
Ilona terdiam mendengar semua ucapan Argha. Dia benar-benar kecewa, karena ternyata kenyataan tidak sesuai dengan ekspektasinya selama ini. Jadi untuk apa aku melakukan semua ini jika aku tidak bisa menggapaimu kembali?
"Ish...!" Ilona sedikit membungkuk merasakan sakit di bagian bawah perutnya. Namun rasa sakit itu tidak sebanding dengan rasa sakit yang menyerang hatinya.
Aku tidak ingin berpisah dari Kak Argha. Aku sudah sangat memujanya sejak kecil. Meski dia tidak pernah memperhatikan aku, tapi aku selalu memperhatikan dia. Bahkan aku sudah meninggalkan kakek dan nenek demi untuk mengikutinya. Tidak, aku tidak mau berpisah lagi dengan Kak Argha. Apa pun akan aku lakukan demi hidup bersamanya, sekalipun aku harus menjadi istri keduanya, Aku ikhlas, batin Ilona.
"Kamu? Kenapa kamu selalu mengganggunya, hah? Apa dia pernah mengganggu kamu dan teman-temanmu? Apa kamu tidak merasa kasihan pada gadis kecil itu?"
Tangan kecil namun kekar mencengkeram kedua rahang Ilona kecil. Tatapan matanya yang tajam seperti mata burung elang, membuat Ilona merasakan desiran aneh di usianya yang baru 7 tahun. Ilona seolah terhipnotis oleh sinar bening itu. Saat itu juga Ilona mengklaim jika anak laki-laki yang tengah mencengkeramnya adalah takdir jodohnya.
Ilona yang pada dasarnya seorang anak yang sangat cerdas, mulai menyelidiki tentang anak laki-laki yang terpaut tiga tahun lebih tua darinya. Hatinya kecewa saat menyadari jika anak laki-laki itu tak pernah lagi muncul di bukit belakang panti asuhan milik neneknya.
Akhirnya, setelah lulus SD, Ilona memutuskan untuk kembali ke kota kelahirannya. Siapa sangka jika dia bisa kembali bertemu dengan lelaki pujaannya. Ya, Ilona melanjutkan pendidikannya di sebuah SMP satu atap tempat Argha melanjutkan pendidikan di tingkat atas. Sejak saat itu, berbagai cara dia lakukan untuk mendekati sang pujaan hati.
"Ish...!" Ilona kembali meringis.
"Kamu kenapa, Na?" tanya Argha.
"Aku...aku tidak apa-apa," jawab Ilona.
Argha terkejut mendapati wajah Ilona yang kesakitan. Bulir keringat memenuhi kening Ilona. "Berbaringlah!" perintah Argha.
Argha menaruh kotak obat ke dalam laci. Dia mulai menyelimuti Ilona. "Aku panggilkan dokter ya, Na?" ucap Argha.
Ilona menggelengkan kepalanya, lemah. "Tidak Kak, aku tidak ingin pergi ke dokter. Bisakah Kakak menemani aku di sini?" pinta Ilona.
"Ta-tapi Na..!"
"Kakak aku mohon! Setidaknya sampai aku tertidur. Kakak boleh pergi jika aku sudah tidur. Aku mohon Kak, aku takut! Jangan tinggalkan aku!" pinta Ilona memelas. Ini adalah jurus terakhir yang dia miliki. Dan jurus ini selalu menjadi jurus andalannya karena Argha tak pernah bisa menolak tatapan sayu milik Ilona.
"Baiklah, tapi izinkan Kakak membawa ponsel Kakak yang tertinggal di mobil, ya? Kakak hendak menghubungi istri Kakak dulu."
Meskipun tampak ragu, namun Ilona terpaksa mengizinkannya. Kali ini, Ilona harus bermain cantik untuk bisa mendapatkan hati Argha.
.
.
.
Argha mendengus kesal mendapati ponselnya telah kehabisan daya. Dia semakin kesal karena menyadari jika dia pun tidak membawa charger ponsel di laci mobil. Kembali Argha membanting benda tak berdosa itu. Dia pun naik lagi ke apartemennya Ilona.
"Na, boleh aku pinjam ponselmu?" tanya Argha.
Ilona mengernyitkan keningnya.
"Batrei ponselku mati, dan aku tidak membawa charger," jawab Argha.
"Oh."
Ilona meraih ponselnya yang tergeletak di atas nakas. Dia kemudian menyerahkannya kepada Argha.
Argha menekan keypad dan memasukkan nomor ponsel Gintani. Beberapa detik menunggu, namun ponsel Gintani selalu berada di luar jangkauan. Argha kembali menghubungi Gintani, namun hasilnya masih tetap sama. Akhirnya, dengan wajah lesu, Argha mengembalikan ponsel Ilona.
__ADS_1
"Kenapa, Kak?" tanya Ilona yang merasa heran melihat raut wajah Argha.
"Tidak di angkat. Mungkin dia sedang di kamar mandi," ucap Argha berhusnudzon.
🍀🍀🍀
Waktu terus berlalu, matahari mulai kembali ke peraduanya. Berkali-kali Jessica menghela napasnya saat menyadari tak ada balasan apa pun dari Argha.
"Ish...!"
Jessica seketika mengalihkan pandangannya saat mendengar suara rintihan. "Gintani...!" gumam Jessica. Dia segera menghampiri dan duduk di kursi samping ranjang Gintani.
"Syukurlah kamu sudah sadar, Gin!" ucap Jessica menyentuh tangan Gintani.
Gintani menatap Jessica. Senyum tipis tersungging di bibirnya saat menyadari Jessica baik-baik saja.
"Aku ambilkan minum ya, Gin? Kamu pasti haus."
Gintani menggeleng lemah.
"Mbak, a-apa Mas Argha ta-tahu kalau aku ada di sini?" tanya Gintani terbata-bata.
"Maafkan aku, Gin. Aku sudah memberinya kabar, tapi sampai sekarang, Argha masih belum membuka pesanku."
Gintani tersenyum, "Tidak apa-apa, Mbak. Mungkin Mas Argha masih sibuk," jawab Gintani.
"Selamat malam!" Tiba-tiba seorang dokter muda mengejutkan kedua gadis yang tengah berbincang itu.
"Kamu kenal sama dokter Richard, Gin?" tanya Jessica, heran.
Gintani tersenyum. "Dia putra dari sahabat papah Jaya, Mbak."
"Oh...!" Jessica hanya ber-oh ria seraya menggaruk kepalanya.
"Aku periksa dulu ya, Gin!" ucap dokter Richard seraya memeriksa denyut nadi gintani. Dia juga memperlihatkan hasil CT Scan milik Gintani. Syukurlah, benturannya tidak menimbulkan cedera di dalam, Gin," ujar dokter Richard.
"Apa itu artinya, besok aku sudah bisa pulang?" tanya Gintani.
"Ish Gin, kamu itu baru sadar, kok malah mikirin pulang sih?" sahut Jessica, gemas.
"Aku takut Mas Argha khawatir. Dia sama sekali tidak tahu kejadian ini."
"Oh iya, dok... Apa sudah ada kabar dari Argha? Apa dia sudah membaca pesan kita?" tanya beruntun Jessica.
"Belum, Jes."
"Huh...!" Jessica mendengus kesal.
"Ada apa? Kenapa kalian terlihat kesal?" tanya Gintani heran.
"Sorry, Gin. Tadi aku memberi tahu keadaan kamu ke Argha menggunakan ponsel dokter Richard, karena aku yakin jika argha tidak akan pernah membaca pesan dariku.
"Dan mungkin..."
__ADS_1
Dokter Richard menggantungkan kalimatnya.
"Mungkin?" tanya Jessica, penasaran.
"Mungkin dia juga tidak akan pernah membaca pesan dariku."
"Maksudnya?" tanya Jessica lagi.
Untuk sejenak, dokter Richard terdiam.
"Dok?" Panggilan Jessica membuyarkan lamunan Argha.
"Ada satu hal yang membuat hubungan saya dan Argha kurang baik. Argha sangat membenci saya. Namun, mohon maaf...saya tidak bisa mengatakan alasannya."
"Sudahlah, itu bukan kesalahan kalian! Mungkin memang Mas Argha sedang sibuk saja. Gintan juga sangat berterima kasih atas usaha kalian mengabari suami Gintan."
"Aku kabari ayah Jaya saja, ya!" tawar dokter Richard.
"Tidak usah, Kak! Tidak usah memberi tahu orang rumah. Gintani nggak mau mereka khawatir."
"Tapi, Gin...."
"Nggak apa-apa Kak, Gintan baik-baik saja kok. Lagian, Mas Argha pasti datang. Mungkin sekarang dia sedang lembur saja," ucap Gintani mencoba menghibur dirinya sendiri.
"Ya sudah, aku temani kamu sampai Argha datang." Jessica menawarkan diri.
"Nggak usah Mbak, lebih baik Mbak istirahat saja," tolak Gintani.
"Nggak, Gin! Pokoknya aku bakalan temani kamu sampai suami kamu datang. Titik!" jawab Jessica, ngotot.
"Terserah Mbak saja," jawab Gintani berusaha tersenyum, meski di hatinya terbersit rasa kecewa.
Jessica tersenyum menang.
"Ya sudah, sekarang kamu istirahat lagi ya! Jangan terlalu banyak bergerak, nanti jahitannya lepas," ucap dokter Richard.
Gintani pun mengangguk. Setelah diperiksa, dia kembali memejamkan matanya. Berharap saat membuka mata, suaminya sudah berada di sampingnya.
.
.
.
Menit demi menit berlalu. Karena terbiasa bangun malam, Gintani mengerjapkan matanya. Dia mulai mengedarkan pandangannya untuk melihat keberadaan sang suami. Namun sekali lagi, Gintani harus menelan rasa kecewanya saat dia hanya mendapati Jessica tengah tertidur meringkuk di atas sofa. "Kemana kamu, Mas?"
Bersambung....
Tadinya mo nyoba 4, tapi author sudah sangat mengantuk sekali.
Sampai sini dulu ya gaesss....
Jika berkenan, mohon bantuannya dengan cara like, vote n komen... 🙏🤗
__ADS_1