Takdir Gintani

Takdir Gintani
Bertemu


__ADS_3

Malam semakin larut. Satu per satu para kerabat dari pihak nin Ifah dan almarhum aki Surya pun berpamitan. Hanya tinggal kakek Abdul dan istrinya yang memang akan menginap menemani nin Ifah.


"Sudah malam, Ar. Tidurlah!" kata kakek Abdul.


"Iya, Kek," jawab Argha. Setelah berpamitan, Argha pun pergi ke kamarnya untuk beristirahat.


Argha merebahkan tubuhnya di atas ranjang. Tiba-tiba saja, dia teringat akan gadis yang tadi sore dia lihat di bukit kenangan. Membayangkan gadis kecil itu, membuat Argha teringat akan Na. Rasa rindu akan masa kecilnya pun kembali menyeruak dalam hatinya.


Di mana kamu sekarang, Na. Apa kamu sudah berkeluarga? Kenapa hari itu kamu tidak datang? Apa kamu lupa? Atau memang ada hal yang membuat kamu sengaja melupakan hari pertemuan kita? batin Argha.


Lelah berpikir tentang pertemuannya yang gagal dengan Na, akhirnya mata Argha pun mulai terpejam.


🍀🍀🍀


"Putri, hari ini Uteng tidak bisa menunggui kamu sekolah. Kamu nggak apa-apa, 'kan?" tanya Gintani kepada anaknya.


Putri menelan makanannya, setelah itu dia mengambil susu dan meminumnya. "Memangnya kenapa, Ma?" tanya Putri sambil menyeka mulutnya yang belepotan susu.


"Uteng mau bantu-bantu Mama. Kebetulan ada pesanan baju yang harus selesai sore ini juga. Putri berani, 'kan, kalau sekolahnya sendirian!" tanya Gintani lagi.


"Berani, Ma. Putri, 'kan sudah besar," jawab Putri dengan bangganya.


"Ya sudah kalau begitu, habiskan sarapanmu! Setelah itu, Mama akan mengantarkan kamu ke sekolah," ucap Gintani.


"Oke, Ma."


Selesai sarapan, Gintani mengeluarkan motor. Dia kemudian mengantarkan Putri ke sekolahnya.


"Belajar yang rajin ya, Nak! Jangan ngobrol di kelas. Harus nurut apa kata ibu guru, ya?" ucap Gintani berpesan kepada putrinya.


Putri pun mengangguk. "Bye Mama!" Putri melambaikan tangannya sebelum masuk kelas.


Setelah melihat putrinya masuk ke dalam kelas. Gintani pun kembali melajukan motornya. Ada banyak pekerjaan yang sudah menunggu dia di rumah. Tak ingin waktunya terbuang percuma, Gintani menambah kecepatan motornya agar segera sampai di rumah.


🍀🍀🍀


Di kediaman enin Ifah. Argha mulai merasa bosan tinggal di rumah. Dari pagi tak ada yang bisa ia lakukan selain mondar-mandir tak karuan. Akhirnya dia memutuskan untuk pergi ke makam kakeknya. Dengan menggunakan motor kesayangannya, Argha pun mulai melewati jalanan setapak yang penuh dengan bebatuan.


Begitu tiba di atas bukit, Argha mengedarkan pandangannya untuk mencari seseorang. Entah siapa yang sedang dia cari. Tapi saat dia tak menemui siapa pun di bukit itu, dia akhirnya melanjutkan perjalanannya menuju tempat pemakaman keluarga.


"Assalamu'alaikum aki!" sapa Argha begitu tiba di depan makam sang kakek. Di detik berikutnya, dia pun mulai bermonolog di depan pusara kakeknya.


.


.


.

__ADS_1


Matahari mulai berada tepat di atas kepala. Argha pun memutuskan untuk pulang. Langkah demi langkah yang dia lalui terasa hampa. Separuh jiwanya terasa kosong sejak kepergian aki Surya.


Argha menghentikan langkahnya begitu tiba di bukit kenangan. Dia memandang pohon besar itu. Sebuah pohon akasia yang menjadi saksi indahnya masa kecil Argha bersama Na. Hati Argha mulai tergelitik untuk mengenang semuanya. Dia pun mengayunkan langkahnya mendekati pohon akasia tersebut.


Argha begitu terkejut saat mendengar suara tangisan seorang anak kecil. Dia pun mempercepat langkahnya untuk mencari sumber suara.


Semakin Argha mendekati pohon itu, semakin jelas suara tangisan itu terdengar. Dan benar saja, suara itu berasal dari belakang pohon akasia. Argha berjalan memutar untuk memastikannya.


Tiba-tiba, Argha terpaku melihat seorang anak kecil mengenakan seragam sekolah yang terlihat kotor. Wajahnya menelungkup sehingga Argha tak bisa melihatnya. Hanya kedua bahunya saja yang berguncang akibat isak tangisnya.


Argha berjongkok dan menyemtuh bahu kanan anak itu.


"Hai, Dek ... kenapa menangis?" tanya Argha.


Anak kecil itu mendongak. Dia sedikit mengernyitkan dahi saat mendapati orang yang tidak dikenalnya.


"Om siapa?" tanya anak itu di sela-sela isak tangisnya.


"Nama Om, Argha. Nama Adek siapa? Lalu kenapa Adek menangis sendirian di sini?" tanya Argha lagi.


"Nama aku Putri. Gelang pemberian dari mama hilang Om, karena itu Putri nangis," ucapnya sambil menyeka ingus yang sedari tadi naik turun dari kedua lubang hidungnya.


Argha tersenyum. Dia kemudian merogoh saku belakang celananya dan memberikan sapu tangan kepada Putri.


"Bersihkan pakai ini," ucapnya.


Menyadari rasa kekhawatiran Putri, akhirnya Argha memutuskan untuk membersihkan wajah anak itu dengan tangannya sendiri. Kedua tangan Argha mulai menyeka sisa-sisa air mata yang berada di sekitar pipi Putri yang terlihat memerah. Setelah itu, dia melap hidungnya yang basah akibat campuran air mata dan lendir yang keluar dari sana.


"Berdirilah!" perintah Argha.


Meskipun bingung dengan perintah orang asing itu, tapi Putri tetap berdiri.


Argha kemudian menepuk-nepuk baju Putri yang terlihat kotor di beberapa tempat.


"Nah, sekarang, Putri sudah terlihat cantik. Jadi tidak usah menangis lagi, ya. Kalau menangis terus, nanti wajah Putri berubah jelek karena tertutup mata yang semakin bengkak," gurau Argha.


Putri tersenyum mendengar perkataan orang asing itu.


"Rumah Putri di mana? Ayo, Om antar pulang!" Argha menawarkan diri untuk mengantar anak kecil itu pulang.


Putri menggelengkan kepalanya. "Putri nggak mau pulang, Om," jawabnya.


"Loh, kenapa?" tanya Argha.


"Putri takut mama marah karena Putri sudah menghilangkan gelang pemberian mama," jawab Putri.


"Kalau begitu, ayo kita cari gelang Putri!" ajak Argha.

__ADS_1


"Benarkah? Om mau bantu Putri mencari gelang itu?" tanya Putri dengan mata berbinar.


"Tentu saja. Coba ceritakan seperti apa bentuk gelangnya. Biar om bisa fokus mencarinya," kata Argha.


"Gelang rantai yang di kedua ujungnya terdapat bandul mainan berbentuk burung merpati, om," jawab Putri.


Argha terkejut mendengar jawaban Putri. Kenapa gambaran gelang Putri sama persis dengan gelang yang pernah aku berikan kepada Na? batin Argha.


"Om ... kok Om malah melamun?" tanya Putri membuyarkan lamunan Argha.


"Ah, tidak apa-apa, Om hanya sedang membayangkan bentuk gelang itu saja. Ya sudah, ayo kita cari! Tadi Putri mainnya di sebelah mana?" tanya Argha.


"Di sana, Om!" tunjuk Putri.


"Ya sudah, Om akan cari di sebelah sana dulu, ya," kata Argha menunjuk tempat yang tadi Putri tunjukkan.


Argha berdiri dan mulai mencari benda tersebut di tempat yang ditunjukkan oleh Putri. Dia mulai sibuk berjongkok dan menyibakan rerumputan untuk mencari gelang itu.


"Coba Putri cari di sekitar pohonnya, ya!" teriak Argha.


"Baik, Om!" Putri menjawab dengan berteriak pula.


Akhirnya, Mereka berdua pun sibuk mencari gelang yang hilang. Lama mencari, tapi gelang itu tak kunjung ketemu. Karena merasa lelah, mereka pun memutuskan untuk beristirahat sejenak.


Argha melirik jam tangannya. "Sudah hampir jam satu, Put. Sebaiknya kamu pulang, atau orang tua kamu akan merasa khawatir karena kamu belum pulang," ucap Argha.


"Tapi Putri takut, Om," Putri kembali merengek.


"Tidak usah takut. Om akan antar kamu pulang. Biar Om yang berbicara sama mama kamu. Dan kita akan kembali mencari gelang itu esok hari. Bagaimana, setuju?" ucap Argha.


Putri terlihat berpikir. Lalu tak lama kemudian dia menganggukkan kepalanya.


"Kalau begitu, ayo, Om antar kamu pulang!" ajak Argha.


"Sebentar lagi ya, Om. Putri capek jalan kakinya," ucap Putri.


Argha berjongkok membelakangi Putri. "Naiklah, biar Om gendong!" ucapnya.


"Asyik!"


Secepat kilat, Putri melompat dan melingkarkan kedua tangannya di leher Argha.


"Oke Tuan Putri, kapalnya akan segera terbang," gurau Argha.


"Yeaaaahhhh ...."


Bersambung

__ADS_1


Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2