Takdir Gintani

Takdir Gintani
Sidang


__ADS_3

"Pa, apa Papa yakin, kita akan tinggal di sini? Rumahnya sepi loh, Pa. Dan ... sepertinya jauh dari tetangga. Bagaimana mungkin kita bisa berinterโ€“"


"Sudahlah, Ma. Papa capek! Besok kita bahas semuanya, sekarang Papa mau istirahat. Ayo, Sar, kita turunkan koper-kopernya!" Nando memotong kalimat istrinya dan memberikan perintah kepada adiknya.


Mela hanya bisa menghela napas. Sejurus kemudian, dia pun keluar sambil menggendong anaknya yang tengah tertidur.


Klek!


Nando membuka kunci pintu rumah bergaya klasik itu. Setelah pintu terbuka, dia mulai memasukkan koper satu per satu. Kamar kamu di atas ya, Dek!" tunjuk Nando kepada adiknya.


"Iya, Kak," jawab Sarah.


"Sekarang, istirahatlah! Besok pagi, kita bereskan koper-koper ini," ucap Nando.


Sarah mengangguk. Dia pun mulai menaiki tangga satu per satu menuju kamarnya yang berada di lantai dua. Sedangkan Mela, meskipun tak mengerti dengan apa yang dilakukan suaminya, tapi Mela tetap mengikuti Nando memasuki sebuah kamar yang cukup besar.


"Tidurkan Nanda di ranjangnya, Ma!" perintah Nando pada istrinya.


Mela mengangguk, dia kemudian berjalan mendekat sebuah ranjang kecil di samping tempat tidur berukuran king size. Mela kemudian membaringkan Nanda di ranjang kecil itu. Tiba-tiba saja, dia merasa seseorang memeluknya dari belakang.


"Pagi ini aku benar-benar membutuhkanmu, Sayang," ucap Nando memeluk istrinya dari belakang.


Mela tersenyum, dia kemudian membalikkan badan dan meraih Nando ke dalam pelukannya. "Lepaskan penatmu, Sayang. Aku siap menjadi pelepas lelahmu," ucap Mela mengusap punggung suaminya.


Nando tersenyum, dia pun mulai menyusupkan wajahnya di ceruk leher sang istri. Untuk beberapa waktu, Nando memeluk istrinya erat. Maafkan aku, Ma, batin Nando.


๐Ÿ€๐Ÿ€๐Ÿ€


Cahaya mentari pagi menyusup ke balik celah gorden di kamar tamu. Lelah meratapi nasib semalam, membuat Gintani bangun terlambat. Gintani segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya. Dia tidak harus repot-repot membawa baju ke kamarnya, karena ternyata, semalam Bik Siti datang ke kamar tamu untuk membawakan semua kebutuhan Gintani.


Selepas mandi, Gintani pergi ke dapur. Di sana tampak Bik Siti sedang menyiapkan makanan untuk sarapan.


"Gintan bantu ya, Bik!" ucap Gintani sambil menghampiri Bik Siti.


"Eh, tidak usah Non. Biar Bibik kerjakan sendiri saja," jawab Bik Siti.


Gintani tersenyum, "Tidak apa-apa, Bik ... biasanya, 'kan Gintan juga selalu bantu Bibik," jawab Gintani.


"Tapi itu dulu. Sekarang, tidak ada yang sudi memakan makanan yang dibuat dengan tangan kotormu itu!" Tiba-tiba Nyonya Rosma telah berdiri di ambang pintu dapur. Kejadian semalam seakan menjadi sebuah kesempatan bagi mulutnya yang pedas untuk kembali melontarkan sindiran kepada Gintani.

__ADS_1


Gintani hanya bisa pasrah mendapatkan perlakuan ibu mertuanya. Beberapa menit kemudian, makanan telah siap di atas meja makan. Satu per satu penghuni rumah telah berkumpul di ruang makan kecuali Argha. Hari ini, Argha meminta Bik Siti membawakan makanannya ke kamar.


"Biar aku saja, Bik," kata Gintani yang melihat Bik Siti hendak menaiki tangga.


"Tapi, Non!" Bik Siti tampak ragu memberikan nampan itu.


"Tidak apa-apa, Bik. Biar Gintan saja yang memberikan sarapan ini untuk Mas Argha," ucap Gintani.


Akhirnya Gintani mengambil alih tugas Bik Siti. Perlahan dia mulai menaiki tangga. Tiba di depan pintu, Gintani mengetuk pintu kamarnya.


"Masuk!" Terdengar suara Argha memberikan perintah.


Gintani membuka handle pintu, dengan hati berdebar, dia memasuki kamarnya.


"Kau?" teriak Argha yang sangat terkejut melihat Gintani berdiri di hadapannya.


"Ini sarapannya, Mas." Gintani mendekati Argha dan menyodorkan nampan yang berisi sarapan untuk suaminya.


Prang!


Tanpa diduga, Argha menepiskan nampan tersebut hingga isinya jatuh berantakan.


"M-Mas, apa yang Mas lakukan?" tanya Gintani dengan bibir yang bergetar.


"Siapa yang mengizinkan kamu datang kemari, hah?" teriak Argha membentak Gintani.


"Mas, Gi-Gintan hanyaโ€“"


"Pergi kamu dari sini!" teriak Argha. "Dasar wanita murahan, pergi kamu!" Argha membentak dan mengusir Gintani.


Kedua lutut Gintani seketika terasa lemas mendengar kata-kata yang keluar dari mulut suaminya. Wanita murahan, sehina itukah aku dalam pandangannya? pikir Gintani. Dia kemudian pergi dari kamar Argha.


Gintani kembali ke kamarnya. Selera makannya seketika menghilang saat mendapatkan perlakuan kasar Argha. Dia kemudian mengurung diri di kamar. Sesekali jemari lentiknya mengusap air mata yang keluar begitu saja.


Tepat pukul 10 pagi, Bik Siti mengetuk pintu kamar Gintani.


"Iya, ada apa Bik?" tanya Gintani saat membuka pintu dan tampak Bik Siti sedang berdiri di hadapannya.


"Anu, Non. Mm ... Non dipanggil sama Tuan Besar," jawab Bik Siti.

__ADS_1


"Benarkah? Di mana beliau?" tanya Gintani.


"Tuan Besar ada di ruang kerjanya, Non," jawab Bik Siti.


"Baiklah. Terima kasih ya, Bik," ucap Gintani. Dia kemudian menutup pintu kamarnya dan segera pergi menuju ruang kerja ayah mertuanya.


Tok-tok-tok!


Gintani mengetuk pintu ruang kerja Tuan Jaya.


"Masuk!" Suara Tuan Jaya terdengar menggelegar dari dalam ruang kerjanya.


Gintani menekan handle pintu dan membukanya. Tampak Argha dan Nyonya Rosma tengah duduk di sofa, sedangkan Tuan Jaya duduk di kursi kebesarannya.


"Duduklah!" perintah Tuan Jaya.


Gintani mendekati Argha dan duduk di samping suaminya. Namun Argha segera berdiri untuk menghindari Gintani.


Ada rasa sakit melihat sang suami seolah jijik berada di sampingnya. Namun Gintani tak mampu berbuat apa-apa. Dia hanya bisa menghela napasnya seraya beristighfar di dalam hati.


"Apa kamu tahu tujuan Papa memanggilmu?" tanya Tuan Jaya, memecah keheningan.


Gintani menggelengkan kepalanya.


"Hhh...." Tuan Jaya menghela napas. "Papa tidak tahu harus berbuat apa. Jujur saja, Papa kecewa sama kamu. Papa tidak pernah menyangka jika di usia Papa yang sudah tua ini, Papa malah mendapatkan kejutan yang luar biasa dari menantu Papa," ucap Tuan Jaya.


"Ma-Maafkan Gintan, Pa! Tapi demi Tuhan, Gintan tidak tahu apa yang terjadi malam tadi. Gintan sendiri kaโ€“"


"Bohong!" Argha memotong kalimat Gintani dengan membentaknya. "Kamu memang sengaja melakukan ini, 'kan? Kamu telah bermain gila di belakangku, dan aku tidak tahu entah sejak kapan itu terjadi. Bodoh ... benar-benar bodoh! Shitt!" Argha terus meradang mengingat kejadian semalam.


"Mas, sudah berapa kali Gintan bilang, Gintan tidak melakukannya! Demi Tuhan, Gintan tidak tahu kenapa Gintan bisa berada di sana. Gintan mohon, percayalah!" Gintani sudah mulai frustasi dengan sikap Argha yang tidak mempercayai ucapannya.


"Sudahlah Gintani, Mama heran, ya, sama kamu. Masih bisa kamu mengelak, sedangkan Argha sudah memergoki kebusukan kamu? Dasar wanita tidak tahu diri. Sejak dulu, kamu tidak pernah puas tidur dengan seorang laki-laki, 'kan? Sampai-sampai kamu harus mencari laki-laki lain walau sudah memiliki suami." Nyonya Rosma ikut memojokkan Gintani.


"Tapi, Ma...."


"Mama benar, sekali pelacur, maka akan tetap menjadi seorang pelacur!"


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa ๐Ÿค—๐Ÿ™


__ADS_2