
Heru mengemasi pakaiannya. Hari ini juga dia memutuskan untuk kembali ke rumah orang tuanya. Heru sengaja tidak berpamitan kepada Gintani dan Putri. Dia takut hatinya akan kembali lemah melihat kedua orang yang disayanginya.
"Tolong jaga rumah baik-baik ya, Mak!" ucap Heru kepada Mak Ijah.
Wanita renta itu pun hanya mengangguk dengan berurai air mata.
Setelah melihat rumahnya untuk beberapa saat, akhirnya Heru memasuki mobil dan melajukannya membelah jalanan kota.
🍀🍀🍀
"Baiklah anak-anak, tiga hari lagi sekolah kita akan mengadakan acara Cooking with My Dad. Nah dalam acara itu, nanti masing-masing dari kalian akan diminta untuk memasak bersama papanya. Apa kalian senang?" ucap bu guru Ika. Guru Putri di sekolahnya.
Semua anak bersorak gembira. Tak terkecuali dengan Putri. Dia sangat senang dengan rencana acara yang diadakan sekolahnya. Putri senang, karena dengan begini, dia memiliki waktu untuk bersama dengan ayahnya.
Pulang sekolah aku bakalan minta Uteng untuk mengantarkan aku ke kantornya papa, ah, batin Putri.
"Apa kalian sudah mengerti?" Bu Ika kembali bertanya.
"Mengerti, bu," jawab murid-murid serentak.
"Baiklah, karena semuanya sudah mengerti, sekarang kita akan berdo'a dulu sebelum pulang," ucap ibu Ika lagi.
Semua anak pun melafalkan do'a sebelum pulang.
.
.
.
"Uteng!" teriak Putri seraya berlari menghampiri pengasuhnya.
Mina merentangkan tangannya untuk memeluk Putri. Sudah menjadi kebiasaan mereka untuk selalu berpelukan pada saat bertemu.
"Uteng, apa hari ini Uteng bisa mengantarkan Putri ke tempat kerjanya papa?" tanya Putri.
Mina mengernyitkan keningnya. "Memangnya ada apa Non Putri mau ke sana?" tanya Mina.
"Putri mau minta tolong papa untuk acara di sekolah Putri," jawab Putri.
"Oh. Ya sudah, ayo, Uteng antar ke kantor papa!" ajak Mina.
Putri bersorak gembira. Dia segera menaiki motor pengasuhnya.
Mina menyalakan motornya dan berlalu pergi meninggalkan sekolah Putri. Setelah tiga puluh menit perjalanan, akhirnya mereka sampai di kantor milik Heru. Diantarkan pak satpam, Mina dan Putri memasuki ruang kerja Heru.
"Permisi Tuan, ada tamu," ucap pak satpam begitu tiba di ruang kerja atasannya.
__ADS_1
"Siapa, Pak?" tanya Alex.
"Mina dan Putri, katanya," jawab pak satpam.
"Oh, suruh mereka masuk!" perintah Alex.
Satpam itu pun keluar dan memerintahkan Mina dan Putri masuk. Tak lama berselang, mereka pun memasuki ruangan Heru.
"Om Al!" Putri berteriak seraya menghambur ke arah Alex.
Alex segera merangkul gadis kecil itu dan menggendongnya. "Ada apa Putri kemari?" tanya Alex.
"Putri mau ketemu papa Heru, om," jawab Putri.
Alex pun tertegun mendengar jawaban Putri. Untuk sejenak, dia diam dan memikirkan apa yang harus dia katakan terhadap Putri.
"Om, kok bengong?" tegur Putri.
Teguran Putri seketika membuyarkan lamunan Alex. Dia kemudian membawa Putri ke sofa dan mendudukkannya di sana. "Putri mau minum apa?" tawar Alex.
Putri menggelengkan kepalanya. "Putri enggak mau minum apa-apa, Om. Putri enggak haus," jawab Putri.
Alex pun menghela napasnya dan duduk di samping Putri.
"Di mana papa, Om? Apa papa sedang berada di gudang?" tanya Putri.
"Sebenarnya, Papa Heru sudah tidak bekerja di pabrik ini lagi," jawab Alex.
Putri terpaku mendengar jawaban Alex. Dia tidak mengerti apa maksud dari orang yang sudah dia anggap sebagai om-nya.
"Maksud Om, papa sedang pulang?" tanya Putri lagi.
Alex mengangguk.
"Oh ya sudah. Nanti kalau sudah pulang, tolong bilang papa, kalau Putri nyari papa ya, Om," jawab Putri.
Alex sudah tak kuasa menatap mata polos nan meneduhkan itu.
"Sebenarnya, papa Heru tidak akan pulang lagi ke kota ini, Put," ucap Alex tak ingin memberikan harapan palsu kepada Putri.
Bukan hanya Putri yang terkejut dengan perkataan Alex. Mina pun sama terkejutnya dengan Putri.
"Tapi kenapa, Om?" tanya Putri yang mulai terdengar parau karena menahan isak tangisnya.
"Papa Heru ... beliau ada urusan penting yang memaksa beliau untuk tetap tinggal di sana bersama keluarganya," jawab Alex.
"Tapi, bagaimana dengan Putri? Bagaimana dengan mama? Apa kami tidak pernah penting bagi papa Heru? Bukankah Putri dan mama juga keluarga papa Heru? Lalu kenapa papa Heru pergi tanpa kami? Kenapa papa Heru lebih memilih keluarga di sana dari pada Putri sana mama yang tinggal di sini? Kenapa Putri sama mama tidak diajak?" tangis Putri pun pecah seketika.
__ADS_1
Alex hanya bisa merangkul tubuh mungil itu untuk mencoba menenangkannya. Setelah puas menangis, akhirnya Mina mengajak Putri pulang.
"Tolong jaga putri ya Min!" pinta Alex.
"Iya, Pak," jawab Mina.
.
.
.
Sepanjang perjalanan, Putri hanya bisa diam. Tak ada lagi celotehan ramai keluar dari mulutnya. Tiba di rumah pun, Putri masih tetap diam. Dia berlalu begitu saja tanpa menghiraukan keberadaan Gintani yang sedang menyapanya.
"Putri kenapa, Min?" tanya Gintani.
"Begini Nyonya, ...." Mina menceritakan pertemuan Putri dengan Alex. Dia juga menceritakan kembali apa yang dia dengar dari Alex tentang Heru.
Kalau boleh jujur, hati Gintani pun terasa sakit. Tapi dia mencoba untuk tetap baik-baik saja demi melanjutkan hidupnya.
Keesokan harinya, Mina memasuki kamar Putri setelah pukul 6 pagi, Putri belum juga keluar dari kamarnya. Mina begitu terkejut saat melihat tubuh Putri menggigil. Mina pun segera mendekati Putri dan meraba keningnya.
"Ya Tuhan, dahinya panas sekali," gumam Mina.
Dia kemudian mulai meraba beberapa bagian tubuh Putri. Tubuhnya juga terasa panas. "Apa Non Putri demam?" gumam Mina, dia kemudian segera mengambil kotak obat di laci nakas untuk mengambil thermometer gun.
Mina mulai mengukur suhu tubuh putri. "40 derajat," gumam Mina. Ya Tuhan ... ternyata dia demam, ucap mina dalam hati. Mina pun segera berlari ke luar untuk memberitahukan kendaraan Putri kepada Gintani
"Ada apa Min? Kok seperti dikejar hantu begitu?" tanya Gintani kepada Mina.
"Itu ... anu Nyonya ... Nyonya, ... Itu, non Putri sakit," ucap minta terbata.
Gintani begitu kaget mendengarnya. Dia kemudian berlari ke kamar putri. Dan, benar saja. Begitu dia tiba di kamar, dia melihat sekujur tubuh Putri menggigil hebat. Gemeletuk giginya bahkan bisa Gintani dengar. Dengan langkah gemetar, Gintani menghampiri Putri.
"Putri, Sayang, apa kamu baik-baik saja, Nak?" tanya Gintani.
Namun Putri tidak menjawab. Tubuhnya masih terus menggigil.
"Putri, buka matanya Sayang, jangan membuat Mama khawatir. Kita makan, lalu minum obat, ya?" ucap Gintani lagi.
Namun, Putri sama sekali tak menjawab. Pergerakan tubuhnya semakin melambat. Hingga perlahan mulai tak terlihat. Sepertinya, Putri pingsan. Gintani pun panik. Dia segera memerintahkan Mina untuk mengeluarkan motornya.
"Ayo, kita bawa Putri ke rumah sakit Min?"
Bersambung
Jangan lupa like vote n komennya yaa 🤗🙏
__ADS_1