
Seseorang memberikan perintah kepada dokter Richard.
"Apa maksud kamu?" tanya dokter Richard, mengerutkan keningnya
"Apa kamu tidak dengar? Menyingkirlah dari sisi Gintani! Aku tidak mau dia curiga kalau yang menelepon kamu adalah aku," ucap orang yang berada di ujung telepon.
Ish ada apa dengan dengannya? Mau apa juga dia menyuruh aku menjauh dari Gintani? Dokter Richard menggerutu di dalam hatinya.
Mau tidak mau, dia pun menuruti perintah si penelepon. Namun saat dia sudah berada sekitar beberapa ratus meter dari Gintani, tanpa sengaja sudut mata dokter Richard menangkap hal yang ganjil pada sebuah mobil yang sedang melaju kencang dari arah berlawanan. Sejurus kemudian, dia melirik target yang sedang berada tepat di hadapan mobil tersebut.
"Gintani? Ya Tuhan!" guman dokter Richard terkejut. Sekuat tenaga dia pun berlari menghampiri Gintani.
"Gintan, awaaas!" Dokter Richard berteriak.
Brugh
Brakk!
"Aargh!"
Dug!
Blugh!
Sebuah mobil berwarna putih menabrak dokter Richard hingga dokter Richard terpental sejauh beberapa ratus meter.
"Kakaaak!" Gintani berteriak keras seraya berlari menghampiri dokter Richard yang telah bersimbah darah.
"Astaghfirullah hal adzim! Kakak Gintan mohon, bangunlah!" ucap Gintani seraya menepuk pelan pipi dokter Richard yang telah berlumuran darah.
"Gi-Gintan, ja-jaga di-rimu, ba-baik-baik," ucap dokter Richard terbata-bata.
"Tolong! Tolong!" Gintani berteriak meminta bantuan. Matanya mulai berair tak kuasa melihat kondisi dokter Richard.
"Kakak, Gintan mohon bertahanlah, Gintan mohon!" pinta Gintani masih memeluk dokter Richard.
"Gi-Gintan, berhati-hatilah te-terhadap I-Ilona. Di-Dia jahat, di-a sangat ja-hat," ucap dokter Richard lagi, sejurus kemudian dokter Richard pun mulai menutup kedua kelopak matanya.
"Tidak! Gintan mohon jangan pergi! Tidak! Kakak harus bisa bertahan, Gintan mohon!" Gintani masih terus meracau. "Seseorang, tolong panggil perawat kemari! Tolonglah kakakku, aku mohon tolong dia!"
Gintani semakin berteriak histeris. Terlebih lagi saat menyadari jika tak ada embusan napas lagi dari kedua lubang hidung milik dokter Richard.
Ciiittt!
__ADS_1
Sebuah mobil sedan mewah berwarna hitam, berhenti tepat di depan Gintani. Sang pemilik mobil segera turun dan menghampiri Gintani.
"Ya Tuhan, Gin? Ada apa ini?" tanya orang itu yang tak lain adalah Argha.
Gintani mendongak. "Mas, syukurlah Mas Argha sudah datang. Tolong dia Mas, tolonglah kak Richard!" ucap Gintani masih menyangga kepala dokter Richard yang telah berlumuran darah.
Tak lama kemudian, dua orang perawat datang membawa brankar. Tanpa menunggu lama, kedua perawat tadi segera mengambil alih dokter Richard dari tangan Gintani. Mereka memindahkan tubuh dokter Richard ke atas brankar. Kedua perawat itu mendorong brankar menuju rumah sakit.
Argha segera memeluk Gintani untuk menenangkannya. Setelah dirasa cukup tenang, dia bersama Gintani pergi ke rumah sakit untuk melihat kondisi dokter Richard.
"Permisi! Pasien kecelakaan barusan dibawa kemana, ya?" tanya Argha kepada petugas medis yang sedang berjaga di depan
"Dia sedang berada di ruang operasi, Pak," jawab petugas medis tersebut.
"Ruang Operasi?" Argha malah mengulang kalimat si petugas medis.
"Benar Pak. Dokter Richard mengalami luka yang cukup serius di bagian dada dan kepala belakang. Karena itu dokter mengambil tindakan langsung untuk menyelamatkan beliau." Penjaga medis itu memberikan penjelasannya.
"Di mana ruang operasinya?" tanya Argha lagi.
"Di lantai lima, Pak," jawab petugas medis.
"Baiklah. Terima kasih!"
"Mas, sebaiknya Mas kabari papa dan om Hanzel tentang kondisi kak Richard saat ini," ucap Gintani.
"Ya, kamu benar. Sebentar!"
Argha mengeluarkan ponselnya. Dia kemudian mendial nomor ayahnya. Selesai berbicara dengan ayahnya, Argha kemudian menelepon Tuan Hanzel untuk menceritakan kondisi anaknya yang sedang kritis. Selesai menelepon, Argha kembali duduk di samping Gintani. Dua jam telah berlalu, namun lampu itu masih berwarna merah.
"Bagaimana keadaannya, Ar?"
Tiba-tiba, Tuan Hanzel, Tuan Jaya dan Pak Jamal telah berdiri di hadapan Argha. Tuan Hanzel langsung menanyakan kondisi putranya begitu tiba di rumah sakit.
"Argha nggak tahu, Dad. Abang Richard masih ditangani dokter di ruang operasi," jawab Argha.
Tuan Hanzel berjalan menghampiri pintu kaca ruang operasi. Berharap bisa mengintip anaknya meskipun melalui celah yang paling kecil.
"Apa yang sebenarnya terjadi, Ar?" tanya Tuan Jaya.
"Argha nggak tahu, Pa. Tadi, waktu Argha sampai di rumah sakit. Argha sudah mendapati Gintani sedang memangku kepala Richard yang sudah bersimbah darah," jawab Argha.
"Se-Semua ini salah Gintan. Kalau saja kak Richard tidak mendorong Gintan, mungkin Gintan yang sekarang terbaring di dalam sana," ucap lirih Gintani.
__ADS_1
Semua orang tampak terkejut mendengar perkataan Gintani.
"Apa maksud kamu, Sayang? Kenapa kamu ngomong seperti itu?" tanya Argha, menyelidik.
"Iya, Mas. Kak Richard terbaring di sana karena menyelamatkan Gintani. Seharusnya, mobil itu menabrak Gintan. Tapi tiba-tiba saja, kak Richard mendorong Gintan dan akhirnya ... akhirnya mobil itu menabrak kak Richard," jawab Gintani di antara isak tangisnya.
"Astaghfirullah hal adzim! Apa kamu tahu siapa pengendara mobil itu?" tanya Argha, terkejut.
Gintani menggelengkan kepalanya
"Nomor plat mobilnya?" Argha bertanya lagi pada istrinya.
"Gintan tidak memperhatikannya, Mas," jawab Gintani.
"Warna! Ya, warna mobil itu?" Argha kembali bertanya.
Gintani tampak berpikir sejenak.
"Ka-Kalau tidak salah, mmm ... putih! Ya, warna mobilnya putih, Mas," jawab Gintani.
"Bentuknya? Jenisnya?" tanya Argha lagi.
"Maaf, Mas. Gintan tidak begitu memperhatikan bentuk dan jenis mobil tersebut.
Argha tampak kecewa. Bagaimana mungkin dia bisa mencari pelaku tabrak lari itu di antara jutaan pemilik mobil berwarna putih di kota ini.
"Sudahlah, Ar. Tidak usah terlalu memaksa Gintani untuk berpikir terlalu jauh. Nanti, sakit di kepalanya bisa kambuh lagi. Bukankah ada CCTV di rumah sakit ini?" ucap Tuan Jaya.
"Ah, ya...! Papa benar, nanti Argha akan coba tanyakan ke bagian pusat CCTV di rumah sakit ini. Semoga saja kita dapat petunjuk dari sana," jawab Argha.
"Ya sudah, nanti kita sama-sama cari tahu pelakunya melalui CCTV itu. Sekarang kita fokus dulu akan keselamatan abang kamu," ucap Tuan Jaya.
Mereka masih setia menunggu hingga jam dinding di ruangan itu berhenti di angka 9 malam. Tiba-tiba, lampu kecil di atas pintu ruang operasi padam. Semua orang langsung berdiri saat seorang dokter paruh baya keluar dari ruangan itu.
"Keluarga dokter Richard!" teriak perawat yang mendampingi dokter senior.
"Saya ayahnya, Sus. Bagaimana kondisi putra saya, Dok?" tanya Tuan Hanzel, menghampiri perawat tersebut.
Tatapan dokter itu tampak iba. Sejurus kemudian, dia menepuk pundak Tuan Hanzel.
"Maafkan saya!"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗