuat melewati semua ini," jawab dokter Iwan.
"Ma-Maksud dokter?" tanya Gintani semakin tidak mengerti.
"Maaf Nak Gintan, saya tidak bisa menjelaskan praduga saya. Namun saya sarankan, kamu bisa ikhlas menerima segala kemungkinan yang terjadi," jawab dokter Iwan menepuk pelan bahu Gintani.
Gintani terkejut, dia hanya bisa menatap nanar sang kakek yang tengah terbaring tak berdaya.
Jalanan terlihat cukup lengang, hingga dalam waktu 25 menit, mobil ambulan tiba di rumah sakit.
"Kamu urus pendaftarannya, biar saya yang membawa pak Wira ke UGD," perintah dokter Iwan kepada Gintani.
Gintani mengangguk, dia segera berlari menuju bagian pendaftaran. Sedangkan dokter Iwan, dia meminta tolong perawat laki-laki untuk memindahkan pasien ke atas brankar rumah sakit.
Dengan sigap, kedua perawat itu memindahkan Kakek Wira. Mereka kemudian membawa Kakek Wira ke ruang UGD. Dokter Iwan berlari kecil mengikuti langkah kedua perawat itu. Meski hatinya merasa pesimis akan keselamatan Kakek Wira, namun dokter Iwan dengan semangat mendampingi para perawat itu hingga di ruang UGD.
Tiba di sana, Kakek Wira segera diberikan tindakan pertama. Namun Tuhan memiliki rencana lain. Upaya itu tidak berhasil baik, karena sepertinya, Kakek Wira telah pergi sedari dia masih berada di rumah.
Pintu UGD terbuka lebar. Seorang dokter yang menangani Kakek Wira menghampiri dokter Iwan dan Mang Rakib yang sudah tiba di tempat.
"Bagaimana, Dok?" tanya dokter Iwan.
"Maaf, kami tidak berhasil menyelamatkan pasien. Sepertinya, pasien memang telah pergi untuk selamanya pada saat dia berada dalam perjalanan menuju kemari," jawab dokter yang menangani Kakek Wira
__ADS_1
Brak!
Tanpa sadar, Gintani menjatuhkan setiap kebutuhan Kakek Wira yang telah dibelinya di apotek. Mulai dari tissue basah, pampers adults dan beberapa bungkus roti.
"Tidak...! Tidak mungkin kakek saya telah pergi... Dokter sedang bercanda, 'kan?" tanya Gintani memegang kerah dokter itu.
"Neng, tenanglah!" ucap Mang Rakib merangkul pundak Gintani.
"Bagaimana Gintan bisa tenang?! Kakek sudah meninggal... Dia sudah pergi untuk selama-lamanya. Dia ... dia tega pergi meninggalkan Gintan sendirian di sini. Bagaimana Gintan bisa tenang, Mang?" Tubuh Gintani terasa lemas, kedua kakinya tak mampu lagi menopang tubuhnya, hingga akhirnya Gintani limbung.
Mang Rakib yang sedang berada di sampingnya segera memegang Gintani agar tidak sampai jatuh ke lantai. "Mamang ngerti, Neng. Mamang juga sedih melihat kenyataan yang ada," ucap Mang Rakib.
"Bagi Gintan, kakek adalah orang yang paling berharga. Gintan nggak bisa hidup tanpa kakek," ucap lirih Gintani dalam pelukan Mang Rakib.
"Mamang tahu, tapi Neng harus kuat. Neng masih punya Mamang sama bik Susan. Neng masih punya si jabang bayi. Neng harus kuat demi anak yang sedang berada dalam kandungan Neng." Mang Rakib mencoba menyemangati Gintani.
"Sebenarnya kakek kenapa, Dok? Kenapa dia bisa sampai meninggal?" tanya Gintani.
"Kakek kamu terkena serangan jantung, Nak," ucap dokter yang menangani Kakek Wira di UGD.
"Neng, tadi dokter Iwan juga bilang seperti itu. Kemungkinan Pak Wira telah meninggal saat masih berada di rumah. Namun dokter Iwan tak ingin menduga-duga, karena itu beliau meminta Mamang membawa Pak Wira ke rumah sakit untuk sekedar memastikan. Dan ternyata, memang benar jika Pak Wira telah tiada," kata Mang Rakib menceritakan kenapa dia sampai harus membawa Kakek Wira ke rumah sakit.
"Kakek...." gumam lirih Gintani.
"Sudah, Neng ... yang kuat, ya! Sekarang kita urus kepulangan jenazah Pak Wira. Insya Allah, beliau sudah tenang di sisi Gusti Allah," ucap Mang Rakib.
Gintani mengangguk.
Setelah melihat cucu majikannya mulai tenang, Mang Rakib dan dokter Iwan segera melakukan prosedur pengambilan jenazah. Tak lama kemudian, sebuah mobil jenazah yang mengangkut almarhum Kakek Wira meluncur memecah kesunyian malam.
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya ya 🙏🤗
__ADS_1