
"Mas, pulang jam berapa?" tanya Gintani yang tengah membereskan meja makan bekas sarapan mereka.
"Mungkin selepas isya, Gin. Hari ini ada banyak berkas proyek yang harus aku evaluasi," jawab Argha seraya memainkan ponsel di sofa ruang keluarga.
Selepas membereskan meja makan, Gintani mencuci piring kotor bekas makan. Kemudian menaruh piring-piring yang telah bersih di rak piring. Setelah itu, dia menyeka tangannya dengan lap agar segera kering. Dia mendekati Argha dan duduk di sampingnya.
"Mas, aku boleh izin keluar nggak?" tanya Gintani pelan, takut jika Argha akan tersinggung lagi seperti dulu.
Argha menaruh ponsel di atas meja. Dia meraih bahu Gintani dan menyandarkan tubuh Gintani di dada bidangnya.
"Memangnya, kamu mau kemana?" tanya Argha sambil memainkan ujung rambut Gintani yang tergerai di pelipisnya.
"Papah mengajak Gintan makan siang di Z'Dulur. Katanya beliau akan mengenalkan Gintan kepada rekan kerjanya yang dari Amerika," jawab Gintani.
"Ah, iya ... semalam Papah sudah minta izin padaku. Pergilah!" ujar Argha seraya mengecup pucuk kepala Gintani.
"Mas, nggak ikut?" tanya Gintani mendongakkan wajahnya. Netra mereka beradu hingga membuat hati kedua insan itu diliputi getaran-getaran yang sangat hebat. Jantung mereka berpacu dengan cepat saat menikmati indahnya guratan wajah masing-masing yang tercipta dengan sempurna. Sungguh maha karya Illahi yang sangat luar biasa.
"Maaf sayang, siang ini aku ada meeting untuk pembangunan rumah dinas bagi para pegawai pemda. Kamu nggak apa-apa kan, pergi sendiri?" tanya Argha.
"Iya, tidak apa-apa, Mas! Gintan tahu, Mas sibuk sekali akhir-akhir ini," jawab Gintani seraya memainkan ujung jarinya di dada Argha.
"Maaf ya, Gin!" Argha merasa bersalah karena sudah beberapa minggu ini dia selalu lembur.
"Iya, sana... cepat berangkat, Mas! Nanti kamu terlambat," ujar Gintani seraya menarik tubuhnya dari dekapan Argha.
Argha menahan tubuh Gintani. "Gin!" panggilnya lirih.
Gintani kembali mendongakkan wajah dan menatap suaminya dengan sedikit mengernyitkan kening.
"Ada apa, Mas?" tanya Gintani, heran.
"Boleh aku menciummu?" tanya Argha, ragu.
Untuk sejenak, Gintani terpaku. Perlahan dia pun menganggukkan kepalanya.
Tak ingin kehilangan waktu, Argha melahap bibir manis itu. Perlahan dia menyesapnya dengan lembut. Lidah Argha mulai menyapu bibir tipis nan kenyal itu. Sepertinya dia sudah sangat kecanduan dengan apa yang dimiliki sang istri.
Begitu juga dengan Gintani. Dalam kepasrahan dia diperlakukan sebagai istri cadangan, tidak dipungkiri jika Gintani menikmati setiap sentuhan suaminya. Terlebih lagi, sekarang Argha memperlakukan Gintani begitu lembut, begitu istimewa. Seolah dirinya adalah sesuatu yang berharga yang memang harus diperlakukan dengan cara yang berharga pula.
__ADS_1
Gintani mulai membalas ciuman suaminya. Sejenak dia melepaskan ciuman itu untuk membenarkan posisi. Gintani mulai berani duduk di pangkuan Argha. Dia kembali mendekatkan wajahnya untuk melanjutkan morning kiss yang terjeda. Tangan Gintani mulai melingkar di leher suaminya. Dia sedikit menjambak rambut Argha saat ciuman itu mulai menjalari ceruk lehernya.
Argha kembali membuat tato yang selalu membuat Gintani tersenyum saat melihatnya. Begitu juga dengan Gintani. Mereka bergantian untuk menciptakan tato merah yang bisa membuat melayang sang pemilik raga.
"Gin!" panggil Argha dengan suara serak. "Bolehkah aku membuatnya di sini?" Mata Argha menunjuk bukit kembar istrinya.
Dengan tersipu malu, Gintani membuka kancing blousenya hingga menampakkan bagian atas bukit kembar itu.
Sejurus kemudian, Argha segera menyesap bagian atas bukit kembar istrinya secara bergantian.
Satu menit...
Dua menit...
Tiga menit..
Hingga di menit kelima, Argha mulai melepas hisapannya. Dua buah tato merah kebiruan yang tanpa bentuk, tercipta dengan sangat kontras di kulit putih sekitar dada Gintani.
"Setiap hari, aku akan meninggalkan tanda jejak di sini ya, Gin. Agar kamu selalu mengingatku," ucap Argha seraya mengancingkan kembali blouse istrinya.
Gintani tersipu malu dengan ucapan suaminya. Semoga semua ini tidak akan berakhir, Mas. Batin Gintani.
Gintani tersenyum geli saat kembali terbayang dengan perbuatan Argha malam lalu. Malam di mana Argha menghisap bulatan kenyal miliknya, layaknya seorang bayi. "Hmm ... arrogant big baby," gumam Gintani.
🍀🍀🍀
Selepas solat dzuhur. Gintani pergi ke Z'dulur resto dengan menggunakan taksi online. Gintani sengaja menolak mobil jemputan yang ditawarkan ayah mertuanya. Dia takut jika ada orang yang berniat buruk, mengikuti mobil itu. Gintani sangat menghormati Argha. Karena itu dia selalu menjaga amanah suaminya yang tidak membolehkan seorang pun tahu tentang tempat tinggal mereka. Tak terkecuali ayah mertuanya sendiri.
Hanya membutuhkan waktu sekitar dua puluh menit untuk tiba di resto itu. Setelah membayar ongkos taksi, Gintani segera memasuki resto yang sangat mewah dan elegan di kota itu.
Gintani melangkahkan kaki dengan penuh percaya diri ke sebuah meja VVIP yang telah direservasi ayah mertuanya. Tiba di sana, Gintani melihat ayah mertua tengah mengobrol akrab bersama seorang pria paruh baya.
"Assalamu'alaikum!" sapa Gintani seraya mengatupkan kedua telapak tangannya.
Serentak kedua pria paruh baya itu menghentikan obrolannya.
"Wa'alaikumsalam!" jawab Tuan Jaya. "Ah, Gin! Kemarilah, Sayang!" panggilnya.
Gintani mengangguk. Dengan elegan, dia duduk di samping ayah mertuanya.
__ADS_1
"Mr Hanzel, this is my daughter in law. Her name is Gintani," Tuan Jaya memperkenalkan Gintani kepada rekan kerjanya.
"Hi, Darling! Nice to meet you!" ujar Tuan Alejandro Hanzel pria berkebangsaan Amerika yang tak lain adalah kolega ayah mertuanya.
"Nice to meet you too, Mr Hanzel," jawab Gintani.
"You know what, Mr Jaya? Your daughter in law is very beautiful. I'm sure that your son will love her very much."
"Of course, Argha really loves her."
Ha... ha... ha...
Kedua pria itu tergelak menggodanya, membuat wajah Gintani semakin merona saja.
Setelah berbasa-basi cukup lama, akhirnya mereka melanjutkan acara makan siang. Banyak pujian yang terlontar dari mulut Tuan Hanzel kepada Gintani. Tuan Hanzel sangat terkesan dengan keanggunan dan tutur kata Gintani. Terlebih lagi melihat cara berpakaian Gintani yang sangat sopan. Di mata Tuan Hanzel, Gintani adalah sosok menantu yang sangat sempurna.
Seandainya kamu bisa lebih dulu bertemu denganku, aku pasti sudah menjodohkan kamu dengan anakku, batin Tuan Hanzel.
"Aku ke belakang dulu, sebentar! Gin, Papah ke belakang dulu ya!"
"Gintani mengangguk, hati-hati ya, Pah!"
Gintani melanjutkan obrolannya dengan tuan Hanzel. Gintani tidak menyangka jika Tuan Hanzel fasih berbicara bahasa Indonesia.
"Jadi, Tuan ini temannya Papah Jaya?" tanya Gintani, sedikit terkejut.
"Yes honey ... aku, Jaya dan Arya adalah teman masa SMA dulu," jawab Tuan Hanzel.
"Ar... Arya? Anda mengenal ayah saya?" tanya Gintani, gugup.
"Aku sangat mengenalnya, dear.... Arya sosok yang begitu tangguh. Aku turut berduka atas meninggalnya ayah kamu, Nak," ucap Tuan Hanzel seraya menyentuh tangan Gintani untuk memberikan kekuatan.
"Terima kasih, Tuan," jawab Gintani seraya menundukkan kepalanya.
Tanpa mereka sadari, dua pasang mata menatap tajam ke arah meja VVIP itu dengan dipenuhi sinar kebencian.
Bersambung...
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa... 🙏🤗
__ADS_1