Takdir Gintani

Takdir Gintani
Double Date


__ADS_3

Ilona mendengus kesal saat tak mendapati sang CEO di kantornya. Dia terpaksa harus menunggu waktu lagi untuk melepaskan kerinduannya. Pasalnya, sang CEO tengah mengambil cuti hingga weekend nanti. Dengan perasaan geram, Ilona pun meminta Richard untuk mengantarnya ke apartemen yang telah disewa Richard.


Sedangkan Richard, untuk saat ini dia bisa bernapas dengan lega karena gagalnya pertemuan Ilona dengan Argha. Aku harus segera mencari cara untuk menghentikan kegilaan Ilona. Apa aku beberkan saja semua kebusukannya kepada daddy, agar daddy bisa membantuku menyelamatkan rumah tangga Argha? Tapi, bagaimana jika daddy tidak percaya padaku? batin Richard.


Sungguh Richard tidak bisa berpikir dalam keadaan menyetir. Pada akhirnya, dia hanya bisa kembali menghela napasnya.


🍀🍀🍀


"Yang benar saja kakak ipar, kenapa mendadak sekali?" gerutu Nadhifa kesal saat Gintani mengajaknya piknik esok hari.


"Itu kemauan kakak kamu, Fa. Ikut, ya..?" jawab Gintani.


"Besok itu hari Jum'at kakak, belum weekend. Lagipula aku masih banyak pekerjaan di kantor. Bisa-bisa, bos arrogant itu memecatku!" Nadhifa masih meluapkan kekesalannya di ujung telpon.


"Heey...! Yang jadi bosnya kan, kakak kamu. Ayolah, Fa...!" Gintani kembali membujuk adik iparnya.


"Ish kakak, gajiku bisa di potong sama Pak Wahid kalau aku nggak masuk kerja." Nadhifa mencari alasan. Padahal sebenarnya, dia tidak mau jadi kambing congek di antara kakak dan kakak iparnya.


"Ya sudah, kalau begitu...biar kakak ajak Alya aja deh, buat nemenin kak Bram. Kakak tutup telponnya ya, Fa...?"


"Eh tunggu...!" Terdengar teriakan di ujung telpon yang membuat senyum Gintani mengembang.


"Kenapa, Fa?" tanya Gintani pura-pura tidak mengerti.


"Apa kak Bram ikut?" tanya Nadhifa ragu-ragu.


"Sepertinya, dia ikut. Kamu sendiri tahu, kan... hubungan kakakmu dengan asistennya itu, sudah kek amplop sama prangko."


"He...he...kakak benar...! Ya sudah, besok jemput aku di rumah ya?" pinta Nadhifa.


"Siap tuan putri! Ya sudah, kakak tutup dulu ya telponnya. Bye Fa...assalamu'alaikum...!"


"Wa'alaikumussalam!"


Gintani menutup telponnya.


"Kenapa kamu ajak Nadhifa juga?" tanya Argha yang tengah tiduran di pangkuan Gintani.


"Kamu juga mengajak asistenmu, Mas. Lalu, kenapa tidak boleh mengajak sekretarismu?" jawab Gintani seraya mengusap lembut pucuk kepala suaminya.


"Ya itu beda lagi, Gin! Aku ajak Bram buat bawa mobil. Lah Dhifa, buat apa dia diajak. Nggak ada gunanya..., paling cuma recokin doang."


"Huss! Nggak boleh gitu, Mas! Setidaknya, aku ada teman ngobrol kalau kalian pergi solat Jum'at. Ya sudah, lebih baik kita tidur sekarang. Gintan harus bangun subuh, buat persiapan piknik kita."


Argha dan Gintani segera mengatur posisi ternyaman untuk pergi ke alam mimpi.


🍀🍀🍀


Alarm ponsel Gintani berdering saat waktu menunjukkan pukul 04.00 dini hari. Gintani segera bangun dan mengenakan kimono tidurnya. Dia lalu pergi ke dapur untuk memasak makanan yang akan dibawanya piknik.


Gintani menyiapkan bahan-bahan makanan. Menu piknik hari ini adalah nasi liwet Sunda, ayam bakar garang, karedok, mendoan, dan sate maranggi. Semua itu request dari Nadhifa. Sedangkan untuk suaminya, tentunya Gintani sudah menyiapkan balado ikan tongkol yang merupakan makanan favorit mereka. Hmmm, sepertinya Gintani sudah tertular kebiasaan-kebiasaan Argha.


Gintani membuka lemari bahan makanan. Dia mengeluarkan agar-agar, gula pasir, susu, tepung terigu, dan juga yang lainnya. Dia hendak membuat puding coklat dan brownies bakar sebagai makanan penutup mereka.

__ADS_1


Saat sedang asyik bermain dengan peralatan dapur, tanpa terasa azan subuh pun berkumandang. Gintani menyudahi kegiatannya dan kembali ke kamar untuk membangunkan suaminya. Setelah Argha bangun, mereka pun melaksanakan solat subuh berjamaah.


Selepas solat, Gintani kembali ke dapur, sedangkan Argha mulai merapikan tempat tidurnya. Mereka sudah mulai berbagi tugas dalam mengurusi kegiatan berumah tangganya.


Pukul 8 pagi mereka berangkat menuju kawasan wisata alam yang berada di wilayah setempat. Kawasan wisata ini bernama Setu Babakan. Sebuah destinasi yang terletak di Jagakarsa, Jakarta Selatan. Kawasan wisata ini merupakan perkampungan Betawi yang sudah resmi menjadi pusat pelestarian budaya asli Jakarta. Di sana juga terdapat danau luas yang sangat cantik sebagai tempat hidup berbagai tanaman buah dan sayur. Danau ini dinamakan Setu Babakan.


Pukul 09.15 menit, mereka tiba di tempat tujuan. Gintani tampak takjub melihat indahnya kawasan wisata itu.



Suasana alamnya sangat menenangkan. udaranya begitu segar. Hamparan air danau yang memanjakan mata, sangat memberikan energi positif bagi para pengunjung. Selain dapat menikmati keunikan budaya Betawi asli, mereka juga dapat mencicipi beraneka ragam kuliner khas Betawi.


Argha memilih tempat yang tidak begitu ramai untuk menggelar tikar. Suasana danau terlihat sepi, mungkin karena masih pagi dan juga di hari yang masih efektif. Karena itulah, mereka leluasa untuk bercengkrama menikmati kebersamaan.


Kegiatan diawali dengan obrolan-obrolan ringan mereka. Hingga akhirnya, kekonyolan Nadhifa mulai timbul.


"Gimana kalau kita lakukan permainan?"usul Nadhifa.


"Permainan apa?" tanya Gintani.


"Truth or dare?" Nadhifa malah balik bertanya.


"No...! Kakak nggak mau ngelakuin permainan anak kecil kek gitu!" tolak Argha.


"Huuu...bilang aja Kakak takut kalah...!" ejek Nadhifa.


"Eits, sorry ya...! Nggak ada kata kalah dalam kamus hidup Kakak." Songongnya seorang Argha keluar lagi.


"Kakak kamu bukannya takut kalah, Fa! Tapi dia trauma! Soalnya, dia pernah ditantang cium Ilo_"


"Aww...!"


Kalimat Bram terputus saat sebuah botol air mineral kosong mendarat di kepalanya.


Mata Argha membulat sempurna menatap sang asisten. Sinar kemarahan terpancar jelas di kedua bola mata itu.


"Hmm..., Kak Ar pasti kalah ya, sampai ditantangin buat nyium cewek. Emangnya, siapa yang Kakak cium? It's your first kiss?" tanya Nadhifa yang mulai cerewet tanpa melihat keadaan.


Argha dan Bram saling berpandangan mendengar ocehan Nadhifa. Sedangkan Gintani hanya menundukkan wajahnya, menyadari jika dirinya bukan orang pertama yang pernah merasakan bibir manis sang suami.


Argha mendekati istrinya. "Siapa pun orang pertama yang pernah aku cium, itu tidak pernah berarti apa-apa dalam kehidupanku. Yang terpenting, bibir ini yang akan selalu aku rasakan di setiap pagi dan malamku," ucap Argha seraya mencium bibir mungil istrinya di depan Nadhifa dan Bram.


"Uuuh co cweeettt...!" teriak Nadhifa bertepuk tangan.


Sedangkan Bram, dia hanya memalingkan wajahnya meratapi nasib kejombloannya. "Dasar bos nggak ada akhlak!" gumam Bram yang masih bisa di dengar Gintani.


Gintani segera mendorong pelan Argha untuk menyudahi aktifitasnya. Dia semakin tersipu malu dengan ulah absurd sang suami.


"Lalu, kakak ipar sendiri? Siapa orang pertama yang pernah mencium Kpakak?" tanya Nadhifa membalikkan keadaan.


Deg...deg...deg...


Entah kenapa, jantung Argha berpacu dengan cepat menantikan jawaban istrinya. Ada sedikit rasa takut jika pada kenyataannya, Gintani pernah berciuman dengan laki-laki lain sebelum dirinya.

__ADS_1


"Ayo jawab Kak, kita penasaran nih?" Nadhifa kembali menuntut kejujuran Gintani.


"Laki-laki yang pertama kali menyentuh bibirku, dia...dia adalah suamiku sendiri," jawab Gintani seraya menundukkan wajahnya.


Senyum Argha seketika mengembang mendengar jawaban istrinya. Argha merangkul Gintani dan menariknya ke dalam pelukannya.


"Aku tahu, aku lah orang pertama yang merebut ciuman pertamamu," bisik Argha.


"Iya, tapi saat itu kamu melakukannya penuh dengan paksaan, Mas!" Keluh Gintani.


"Maaf...!" ucap Argha penuh penyesalan.


"Sudahlah, lupakan saja! Lagipula, semuanya telah berlalu," jawab Gintani seraya mengusap pipi suaminya.


"Baiklah, sekarang giliran kamu, Kak Bram! Siapa orang yang pertama kali pernah kamu cium?"


Bram tersenyum sejenak, sedetik kemudian...


Cup....


Bram mengecup bibir ranum Nadhifa yang dipoles liptint berwarna soft pink.


"Kamu, Fa...! Kamulah orang yang pertama kali merasakan bibir abang Bramantyo Ahmad Jalaluddin."


Nadhifa terkesima mendapatkan serangan mendadak dari Bram. Dia menatap Bram tanpa berkedip.


"Sialan lo...! Berani-beraninya lo cium adek gua!" Teriak Argha tak terima.


"Ssst... Mas! Malu dilihat orang!" bisik Gintani.


"Tau nih, Gin! Laki lo rese banget sih...!" gerutu Bram.


"Sudah, kalian lanjutkan saja ngobrol. Gintan sama Mas Argha mau jalan-jalan dulu ya, bye...!"


Gintani menarik tangan suaminya agar berdiri.


"Tapi, Gin...! Mereka..."


"Sudah, ayo Mas! Gintan pengen naik perahu angsa," rengeknya.


Mendengar rengekan merdu sang istri, Argha pun tak kuasa menolaknya. Mereka pergi meninggalkan sepasang insan yang saling tatap penuh makna.


"Gin, apa ini bisa dibilang double date?" tanya Argha seraya mengayuh perahu angsanya.


"Jika Mas menyetujui hubungan mereka, anggap saja seperti itu," jawab Gintani, turut mengayuh de tepi kanan.


"Tidak ada alasan bagiku untuk menolak Bram. Aku sudah mengenalnya sejak duduk di bangku SMA. Aku yakin, Bram pasangan yang tepat untuk Dhifa.


"Semoga saja, Mas."


Gintani dan Argha saling tatap penuh arti. Argha mendekatkan wajahnya, sedetik kemudian, bibir mereka saling bertautan di iringi desiran angin yang menerpanya. Gintani memejamkan matanya, berharap jika semua kisah Argha dan Gintani tidak akan pernah berakhir mengukir senyum.


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa untuk selalu memberikan like, vote n komennya


__ADS_2