Takdir Gintani

Takdir Gintani
Amatir


__ADS_3

"Jadi itu rencana mu, Jessi ? Baiklah, bermain-mainlah sesuka hatimu ! Dengan senang hati, aku akan melayani mu !” gumam sinis Argha.


Netra tajamnya masih memandangi kepadatan kendaraan yang sedang merayap di jalanan. Bayangan seorang gadis berambut panjang bergelombang kembali menyeruak dalam ingatannya. Argha merogoh dompet di saku belakang celananya. Dia mengambil selembar foto dari dalam dompet tersebut. Senyum tipis kembali terukir di bibirnya. Netranya menggambarkan kerinduan yang teramat sangat kepada gadis yang sedang di tatapnya.



"Hai Na ! Kenapa kau berpakaian seperti itu ?" tanya Argha kecil kepada seorang gadis yang sedang mengenakan sorban hitam putih terlilit di kepala dan sebagian tubuh atasnya.


"He... he..., Ini sebagai ungkapan pembelaan Na, kepada negara Palestina, kak !" ucap Na penuh semangat.


Argha kecil hanya tersenyum mendengar jawaban temannya. "Aku foto ya, Na !" ujarnya seraya mengambil gambar Na yg tampak cantik dengan aksesoris tersebut menggunakan kamera polaroid nya.


"Cetak 2 ya, kak ! Buat, Na satu !" pinta gadis kecil itu.


Argha hanya kembali tersenyum mendengar permintaan gadis kecilnya.


"Na…, aku sangat merindukanmu ! Entah kemana lagi aku harus mencari mu. Setiap sudut kota itu telah aku telusuri, tapi aku tak pernah bisa menemukanmu. Apa kamu tahu Na ! Sekarang aku telah mewujudkan cita-citaku menjadi seorang pemimpin perusahaan. Jika aku bisa menemukanmu sekarang, aku tidak akan menunggumu genap berusia 23 tahun untuk meminang mu ? Berapa lama lagi aku harus menantimu, Na ! Sungguh kak Adi sudah tidak sanggup kalau harus menunggumu selama 2 tahun lagi. Datanglah, Na ! Muncullah di hadapan kak Adi ! Kak Adi benar-benar ingin menjadi pangeran berkuda putihmu. Kak Adi sangat merindukanmu, Na !" gumam pelan Argha. Tanpa sadar, air matanya mulai menggenang di kedua sudut matanya.


“Bos…!”


Seketika lamunan Argha buyar saat mendengar seseorang memanggil namanya. Argha terkejut dan sedikit mengernyitkan dahinya saat mendapati sang asisten telah berdiri di hadapannya.


“Apa kamu tidak bisa mengetuk pintu terlebih dahulu ?" tanya Argha sinis seraya melangkahkan kakinya menuju kursi kebesarannya.


Bram hanya mengikuti Argha seraya menggaruk tengkuknya yang tak gatal. Setelah dia melihat bos nya duduk, Bram pun ikut mendaratkan bokongnya di kursi yang berhadapan dengan meja sang bos.


“Sorry bos ! Saya tadi sudah mengetuk pintu berkali-kali. Tapi bos sama sekali tidak menjawab salam saya. Ya, saya langsung masuk karena takut terjadi sesuatu dengan anda. Tapi rupanya kekhawatiran saya tak beralasan."


“Maksudmu ?”


"Ya, karena nyatanya, bos sedang asyik melamun dengan cinta monyet bos."


“Pluk !"


Sebuah ballpoint mendarat cantik di keningnya Bram.


“Jaga ucapanmu ! Dia bukan cinta monyetku, tapi cinta sejatiku !”


“Iya-iya, terserah anda sajalah, bos !"


Bram akhirnya mengalah, karena berdebat dengan sang arogan, hanya akan membuang waktu dan energinya saja.


“Ngapain ke sini ?” tanya Argha, sinis.


Bram menyerahkan sebuah proposal yang semalam dia dapatkan dari ayahnya.


“Apa ini ?” tanya Argha seraya meraih map berwarna hijau.


"Itu proposal permohonan kerjasama yang diajukan kepada perusahaan om Jaya." jawab Bram seraya menyilangkan kaki kanannya di atas kaki kirinya.


“Kenapa kau serahkan padaku ?” tanya Argha, heran.


“Om Jaya meminta tuan untuk menghandlenya." jawab Bram.


Argha menggerutu, kesal. “Ish, kenapa harus aku? Bukankah hal ini tidak ada sangkut pautnya dengan bisnis kita. Kita ini hanya ahli dalam mendesain gedung, bukan wahana bermain seperti itu. Lagian, kenapa papah melimpahkannya kepadaku ?" ucap Argha, kesal.


“Maaf bos, untuk soal itu aku sendiri tidak tahu .” jawab Bram.


Argha kembali mendengus kesal mendapati sikap ayahnya yang tak pernah bertanya ataupun berdiskusi dengannya dalam mengambil keputusan.


“Bagaimana bos ? apa kau menyetujuinya ?”


“Akan kupelajari. Pergilah !”


“Baiklah, saya permisi !”

__ADS_1


“Tunggu !”


Bram membalikkan badannya.


“Tolong reservasi private room di Z'Dulur restoran untuk nanti malam pukul 20.00 !"


"Siap, bos !"


Meskipun heran dengan perintah tuannya, namun Bram hanya bisa mematuhi keinginan tuannya tanpa berani bertanya.


🍀🍀🍀


Tok…tok…tok...


Terdengar bunyi ketukan pintu dari luar. Gintani pun segera berlari ke depan untuk membukakan pintu rumahnya.


Ceklek !


Pintu terbuka.Tampak tiga orang laki-laki paruh baya dan seorang perempuan berusia sekitar 25 tahunan tengah berdiri di hadapannya. Dua orang laki-laki dan perempuan itu mengenakan seragam dinas lengkap beserta atributnya. Sedangkan yang satunya lagi mengenakan pakaian batik.


“Maaf, cari siapa ya ?" tanya gintani kepada keempat orang tersebut.


“Kami ingin bertemu dengan kakek Wira, apa beliau ada di rumah ?" tanya seorang pria paruh baya yang mengenakan pakaian batik.


Gintani mengenali pria itu sebagai ketua RT di tempatnya.


“Oh, kakek ada di kebun belakang. Sebentar, saya panggilkan dulu !" jawab Gintani.


“Ah tidak usah, nak ! Kami akan langsung saja menemuinya di kebun belakang.” lanjut pak RT.


Gintani hanya tersenyum dan mengangguk. Beberapa menit kemudian, keempat orang itu pun menghilang dari hadapan Gintani. Entah apa yang akan mereka bicarakan dengan sang kakek.


🍀🍀🍀


Tepat pukul 8 malam, Argha tiba di restoran yang telah direservasi oleh asistennnya. Saat dia membuka pintu ruangan pribadi, dia telah melihat Jessica tengah duduk seraya memainkan ponselnya.


Seperti biasanya, Jessica menampakkan senyum mautnya yang dulu sempat membuat Argha tak berdaya.


Jessica memang gadis yang sangat cantik. Berkulit putih dan berambut panjang. Wajahnya yang lugu sempat membuat Argha begitu tergila-gila padanya. Namun ternyata di balik semua keluguan itu, Jessica bukanlah orang yang terlalu sabar untuk menunggu. Kehidupan glamour dan pergaulan bebas di kalangan super model, telah membuat dia pun ingin mencicipi sentuhan seorang pria. Sayangnya, sang kekasih tak mampu memberikan apa yang dia inginkan.


Perselingkuhan terjadi saat Jessica mengetahui jika kekasihnya memiliki cinta yang lain di hatinya. Cinta yang menurutnya sangat konyol.


Saat itu, tanpa sengaja Jessica mendengar pembicaraan Argha dan Bram tentang gadis masa kecilnya. Mungkin memang terlihat konyol, namun Jessica menyadari jika sampai Argha menemukan gadis itu, maka cepat atau lambat, cintanya akan berpaling. Padahal yang sebenarnya terjadi saat itu adalah Argha berniat menghentikan pencariannya terhadap gadis masa kecilnya.


Awalnya Jessika bersikap masa bodoh, karena memang dia mendekati Argha atas perintah tantenya. Meski tak ada cinta, namun Jessica tetaplah seorang wanita yang tak kuasa jika harus melihat pengkhianatan. Tak ingin mengalami sakit hati, Jessica pun menyambut kehangatan dari seorang foto model yang sedang naik daun saat itu. Tak disangka jika permainan yang dia lakukan, menjadi boomerang bagi dirinya.


Tak sanggup menipu hatinya, Jessica pun memutuskan untuk pergi berkarir di negara fashion dunia. Di sana dia semakin tergila-gila dengan dunia malam dan kebebasan. Namun ketika karirnya mulai meredup dan hatinya selalu merasa kesepian meskipun bermalam panjang dengan pria lain, Jessica pun memutuskan untuk kembali ke negaranya. Berharap Jika Argha akan menyambut tangannya kembali. Jessica tahu jika Argha sangat mencintainya.


Namun Hal yang tak pernah di duganya terjadi dengan sangat cepat. Dia tidak pernah menyangka jika Argha akan memata-matai setiap kegiatannya. Pada akhirnya, Jessica harus mengakui jika dia telah kehilangan harapannya.


Ini kesempatan terakhirku untuk mengingatkan Argha terhadap kenangan-kenangan kami. Semoga dengan semua ini, hubungan kami bisa kembali lagi seperti dulu. Batin Jessica.


“Tidak apa-apa sayang, aku juga baru datang, kok !” ucap Jessica seraya menyentuh tangan Argha yang tengah tersilang di meja.


“Mau pesan apa ?” tanya Argha seraya menarik tangannya.


"Aku….aku..seperti biasa saja, sayang !” ucap Jessica tergagap mendapati Argha menolak halus sentuhannya.


“Baiklah !”


Argha menekan tombol room servis. Tak lama kemudian, dua orang pelayan datang ke ruangannya dengan mendorong troli makanan di hadapannya. Salah satu pelayan itu segera menghidangkan makanan tersebut. Setelah selesai, mereka pun pamit undur diri.


Jessica tersenyum saat mendapati makanan yang sama seperi dulu.


“Kamu masih ingat dengan makanan kesukaanku, yang !”

__ADS_1


Argha hanya diam tak menghiraukan ucapan mantan kekasihnya.


"Sampanye ?” tawar Argha seraya menuangkan sebotol sampanye ke dalam kedua gelas tinggi di depannya.


"Wow ! Sejak kapan kamu menyukai minuman seperti itu ?” tanya Jessica tak percaya.


Yang Jessica tahu, Argha tidak pernah menyentuh minuman beralkohol selama berpacaran dengannya.


"Yang pasti, sejak kekasihku meninggalkanku ?” ucap Argha.


Jessica merasa bersalah mendengar jawaban dari Argha. Namun tak dipungkiri, jika hatinya tengah berbunga-bunga mendengar kata kekasihku dari mulut argha. Jessica menyangka jika Argha memiliki kebiasaan buruk karena patah hati ditinggalkannya. Padahal sebenarnya, Argha mulai mengecap nikmatnya alkohol, sejak kejadian dua tahun yang lalu. Perasaan bersalahnya terhadap gadis yang telah dia nodai, membawa Argha pada minuman terkutuk itu. Dia melakukan itu hanya untuk melupakan ringis kesakitan yang selalu terngiang di telinganya.


Tak berapa lama, seorang pelayan pria memasuki ruangan itu. Dia menyuguhkan dua gelas jus di meja. Argha mengernyitkan keningnya karena dia merasa, dia tidak pernah memesan jus.


“Salah room, mas !” ucap Argha datar.


“Itu pesananku, sayang !” jawab Jessica tersenyum. “Terima kasih, mas !” ucapnya lagi.


“Sama-sama, nona ! Permisi !”


Argha tersenyum sinis. Inikah rencanamu, Jessi…? Hmm…amatir sekali…! gumamnya dalam hati.


"Minumlah !” ujar Argha seraya menyerahkan segelas sampanye kepada Jessica.


"Maaf, aku tidak minum sampanye Ar !” tolak halus Jessica.


“Benarkah ? Sejak kapan ?” tanya Argha, santai.


“Aku memang tidak pernah meminum minuman beralkohol." jawab Jessica seraya menundukkan wajahnya.


Argha hanya tersenyum sinis. Hmmm, pandai sekali kamu berbohong, Jessi. Sudah cukup kamu membohongiku 2 tahun yang lalu. Aku tidak akan pernah bisa kamu tipu lagi. Batin Argha.


“Minumlah ! Hormati aku yang sudah memesannya khusus untukmu ! Aku tahu, selama kamu di Paris, kamu dan teman-temanmu sering berpesta minuman kan ? lagipula, bukankah ini malam perayaan perpisahan kita ? Apa kamu tidak ingin merayakannya dengan penuh kesan yang mendalam ?”


"Ma…maksud kamu ?”


"Kita sudah dewasa, Jes ! Aku yakin kamu paham apa yang ku maksud."


Jessica tersipu malu mendengar ucapan Argha. Dia pun menerima gelas sampanye itu dari tangan Argha. Sedikit mengangkatnya dan menempelkannya dengan gelas milik Argha sehingga menimbulkan dentingan.


"Untuk malam ini ? ujar Jessica.


“Untuk malam kita !” jawab Argha


Jessica semakin merona mendengar ucapan mantan kekasihnya. Mereka pun memulai acara makan malamnya sambil sesekali berbincang tentang kenangan mereka di masa lalu. Senyum dan tawa mengiringi makan malam mereka, hingga akhirnya,


Berkali-kali, Argha menggelengkan kepalanya untuk mengusir rasa berat di kepalnya.


“Kamu kenapa, Ar ?”


"Entahlah, tiba-tiba kepalaku rasanya berat sekali !” ujar Argha kembali menggelengkan kepalanya.


Jessica tersenyum, apa obatnya mulai bereaksi ? batin Jessica.


Mata Argha mulai terasa buram. Berkali-kali dia pun mengedipkan matanya. Sekilas tampak Jessica menampilkan senyum terindahnya. Tanpa berpikir panjang, Argha segera berdiri dan mendekati kursi Jessica. Secepat kilat dia mengangkat tubuh Jessica ala-ala bridal style. Sejurus kemudian, dia membawa Jessica pergi.


Dengan masih tersenyum simpul, Jessica semakin mendekatkan wajahnya di wajah mantan kekasihnya. Harum napas milik Argha semakin membuainya untuk lebih mendekat lagi. Bibir Jessica mulai menyentuh bibir mantan kekasihnya, mengulumnya pelan dengan penuh kelembutan.


Menyadari sentuhan di bibirnya, Argha pun mulai membalas ciuman Jessica. Selama perjalanan menuju kamar hotel yang telah disiapkan, tak ada satu pun dari mereka yang berniat melepaskan pagutannya. Hingga ciuman lembut pun berubah menjadi liar. Merasa mulai kehabisan napas, Argha melepaskan ciumannya.



Jessica menatapnya sendu, “Ar, apa kita akan melakukannnya ?"


Bersambung....

__ADS_1


Jangan lupa like vote n komennya...


makacih.... 😘😘


__ADS_2