
"Maaf, permisi!"
Gintani menggeser kursinya. Dia mulai bangkit dari duduknya.
"Tunggu, Gintan!" tahan Nyonya Rosma seraya menekan pundak Gintani agar kembali duduk di tempatnya. Nyonya Rosma menarik kursi di samping Gintani dan mendudukinya.
"Nak, Mamah mohon, kamu bujuk Argha agar mau menerima Jessi tinggal di sini."
"Mamah!! Mamah ini apa-apaan sih? Jangan a__"
"Diam, Fa! Mamah nggak ngomong sama kamu!" tukas Nyonya Rosma memotong kalimat putrinya.
Nyonya Rosma memegang tangan Gintani, "Kamu bisa kan, Gin? Mamah hanya kasihan saja sama Jessi. Beberapa bulan yang lalu, Jessi mengalami penculikan oleh orang yang tidak di kenal. Beruntung dia bisa melarikan diri dari orang itu. Jessi itu sebatang kara, Gin! Mamah sangat khawatir terhadap keselamatannya. Lagipula, dia pernah menjadi bagian dari keluarga ini saat masih berpacaran dengan Argha. Apa kamu tega, jika Jessi kembali mengalami hal yang buruk?" tanya Nyonya Rosma, mengiba.
"Cukup ya, Mah! Jangan libatkan Kak Gintan dengan masalah ini. Mamah sendiri tahu bagaimana sifat Kak Argha. Dhifa mohon, jangan ganggu rumah tangga mereka!"
"Kamu kok nggak sopan banget sih, ngomongnya! Nuduh-nuduh Mamah seenaknya," dengus Nyonya Rosma.
"Paaahh... " rengek Nadhifa.
Tuan Jaya menghela napasnya. "Makanlah! Nanti kita pikirkan lagi bagaimana agar Jessi memiliki tempat yang aman tanpa harus tinggal di sini," jawab Tuan Jaya.
"Tidak! Mamah nggak mau makan sebelum kalian menyetujui kalau Jessi akan tinggal di sini. Coba pikirkan lagi Pah! Tidak ada tempat yang lebih aman untuk dia tinggali selain mansion kita. Mamah yakin, orang-orang jahat itu tidak akan mampu menembus keamanan di mansion kita. Mamah mohon, Pah!"
"Tapi Mah ... Argha tidak akan pernah setuju dengan semua keputusan ini. Ingat Mah! Dia adalah pewaris di keluarga Papah. Dan dia berhak mengambil keputusan yang harus kita patuhi, mengerti!"
"Ya karena itu, Mamah meminta Gintani untuk membujuk Argha. Bukankah Gintani istrinya? Sudah kewajiban dia untuk bisa meluluhkan hati suaminya, kan!" ujar Nyonya Rosma, kukuh pada keinginannya.
Istri sementara, Bu! Apa Ibu tahu jika mas Argha menikahiku hanya untuk menggugurkan janji ayahnya saja? batin Gintani.
"Kamu...!!"
"Sudah, Pah! Tidak perlu berdebat lagi. Gintan akan coba ngomong sama mas Argha. Sekarang, Gintan mohon izin, Pah, Mah! Gintan ingin membawakan makan siang mas Argha ke kamar."
"Iya sayang, pergilah! Sebaiknya, kalian makan siang di kamar kalian," saran Tuan Jaya.
Gintani mengangguk, dia kemudian menyendok nasi beserta lauk pauknya ke dalam piring. Gintani menaruh piring itu di atas nampan berikut dengan air minum untuk suaminya. Setelah itu Gintani membawa nampan tersebut ke kamarnya.
Sementara itu, di dalam kamarnya, terlihat Argha sedang berjalan mondar-mandir seraya mengotak-atik ponselnya.
"Sial! Kemana dia? Brengsek!" umpatnya.
Berulang kali Argha mencoba menelpon Kevin, namun sahabatnya itu tak pernah mengangkat sambungan telponnya.
Di waktu yang sama, di sebuah apartemen mewah. Kevin tampak gemetar melihat ponselnya berdering terus dan menampilkan nama sahabatnya di layar ponsel itu.
__ADS_1
"Sial! Argha pasti sudah mengetahui kalau Jessica kabur. Oh God! What should i do, now? Bagaimana gua harus menjelaskan pada pria angkuh itu tentang kaburnya Jessica?" gumam Kevin.
Perasaan takut dan bersalah telah mengungkungnya. Karena itulah, Kevin pun mengabaikan panggilan dari Argha.
🍀🍀🍀
Prakk....!
Ponsel Argha terjatuh tepat saat Gintani membuka pintu kamarnya. Untungnya, ponsel yang melayang itu, tidak sempat mengenai wajah Gintani.
Gintani sangat terkejut dengan sikap temperamental suaminya. Namun sebagai istri yang mengerti agama, dia berusaha sabar menghadapi singa jantan yang sedang berdiri di hadapannya.
"Makanlah!" ujar Gintani seraya menaruh nampannya di atas meja rias.
"Aku tidak lapar!" jawab Argha masih dengan mode kesal.
"Baiklah, aku tidak akan memaksamu! Kau bisa memakannya jika kau sudah merasa lapar. Aku akan kembali ke bawah."
"Apa wanita itu masih berada di rumah ini?"
Gintani menghela napasnya, "Ya, dia masih berada di sini. Kemungkinan dia akan tinggal di sini juga, jika kau mengizinkan."
"Apa maksud kamu?"
"Tuan, mbak Jessi sedang mengalami masalah. Beberapa waktu yang lalu, dia mengalami penculikan sehingga dia merasa trauma untuk tinggal sendirian di rumahnya. Aku mo__"
"Aku tahu, tapi mamah sangat menyayangi mbak Jessi. Sepertinya, mamah sudah menganggap mbak Jessi sebagai anaknya, karena itu mamah sangat mengkhawatirkan mbak Jessi."
"Aku sudah bilang, itu bukan urusanku!"
"Tuan! Kenapa anda begitu keras kepala sekali? Apa anda tidak pernah punya hati sedikit pun? Lagipula, apa salahnya jika mbak Jessi harus tinggal di sini."
"Jelas salah, Gintan! Aku tidak akan pernah mengizinkan dia tinggal di sini. Dan kamu? Kamu istriku, kenapa kamu meminta hal yang aneh seperti ini, hah? Apa kamu tahu jika wanita itu adalah_"
"Mantan kekasih mu!"
"What...! Ka ... kamu tahu itu? Dari mana kamu tahu tentang itu? Apa mamah yang menceritakannya padamu? Apa Dhifa?" tanya beruntun Argha.
Gintani menggelengkan kepalanya.
"So...?"
"Aku tahu dari mbak Jessi sendiri, Tuan!"
"Damn!! Dasar wanita licik!"
__ADS_1
"Cukup Tuan! Jangan mengumpatnya terus! Mbak Jessi ha_"
"Diamlah, Gintan! Kamu tidak pernah tahu apa-apa tentang wanita itu!"
"Mungkin aku tidak tahu apa-apa tentangnya. Tapi aku tahu jika mbak Jessi orang yang baik."
"Baik katamu? Kau bilang wanita licik itu, baik? Dengar Gintan, aku mengenal wanita ular itu jauh sebelum kamu memasuki mansion ini."
"Tapi Mas...!"
"Cukup! Aku tidak ingin berdebat lagi denganmu! Aku tidak akan pernah me_"
Humphh.....
Gintani mengakhiri adu mulut yang tengah terjadi. Dia membungkam bibir suaminya dengan bibirnya sendiri.
Deg... Deg... Deg....
Jantung Argha berpacu tak beraturan saat mendapati sentuhan lembut di bibirnya. Argha memejamkan matanya dan membiarkan istrinya mengambil haknya. Dia mulai menikmati pagutan demi pagutan yang diberikan Gintani. Argha meraih tengkuk Gintani untuk membalas dan memperdalam ciumannya. Sedikit menggigit bibir istrinya sehingga lidahnya mampu memasuki rongga mulut istrinya.
Ciuman yang berawal lembut, kini berubah menjadi panas. Napas yang saling memburu, bisa mereka rasakan. Argha mendorong tubuh Gintani hingga Gintani jatuh terduduk di atas ranjang. Perlahan, Argha menekan pagutannya dan membuat Gintani terbaring tak berdaya. Untuk sejenak, mereka menikmati setiap sapuan bibir masing-masing. Gintani melepaskan ciumannya. Dia menatap suaminya penuh damba.
"Mas, aku mohon! Mbak Jessi orang yang pernah berjasa dalam hidupku. Tolong izinkan dia tinggal di sini. Aku janji, tanpa izinmu, aku tidak akan mendekatinya."
Argha mengernyitkan dahinya. "Maksudmu?" tanya Argha seraya membuka hijab istrinya yang telah amburadul karena perbuatannya.
"Berjanjilah kau tidak akan marah jika aku mengatakan sesuatu dari masa lalu kita!" ucap Gintani.
Argha menyibakkan hijab yang dikenakan Gintani. Dia mulai mengendus ceruk leher istrinya.
"Katakanlah!" perintah Argha dengan suara parau karena menahan hasrat.
"Mbak Jessi adalah orang yang menolongku saat aku pingsan di tepi jalan, di malam ketika aku menjual kehormatanku!"
Jleb.....!
Argha menghentikan perbuatannya. Hatinya terasa sakit mendengar perkataan Gintani tentang menjual diri. Ya Tuhan..., tidak bisakah dia melupakan masa itu? batin Argha.
Hasrat yang telah memuncak di hatinya, sirna seketika. Perasaan bersalah kembali menggelayut di relung sanubarinya. Argha segera bangkit, dia pergi begitu saja dan meninggalkan Gintani tanpa tahu jika wanita itu tengah menangis dalam hatinya.
"Maafkan aku Mas! Aku akan terus mengingatkan kamu pada masa itu. Aku tidak ingin jatuh cinta padamu, karena aku tahu hal itu akan menyakiti diriku sendiri. Maafkan aku...!"
Bersambung....
Terima kasih untuk yang sudah mendukung karya recehan othor yaaa...
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya...