
Nando terus berlari tanpa memikirkan orang-orang yang berlalu lalang di hadapannya. Tiba di bangsal 12, dia segera membuka pintu bangsal itu. Nando mengayunkan langkahnya hingga tiba di depan pintu kamar 21, sejurus kemudian dia membuka pintu kamar tersebut. Dua orang perawat tampak sedang menenangkan seorang gadis yang tengah meronta seraya berteriak-teriak histeris. Nando segera menghampiri mereka.
"Biar saya tangani," ucap Nando kepada kedua perawat tersebut.
"Aku tidak mau, aku tidak mau, jangan lakukan itu, jangan! Aaarrgghhh!!"
"Sst...! Sarah, tenanglah Sarah... Kakak di sini," ucap Nando seraya memeluk gadis itu.
Sontak gadis yang dipanggil Sarah mendongakkan wajahnya. Seketika pergerakannya mulai melamban. "Kakak...." ucapnya memeluk erat Nando.
"Tenanglah, Dek ... Kakak ada di sini, tenanglah!" ucap Nando sambil mengusap lembut rambut adiknya yang berantakan.
"Aku takut Kakak ... me-mereka memaksaku melakukan hal itu, aku takut...," ucap Sarah.
Nando hanya diam, menahan rasa sakit yang semakin menyesakkan dadanya. Sarah adalah adik satu-satunya. Dia gadis yang sangat ceria sebelum kejadian buruk menimpanya. Pergaulan yang tidak pernah dia batasi, menyebabkan gadis itu terjebak dalam dunia malam. Hingga akhirnya, beberapa orang pria melecehkannya.
🍀🍀🍀
Gintani mendekati Kevin yang sedang berdiskusi dengan timnya. Rasa penasaran ketika Nando menggumamkan nama Sarah, mulai menggelitik hatinya.
"Kev, bisa bicara sebentar?" pinta Gintani pada sahabat suaminya.
"Oh, iya, ada apa Kak?" Kevin malah balik bertanya.
Gintani menatap orang-orang itu, seketika mereka paham jika Gintani hanya ingin berbicara berdua dengan bosnya.
"Oke Bos, shoting-nya nggak jadi, kan? Kalau gitu, kita pamit dulu," ucap salah seorang kru. Tak lama kemudian, mereka pun pergi meninggalkan Gintani dan Kevin.
"Mau bicara apa Kakak ipar?" tanya Kevin seraya mendaratkan bokongnya di salah satu kursi.
Gintani menarik kursi yang berhadapan dengan Kevin, sejurus kemudian dia mulai menduduki kursi tersebut.
"Ini tentang temanmu. Nando," ucap Gintani.
"Nando? Memangnya ada apa dengannya, Kak? Apa dia mengganggu Kakak? Ah, emang dasar playboy kacang kulit tuh anak," gerutu Kevin memonyongkan bibirnya.
"Tidak, dia tidak menggangguku. Aku hanya penasaran, sebenarnya sejak kapan kamu mengenal Nando? Apa dia teman kampusmu, dulu?" tanya Gintani.
"Hmm, bukan. Nando bukan teman kampus atau teman lamaku. Aku mengenalnya dua tahun yang lalu. Saat itu kita bertemu di rumah sakit. Dia orang yang mendonorkan darah untuk korban yang tanpa sengaja aku tabrak," jawab Kevin.
"Rumah sakit?" tanya Gintani mengerutkan keningnya.
"Iya, waktu itu dia tengah mengantarkan adiknya yang hendak melahirkan," jawab Kevin lagi.
"Melahirkan? Jadi sarah sudah mempunyai anak," gumam Gintani yang masih bisa didengar oleh Kevin.
"Jadi, Kakak ipar kenal dengan Sarah adiknya Nando?" Kini balik Kevin yang merasa heran.
"I-iya, aku mengenal sarah," jawab Gintani.
__ADS_1
"Apa Kakak sudah menjenguk Sarah?" Kevin balik bertanya.
"Menjenguk? Apa sarah sakit?" tanya Gintani, heran.
"Loh, jadi Kakak belum tahu?" Kevin sungguh terkejut mendengar pertanyaan Gintani.
"Tahu apa?" tanya Gintani mulai terpancing.
"Keadaan sarah saat ini," jawab Kevin lagi.
"Memangnya, kenapa dia?" Sarah semakin dibuat penasaran oleh sikap Kevin.
"Hhh ...." Kevin menghela napasnya. "Saat ini sarah berada di rumah sakit jiwa."
"Apa? Rumah sakit jiwa? Ta-tapi kenapa?" Gintani terlihat sangat terkejut mendengar ucapan Kevin.
"Dia mengalami depresi. Barusan Nando juga pergi ke sana karena mendapatkan telepon dari salah seorang perawat di sana jika Sarah kembali histeris," jawab Kevin.
"Astaghfirullah! Bisakah kamu mengantarkan aku ke rumah sakit jiwa itu?" pinta Gintani
"Apa Kakak ingin menjenguk Sarah?" tanya Kevin lagi.
"Iya, aku ingin melihat keadaannya," jawab Gintani.
"Ya sudah, ayo!"
Kevin kemudian mengajak Gintani untuk menjenguk Sarah.
🍀🍀🍀
"Jadi bagaimana, Pak? Apa Bapak setuju dengan bahan baku yang kami tawarkan?" ujar seorang pria paruh baya kepada Argha.
"Hmm, tidak ada alasan bagi saya untuk menolak produk Anda. Lagi pula, bukankah kita sudah lama bekerja sama?" jawab Argha.
"Ahaha,... Anda benar. Kalau begitu, saya siapkan draft kontrak kerja samanya. Setelah selesai, saya akan menghubungi asisten Bapak. Bagaimana?" tanya pria itu lagi.
"Tidak masalah. Lagi pula kita masih punya waktu dua minggu lagi sebelum proyek ini dimulai," jawab Argha. "Baiklah, jika tidak ada yang ingin dibicarakan lagi, saya permisi dulu. Masih banyak pekerjaan yang harus saya selesaikan," lanjutnya.
"Ah, silakan Pak!"
Setelah berjabat tangan, Argha pun pergi dari restoran tempat dia mengadakan pertemuan dengan rekan kerjanya.
Di waktu yang sama, seorang gadis berambut pendek yang sedari tadi mengintai meja mereka, segera beranjak dari mejanya. Dengan menenteng tas tangannya, dia berjalan tergesa-gesa, hingga akhirnya dengan sengaja dia menabrakkan dirinya.
"Aww, maaf!" ucap gadis itu sambil memunguti kertas yang berserakan.
Argha menatap gadis itu. "Ilona," gumamnya. Sesaat argha memalingkan wajahnya dan hendak berlalu pergi, namun erangan Ilona memaksa dia mengurungkan niatnya.
Argha pun berjongkok, "Kamu tidak apa-apa?" tanya Argha.
__ADS_1
Ilona mendongakkan wajahnya. "Kak Argha?" Dia pura-pura terkejut begitu melihat Argha. "A-aku tidak apa-apa, ta-tapi bisakah Kakak membantuku untuk duduk di kursi itu?" tunjuk Ilona pada sebuah kursi yang berada tak jauh di depannya. "Tolonglah Kak, perutku rasanya sakit sekali." Ilona memohon saat melihat keraguan di mata Argha.
Akhirnya, mau tidak mau, Argha memapah Ilona dan membawanya untuk duduk di kursi yang dimaksud. Sejurus kemudian, Argha kembali untuk membereskan kertas-kertas yang berserakan. Argha begitu terkejut saat melihat kertas itu ternyata hasil diagnosa milik Ilona. Segera dia menghampiri kembali Ilona.
"Apa maksudnya ini, Ilona?" tanya Argha.
Dengan wajah terkejut, Ilona segera menyambar kertas itu dari tangan Argha.
"Ilo, bisakah kamu menjelaskan apa arti dari kertas-kertas itu?" Argha kembali bertanya.
"Sudahlah Kakak, itu bukan urusanmu," ucap Ilona dengan nada sinis.
"Tentu saja ini urusanku. Kamu sahabatku, Ilona. Jadi aku ingin tahu apa yang sebenarnya terjadi padamu. Mungkin dengan kamu bercerita, aku bisa membantumu," ucap Argha seraya berjongkok di hadapan Ilona.
"A-aku ... aku ... huhuhu,...."
Ilona malah memeluk Argha sambil menangis, membuat para pengunjung restoran sejenak melihat mereka.
Argha hanya bisa menghela napas seraya mengusap-usap punggung Ilona untuk menenangkannya.
🍀🍀🍀
Tiba di rumah sakit jiwa yang dimaksud, Gintani segera menanyakan kamar tempat Sarah dirawat. Setelah mendapatkan informasi yang akurat, dia segera berlari menuju bangsal 12. Gintani mendapati dua orang perawat sedang berjaga di depan pintu kamar 21
"Permisi, apa ini kamar pasien yang bernama Sarah?" tanya Gintani kepada perawat itu.
"Iya, benar. Maaf, Mbak siapanya pasien?" tanya perawat yang bernama Adelia.
"Saya teman lamanya Sarah. Apa saya bisa masuk untuk menjenguknya?" tanya Gintani lagi.
"Maaf, Mbak. Saat ini Sarah sedang ditenangkan oleh kakaknya. Tadi dia sempat histeris saat sedang tidur. Mungkin dia bermimpi buruk," ucap perawat Adelia.
"Oh, baiklah. Bolehkah saya menunggu di sini?" tanya Gintani lagi.
"Silakan Mbak. Mbak bisa duduk di depan bangsal. Di sana ada kursi tunggu, ucap perawat satunya lagi.
"Ah, terima kasih, biar saya menunggu di sini saja," ucap Gintani seraya menepi dan menyandarkan punggungnya di dinding koridor.
Dua puluh lima menit berlalu. Tiba-tiba pintu kamar terbuka. Tampak Nando keluar dari kamar adiknya.
"Sepertinya adik saya sudah kembali tidur, Sus," ucap Nando pada kedua perawat itu.
"Iya, terima kasih Mas. Tapi saya sarankan, malam ini Mas berjaga di sini. Khawatir jika Sarah kembali histeris," ucap perawat Adelia.
"Baiklah," jawab Nando.
"Ba-bagaimana keadaannya?"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa 🤗🙏