
"Duduklah, Tan!" pinta Alex kepada Gintani.
"Tapi, Gintan harus membereskan barang-barang Gintan, Bang," jawab Gintani.
"Nanti Abang bantu. Sekarang duduklah, ada banyak hal yang ingin Abang tanyakan sama kamu," ucap Alex.
"Kalau ini tentang mas Argha, Gintan tak mau membahasnya," jawab Gintani.
"Maafkan Abang, tapi Abang butuh penjelasan dari kamu, Tan. Apa yang sebenarnya terjadi pada kalian?" tanya Alex semakin penasaran.
"Sudah Gintan bilang, Gintan tidak ingin membahas apa pun tentang mas Argha. Gintan mohon, Bang?" ucap Gintani, memelas.
"Apa dia menyakiti kamu lagi?" Alex seolah tak peduli dengan permohonan Gintani. Yang dia butuhkan saat ini adalah sebuah kejelasan.
Gintani hanya menundukkan wajahnya.
"Brengsek!" Alex mengumpat seraya mengepalkan tangannya.
Gintani mendekati Alex, dia pun memegang tangan Alex.
"Semuanya sudah berlalu, Bang. Gintan sudah melupakan hal itu. Saat ini, Gintan hanya ingin fokus pada masa depan Putri," ucap Gintani.
"Apa Argha tahu kamu berada di sini?" tanya Alex lagi.
Gintani menggelengkan kepalanya.
"Lalu, Putri? Apa Argha tahu tentang Putri?" Alex kembali bertanya.
Sekali lagi, Gintani menggelengkan kepalanya.
"Ya Tuhan ... apa arti semu ini, Tan? Abang harus bicara pada Argha," ucap Alex sambil mengeluarkan ponselnya.
Gintani merebut ponsel Alex. "Jangan, Bang! Gintan mohon jangan lakukan itu. Gintan tidak mau dia mengganggu hidup Gintan lagi," cegah Gintani.
"Jika kamu tidak ingin Abang menghubungi Argha, maka ceritakanlah semuanya!" pinta Alex, tegas.
Akhirnya, Gintani pun mulai menceritakan perpisahannya dengan Argha.
Kedua rahang Alex semakin mengeras menahan amarah. Dia benar-benar tidak menyangka jika sahabatnya mempunyai pikiran sepicik itu.
"Keterlaluan!" gumam Alex.
"Sekarang Abang sudah mengetahui alasan Gintani menghindari mas Argha. Jadi Gintan mohon, tolong jangan beri tahu mas Argha tentang keberadaan Gintan dan Putri di sini," pinta Gintani kepada Alex.
"Lalu, apa rencana kamu sekarang?" tanya Alex.
"Gintan akan keluar dari rumah mas Heru. Gintan tidak ingin mas Heru mengalami masalah karena keberadaan Gintan di rumah ini," jawab Gintani.
"Apa kamu tidak ingin menunggu Heru pulang terlebih dahulu?" tanya Alex.
"Lebih cepat jauh lebih baik, Bang," jawab Gintani.
__ADS_1
"Tapi, Tan. Apa yang harus Abang katakan pada Heru?" ucap Alex, gusar.
"Maksud Abang?" tanya Gintani, heran.
"Tadi siang, Heru menyuruh Abang untuk melihat keadaan kalian. Sepertinya firasat Heru sangat kuat. Dia terdengar begitu mencemaskan kalian. Dan kecemasannya itu memang terbukti. Kamu tidak sedang baik-baik saja. Abang yakin, jika kamu pergi tanpa berpamitan padanya, dia pasti akan sangat khawatir," jawab Alex.
"Gintan akan meneleponnya nanti, Bang. Yang penting sekarang Gintan harus cari kontrakan dulu," ucap Gintani.
"Tapi Tan ...."
"Sudahlah Abang, Gintan nggak mau berdebat lagi."
"Huh, sifatmu dari dulu memang tidak pernah berubah, Tan. Selalu keras kepala," gerutu Alex.
Gintani hanya tersenyum mendengar ucapan Alex.
.
.
.
Dibantu Mina dan mak Ijah, Gintani mengemasi barang-barangnya. Sudah cukup aku merepotkan mas Heru. Sudah saatnya aku hidup mandiri. Aku tidak ingin menjadi beban siapa pun lagi, batin Gintani
Air mata Mina dan mak Ijah tak mampu mereka bendung saat melihat majikannya keluar dari rumah itu.
"Nya, apa tidak sebaiknya tunggu tuan dulu? Apa yang harus Mina katakan kalau tuan pulang dan bertanya tentang Nyonya dan Non Putri?" ucap Mina menatap sayu ke arah Putri yang telah tertidur di pangkuan Gintani.
"Tapi, Nya ...."
"Sudahlah, Min. Tolong jangan halangi saya lagi. Saya janji, begitu saya mendapatkan kontrakannya, saya akan segera mengabari kalian. Tidak usah khawatir, saya bisa menjaga diri saya sendiri. Terima kasih atas bantuan kalian selama ini. Terima kasih karena sudah merawat Putri di saat saya tidak bisa merawatnya," ucap Gintani sambil memeluk Mina.
Untuk beberapa saat, mereka pun saling berpelukan.
"Maafkan Mak Ijah, Nya. Kalau saja mulut Mak Ijah ini tidak bocor, mungkin semua ini nggak bakalan terjadi," ucap mak Ijah penuh penyesalan.
"Sudah, Mak. Jangan terlalu dipikirkan. Toh cepat atau lambat, mereka juga pasti akan tahu tentang hubungan saya dan mas Heru yang sebenarnya," ucap Gintani.
"Lagian Mak Ijah ... punya mulut, kok ember banget," cibir Mina dengan kesalnya.
"Sst, Min!" tegur Gintani.
"Iya, maaf Nya," ucap Mina.
"Ya sudah, kalau begitu, saya berangkat dulu ya. Takut kesorean cari kontrakannya," kata Gintani.
Mereka pun menganggukkan kepalanya.
"Sudah siap, Tan?" tanya Alex setelah selesai memasukkan barang-barang Gintani ke dalam bagasi mobil.
"Siap, Bang," jawab Gintani.
__ADS_1
Alex pun mengajak Gintani memasuki mobilnya. Setelah itu, dia melajukan mobilnya keluar dari perumahan elit tersebut.
.
.
.
Alex membawa Gintani berkeliling kota untuk mencari rumah kontrakan. Namun, dari tiga rumah yang mereka kunjungi, tak satu pun yang Gintani rasa nyaman untuk ditinggali.
"Ini rumah keempat Tan, apa masih tidak cocok juga?" tanya Alex lagi.
"Maafkan Gintan, Bang. Tapi rumah ini juga terlalu sumpek. Sirkulasi udaranya juga tidak baik. Gintan takut pertumbuhan Putri akan terganggu," jawab Gintani.
Alex menghela napasnya. "Terus, kamu mau rumah yang seperti apa?" tanya Alex lagi.
"Kalau bisa, yang sederhana dengan pekarangan yang cukup luas. Udaranya juga bersih dan tentunya nyaman untuk ditinggali," jawab Gintani.
Alex tersenyum. "Aku tahu di mana kamu bisa menemukan rumah seperti itu," ucap Alex.
"Benarkah?" Mata Gintani berbinar mendengar ucapan Alex.
"Yuk, ikut!"
Alex kembali mengajak Gintani memasuki mobilnya. Dia pun melajukan mobilnya menuju sebuah perkampungan.
Setelah satu setengah jam melakukan perjalanan, akhirnya mereka tiba di sebuah rumah yang cukup bersih dan rapi. Meskipun rumahnya kecil dan sederhana, tapi pekarangan rumahnya begitu luas dengan tatanan bunga-bunga yang begitu rapi berjejer.
"Bagaimana rumahnya, kamu suka?" tanya Alex.
"Rumahnya cukup asri, Bang. Gintan suka," jawab Gintani.
"Ya sudah, ayo turun!" ajak Alex.
Gintani membuka pintu mobilnya, dia kemudian turun dan mengikuti Alex dari belakang.
"Tunggu di sini sebentar! Abang mau mengambil kuncinya dulu," ucap Alex.
"Memangnya ini rumah siapa, Bang?" tanya Gintani, heran.
"Sebenarnya, ini rumah Abang. Dulu, rumah ini Abang beli dari teman Abang yang hendak pindah ke kota. Tapi karena Abang harus menemani adik Abang, akhirnya rumah ini Abang kosongkan," jawab Alex.
"Apa boleh Gintan sewa rumahnya, Bang?" tanya Gintani.
"Kamu ngomong apa sih, Tan? Nggak usah ngomongin sewa-menyewa. Kamu tempati saja rumah ini sesuka hati kamu," tukas Alex.
"Nggak bisa Bang, Gintan nggak mau menerima kebaikan Abang secara cuma-cuma lagi. Maaf Bang, bukannya Gintan nggak bersyukur. Tapi Gintan akan merasa belum mampu mandiri selama masih bergantung hidup sama orang lain," ucap Gintani.
"Hmm ... terserah kamu saja!" ucap Alex berlalu pergi meninggalkan Gintani.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏