
Argha membuka matanya saat mendengar rintihan Ilona. Dia yang tengah tertidur di sofa, seketika bangun dan mendekati Ilona untuk memeriksa keadaannya. Wajah Ilona terlihat sangat pucat dengan bibir yang terus bergerak menggumamkan nama Argha.
Argha tampak tertegun melihat kondisi Ilona yang memprihatinkan. Seberapa besar cintanya padaku, hingga dia menyebut namaku dalam tidurnya? batin Argha.
Argha duduk di tepi ranjang. Tangannya terulur untuk mengusap bulir keringat di kening Ilona. Wajah sendunya membuat Argha merasa iba padanya. Argha terkejut saat menyentuh kening Ilona. "Panas?" gumam Argha seraya membolak-balik telapak dan punggung tangannya untuk merasai suhu tubuh Ilona.
Argha segera mengambil air hangat untuk mengompres Ilona. Pada akhirnya, sepanjang malam Argha terjaga, merawat Ilona yang tengah demam tinggi.
🍀🍀🍀
Pagi mulai menyapa. Cuitan burung gereja di ranting pohon beringin di samping kamar rawat Gintani, membangunkan Jessica dari tidurnya. Dia mulai mengedarkan pandangannya ke sekeliling ruangan. Tak ada tanda-tanda keberadaan orang lain di kamar itu selain dirinya dan Gintani yang masih terlelap di ranjangnya.
Krukk... Kruuukkk...
Jessica memegangi perutnya yang tengah berbunyi. Sepertinya, cacing-cacing dalam perutnya mulai berdemo setelah semalaman tak mendapatkan jatah makan. Namun Jessica masih enggan meninggalkan Gintani seorang diri. Kemana sih sebenarnya si Argha? Kenapa sampai sekarang dia belum datang juga? Apa aku coba tanyakan pada Bram saja? batin Jessica.
Jessica melirik jam tangan. Waktu menunjukkan pukul 07.25. "Ah, nanti sajalah...mungkin saat ini dia masih dalam perjalanan menuju kantor," gumam Jessica.
Jessica pun segera mengikat rambutnya. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk membersihkan diri.
Selang 30 menit, Jessica keluar dari kamar mandi. Dia melihat seorang perawat sedang memeriksa Gintani.
"Bagaimana keadaannya, Sus?" tanya Jessica kepada perawat yang sedang membuka kain kasa di pelipis Gintani.
"Jahitannya masih sedikit basah, Mbak. Harus sering-sering dibersihkan. Kalau tidak, bisa menimbulkan infeksi," jawab perawat itu.
"Oh, begitu ya! Bagaimana dengan luka yang lainnya, Sus? Tidak ada yang serius, kan?" tanya Jessica lagi.
"Sejauh ini, tidak ada luka dalam, Mbak. Hanya mungkin yang di kepalanya jangan sampai terbentur lagi. Dari hasil ct scan, sepertinya pasien pernah mengalami benturan yang sangat hebat sebelumnya. Jadi jika sampai pasien mendapatkan benturan lagi, maka akibatnya bisa fatal."
"Tuh, dengar itu Gin! Mulai sekarang, kamu harus hati-hati. Jangan sampai jatuh dan kepalamu terbentur lagi!" ucap Jessica.
"Iya, Mbak." Gintani tersenyum. "Mbak sudah sarapan?" Tanya Gintani lagi.
Jessica menggelengkan kepalanya.
"Ya ampun, Mbak...! Kenapa belum sarapan? Ini sudah waktunya sarapan, loh!" ucap Gintani.
"Nanti aja, Gin! Nunggu laki lo datang dulu," jawab Jessica.
Gintani menghela napasnya, "Kalau Mbak mau sarapan, Mbak pergi saja! Nggak usah nungguin Mas Arhga!" perintah Gintani.
"Tapi, siapa yang jagain lo, nanti?" sahut Jessica.
"Mbak, di sini banyak suster yang bisa jaga Gintan. Lagipula, Gintan baik-baik saja kok! Nggak perlu repot-repot harus di jagain segala," jawab Gintani.
"Tapi...!"
__ADS_1
"Iya, Mbak. Kalau mau sarapan, Mbak pergi saja. Biar saya yang bantu jagain Ibu Gintani." Perawat itu menawarkan dirinya untuk menjaga Gintani.
Mata Jessica seketika berbinar. "Benarkah? Terima kasih ya, Sus! Saya janji, saya nggak akan lama-lama kok, makannya!" ucap Jessica.
"Lama juga nggak apa-apa Jess, biar saya yang jaga Gintani," sahut dokter Richard yang sudah berdiri di depan mereka.
Jessica seketika menoleh ke arah dokter Richard. "Oke...! Makasih ya, dok!" ucapnya seraya kembali menatap Gintani. "Gin, aku keluar dulu bentar, ya? Sekalian mau ganti baju," pamit Jessica.
Gintani pun mengangguk.
Setelah kepergian Jessica, dokter Richard menghampiri Gintani. "Bagaimana hasilnya, Sus?" tanya dokter Richard kepada perawat yang tadi memeriksa Gintani.
"Semuanya normal, dok. Luka di pelipisnya juga sudah mulai mengering," jawab perawat itu.
"Apa itu artinya, aku boleh pulang?" tanya Gintani penuh harap.
"Tunggu sehari lagi ya, Gin! Luka di kepala kamu masih perlu observasi lanjut," jawab dokter Richard.
"Tapi kak...!"
"Sudahlah, Nak! Turuti apa kata Richard." Tiba-tiba Tuan Jaya dan asistennya sudah berdiri di pintu kamar rawat Gintani.
"Pa-pah!" gumam Gintani.
Dokter Richard tersenyum, dia kemudian mundur untuk memberikan tempat bagi kedua orang tua itu.
"Maaf, Pah! Gintan tidak mau merepotkan Papah," jawab Gintani, menundukkan kepalanya.
"Hei...! Apa maksud kamu merepotkan? Tidak akan ada orang tua yang merasa direpotkan oleh putra-putrinya," ujar Tuan Jaya seraya melepaskan pelukannya. "Apa Argha belum juga datang?" tanyanya lagi.
Gintani menggelengkan kepalanya.
"Ish, pergi kemana anak itu?" Tuan Jaya merasa geram karena Argha sama sekali belum mengetahui apa-apa tentang Gintani.
🍀🍀🍀
Di apartemen Ilona.
Argha mengerjapkan matanya saat merasakan sentuhan di kepala. Dia pun mengangkat kepalanya. "Syukurlah kamu sudah bangun, Na," ucap Argha. "Mau minum?" tawarnya.
Ilona mengangguk lemah.
Argha mengangkat kepala Ilona dan menyangganya di dada. Dia lalu meraih gelas di atas nakas dan mulai mendekatkan gelas itu di bibir Ilona.
Ilona meneguknya sesaat. "Sudah Kak," ucapnya.
Argha pun meletakan kembali gelasnya dan membaringkan Ilona. Untuk beberapa saat, mereka saling diam. Hingga akhirnya, Argha melihat jam tangannya. "Na, ini sudah hampir dzuhur. Kakak izin pulang dulu, ya! Seharian Kakak belum ganti baju," kata Argha.
__ADS_1
Ilona diam.
"Na...!" panggil Argha, lembut.
"Kalau Kakak mau ganti baju, di lemari ada baju papa Ilona. Kakak pakai saja, tapi tolong jangan pulang ya, Kak!" pinta Ilona.
"Tapi Na, istri Kakak pasti nungguin Kakak di rumah. Dia pasti merasa cemas karena semalam Kakak tidak pulang."
"Ilona mohon Kak, Ilona nggak mau sendirian," lirih Ilona.
"Ck...!" Argha berdecak kesal.
"Ish...!" Ilona kembali merintih seraya memegangi perut bagian bawahnya.
"Na, kamu kenapa?" meskipun merasa kesal, namun Argha tak bisa mengabaikan rintihan Ilona.
"Sa-sakit kak...perut Ilona sakit sekali," jawab Ilona sambil membungkuk memegangi perut bagian bawahnya.
"Kita ke rumah sakit, ya!" ajak Argha.
"Nggak! Ilona nggak mau ke rumah sakit, Kak!" tolak Ilona bersikeras.
"Tapi Na...!"
"Nggak! Pokoknya Ilona nggak mau!" Ilona mulai berteriak.
Argha hanya bisa mengacak-acak rambutnya dengan kasar melihat kekeraskepalaan Ilona.
🍀🍀🍀
Sementara itu, di kantor APA Architecture. Bram dan Nadhifa dibuat kelimpungan dengan ketidakhadiran sang bos arrogant di kantornya. Akhirnya, mereka meng-handle beberapa meeting penting yang memang tidak bisa diundur.
"Serius? Kak Bram emang nggak tahu kemana kak Argha pergi?" tanya Nadhifa penuh selidik.
"Demi Allah, Fa...! Kakak nggak tahu kemana kakak kamu pergi. Kemarin saat meeting, Tiba-tiba saja Argha mendapatkan pesan. Setelah itu dia meminta izin pada Tuan Hanzel, terus pergi begitu saja."
"Lalu, kemana perginya Kak Argha? Bahkan, sampai sekarang dia tidak tahu jika istrinya mengalami kecelakaan."
Bram hanya menggedikan bahunya. Dia sendiri tidak mengetahui kemana perginya Argha. Kenapa Argha seolah menghilang tanpa kabar? Bahkan ponselnya pun tidak bisa dihubungi. Tiba-tiba, bayangan Ilona berkelebat di pikiran Bram.
Apa menghilangnya Argha ada hubungannya dengan kembalinya Ilona?
Bersambung....
Mohon maaf, jika hari ini othor telat up.
Semoga masih suka sama ceritanya, ya...
__ADS_1
Jangan lupa, like, vote n komennya... 🙏🤗