Takdir Gintani

Takdir Gintani
Membuat Laporan


__ADS_3

Seperti yang sudah disepakati, Argha dan Tuan Jaya singgah di kantor polisi sebelum pergi ke kantor. Mereka berniat untuk membuat laporan tentang tabrak lari yang mengakibatkan jatuhnya korban meninggal. Argha sangat berharap, pihak kepolisian bisa mengungkap kasus tabrak lari ini. Jujur, dia masih sangat penasaran kenapa kecelakaan itu bisa terjadi. Apakah ada unsur kesengajaan, atau memang murni kecelakaan?


"Selamat pagi, ada yang bisa saya bantu?" ucap seorang polisi penjaga yang sedang berjaga di depan.


"Kami ingin membuat laporan tentang kecelakaan lalu lintas, Pak," jawab Argha.


"Oh, iya. Silakan masuk saja ke dalam. Anda bisa membuat laporan di bagian kecelakaan lalu lintas," ucap polisi itu lagi.


Argha dan Tuan Jaya masuk ke dalam.


"Ada yang bisa kami bantu?" tanya seorang polisi yang duduk di balik meja pengaduan kecelakaan lalu lintas.


"Saya ingin melaporkan kecelakaan yang terjadi di depan rumah sakit Harapan," ucap Argha.


"Baiklah, silakan duduk!" Polisi itu mempersilakan kedua tamunya untuk duduk.


Argha dan Tuan Jaya menarik kursi masing-masing dan mendudukinya.


"Kapan dan jam berapa kecelakaan itu terjadi?" Pak polisi memulai pertanyaannya.


"Hari Kamis tepatnya pukul 18.30," ucap Argha.


"Baik. Apa ada korban?" tanya polisi itu lagi.


"Ya, korbannya meninggal dunia, karena itu kami meminta pihak kepolisian untuk mengusut kasus ini agar lebih jelas. Tolong temukan pelaku tabrak lari itu, dan berikanlah hukuman yang setimpal kepadanya," pinta Argha.


"Apa ada saksi kunci dari kejadian itu?" tanya pak polisi lagi.


"Istri saya saksinya, Pak. Dia sedang bersama korban pada saat kejadian itu berlangsung," jawab Argha.


"Di mana istri Anda saat ini?" tanya polisi.


"Sekarang dia ada di rumah, Pak," jawab Argha.


"Baik. Silakan catat alamat Anda di sini!" ucap polisi itu sambil menyerahkan buku laporan pengaduan. "Nanti siang, saya akan memanggil istri Anda untuk bersaksi. Apa Anda tidak keberatan?" tanya polisi itu.


"Tentu saja saya tidak keberatan. Saya bisa menjamin jika istri saya bisa bersikap kooperatif. Terima kasih atas bantuannya," ucap Argha.

__ADS_1


"Sama-sama, Pak. Tapi saya sarankan, lain kali Bapak harus segera melapor begitu melihat kecelakaan terjadi, agar kami tidak menemui kendala dalam penyelidikan," ucap polisi itu seraya mengulurkan tangannya.


"Siap. Pak! Kalau begitu saya permisi dulu." Argha menyambut uluran tangan polisi tersebut.


"Silakan!" jawab polisi itu


Selesai membuat laporan, Argha dan Tuan Jaya pun pamit dan meninggalkan kantor polisi.


"Ar, sebaiknya nanti kamu temani Gintani pada saat memberikan kesaksian. Dia pasti sangat membutuhkan dukungan kamu dalam kasus ini," saran Tuan Jaya kepada anaknya.


"Iya, Pa. Bagaimana dengan om Hanzel, Pa? Apa kita perlu memberitahu dia?" tanya Argha.


"Sudah, kita tidak perlu melibatkan daddy kamu. Selama ini dia sudah cukup terluka dengan kepergian Richard. Jangan sampai kita membuka luka hatinya lagi dengan menjadikan dia sebagai saksi. Toh dia sendiri sudah menyerahkan kasus ini kepada Papa," jawab Tuan Jaya.


"Ya, Papa benar. Hari ini Argha ada meeting dulu dengan klien. Selepas meeting Argha langsung pulang untuk menemani Gintani memenuhi panggilan pemeriksaan," jawab Argha.


"Nah, Papa rasa itu ide yang bagus," puji Tuan Jaya.


🍀🍀🍀


Sementara itu di dalam kamarnya, Gintani tampak mengguling-gulingkan badannya ke sana kemari. Pikirannya benar-benar tidak tenang. Bayangan wajah Richard yang berlumuran darah masih terus berada di pelupuk matanya. Terlebih lagi dengan ucapan terakhir yang dikatakan Richard. Kata terakhir itu masih terus terngiang jelas di telinganya.


Hati Gintani mulai tak tenang. Pertemuannya dengan Ilona di rumah sakit sungguh tidak mengenakan. Dan tabrakan itu? Apa mungkin kecelakaan itu memang sebuah kesengajaan? Apa mungkin ada orang yang memang sengaja ingin menabrakku? Tapi siapa? Apakah ilona? Tapi kenapa?


Berbagai pertanyaan terus berkecamuk di hatinya. Namun gintani tak menemukan jawabannya.


Drrt.... Drrt...!


Getaran ponsel di atas nakas membuyarkan lamunan wanita itu. Gintani segera berdiri dan meraih ponselnya. Nama sang suami tertera dalam layar ponsel. Gintani menggeser tombol yang berwarna hijau.


"Assalamu'alaikum, Mas!" sapa Gintani.


"Wa'alaikumsalam," jawab Argha. "Gin, kamu segera siap-siap ya, sebentar lagi Mas mau jemput kamu," lanjut Argha


"Loh, ke mana Mas?" tanya Gintani, heran.


"Kita akan pergi ke kantor polisi. Hari ini pihak kepolisian memanggil kamu terkait kecelakaan kemarim Malam." Argha mencoba menjelaskan kepada Gintani.

__ADS_1


"Tapi Mas...." Gintani terlihat ragu


"Sudah tidak usah khawatir, Mas akan temani kamu sampai semuanya beres." Argha mencoba menenangkan hati dan pikiran Gintani.


"Baiklah, Mas," jawab Gintani, mengalah.


"Ya, sudah, Mas meeting dulu. Selesai meeting Mas langsung pulang," ucat Argha.


"Iya, Mas," jawab Gintani.


"Ya, sudah. Assalamu'alaikum!" ucap Argha mengakhiri percakapannya


"Waalaikumsalam!"


Gintani menutup teleponnya. Dadanya mulai berdebar keras. Entah apa yang akan dia katakan pada polisi nanti. Namun, apa pun pertanyaannya, Gintani akan mencoba menjawabnya sebaik mungkin. Tanpa ada pengurangan ataupun penambahan kata. Gintani ingin masalah ini cepat selesai dan pelakunya bisa segera ditangkap. Dia ingin memberikan keadilan kepada orang yang telah menyelamatkan nyawanya.


Setelah menyelesaikan meetingn-ya, argha kembali ke rumah untuk menjemput istrinya. Pukul 11.15 mereka tiba di kantor polisi. Begitu sampai, dengan didampingi suaminya, Gintani memasuki ruangan interogasi. Ada banyak pertanyaan yang dilontarkan oleh polisi penyidik. Dan semuanya dapat Gintani jawab dengan singkat padat dan lugas. Setelah menginterogasi saksi, akhirnya pihak kepolisian melakukan oleh tempat kejadian perkara. Ada beberapa adegan yang harus Gintani praktikkan. Sejenak, Gintani terpaku di tempat itu.


"Adalah apa, Sayang?" tanya Argha menyentuh pelan bahu istrinya.


"Aku ... Aku tidak sanggup, Mas," jawab Gintani.


Argha menatap kedua polisi yang mendampingi mereka melakukan olah Tempat Kejadian Perkara.


"Bagaimana, Pak? Apa bisa diundur waktunya?" tanya Argha.


"Memangnya ada apa, Pak?" Polisi pertama malah balik bertanya kepada Argha


"Istri saya belum siap untuk melakukan olah TKP. Sepertinya dia masih trauma dengan kejadian kemarin," Jawab Argha.


Kedua polisi itu saling pandang. Sesaat kemudian, mereka saling menganggukkan kepalanya.


"Baiklah Pak, Argha. Untuk olah Tempat Kejadian Perkara, hubungi kami jika istri Anda sudah siap untuk melakukan olah TKP. Mungkin untuk selanjutnya, kami akan mencari bukti-bukti terlebih dahulu sebelum mengejar pelaku tabrak lari.Semoga saja kita bisa menemukan titik terang," ucap polisi itu lagi.


"Baiklah, Pak. Saya tunggu kabar baiknya!" jawab Argha lagi.


Sebelum berpisah, mereka saling berjabat tangan. Melihat istrinya kelelahan, Argha pun segera membawa Gintani pulang untuk beristirahat.

__ADS_1


Bersambung...


jangan lupa like vote Anda komen ya gaiss... 🤭🙈


__ADS_2