
Nin Ifah sangat terkejut mendengar kegaduhan di kamar Argha. Dia hendak mengetuk pintu kamar cucunya, tapi saat Nin Ifah mendengar teriakan Argha, dia pun mengurungkan niatnya.
Argha sedang dikuasai emosi, karena itu Nin Ifah menahan diri untuk tidak mengganggunya. Nin Ifah sadar, sekuat apa pun kita bertanya dan memberikan nasihat kepada orang yang masih marah, itu tidak akan membuahkan hasil.
Setelah beberapa menit berlalu, suasana terdengar hening di kamar Argha. Nin Ifah pun mulai mengetuk pintu kamar.
"Adi, apa Enin boleh masuk?" tanya Nin Ifah dari balik pintu kamar Argha.
"Masuk saja, Nin!" jawab Argha.
Nin Ifah membuka pintu kamar Argha. Sejenak dia nampak tertegun melihat noda merah yang ada di dinding kamar Argha. Nin Ifah mendekati Argha yang tengah duduk di lantai sambil menyandarkan tubuhnya. Dia kemudian duduk di tepi ranjang.
"Kemarilah, Nak! Sudah lama kamu tidak tiduran di pangkuan Enin," ucap Nin Ifah mengulurkan tangannya.
Argha beringsut dan mulai mendekati Nin Ifah. Dia kemudian merebahkan kepalanya di atas pangkuan sang nenek.
"Apa ada yang ingin kamu ceritakan, Di?" tanya Nin Ifah sambil mengusap lembut kepala cucunya.
"A-Adi ..." Argha tampak berpikir untuk menceritakan keadaannya kepada sang nenek. "Tidak apa-apa Nin, tidak ada yang penting." Namun, Argha tak ingin membuat neneknya kecewa, karena itu dia menutupi segalanya.
"Ya sudah, Enin tidak akan memaksa kamu. Tapi kamu tidak boleh lupa, kamu masih memiliki Enin dan Aki yang siap mendengarkan keluh kesahmu. Mungkin kami tidak bisa membantumu terlalu jauh, tapi setidaknya, kami bisa memberikan pengalaman hidup kamu untuk dijadikan pelajaran. Bagaimanapun juga, Enin dan Aki sudah merasakan pahit manisnya hidup berumah tangga dibandingkan kamu," ucap Nin Ifah panjang lebar.
Argha hanya bisa membenamkan wajahnya lebih dalam lagi di pangkuan Nin Ifah.
🍀🍀🍀
Heru segera memarkirkan mobilnya begitu tiba di rumah sakit daerah. Dia meminta brankar kepada perawat dan mengatakan jika di dalam mobil terdapat pasien darurat.
Dua orang perawat laki-laki segera mengambil brankar, tak lama kemudian mereka membawa brankar tersebut ke arah mobil Heru. Tiba di sana, mereka segera mengeluarkan Gintani dari dalam mobil, memindahkannya ke atas brankar dan segera membawa Gintani ke UGD.
"Silakan Bapak melakukan pendaftaran dulu di depan," ucap salah seorang perawat itu kepada Heru.
Heru bingung, dia tidak tahu harus berbuat apa. Bagaimana mungkin dia bisa mendaftarkan gadis itu? Apa yang harus dia jawab jika pihak rumah sakit menanyakan identitas pasien. Tapi, dia juga tidak mungkin mengatakan kalau dia menemukan wanita itu tergeletak begitu saja di bukit, bisa berabe urusannya, pikir Heru.
"Ini, Pak. Ini milik istri Bapak," ucap perawat laki-laki yang tadi membawa Gintani ke ruang UGD.
__ADS_1
Ah, tas ini! pekik Heru dalam hati. Dia baru ingat jika wanita tadi memang menyampirkan tas selempang di bahunya.
Heru menerima tas itu, dia kemudian mengecek isinya. Hmm, siapa tahu ada yang bisa aku jadikan acuan untuk mengisi formulir pendaftaran, batin Heru. Heru tersenyum saat menemukan sebuah KTP di dalam dompet wanita itu.
"Gintania Nur'aini ... hmm, nama yang bagus," gumam Heru.
Setelah menemukan apa yang dia cari, Heru segera pergi ke bagian pendaftaran. Di sana, Heru mulai mengisi formulir pendaftaran pasien.
"Silakan Anda tanda tangani di sini!" ucap perawat di bagian pendaftaran.
"Harus saya?" tanya Heru, polos.
"Tentu saja Anda. Bukankah Anda suaminya?" jawab perawat itu dengan nada kesal. Memangnya gue yang harus tanda tangan ... hadeuh, batin perawat itu.
Dengan terpaksa, Heru pun menandatangani formulir pendaftaran tersebut sebagai penanggung jawab atas diri pasien.
"Padahal aku nggak tahu apa-apa, huh," dengus Heru kesal. Namun, meskipun demikian, Heru tidak bisa cuci tangan begitu saja sejak memutuskan untuk menolong wanita itu.
Selesai melakukan pendaftaran, Heru segera mencari ruang UGD. Tiba di sana, tampak orang berlalu lalang dengan kesibukannya masing-masing. Pasien UGD membludak, hingga banyak pasien yang terlantar di koridor rumah sakit.
Beberapa menit berlalu. Tiba-tiba Heru melihat brankar wanita yang ditolongnya di bawa keluar.
"Mau di bawa kemana, Sus?" tanya Heru cemas saat brankar itu melewatinya
"Pasien mau dibawa ke ruang operasi," jawab perawat itu.
"O-Operasi? Tapi kenapa?" tanya Heru, terkejut
Namun, kedua perawat itu tak menggubris pertanyaan Heru. Mereka tetap mendorong brankar Gintani dengan tergesa-gesa.
Setengah berlari Heru mengikuti brankar yang dibawa perawat itu. Entah kenapa rasa khawatir mulai menguasai hatinya. Raut wajah kecemasan tergambar jelas di wajahnya. Ya Tuhan, tolong selamatkan ibu dan anaknya, batin Heru.
Tiba di depan ruang operasi, langkah Heru dihentikan oleh perawat yang berjaga di sana.
"Tapi, kenapa Sus?" tanya Heru yang tidak diperkenankan masuk.
__ADS_1
"Mohon maaf, Pak. Ini sudah prosedur rumah sakit. Meskipun Anda suaminya, tapi Anda tidak bisa mendampingi istri Anda melahirkan, karena proses melahirkannya secara Sc," jawab perawat itu.
"Baiklah, saya akan menunggu di sini. Tapi ... tolong selamatkan mereka," pinta Heru.
"Insya Allah, akan kami usahakan," jawab perawat itu. Sejurus kemudian, dia menutup pintu ruang operasi.
Heru berjalan mondar-mandir di depan ruang operasi. Lampu kecil yang tertempel di atas pintu ruangan itu sudah mulai menyala. Perasaan Heru pun semakin tidak karuan. Entah kenapa, ada rasa takut yang menyergap dirinya saat ini. Ya, Heru takut kehilangan mereka.
Untaian do'a terus Heru lapalkan dalam hatinya. Berharap semua ini akan segera berakhir. Tergantikan oleh kabar yang entah kenapa sangat dia nantikan. Rasanya, tangisan suara bayi sudah terngiang-ngiang di telinganya.
Sesaat Heru duduk, detik selanjutnya dia berdiri, berjalan ke sana kemari, kemudian duduk lagi. Dia sudah seperti kucing biang, gelisah tiada tara, gelisah tanpa sebab. Padahal wanita itu bukan siapa-siapanya dia.
Belum reda kegelisahan yang ada di hatinya, tiba-tiba saja seorang perawat datang menyodorkan selembar kertas.
"Apa ini, Sus?" tanya Heru kebingungan.
"Silakan dibaca, Pak!" jawab perawat itu.
Wajah Heru seketika pucat pasi saat membaca kertas yang harus dia tanda tangani.
"Ta-Tapi saya bu–"
"Silakan Bapak tanda tangani, nyawa siapa yang akan Bapak selamatkan."
Jeddar!!
Bagaikan tersambar petir di siang bolong, Heru hanya mampu bergeming dalam keterkejutannya. Bagaimana ini? Apa yang harus saya lakukan? batin Heru.
"Cepatlah, Pak! Kondisi pasien sudah sangat kritis. Terlambat sedikit saja, Bapak bisa kehilangan keduanya," desak perawat itu.
Heru menengadahkan wajahnya untuk sejenak. Bismillahirrahmannirrahiim ....
"Tolong selamatkan ibunya!"
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏