
Na...., apa penantian kak Adi akan berakhir sampai di sini?? Batin Argha.
Selepas meluapkan isi hatinya, tuan Jaya pergi meninggalkan Argha di kamarnya. Sejenak Argha masih duduk bergeming di atas sofa. Bayangan seorang anak kecil yang selalu tersenyum ceria, kembali melintas dalam benaknya. "Na..., aku sangat merindukanmu..." gumamnya.
🍀🍀🍀
Malam semakin larut, namun Gintani masih belum bisa memejamkan matanya. Pikirannya kembali teringat akan pertemuannya dengan lelaki itu, tadi siang.
Apa yang harus aku lakukan ? Aku tidak ingin menikah dengan pria sombong itu. Tapi aku juga tidak bisa menolak keinginan kakek. Ya Tuhan, haruskah aku merutuki takdirku yang begitu buruk ? Batinnya.
Lelah membolak-balikan tubuhnya, akhirnya Gintani pun mulai terlelap ke alam mimpinya.
Sementara itu, di sebuah kamar hotel di lantai 5. Seorang pemuda masih terus termenung memikirkan nasibnya. Nasib yang akan membawanya pada perubahan takdir cintanya. Takdir cinta yang ia yakini akan berlabuh di hati gadis kecilnya, kini mulai goyah.
Enam belas tahun hidup dalam sebuah pencarian yang tak pernah membuahkan hasil. Kini yang bisa ia lakukan hanyalah menanti sebuah janji. Tapi, haruskah ia mengakhiri penantian itu hanya karena satu kesalahannya ?
Bodoh.. ! Seharusnya aku tidak terbawa emosi ? Seandainya aku bisa memaafkan tamparan gadis itu, aku yakin semuanya tidak akan berakhir seperti ini ? rutuk pemuda itu dalam hatinya.
Sejenak dia memejamkan matanya. Namun sejurus kemudian, senyum menyeringai terukir dari kedua sudut bibir pemuda itu.
"Hmm, aku tahu apa yang harus aku lakukan ?" gumamnya.
Dia kemudian mengeluarkan ponselnya dari saku celana, dan mulai mengetikkan sesuatu. Setelah beberapa menit, dia melemparkan ponselnya di atas kasur, seraya menghempaskan tubuhnya dengan tersenyum puas di atas ranjang itu.
Satu jam kemudian.
Ting...
Sebuah notifikasi pesan WhatsApp, berbunyi. Argha mengusap layar ponselnya.
Bos, draft perjanjian yang bos minta, sudah saya kirim lewat e-mail. Bos bisa mengeceknya.
Senyum Argha semakin lebar setelah membaca pesan dari asistennya itu. Malam ini, akhirnya dia bisa tertidur dengan lelap.
🍀🍀🍀
Keesokan harinya. Dengan beralasan ingin saling mengenal, Argha meminta izin kakek Wira untuk mengajak Gintani pergi keluar. Tentu saja kakek Wira merasa senang dengan niat baik Argha. Kakek Wira pun mengizinkan Argha untuk mengajak cucunya keluar rumah.
Argha membawa Gintani ke sebuah coffee shop. Tiba di sana, dia pun segera memarkirkan mobilnya.
__ADS_1
Argha mengajak Gintani memasuki sebuah private room. Ternyata, di sana telah tersaji berbagai jenis makanan dan minuman yang sebelumnya telah dipesan Argha. Tiba di tempat itu, Argha mempersilakan Gintani untuk duduk.
Dengan masih berada dalam mode diam, Gintani pun mendaratkan bokongnya di atas bantal lesehan.
"Makan ?" tawar Argha.
Gintani hanya menggelengkan kepalanya. Untuk sejenak mereka hanya saling membisu. Hingga akhirnya, Argha menyodorkan sesuatu di atas meja ke arah Gintani.
"Apa ini ?" tanya Gintani, sedikit mengerutkan keningnya.
"Buka dan bacalah !" perintah Argha.
Meski enggan, tapi Gintani ingin segera mengakhiri pertemuannya dengan laki-laki yang tengah duduk bersila di hadapannya.
Gintani meraih map berwarna merah itu kemudian membukanya. Matanya seketika terbelalak melihat kalimat yang dicetak tebal dengan ukuran font yang cukup besar.
SURAT PERJANJIAN
Bahwa yang bertanda tangan di bawah ini
Nama : Argha Putra Adisastra
Pekerjaan : CEO APA Architecture
Sebagai pihak pertama.
Nama : Gintania Nur'aini
Alamat : Tasikmalaya
Pekerjaan : -
Sebagai pihak kedua.
Telah sepakat untuk mengadakan sebuah pernikahan dengan perjanjian sebagai berikut :
Pertama : Pernikahan dilakukan atas kesadaran kedua belah pihak tanpa ada unsur paksaan dari pihak manapun.
Kedua : Pernikahan hanya akan berlangsung selama satu setengah tahun, atau hingga pihak pertama telah menemukan cinta sejatinya.
__ADS_1
Ketiga : Selama menjalani pernikahan, kedua belah pihak sepakat untuk tidak akan mencampuri urusan pribadi masing-masing.
Keempat : Pihak pertama akan melakukan kewajibannya sebagai suami untuk menafkahi lahir pihak kedua, namun tidak menafkahi bathin.
Kelima : Segala perkataan dari pihak pertama, itu merupakan perintah mutlak bagi pihak kedua.
Tasikmalaya, 6 Oktober 2020
Ttd
Pihak pertama
Argha Putra Adisastra
Pihak kedua
Gintania Nur'aini
Gintani memejamkan matanya setelah membaca surat perjanjian sepihak yang dibuat oleh calon suaminya sendiri. Lelah....! Hanya itu yang Gintani rasakan untuk saat ini. Dia sudah lelah dengan semua perkara dalam hidupnya. Tanpa berpikir panjang, Gintani pun menadahkan tangannya.
"Mana ballpoint nya?" tanya Gintani.
"Kau tidak ingin menambahkan atau pun mengurangi point-pointnya ?" Argha balik bertanya.
"Aku rasa itu tidak perlu. Toh pernikahan ini hanya untuk satu tahun setengah." jawab Gintani, dingin.
Sakit...., ada rasa sakit menyelinap di hati Argha saat Gintani mengatakan umur pernikahan yang hendak mereka jalani.
"Apa kau tidak ingin bertanya kenapa aku melakukan semua itu ?" tanya Argha lagi.
"Bukan urusanku !" jawab Gintani singkat.
Argha pun menyerah, dia kemudian memberikan ballpoint kepada Gintani.
Tanpa banyak bicara, Gintani segera menandatangani surat perjanjian itu.
Bersambung....
Jangan lupa like, vote n komennya yaaaa
__ADS_1
Makasih