
Sesuai dengan prediksi, konten kali ini pun langsung booming begitu saja. Ratusan ribu subscriber masuk ke dalam akun mereka setiap harinya. Hampir semua media sosial menayangkan konten terbaru mereka. Lagi-lagi, mereka kembali viral di jagat maya.
Gintani bersyukur dia bisa menjadi bagian dari pekerjaan ini. Setidaknya, dengan pembuatan konten ini Gintani bisa menggugah hati para kawula muda untuk mencintai shalawat. Tidak sekedar untuk berjoget ria tak karuan.
Keberhasilan ini terjadi karena sebuah kerja sama tim yang solid. Untuk itu, Gintani pun bersyukur karena sudah diperkenalkan dengan orang-orang yang memang memegang teguh prinsip kerja sama.
"Gimana, Bro? Pestanya jadi, nggak?" tanya salah satu kru bagian kostum kepada Kevin.
"Jadi dong, tunggu saja tanggal mainnya," jawab Kevin.
"Oke, gue tunggu kabar baik dari lo," ucap si kru.
Kevin tersenyum, sejurus kemudian, dia pun menyatukan kedua jari jempol dan telunjuknya hingga menyerupai bulatan kecil. "Oke!" ucap Kevin.
Seminggu kemudian. Kevin bersama Nando pergi ke sebuah restoran yang hendak dia sewa untuk acara pestanya. Ya, Kevin ingin mengadakan pesta kecil-kecilan atas keberhasilan kerja sama mereka dalam pembuatan konten shalawat.
"Ingat ya, aku tidak mau ada alkohol di pestaku kali ini!" tegas Kevin kepada pihak pengelola tempat.
Sang manager sedikit mengerutkan keningnya. Dia merasa heran, bagaimana mungkin seorang foto model terkenal seperti Kevin, menghindari alkohol dalam pesta. Hmm, mustahil! pikir sang manager restoran itu. Namun, bagaimanapun juga, pelanggan adalah raja. Apa pun yang dia inginkan, harus tetap dilaksanakan.
Dua hari kemudian.
"Bagaimana persiapan pestanya?" tanya Kevin kepada Nando.
"Hampir 90 persen rampung, Bro," jawab Nando.
"Hmm, baguslah. Lo hubungi kakak ipar dan katakan soal rencana pesta ini." Kevin memberikan perintah.
"Ish, kenapa harus gue sih? Bukannya lo lebih mengenal dia dengan baik?" jawab Nando mencoba menolak halus perintah sahabatnya.
"Gue sibuk, Bro!" elak Kevin sambil terus mengotak-atik ponselnya.
"Ck!" Nando berdecak kesal, tapi dia tetap melaksanakan perintah temannya.
Nando mengeluarkan ponsel, dia kemudian memilih id name Gintani dalam buku kontaknya. Beberapa menit kemudian, telepon tersambung.
"Assalamu'alaikum, Tan!" sapa Nando.
"Wa'alaikumsalam." Terdengar suara lembut yang selalu menggetarkan hati Nando. "Ada apa Nan?" tanya Gintani.
"Oh, ini ... aku disuruh Kevin untuk memberitahukan tentang acara syukuran konten kita," ucap Nando.
"Baiklah. Kapan pelaksanaannya?" tanya Gintani lagi.
"Hari Sabtu," jawab Nando.
__ADS_1
"Jam berapa?" Gintani kembali bertanya.
"Sekitar jam makan siang. Acaranya sederhana, kok. Ya, hanya sekedar makan-makan saja," jawab Nando.
"Oke, nanti Gintan kabari lagi jika sudah mendapatkan izin dari suami," ucap Gintani.
"Ya sudah, ditunggu kabar baiknya ya, Tan? Makasih atas waktunya. Assalamu'alaikum!" pamit Nando.
"Iya, Insya Allah. Sama-sama, wa'alaikumsalam," jawab Gintani.
Nando kemudian menutup ponselnya setelah tak terdengar suara Gintani di ujung telepon.
"Gimana, Bro?" tanya Kevin yang merasa penasaran akan jawaban Gintani.
"Beres," jawab Nando.
"Jadi, kakak ipar mau datang?" Kevin bertanya lagi.
"Pastinya, dong!" jawab Nando.
"Hmm, baguslah! Sekarang, ayo kita temui anak-anak yang lainnya!" ajak Kevin.
Nando mengangguk. Sejurus kemudian, mereka pun pergi untuk menemui rekan-rekan satu timnya.
🍀🍀🍀
"Ini Bang, sarapannya!" ucap Geisha, adik semata wayangnya.
"Terima kasih, Sha," jawab Alex. "Oh iya, Dendi mana, Sha?" tanya Alex.
Dendi adalah satu-satunya keponakan Alex. Bocah kecil berusia 6 tahun itu memang sangat dekat dengan Alex. Dia menjadi salah satu alasan Alex untuk tinggal di desa. Sejak kecil, Dendi telah kehilangan sosok ayah. Karena itulah Alex memutuskan untuk tinggal di desa dan membantu adiknya untuk merawat Dendi.
"Dendi sedang bermain di rumah tetangga, Bang?" jawab Geisha sambil menyendok nasi dan menaruhnya di piring Alex.
"Apa dia sudah makan?" tanya Alex lagi.
"Hmm, jangan ditanya, Bang. Si gembul itu selalu sarapan sebelum keluar rumah," jawab Geisha sambil tersenyum.
Alex pun tersenyum mendengar jawaban adiknya.
"Oh, iya Bang, aku dengar di kampung kita ini akan didirikan sebuah pabrik," ucap Geisha.
"Benarkah?" tanya Alex.
"Iya." Geisha menjawab sambil menganggukkan kepalanya.
__ADS_1
"Dari mana kamu tahu?" Alex bertanya penuh selidik.
"Tadi, bu RT yang cerita waktu Geisha beli sayuran. Katanya, kemarin ada seorang pemuda kota yang mendatangi pak RT. Pemuda itu meminta izin untuk mendirikan pabrik di kampung kita ini. Jadi dia kembali mengelola pabrik yang telah bangkrut milik orang tuanya. itu loh, Bang, pabrik yang berada di ujung desa." Geisha memberitahukan informasi yang dia dapat kemarin pagi.
"Oh, begitu ya? Apa kamu tahu pabrik apa yang akan di dirikan?" tanya Alex.
"Katanya sih, pabrik olahan makanan instan. Seperti nuget, sosis dan lain-lain," jawab Geisha.
"Waah, peluang yang cukup menjanjikan itu. Apalagi, di sini belum ada pabrik makanan sama sekali."
"Geisha pikir juga begitu. Oh iya, Bang, kalau pabriknya sudah jadi, apa Geisha boleh kerja di sana?" tanya Geisha penuh harap.
Alex menghela napasnya. "Biar Abang yang kerja, Ge. Kamu di rumah saja jagain Dendi," jawab Alex.
"Tapi Geisha nggak enak, Bang. Selama ini, uang tabungan Abang harus habis gara-gara menyambung hidup kami berdua," jawab Geisha, menundukkan kepalanya.
"Lihat Abang, Ge! Berulang kali Abang sudah bilang kalau kamu dan Dendi adalah tanggung jawab Abang. Jangan selalu merasa tidak enak hati, bagaimanapun juga, Abang punya kewajiban penuh atas hidup kamu dan anakmu. Sekali pun kamu memiliki suami kelak, tapi Abang tidak akan pernah melepaskan tanggung jawab Abang. Apa kamu mengerti itu?"
Geisha mengangguk.
"Baguslah. Sekarang makanlah! Setelah itu cari anakmu. Abang nggak mau dia terlalu keasyikan bermain di rumah orang."
"Iya, Bang."
🍀🍀🍀
Setelah mendapatkan izin dari Argha, Gintani pergi menghadiri pesta yang diadakan Kevin dan rekan-rekannya. Pestanya cukup meriah, meskipun hanya dihadiri oleh beberapa orang kru yang terlibat dalam pembuatan konten. Gintani tiba di tempat, setengah jam setelah acara dimulai.
"Maaf ya, terlambat," ucap Gintani.
"Iya, tidak apa-apa kakak ipar," jawab Kevin. "Silakan dinikmati jamuan makannya,Kak!" lanjut Kevin.
Gintani tersenyum, dia lantas menuju meja panjang yang di atasnya terdapat beberapa hidangan kuliner yang menggugah selera. Saat Gintani hendak mengambil makanan, tanpa sengaja seseorang menyenggolnya hingga minuman yang dia pegang, tumpah.
"Eh, maaf... saya tidak sengaja," ucap orang itu.
"Tidak apa-apa," jawab Gintani.
Saat Gintani mendongakkan wajahnya, Gintani begitu terkejut melihat wanita itu.
"Kamu?"
Bersambung
Jangan lupa like, vote n komennya yaa 🙏🤗
__ADS_1