Takdir Gintani

Takdir Gintani
Jelas


__ADS_3

"Bagaimana? Apa kamu sudah temukan siapa pemilik mobil berwarna putih itu?" tanya Jessica kepada seorang detektif yang dulu pernah disewa Argha untuk menguntitnya.


"Ya," jawab sang detektif.


"Siapa?" tanya Jessica semakin penasaran.


"Sebaiknya, aku email-kan saja hasil laporannya. Biar lebih jelas," jawab detektif itu.


"Ok. Aku tunggu."


Jessica menutup teleponnya. Tak lama kemudian, notifikasi sebuah email masuk di ponselnya. Jessica segera membawa laptop dan mulai menerima email yang masuk. Setelah dibuka, kedua bola mata Jessica membulat sempurna saat menerima file dalam bentuk PDF yang menerangkan secara rinci tentang kepemilikan mobil yang berplat nomor sekian.


Jantung Jessica berdegup kencang menahan amarahnya. Jahat sekali kamu Ilona. Tega sekali kamu membunuh saudaraku. Lihat saja, aku tidak akan tinggal diam. Dengan bukti ini, aku akan menyeretmu ke penjara, batin Jessica.


"Gintan! Aku harus memberi tahu Gintan tentang bukti ini," gumam Jessica.


Jessica kembali meraih ponselnya yang tergeletak di meja. Dia pun mulai menghubungi Gintani. Sayangnya, nomor telepon Gintani tidak aktif. Berkali-kali Jessica menghubunginya, tapi hasilnya tetap sama.


Karena merasa kesak, Jessica melemparkan ponselnya. Sudah lama Gintani pergi ke tempat saudaranya, tapi kenapa dia belum juga pulang? Apa dia berniat untuk menetap di sana? batin Jessica.


Jessica segera mengemasi pakaiannya. Aku tidak bisa tinggal diam. Aku harus memberikan keadailan untuk Richard. Aku harus bisa membuktikan jika Ilona bukan wanita baik-baik. Mungkin, dengan menyatukan kembali Argha dan Gintani, maka kematian Richard tidak akan pernah sia-sia." Jessica kembali bergumam.


Jessica menuruni tangga dengan terburu-buru. Karena tak memperhatikan jalannya, dia pun bertabrakan dengan sang ibu.


"Mau ke mana kamu, Nak?" tanya umi Kulsum.


"Jessi mau ke Jakarta Umi," jawab Jessica.


"Tapi ini sudah malam, Nak," ucap umi Kulsum, terkejut.


"Jessi tahu, tapi ada hal penting yang harus Jessi lakukan. Dan Jessi nggak bisa nunggu sampai esok hari," jawab Jessica.


"Tapi, Nak ... Umi khawatir kalau kamu berangkat sendirian," ucap umi Kulsum.


"Aduh Umi, dari kecil Jessi sudah terbiasa pergi-pergi sendirian. Udah deh, Umi nggak usah khawatir, Jessi bisa jaga diri kok," kata Jessica.


"Tapi, Nak."


"Biar Djenar yang nemenin Kak Jessi, Mi."


Tiba-tiba Djenar muncul dari dapur.


"Tapi ...."


"Sudah Umi, mereka sudah besar dan bisa menjaga diri. Mungkin memang ada hal yang mendesak yang harus Jessica urus. Kita percayakan saja mereka pada perlindungan Allah" ucap abi Hasan yang baru tiba dari masjid.


"Ya sudah, tapi kalian baik-baik, ya." Akhirnya umi Kulsum menyerah.


Jessica dan Djenar mengangguk.


"Sebentar Kak, Djenar ganti baju dulu," kata Djenar sambil berlari menuju tangga.


Beberapa menit berlalu. Ditemani Djenar, jessica pun melajukan mobilnya menuju ibu kota.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Bugh!


Bugh!


Bugh!


Bram melayangkan pukulannya bertubi-tubi. Hatinya terasa terbakar melihat wajah dungu itu. Wajah yang telah terekam jelas dalam ingatannya saat dia memergoki Gintani bersama laki-laki itu.


Bram semakin murka tak kala mengingat ucapan Argha seminggu yang lalu lewat sambungan telepon.


"Aku akan menikah dengan Ilona, Bram."


"Tapi, bagaimana bisa? Lalu, Na?"


Hening


"Ar, lo masih dengar gue, 'kan?"


"Iya, Bram."


"Terus?"


"Na tidak datang. Karena itulah aku memutuskan untuk menikahi Ilona. Apalagi sejak aku lihat ...."


Argha menjeda kalimatnya.


"Lihat apa?"


"Aku melihat Gintani tengah hamil. Dan itu pasti anaknya si brengsek!"


"Sudahlah, tidak usah di bahas. Aku tutup dulu teleponnya, ya!"


"Hei, ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?" tanya Tania.


pertanyaan Tania seketika membuyarkan lamunan Bram. Dia pun kembali melayangkan pukulannya.


Jaka mencoba melerai perkelahian itu, tapi tidak berhasil. Tenaga Bram terlalu kuat karena dipengaruhi emosi yang memuncak.


"Jadi kamu hanya bisa menghamili dia saja, hah! Kamu pergi dan tidak bertanggung jawab atas semua perbuatan bejatmu, iya? Dasar kurang ajar. Bajingan!"


Bram memaki laki-laki itu seraya kembali melayangkan pukulannya dengan brutal.


"Cukup! Jangan pukul Kakakku lagi. Semua itu hanya jebakan!"


Mendengar suara ribut di luar, Sarah segera keluar kamar. Dia begitu terkejut melihat kakaknya dipukuli oleh tamu tuannya. Awalnya Sarah tidak mengerti. Namun, ketika tamu itu menyebutkan nama Gintani, seketika dia teringat akan kesalahan mereka di masa lalu.


Bram menghentikan pukulannya. Dia menoleh melihat seorang gadis yang telah berlinang air mata.


"Apa maksudmu?" tanya Bram heran.


Sarah berlari menghampiri kakaknya. Dia mengusap bercak darah di sekitar wajah kakaknya.


"Ada apa ini Nando? Bram? Bisakah kalian menjelaskan sesuatu padaku?" tanya Jaka.


"Dia! Laki-laki bejat ini telah menghancurkan rumah tangga bos saya, dasar brengsek!" umpat Bram.

__ADS_1


Bugh!


Bram menendang pinggang Nando.


"Sudah Tuan! Jangan pukul Kakak saya lagi. Ka-kami memang bersalah, tapi kami terpaksa melakukan semua ini," kata Sarah.


Bram semakin tidak mengerti dengan ucapan gadis itu. Dia pun berjongkok, sejurus kemudian tangannya mencengkeram kedua rahang gadis itu.


"Ada rahasia apa di antara kalian? Cepat katakan padaku!" teriak Bram.


"Dek ... ja-jangan," ucap Nando lirih.


Sarah menghempaskan tangan Bram dari rahangnya. Dia menatap sang kakak yang telah terkapar tak berdaya.


"Tidak Kakak, Sarah tidak bisa menyimpan rahasia ini lagi. Sarah tidak sanggup, setiap malam Sarah tidak bisa tidur karena selalu bermimpi tentang kak Gintan. Sarah benar-benar merasa bersalah sama kak Gintan," ucap sarah.


Nando Menggelengkan kepalanya, membuat Bram semakin murka.


"Cepat katakan padaku, atau aku tidak akan segan-segan membunuh kakakmu," ancam Bram.


Sarah menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jangan lakukan itu, aku mohon jangan bu–"


"KATAKAN!" teriak Bram.


"Seseorang menyuruh kakakku melakukan semua itu?" ucap Sarah cepat.


"Maksud kamu?"


"Seseorang meminta kakakku untuk merusak rumah tangga kak Gintan dan suaminya."


Mulut Bram terbuka lebar saat mendengar semua kebenaran tentang malam itu.


"Tapi kenapa? Siapa yang telah menyuruhnya, dan kenapa kamu mau saja diperintah untuk melakukan perbuatan terkutuk itu, hah?" Bram kembali berteriak.


"Ma-maafkan kakakku Tuan. Waktu itu, kondisi kakakku sedang terjepit. Dia membutuhkan banyak uang untuk biaya transplantasi jantung anaknya. Karena itu kakak gelap mata dan mau melakukan kejahatan itu."


Bram menengadahkan wajahnya. Kini semuanya semakin jelas. Gintani tidak bersalah. Tapi siapa dalang di balik semua ini, pikir Bram.


Kembali Bram menarik kerah baju Nando. "Katakan padaku, siapa yang telah menyuruhmu melakukan kejahatan itu?" ucap Bram dingin.


Nando diam.


Plak!


Sebuah tamparan keras mendarat di pipinya.


Sarah sudah tidak sanggup lagi melihat kakaknya seperti itu. Dia pun menangis dan memeluk Nando.


"Sarah mohon, Kak. Katakan saja, Sarah nggak tega melihat Kakak seperti ini. Kakak harus ingat Nanda. Dia masih terlalu kecil untuk kehilangan ayahnya," ucap Sarah memelas.


"Jawab!"


"I-Ilona."


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗


__ADS_2