
Setelah mengucapkan apa yang memang ingin dia ucapkan, tanpa menyentuh makanan apa pun, Alex pergi meninggalkan Argha yang masih terdiam.
Di tengah perjalanan, Alex mengirimkan pesan kepada sekretarisnya. Dia mengatakan jika selepas makan siang, dia tidak akan kembali ke kantor. Alex memutar arah, melajukan mobilnya menuju sebuah perkampungan tempat Gintani dan anaknya tinggal.
Alex singgah di sebuah restoran pizza. Dia membeli dua box pizza yang merupakan makanan kesukaan Putri. Dia juga membeli beberapa jenis masakan Sunda untuk dia santap bersama Gintani di rumahnya.
Setelah beberapa menit berlalu, Alex tiba di rumah Gintani. Rumah itu terlihat sepi. Mungkin karena cuacanya cukup panas, jadi tidak ada kegiatan di luar rumah tersebut.
Setelah memarkirkan mobilnya, Alex segera keluar dan melangkahkan kakinya menuju pintu utama rumah tersebut. Dalam dua kali ketukan, seorang gadis kecil tampak membuka pintu utama.
"Om Alex!" Putri berteriak sambil menghambur ke dalam pelukan Alex.
Alex yang sedang memegang box pizza sama kantung plastik yang berisi makanan, hanya bisa berjongkok dan merentangkan kedua tangannya.
Setelah memeluk Alex, mata gadis kecil itu langsung berbinar mendapati box pizza di tangan kanan Alex.
"Apa ini buat Putri?" tanya gadis kecil itu menatap box pizza.
"Tentu saja ... ini buat Tuan Putrinya Om Alex," sahut Alex.
"Yeaaay!" Putri bersorak gembira. "Mama! Maa! Ada Om Alex, nih!" teriak Putri.
Gintani keluar dari ruang kerjanya. "Iya, Put. Diajak masuk, dong, Om Alex-nya!" jawab Gintani. " Masuk, Bang!" Gintani mempersilakan Alex masuk.
Alex membuka sepatunya. Dia kemudian masuk ke rumah Gintani. Alex mengulurkan sebuah kantong plastik kepada Gintani.
"Apa ini, Bang?" tanya Gintani menerima kantong plastik tersebut.
"Kamu sudah makan siang?" Alex malah balik bertanya.
"Belum, Bang. Rencananya, ini Gintan mau ke warung nasi depan. Hari ini Gintan belum sempat masak karena harus menunggui Putri di sekolah. Dan Mina, kebetulan dia sedang tidak enak badan," jawab Gintani.
"Wah, kebetulan kalau begitu. Abang bawakan makanan untuk kalian. Ayo kita makan bareng!" ucap Alex.
"Alhamdulillah ... rezeki anak solehah ini namanya, hehehe," sahut Gintani tersenyum.
Alex hanya mengacak kerudung Gintani menanggapi tingkah Gintani yang menggemaskan. Ibu satu anak itu memang selalu bisa membuat hati Alex terasa hangat. Melihat bola matanya yang bening, sinar wajahnya yang teduh. Selalu membuat Alex ingin melindunginya.
"Kok malah bengong. Ayo duduk, Bang! Biar Gintan pindahkan ke dalam piring dulu, ya!" ucap Gintani seraya pergi ke dapur.
Alex mengangguk, sejurus kemudian dia menghampiri Putri yang sedang membongkar box pizza-nya di atas tikar.
__ADS_1
"Gimana? Suka?" tanya Alex kepada Putri.
"Suka, Om. Pizza-nya enak," ucap Putri seraya mengacungkan jempolnya.
Alex tersenyum dan mengacak-acak rambut Putri. "Makan yang banyak!" ucapnya.
Tak berapa lama, Gintani dan Mina datang. Masing-masing membawa nampan yang berisi lauk-pauk yang Alex bawa tadi.
"Ayo kita makan, Bang!" ajak gintani kepada Alex.
"Hmm, sepertinya enak nih..." ucap Alex.
"Pastinya dong!" jawab Gintani. "Ayo, sini Min! Kita makan bareng," panggil Gintani saat melihat Mina hendak pergi lagi ke dalam.
"Tidak usah, Nyonya. Saya makannya nanti saja," jawab Mina.
"Ya sudah, kamu istirahat saja di kamar," ucap Gintani.
Setelah Mina pergi, mereka memulai makan siangnya. Alex dan Gintani terlihat sangat lahap. Sedangkan Putri, dia masih asyik memakan pizza kesukaannya.
"Oh, iya Tan. Abang baru saja ketemuan sama Argha," ucap Alex memulai pembicaraan.
Gintani menghentikan suapannya. Dia kemudian menatap Alex. Dia tidak mengerti kenapa Alex harus memulai pembicaraan tentang laki-laki itu.
Sejenak, Gintani melirik Putri. "Put, kamu makan pizza-nya sana Uteng, ya? Kasihan Uteng belum makan siang," ucap Gintani.
"Oke, Mama," jawab Putri.
Gintani bernapas lega. Rupanya tidak terlalu sulit untuk menyuruh Putri pergi agar tidak mendengarkan obrolan orang dewasa.
"Ada apa, Bang? Apa yang ingin Abang sampaikan pada Gintan?" tanya Gintani yang sudah paham akan arah pembicaraan Alex.
"Tan, apa tidak sebaiknya kamu mencoba memperbaiki hubungan kamu dengan Argha?" tanya Alex.
Gintani menatap Alex tak percaya. Kok, bisa-bisanya Alex berkata seperti itu. Padahal Alex sendiri tahu tentang sikap Argha selama ini.
'Maaf, Bang! Gintan enggak ngerti maksud Abang," ucap Gintani.
Argha menaruh piringnya. Sejenak dia mencuci tangannya di dalam air kobokan yang telah disediakan Gintani. Dia kemudian melap tangannya dan menatap tajam ke arah Gintani.
"Rujuklah dengan Argha, Tan. Beri dia satu kesempatan lagi. Putri berhak bahagia. Dia berhak mendapatkan keluarga yang utuh," ucap Alex.
__ADS_1
Mulut Gintani langsung menganga mendengar perkataan Alex. "Ish, jangan ngaco deh Bang!" ucap Gintani.
"Tan, Abang serius. Demi Putri ... coba kamu bayangkan jika perseteruan kalian sampai ke meja hijau, apa Putri tidak akan kecewa?" tanya Alex lagi.
"Jangan bawa-bawa Putri, Bang! Dia masih terlalu kecil untuk mengerti semua ini," kata Gintani.
"Jangan salah, Tan. Justru di usia Putri yang sekarang, dia akan merekam apa yang dia lihat. Jika hari ini dia melihat perseteruan orang tuanya, di saat dia sudah bisa memahami, dia akan merasa trauma dengan apa yang pernah dilihatnya," ucap Alex.
"Tapi, Gintan tidak mau kembali ke mas Argha. Dia itu pria yang sangat sombong dan egois!" ucap Gintani, selalu emosi mengingat semua kelakuan Argha.
"Jika dia berubah, apa kamu akan memberikan kesempatan padanya?" tanya Alex.
Gintani diam.
"Pikirkan baik-baik, Tan. Demi Putri!" Sekali lagi Alex menekankan kata Putri dalam setiap nasihat yang dia berikan untuk Gintani.
🍀🍀🍀
Argha masih melamun di depan jendela kamarnya yang terbuka. Semua kalimat Alex, masih terdengar jelas. Apa yang dikatakan Alex memang benar. Dia harus berjuang dan lebih bersabar lagi dalam mendekati Gintani. Argha yakin, jika Gintani masih memiliki rasa itu. Hanya tinggal menunggu waktu. Dan kesabaran adalah kunci utamanya.
Tetesan air hujan mulai membasahi tanaman mawar putih yang berada di taman samping kamar. Argha mulai menutup jendela kamarnya karena udara malam semakin dingin.
🍀🍀🍀
"Putri sudah tidur, Min?" tanya Gintani begitu melihat Mina keluar dari kamar Putri.
"Sudah, Nyonya," jawab Mina.
"Ya sudah, kamu istirahat sekarang. Biar cucian saya yang bereskan," ucap Gintani.
"Tidak apa-apa, Nyonya, biar saya saja yang mengerjakan," jawab Mina merasa tidak enak hati.
"Sudah, jangan membantah. Tidurlah!" Gintani kembali memberikan perintah.
"Baik, Nyonya." Akhirnya Mina mengalah.
Gintani melangkahkan kakinya menuju kamar Putri. Gadis itu tampak tidur meringkuk sambil memegang boneka beruang pemberian Heru. Gintani menghampiri Putri dan membelai rambutnya penuh kasih sayang. Mungkin apa yang dikatakan bang Alex ada benarnya juga, batinnya.
Gintani mengeluarkan ponsel dari saku piyamanya. Dia kemudian mengetikkan sesuatu di layar ponsel tersebut, lalu mengirimkannya. Sejenak, dia menengadahkan wajah dan menutup matanya. "Ya! Tidak ada salahnya mencoba memulai kembali," gumam Gintani.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏