Takdir Gintani

Takdir Gintani
Permintaan Sederhana


__ADS_3

Sebulan telah berlalu. Hubungan Argha dan Gintani sudah mulai sedikit mencair. Mereka sepakat untuk memulai segala sesuatunya dari sebuah pertemanan. Meski terkadang sikap arrogant dan suka memerintah masih menempel dalam diri Argha. Namun Gintani mencoba memahami apa yang memang sudah menjadi karakter suaminya.


"Sarapan, Mas!" tawar Gintani begitu melihat suaminya keluar dari kamar.


Argha tersenyum. Dia kemudian duduk di sebelah Gintani yang sedang mengolesi roti tawarnya dengan selai kacang.


"Mau di bakar?" Tawar Gintani lagi.


"Tidak usah, Gin! Hari ini aku ada meeting pagi, jadi tidak bisa menunggu lebih lama lagi," jawab Argha.


"Oh ya sudah, silakan!" Gintani menaruh roti isi selai kacang itu di atas piring suaminya. Dia pun beranjak untuk membuatkan secangkir kopi hitam. Gintani mulai terbiasa dengan kegemaran suaminya di saat sarapan.


"Mas, aku boleh ngomong?" tanya Gintani.


"Hmm," jawab Argha seraya memeriksa ponselnya.


"Apa aku boleh meminta sesuatu?" cicit Gintani dengan perasaan takut.


Argha memalingkan wajahnya dari layar ponsel. Dia menatap tajam Gintani, mencoba menyelidik maksud ucapan istrinya.


Nyali Gintani seketika menciut mendapatkan tatapan elang milik suaminya. "Nggak boleh ya, Mas? Maaf!" ucapnya lirih.


"Memang, kamu mau minta apa?" Akhirnya sang suami bertanya juga.


"Sudahlah, Mas! Lupakan saja!" jawab Gintani.


"Huh, nggak usah mulai lagi deh, Gin!" Argha mendengus kesal, melihat sikap istrinya yang selalu mengambil kesimpulan terlalu cepat.


"Nggak Mas! Beneran, lupakan saja!" jawab Gintani, meskipun dadanya sudah terasa sesak karena kecewa.


"Ya sudah, aku berangkat dulu!" ucap Argha seraya berlalu pergi.


"Kopinya belum diminum, mas!" seru Gintani.


"Udah nggak mood!" jawab Argha.


Karena kesal, Argha pun segera beranjak dari kursinya tanpa mereguk sedikit pun kopi hitam kesukaannya.


Kenapa sebagai seorang suami, kamu tidak pernah peka Mas terhadap istrimu sendiri? Apa hanya karena aku istri cadanganmu, jadi kamu tidak pernah mau bertanya tentang apa yang aku rasa? Keluh Gintani dalam hati. Air mata pun mulai luruh di kedua pipinya yang terlihat memerah karena menahan rasa sakit yang tak berdarah.

__ADS_1


Sementara itu di dalam mobilnya, Argha mengumpat kesal pagi yang dilewatinya hari ini.


"Kenapa nggak langsung ngomong saja jika memang kamu menginginkan sesuatu. Kenapa harus bertanya? Apa kamu pikir aku tidak sanggup memenuhi permintaan kamu, Gin? Bicaralah tanpa ada kesenjangan di antara kita! Aku mau rumah tangga kita normal, tanpa harus dibayangi dengan masa lalu di antara kita. Kenapa, Gin?" teriak Argha seraya memukul setirnya.


🍀🍀🍀


Z'Dulur Cafe.


Sesekali Jessica melirik penunjuk waktu yang melingkar di tangannya. Setelah itu, dia kembali menatap pintu masuk kafe. "Ish, kenapa lama sekali? Buang-buang waktu saja!" umpat Jessica, kesal.


Tiba-tiba, seorang gadis bergaya rambut pendek, datang menghampiri meja Jessica. "Dengan Mbak Jessica?" tanya sang gadis.


Jessica tersenyum melihat gadis di hadapannya. Ya ! Gadis yang pernah dilihatnya di acara resepsi mantan kekasihnya.


"Silakan duduk!" ujar Jessica, mempersilakan tamunya untuk duduk.


"Mau pesan apa?" tawar Jessica


"Strawberry juice saja!" jawab sang gadis.


Jessica melambaikan tangannya kepada waitress yang sedang membersihkan meja di sampingnya. "Mbak, strawberry juice satu ya!" pesan Jessica saat waitress itu telah berdiri di hadapannya.


"Baik! Ditunggu sebentar ya, Mbak!" jawab sang waitress.


"Jadi, apa yang ingin Mbak diskusikan dengan saya?" tanya gadis itu to the point


"Maaf, sebelumnya kalau saya lancang. Saya pernah melihat anda sedang bersitegang dengan ibu anda pada saat pesta pernikahan pengusaha muda yg bernama Argha? Apa boleh saya tahu alasannya?" tanya Jessica.


"Pertama, jangan panggil saya anda, karena kesannya terlalu formal. Panggil saja Celine. Dan kedua, apa urusan anda ikut campur dalam permasalahan saya dan ibu saya. Saya rasa, apa pun yang saya perdebatkan dengan ibu saya, itu jelas bukan urusan anda!" tegas wanita itu yang ternyata Celine.


"Hhh..." Jessica menghela napasnya. "Kamu benar, tapi saat itu, tanpa sengaja, kamu bilang pada ibumu jika kamu menginginkan pengantin pria itu menjadi milikmu, benar kan?" tanya Jessica lagi.


"Kau...!" pekik Celine, geram.


"Sudahlah, aku tidak ingin berdebat denganmu. Aku tidak tahu apa alasan kamu menginginkan pria itu. Yang aku tahu, kita mempunyai misi yang sama," ujar Jessica.


"Maksud kamu?" tanya Celine, tak mengerti.


"Dengar!" Jessica mencondongkan badannya agar bisa lebih dekat berbicara dengan lawannya. "Melihat dari gelagatmu, sepertinya kau tidak menyukai pernikahan mereka, benar bukan?" tanya Jessica, penuh penekanan.

__ADS_1


"Bukan urusanmu!" bentak Celine.


"Ayolah, Nona Celine ! Jangan terlalu munafik. Aku tahu kau ingin menghancurkan pernikahan mereka. Sedangkan aku... aku ingin sekali menghancurkan laki-laki sombong itu. Jadi, bagaimana jika kita bersekutu untuk menghancurkan mereka. Apa kau setuju?" tawar Jessica.


Celine menatap tajam wanita cantik berparas bule yang berada di hadapannya. "Apa yang kau inginkan dari aku?" Akhirnya Celine bertanya.


"Permintaan aku sederhana, Nona."Jessica menggeser sebuah amplop kecil ke hadapan Celine. "Buka dan lihatlah!" perintah Jessica.


Celine meraih dan membuka amplop berwarna coklat tersebut. Tampak selembar foto seorang anak kecil. Celine pun mengernyitkan keningnya.


"Apa ini?" tanya Celine, heran.


"Itu adalah foto masa lalu sang mempelai pria. Namanya Na. Jujur, aku tidak tahu banyak tentang gadis kecil itu. Satu-satunya yang aku tahu, kalau Argha dan teman masa kecilnya itu memiliki foto yang sama. Aku telah mencuri foto itu dari dokumen pribadinya Argha dulu. Dan aku berhasil menggandakannya. Aku tidak menyangka jika foto ini akan ada gunanya juga."


"Tunggu ! Dulu? Maksud kamu?"


"Aku man__"


"Silakan dinikmati, Mbak!"


Ucapan Jessica terpotong oleh kedatangan waitress yang mengantarkan pesanannya.


"Terima kasih," jawab Jessica. "Sebenarnya, aku mantan pacar laki-laki itu. Dan dia ... dia telah menghancurkan seluruh kehidupanku. Dia menghancurkan cinta dan karirku begitu saja. Dan Aku ... aku kembali untuk membalaskan semua dendamku kepadanya."


Kembali Celine bergeming mendengar semua pengakuan Jessica.


"Jadi, apa yang harus aku lakukan?" Celine mulai terpancing dalam sebuah permainan milik Jessica.


"Kemarilah!" perintah Jessica, menggerakkan tangannya agar Celine mendekat.


Celine mencondongkan wajahnya. Jessica pun mulai membisikkan sesuatu di telinga Celine. Tampak seringai licik tersungging di kedua sudut bibir gadis itu.


"Wow...! Permintaan sederhana yang cukup beresiko. Baiklah, deal!" ucap Celine seraya mengulurkan tangannya.


Jessica menyambut uluran tangan partnernya. "Deal"


Bersambung....


Mengawali pagi, cukup segini dulu ya gaiss..

__ADS_1


Insya Allah, nanti siang aku sambung lagi.


Selamat pagi semuanya, selamat menjalankan aktivitas....


__ADS_2