Takdir Gintani

Takdir Gintani
Ceraikan Dia!


__ADS_3

Ilona tampak gusar di depan meja riasnya. Sudah satu minggu lebih, tapi dia tidak mendapatkan kabar apa pun tentang hubungan Argha dan Gintani. Terlebih lagi Nando, sejak terakhir mengirimkan foto, nomor Nando sudah tidak bisa dihubungi lagi.


"Ish, aku bisa gila jika diam di sini terus," gerutu Ilona sambil melempar alat make up-nya.


Untuk sejenak dia berpikir tentang apa yang harus dia lakukan agar bisa mengetahui keadaan Argha. Ilona pun meminta perawatnya untuk menghubungi Argha.


"Maaf, Nona. Tapi nomor ponsel Tuan Argha tidak aktif," kata perawat itu saat diminta Ilona menghubungi Argha.


"Jangan bohong kamu!" teriak Ilona menatap tajam kepada perawat itu.


"Untuk apa saya berbohong, Nona. Nomor ponsel Tuan Argha memang sedang tidak aktif. Nona Ilona bisa mencobanya sendiri," jawab perawat itu yang merasa kesal dengan tuduhan Ilona.


Ilona menyambar ponsel milik perawat tadi. Dia kemudian mulai menekan nomor telepon Argha. Dan memang benar apa yang dikatakan perawatnya, nomor ponsel Argha tidak bisa dihubungi. Dengan wajah masam, Ilona kembali menyerahkan benda pipih berwarna hitam itu kepada sang perawat.


🍀🍀🍀


Sementara itu, usaha yang dilakukan oleh Heru ternyata berkembang cukup pesat. Pabrik itu menjadi satu-satunya pemasok bahan makanan instan untuk beberapa restoran dan kafe yang ada di daerah tersebut. Bahkan para pedagang makanan pun tidak perlu kesusahan lagi memcari bahan dengan pergi ke pasar yang jauh dari desanya. Kini, mereka hanya tinggal mengunjungi pabrik tersebut dan membeli bahan olahan makanan instan itu dengan harga yang cukup terjangkau. Heru tersenyum puas melihat keberhasilan yang telah dia capai.


"Oh iya, Lex, untuk beberapa waktu aku titip pabrik dulu, bisa, 'kan?" tanya Heru kepada Alex, asistennya.


"Memangnya kamu mau ke mana, Her?" tanya Alex, heran.


"Bunda menyuruhku pulang, katanya ada hal penting yang harus beliau bicarakan," jawab Heru.


"Sepertinya hal yang sangat serius, Her. Terbukti jika beliau hanya akan bicara kalau kamu pulang," ucap Alex.


"Hmm, sepertinya begitu. Semoga saja ini bukan tentang wanita lagi," gumam Heru.


Alex tersenyum. "Orang tua pasti selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, Her," ucap Alex menepuk pundak Heru.


"Ya, aku rasa begitu. Tapi, entah kenapa aku merasa belum siap saja jika dijodohkan," jawab Heru.


"Hehehe, jangan terlalu berprasangka buruk dulu, mungkin mereka hanya rindu saja sama anaknya. Secara, kamu, 'kan sudah cukup lama tinggal di sini." Alex mengemukakan pendapatnya.


"Ya, semoga saja hanya sekedar rindu, bukan urusan yang lainnya," ujar Heru, lirih.

__ADS_1


Alex hanya menggelengkan kepalanya melihat sikap Heru yang overthinking.


🍀🍀🍀


Sementara itu di tempat lain. Matahari sudah mulai meninggi, tetapi Gintani masih enggan beranjak dari tempat tidurnya. Dia malah menarik selimut hingga menutupi seluruh tubuhnya. Ih, kenapa rasanya dingin sekali, batin Gintani dalam hatinya. Mungkin karena sekarang dia tinggal di daerah pegunungan, jadi cuacanya terasa dingin.


"Gintani sudah bangun, San?" tanya Kakek Wira kepada Susan, asisten rumah tangganya.


"Belum, Pak. Tadi sudah saya bangunkan, tapi Neng Gintani malah menarik selimutnya kembali," jawab Bik Susan seraya tersenyum tipis.


"Benarkah? Ya sudah, biar saya saja yang membangunkan dia," ucap Kakek Wira.


Kakek Wira kemudian pergi ke kamar Gintani. Dia pun mengetuk pintu kamar Gintani.


"Nak, apa kamu sudah bangun? Boleh Kakek masuk?" tanya Kakek Wira.


Ceklek!


Pintu terbuka lebar, tampak Gintani berdiri di hadapan Kakek Wira.


"Kakek masuk saja, tapi maaf, Gintan mau ke kamar mandi dulu, Gin ... humph...."


"Hoeeekk.... Hoeeekkkk...."


Gintani memuntahkan cairan bening yang terasa asam dari mulutnya. Wajahnya terlihat pucat dan tubuhnya terasa lemas. "Ish, ada apa dengan badanku. Kenapa akhir-akhir ini aku merasa lemas. Kepalaku sering pusing, perutku terasa mual. Apa asam lambungku naik?" gumam Gintani seraya membasahi mulutnya yang terasa pahit dengan air.


Puas mengeluarkan isi perutnya, Gintani pun keluar dari kamar mandi. Tampak Kakek Wira telah duduk di kursi ruang makan.


"Kamu kenapa, Nak? Wajah kamu, kok pucat begitu, apa kamu sakit?" tanya Kakek Wira merasa cemas.


"Tidak apa-apa, Kek. Mungkin maag Gintani lagi kambuh," jawab Gintani.


"Ya sudah, ayo cepat makan! Setelah itu minta tolong Susan untuk membelikan obat maag ke apotek," ucap Kakek Wira.


Gintani mengangguk. Dia mulai menyendok nasi dan lauk pauknya. Namun saat Gintani mendekatkan nasi itu ke mulutnya, bau menyengat menyeruak melalui indera penciumannya. Bau yang membuat perut Gintani kembali bergejolak. Gintani pun kembali berlari ke kamar mandi. Tanpa ampun, cairan bening itu kembali dia muntahkan dari mulutnya.

__ADS_1


Kakek wira tampak cemas mendengar Gintani muntah-muntah di dalam kamar mandi. "Apa penyakitnya separah itu, sampai tubuhnya tak bisa menerima asupan makanan?" gumam Kakek Wira, merasa heran.


"Maaf Pak, sepertinya Neng Gintani muntah-muntah bukan karena asam lambungnya sedang naik," ucap Bik Susan seraya menyodorkan segelas air putih ke arah Kakek Wira.


"Lantas?" tanya Kakek Wira semakin heran.


"Sepertinya Neng Gintani sedang hamil, Pak," jawab Bik Susan.


"A-Apa maksud kamu, San?" Kakek Wira cukup terkejut mendengar pernyataan Bik Susan.


"Iya, Pak. Dilihat dari gejalanya, sepertinya Neng Gintani memang sedang mengandung," ucap Bik Susan mencoba meyakinkan majikannya.


"Jangan ngaco kamu, San!" tegur Kakek Wira.


"Euleu, ari si Bapak, sok tidak percaya sama Susan teh. Coba ya, nanti sore Susan bawa Neng Gintani ke bidan Entin," jawab Bik Susan.


"Bidan Entin?" Kakek Wira mengulang perkataan Bik Susan.


"Iya, bidan Entin? Tetangga kita yang di depan rumah itu. Tuh, dari sini juga kelihatan rumahnya atuh, Pak. Kalau jam segini, dia praktik di puskesmas, tapi kalau sore hari, dia baru praktik di rumahnya," jawab Bik Susan sambil menunjukkan rumah bercat putih yang berada di depan rumah Kakek Wira.


Kakek wira terdiam. Benarkah Gintani hamil? batinnya.


🍀🍀🍀


Seminggu sudah Argha mengurung dirinya di kamar. Wajah dan tubuhnya benar-benar sudah tidak terurus. Kumis dan jambang tipis mulai tumbuh. Berat badannya pun ikut menyusut hingga dia terlihat sangat kurus.


"Ayolah Nak, jangan siksa dirimu seperti ini!" ucap Tuan Jaya yang merasa khawatir dengan kondisi putranya.


"Papa kamu benar, Argha. Kamu harus bangkit. Wanita itu bukan hanya sekedar Gintani saja. Lupakan dia dan ciptakan kebahagiaan kamu sendiri!" timpal Nyonya Rosma.


"Apa yang dikatakan Mama benar, Nak. Bangkitlah dan mulai kembali hidupmu. Papa tidak sanggup melihat kamu terpuruk seperti ini. Ayolah Ar, kamu laki-laki. Kamu harus kuat." Tuan Jaya menyemangati anaknya.


"Tapi gimana, Pa? Gimana caranya Argha memulai hidup yang baru, sedangkan Gintani dan semua pengkhianatannya masih terbayang jelas dalam benak Argha," jawab Argha, lirih.


"Ceraikan dia!"

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa like, vote n komennya 🙏🤗


__ADS_2