
Hati Arini hancur mendengar kejujuran sang suami. Ya, tidak bisa dipungkiri jika dia pun sangat menginginkan seorang anak kecil berlarian di tengah ruangan yang sebesar ini. Tapi apa mau dikata, semenjak dokter memvonis dia memiliki penyakit kista, Arini pun sudah pasrah dengan keadaannya. Dia memang sudah sangat bersiap jika suatu hari nanti dia kehilangan sang suami dengan keadaan dia yang tidak sempurna. Tapi tidak dengan cara seperti ini.
Brugh!
Tubuh Arini seketika lemas. Kedua kakinya tak mampu lagi menopang beban tubuhnya. Arini pun terduduk di lantai dengan kedua tangan yang menutupi wajah. Tak ada lagi kekuatan yang tersisa dalam hidupnya. Dia merasa telah hina dan jatuh ke dasar jurang yang paling dalam.
Untuk beberapa saat, keheningan tercipta di antara mereka. Hingga akhirnya, Arini bangkit dan berjalan ke kamarnya. Tiba di kamar, dia membereskan semua pakaian dan memasukannya ke dalam koper yang cukup besar. Beberapa menit kemudian, Arini kembali dengan mendorong koper besar tersebut.
"Mau ke mana kamu, Ar?" tanya Iskandar.
Arini diam, dia melewati Iskandar begitu saja.
"Tunggu Ar, kamu tidak bisa meninggalkan aku begitu saja." Iskandar mengejar Arini dan mencekal lengan Arini.
Arini menghentikan langkahnya. "Jangan hentikan aku, Mas! Aku tidak akan pernah menjadi duri dalam kebahagiaanmu," ucapnya dingin.
"Jangan hukum aku seperti ini, Ar. Aku akui kesalahanku, tapi aku mohon jangan hukum aku seberat ini. Aku tidak akan bisa hidup tanpamu," Iskandar berlutut dan memohon kepada Arini.
"Lalu aku harus apa, Mas? Katakan padaku, apa yang harus aku lakukan? Apa aku harus tinggal di sini dan menyaksikan kebahagiaan kalian sebagai keluarga yang sempurna? Itukah yang kamu inginkan? Haruskah aku terus membiarkan hatiku terluka lagi? Haruskah aku tersenyum di atas semua perih yang kamu torehkan padaku? Begitu? Seperti itukah yang kamu mau?"
"Ar, bu-bukan begitu maksudku? Aku memang sangat menginginkan seorang anak. Tapi aku tidak mencintainya, Ar. Aku tidak pernah mencintai wanita itu, aku hanya mencintaimu. Hanya kamu yang selalu aku mau dalam hidupku."
__ADS_1
Kali ini, pernyataan Iskandar tidak hanya mengejutkan Arini, tapi juga mengejutkan wanita yang tak lain adalah ibu dari anaknya sendiri.
Arini menepuk jidatnya begitu mendengar kata cinta dari seorang pengkhianat cinta.
"Ya Tuhan Mas, egois sekali hatimu. Setega itu kamu mempermainkan hati seorang perempuan. Ingat Mas, anakmu juga perempuan. Apa kamu mau, nasib yang sama harus dia lalui karena keegoisanmu. Karma itu selalu ada, Mas!"
"Tapi itu kenyataannya, Ar. Kenyataan jika aku hanya mencinta kamu," bantah Iskandar.
"Lalu kenapa harus ada dia?" tunjuk Arini pada wanita yang sudah tak berdaya karena mendengar kenyataan jika cintanya bertepuk sebelah tangan.
"Jika kamu mencintai aku, kenapa harus ada dia dalam hidupmu, sampai-sampai anakmu terlahir dari rahimnya. Apa namanya semua itu, Mas?" tanya Arini penuh penekanan.
"Aku khilaf, Ar. Aku benar-benar khilaf, aku hanya_"
Wanita itu memotong kalimat Iskandar. Semakin lama, hatinya semakin sakit karena penolakan Iskandar. Tak ada lagi kata cinta yang keluar dari mulut pria santun itu. Yang ada hanyalah sebuah penolakan yang semakin lama semakin mengiris perasaannya.
"Cukup Mas, aku datang kemari bukan untuk mendengar penolakanmu. Anggap saja, apa yang terjadi antara kita adalah khilaf bagimu, tapi tidak bagiku. Tapi untuk apa semua itu kita ungkit. Aku datang kemari hanya ingin menyerahkan anakmu. Awalnya aku berharap kamu bisa mempertanggungjawabkan semua perbuatanmu. Tapi melihat penolakan Mas, sekarang aku tahu jalan apa yang harus aku ambil," ucap si wanita itu. Dia kemudian mendekati Arini.
"Mbak Arin, maafkan aku yang telah menjadi duri dalam rumah tangga kalian. Maafkan aku yang telah menjadi orang ketiga di antara kalian. Tapi aku mohon, sudilah kiranya Mbak mengasuh anakku. Aku telah diusir dari rumah karena mempertahankan anak itu. Namun aku juga tidak memiliki pekerjaan untuk memenuhi kebutuhan anak itu. Aku sendiri tidak punya tempat untuk berteduh. Aku tidak mau anak itu mengalami kemalangan atas semua kesalahanku. Aku mohon, terimalah dia, Mbak! Aku akan pergi dari kehidupan kalian untuk selamanya. Aku janji aku tidak akan mengusik kehidupan kalian," ucap wanita itu lagi.
Arini bergeming mendengar semua perkataan seorang wanita yang telah membuat hati suaminya berpaling untuk sejenak.
__ADS_1
"Apa jaminannya jika kamu tidak akan mengganggu suamiku lagi?" tanya Arini dingin.
"A-aku akan pergi dari kota ini, dan aku tidak akan pernah menghubungi Mas Iskandar lagi," ucap wanita itu.
Arini terdiam untuk sejenak. Setelah itu dia mengeluarkan selembar cek dari dalam tasnya.
"Tulislah berapa pun nominal yang kamu inginkan. Dan berjanjilah kamu tidak akan pernah menemui anakmu!" ujar Arini seraya melempar selembar cek yang telah ditandatangani ke wajah lusuh wanita itu.
Jennyta menatap tak percaya pada Arini. Dia kemudian berjongkok untuk mengambil cek tersebut. Sejurus kemudian, dia menyerahkan cek itu ke genggaman tangan Arini.
"Mbak, aku datang bukan untuk menjual anakku. Tapi aku menyerahkan dia pada orang yang memiliki kewajiban untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. Jika memang Mbak berniat untuk memberikan aku sedekah, berikan itu untuk mencukupi kebutuhan anakku. Permisi!" ucap Jennyta seraya berlalu pergi untuk meninggalkan pasangan suami istri yang entah akan seperti apa ke depannya.
Hati Jennyta sudah bulat untuk meninggalkan anaknya bersama ayahnya. Bukan karena dia tak menyanyangi putri malangnya, namun karena dia tahu, anak itu tidak akan baik-baik saja jika ikut bersamanya yang kini sebatang kara. Maafkan bunda, Nak! Hanya itu yang mampu dia ucap dalam hati sebelum akhirnya pergi dari kediaman Iskandar.
Tak ada ciuman, tak ada pelukan, tak ada pangkuan terakhir untuk sang bayi yang telah dikandung dan dilahirkannya. Jennyta pergi tanpa ada ucapan perpisahan. Terlebih lagi untuk sebuah tangisan. Semua tangisnya telah hilang saat dia memantapkan hati mengandung dan melahirkan buah cinta yang tak diharapkan keluarga.
Arini kembali ke kamar tamu saat mendengar tangisan bayi. Matanya menatap nanar bayi yang tengah bergerak ke sana kemari karena merasa haus. Jiwa keibuannya menuntun Arini untuk mendekati bayi tersebut. Tangannya terulur untuk mengangkat dan menggendong bayi mungil ke pangkuannya. Tanpa sadar Arini mengeluarkan salah satu bukit kembarnya dan menempelkan puncaknya di mulut mungil milik sang bayi. Naluri alamiah menuntun sang bayi untuk mengisap puncak itu. Meskipun tak ada ASI yang keluar, namun isapan itu membuat Arini menikmati peran ibu seutuhnya. Begitu pula sang bayi, dia tampak nyaman dengan isapan tanpa rasa. Bola matanya yang bening menatap Arini dengan binar yang indah.
Mulai detik ini, kau adalah anakku. Jessica Amanda satu-satunya putri tunggal dari Iskandar dan Arini Amandini," ucap Arini seraya mengecup bayi kecil yang mulai terlelap.
Bersambung
__ADS_1
Jangan lupa like, vote n komennya yaaa... 🙏🤗