
Argha terus melajukan motornya melewati jalan setapak itu. Suasana pedesaan selalu membuat hati Argha merasa damai. Kenangan-kenangan yang dia lalui di desa ini sewaktu kecil, kembali melintas dalam benaknya. Senyum Argha terus mengembang saat mengingat gadis riang yang selalu menggerai rambut panjangnya. Rambut yang berwarna kecoklatan, tampak indah menari-nari saat semilir angin menerpanya.
"Pasti saat ini kamu semakin cantik, Na," gumam Argha saat mengingat pesona gadis kecil yang telah mencuri hatinya.
Jalanan menuju bukit cukup terjal dan menanjak. Argha menitipkan motornya di sebuah warung yang berada di kaki bukit tersebut. Setelah meminta izin untuk menyimpan motornya, Argha pun mulai melangkahkan kakinya menaiki bukit yang penuh kenangan manis bersama sang gadis kecil, pujaannya.
Beberapa menit berlalu. Rasa lelah tak ia hiraukan saat keyakinan seseorang akan menantinya esok hari, tersemat dalam pikiran Argha. "Aku tahu, kamu pasti tidak akan pernah melupakan janji kita, Na." Argha kembali bermonolog. Sepanjang menapaki bebatuan terjal itu, senyum Argha tak pernah hilang. Bayangan gadis kecil yang sedang berlari melompat-lompat seperti seekor kelinci, menemani langkah Argha yang semakin bersemangat.
Namun, seketika senyuman itu sirna saat Argha tiba di puncak bukit. Matanya menangkap bayangan tubuh yang sangat tidak asing baginya. Argha berusaha menepis praduganya. Tidak mungkin wanita itu berada di sini. Lagi pula, untuk apa dia berada di sini? batin Argha.
Wanita itu terlihat sedang menundukkan wajahnya, sehingga Argha tidak bisa melihatnya dengan jelas. Rasa penasaran, menuntun langkah Argha untuk mendekati wanita tersebut. Tiba di dekatnya, Argha begitu terkejut saat melihat jika wanita itu adalah mantan istrinya.
"Kau?! Sedang apa kau di sini?" bentak Argha.
Gintani mendongak. Dia pun tidak kalah terkejutnya. Lelaki yang ingin dia hindari, justru malah bertemu di tempat ini. Ya Tuhan ... takdir apalagi ini, batin Gintani.
Tak ingin terpancing emosi, dengan susah payah Gintani berdiri untuk menghindari Argha.
Argha marah karena merasa tidak dipedulikan oleh Gintani. Terlebih lagi saat dia melihat ada yang berbeda dari tubuh wanita yang pernah mengisi hatinya, Argha semakin geram. Ya, perut buncit Gintani membuat wajah Argha merah padam. Dia murka dan teringat kembali pada kejadian saat dia mendapati Gintani tidur dalam pelukan laki-laki lain.
"Kenapa diam wanita hina? Jawab aku! Sedang apa kamu berada di tempat ini sendirian?" teriak Argha.
Gintani masih tetap tak menghiraukan mantan suaminya. Dia pun mulai melangkahkan kakinya untuk meninggalkan Argha. Berdebat dengan Argha, hanya akan menghabiskan tenaga, pikir Gintani.
Argha semakin tak bisa mengendalikan emosi Dia mulai meraih dan mencengkeram pergelangan tangan Gintani.
"Kenapa Gintan? Apa kamu sedang menunggu selingkuhan kamu? Tapi, ke mana dia? Apa dia meninggalkanmu setelah mengetahui kamu hamil? Cih ... benar-benar menjijikkan! Dasar wanita tidak punya harga diri! Tidak tahu malu! Murahah!" Semua hinaan terlontar dari mulut Argha.
Meskipun hati Gintani terasa panas, tapi dia tidak punya tenaga untuk meladeni ucapan Argha. Gintani hanya mampu meremas dadanya yang terasa sesak.
"Lepaskan aku!" ucap Gintani, dingin.
"Jawab aku! Sedang apa kamu di sini wanita laknat?" Argha kembali meninggikan suaranya.
__ADS_1
"Itu bukan urusanmu!" ucap Gintani menatap Argha dengan sinis.
Brugh!
Argha menghempaskan tangan Gintani dengan kuat, hingga wanita itu kehilangan keseimbangannya dan terjatuh.
"Ish."
Gintani meringis, tapi Argha tidak menghiraukannya. Dengan tergesa-gesa, dia lari menuruni bukit.
Gintani mencoba untuk berdiri. Namun, tiba-tiba perutnya terasa kram. Sejenak, Gintani merasakan cairan hangat keluar dari jalan lahir sang jabang bayi. Cairan itu mengalir menuju pangkal paha dan mulai merembes melewati pakaian yang dikenakannya.
"Da-Darah?" gumam Gintani saat menyadari jika cairan itu adalah darah. Ya Tuhan ... A-Apa aku mengalami pendarahan? A-Apakah aku akan melahirkan? Tapi, bukankah ini belum waktunya? batin Gintani.
Gintani semakin panik saat perutnya kembali kram.
"Aargh ... To-Tolong!"
Gintani berteriak-teriak meminta tolong, tapi tak ada seorang pun yang berlalu lalang di bukit itu. Darah yang keluar dari jalan lahirnya semakin banyak. Mata Gintani mulai berkunang-kunang. Kepalanya terasa berat.
Sementara itu, di jalan setapak yang menuju puncak bukit. Tampak seorang pria sedang berjalan dengan kesusahan.
"Ayolah Heru, hanya tinggal sedikit lagi," ucap pria tersebut yang tak lain adalah Heru.
Tiba di puncak bukit, Heru begitu terkejut melihat seorang gadis tergeletak di tanah.
"Astaghfirullahaladzim!" pekik heru. Dia segera berlari menghampiri gadis itu yang tak lain adalah Gintani.
"Mbak! Apa Mbak tidak apa-apa?" tanya Heru.
Sayup-sayup Gintani mendengar suara seseorang. Gintani membuka matanya, tampak bayangan seorang pria di depan wajahnya.
"Tolong ... selamatkan a-nak sa-ya," ucap Gintani sebelum dia menutup mata.
__ADS_1
Heru tampak panik, terlebih lagi saat dia melihat pakaian wanita itu basah oleh darah. Meminta tolong pun rasanya mustahil, bukit ini terlihat sangat sepi. Heru segera mengangkat tubuh Gintani. Meski terasa berat, tapi dia tidak punya pilihan lain. Ada dua nyawa yang harus dia selamatkan.
Tergopoh-gopoh, Heru menuruni jalanan terjal itu. Keringat yang bercucuran, tidak ia hiraukan. Satu-satunya yang ada dalam pikiran Heru adalah, segera membawa wanita itu ke rumah sakit agar nyawanya tertolong.
"Bertahanlah Mbak, sebentar lagi kita sampai," ucap Heru dengan napas tersengal.
Gintani diam, kehilangan banyak darah membuat dia merasa lemas dan tak punya tenaga untuk menjawab. Jangankan menjawab ucapan pria itu, membuka matanya pun, Gintani tak mampu.
Setelah tiba di bawah, Heru segera membuka mobilnya dan membaringkan Gintani di kursi belakang. Dia kemudian membuka pintu kemudi dan melajukan mobilnya untuk mencari rumah sakit terdekat.
"Bertahan Mbak! Aku mohon, bertahanlah ..." gumam Heru sambil sesekali melirik kaca spion depan untuk melihat keadaan wanita itu. Pikiran Heru semakin kacau saat dia melihat wajah wanita itu pucat pasi dan tidak bergerak.
"Ya Tuhan ... Tolong selamatkan dia...."
🍀🍀🍀
Di Rumah Aki Surya.
Brakk!
Argha membuka pintu kamarnya dengan keras. Kemarahan masih tampak jelas di raut wajahnya. Dia sangat kecewa dan merasa sakit hati ketika melihat Gintani tengah hamil. Wajah laki-laki itu tiba-tiba melintas dalam benak Argha dengan senyuman yang seolah sedang mengejeknya.
"Shitt! Dasar Brengsek! Berani-beraninya dia muncul di hadapanku lagi dengan keadaan seperti itu! Dasar pelacur murahan! Pengkhianat ... Aarghh!"
Bugh!
Bugh!
Bugh!
Argha memukul dinding tembok berulang-ulang, hingga tangannya mulai mengeluarkan darah segar. Dia tidak menyangka jika kepergiannya untuk mengenang masa lalu, justru malah mempertemukan dia dengan mantan istrinya.
Argha benar-benar kesal. Hatinya terbakar api cemburu saat melihat Gintani tengah hamil. Dia pun mulai nmerutuki pertemuannya dengan Gintani. Ya, pertemuan yang selalu menyisakan luka di hatinya, membuat Argha semakin membenci mantan istrinya.
__ADS_1
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🤗🙏