
Gintani terbangun saat napasnya mulai terasa sesak akibat beban yang menindihnya. Saat dia membuka matanya, dia melihat tangan kekar itu sedang memeluknya erat. Gintani berusaha melepaskan diri dari belitan tangan itu. Dia kemudian pergi ke kamar mandi untuk berwudhu. Waktu menunjukkan pukul 03.45, Gintani berniat untuk melakukan solat tahajud.
Selepas solat, dia mulai melantunkan ayat-ayat suci Al-Quran dengan suaranya yang sangat merdu. Cukup lama dia mengaji, hingga dia merasakan sesak menghimpit dadanya. Tanpa terasa, air mata pun mulai meleleh di pipinya.
Jauh di lubuk hatinya, dia berharap akan sebuah pernikahan yang bisa dia jalani hingga waktu napasnya berhenti. Namun harapan itu sirna saat sang calon suami yang kini telah sah menjadi suaminya, menyodorkan sebuah surat perjanjian. Ada apa dengan satu setengah tahun? Kenapa harus satu setengah tahun? Jika dia tidak bisa menghargai perjodohan ini, lalu kenapa dia harus menerimanya? Gintani pun mulai terisak pelan untuk menumpahkan segala isi hatinya.
(Di Kamar.)
Dinginnya malam mulai mengusik Argha. Sejenak dia berbalik untuk mencari kehangatan dari gadis yang dipeluknya saat matanya mulai terpejam. Kosong, Argha tak merasakan apa pun di sampingnya. Seketika dia membuka matanya saat menyadari istrinya tak barada di sisinya.
"Gintan....!" gumam lirih Argha.
Argha hendak berteriak, namun sayup-sayup dia mendengar isak tangis seseorang dari ruang keluarga. Argha segera bangkit untuk melihatnya. Perlahan dia membuka pintu kamarnya. Dari celah pintu yang terbuka, Argha bisa melihat Gintani tengah menangis sesenggukan seraya menyandarkan punggungnya ke dinding. Wajahnya terlihat mendongak ke atas dengan mata yang tertutup. Namun air mata terus membanjiri pipinya.
Sakit...., entah kenapa hati Argha merasa sakit melihat semua itu. Namun karena sifat arogannya yang telah mendarah daging, dia pun kembali menutup pintu kamarnya. Argha kembali merebahkan dirinya di atas kasur. Rasa kantuknya hilang setelah melihat pemandangan duka di ruang keluarga tadi.
(Di ruang keluarga.)
__ADS_1
Puas menangis, Gintani pun melepaskan mukenanya. Dia segera pergi ke dapur untuk melakukan kegiatan sehari-harinya. Berkutat dengan pekerjaan rumah tangga, tanpa terasa azan subuh mulai berkumandang dari surau yang tak jauh dari rumahnya. Gintani segera pergi ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.
Selepas mandi, dia kemudian pergi ke kamarnya untuk berganti pakaian. Awalnya, Gintani hanya ingin mengambil pakaian dan mengenakannya di kamar lain. Namun karena dilihatnya suaminya tengah terpejam, Gintani pun memutuskan untuk berganti pakaian di kamarnya.
Satu per satu, Gintani mulai melepaskan pakaiannya hingga tubuh polosnya terekspos sempurna. Kemudian dia mulai mengenakan pakaian dalamnya. Dia mengangkat sebelah kakinya dan menumpukan nya di kursi meja riasnya. Gintani sedikit membungkukkan badan untuk mengoleskan lotion di kakinya. Selesai dengan kaki kanan, dia mengangkat kaki kirinya dan melakukan hal yang sama. Tanpa dia sadari, seseorang dari balik selimut harus menelan salivanya karena melihat keindahan makhluk ciptaan Tuhan yang bernama wanita.
Junior nya mulai menegang untuk meminta hak nya. Namun Argha hanya mampun mengelusnya dan menyuruhnya bersabar. Ingat Na ... ingat Na ..., cukup sekali kamu melakukan kesalahan. Jangan sampai Na membenci kita karena kamu mengkhianati nya, gumam Argha dalam hati. Meski matanya telah berembun karena kabut gairah.
Selesai dengan ritualnya, Gintani pun mengenakan pakaiannya. Dia teringat akan luka yang masih terasa perih di punggungnya. Gintani kemudian mengambil salep yang tergeletak di atas nakas. Dia membalikkan badannya seraya melirik cermin. Gintani berusaha untuk mengobati luka itu sendiri. Namun berkali-kali dia gagal menjangkaunya. Saat dia mulai menyerah, dia melihat bayangan Argha telah berdiri di depan cermin. Sejenak, Gintani terpaku melihat wajah bangun tidur Argha yang masih terlihat tampan.
Tanpa mengeluarkan sepatah kata pun, Argha segera membalikkan tubuh Gintani hingga menghadap cermin. Argha menyibakkan pakaian yang dikenakan Gintani lebih lebar lagi. Tangannya mulai membuka pengait kacamata hitam berenda yang menghalangi luka di punggung Gintani. Dia kemudian mulai mengoleskan salep di luka itu. Setelah selesai, Gintani hendak membenarkan pakaiannya, namun tangan jahil Argha segera menahannya.
Gintani memejamkan matanya saat mulai merasakan hawa panas yang keluar dari bibir suaminya. Gelanyar aneh mulai menjalari sekujur tubuhnya. Terlebih lagi saat tangan nakal itu mulai menyusuri punggungnya. Tanpa sadar Gintani pun me-re-mas pakaian depan yang sedang di peluknya.
Tak ingin terhanyut dalam sebuah permainan yang akan disesalinya, Gintani mencoba memberanikan diri untuk membuka matanya. Dia menatap Argha dari kaca cermin yang berada di hadapannya.
"Cukup tuan ! Jangan perlakukan aku seperti ini ! Aku tahu aku sudah tak memiliki harga diri lagi. Tapi aku bukan boneka yang bisa kamu mainkan sesuka hatimu. Satu setengah tahun, aku akan menjadi istri bagimu. Namun hanya istri cadangan sebelum kau menemukan istri yang sesungguhnya bagimu !" ucap dingin Gintani.
__ADS_1
Argha terhenyak mendengar perkataan Gintani. Dia segera membalikkan tubuh Gintani sehingga posisi mereka saling berhadapan.
"Apa maksudmu ?" tanya Argha, heran.
"Aku rasa, anda lebih mengerti dari apa yang bisa aku mengerti," jawab Gintani seraya membenahi pakaiannya dan segera pergi dari hadapan suaminya.
"Tolong bersabarlah !" pinta Argha parau.
Gintani menghentikan langkahnya. Masih dengan mode saling memunggungi, Gintani pun menjawab ucapan tak masuk akal suaminya.
"Mungkin memang tidak pernah ada cinta dalam pernikahan kita. Namun istri mana yang sanggup mendengar suaminya menggumamkan nama orang lain dalam tidurnya. Jadi aku mohon, jangan perlakukan aku layaknya seorang istri. Karena aku tidak akan sanggup menjalani waktu satu setengah tahun dengan cara seperti itu. Jangan membuat aku merasa dicintai dengan semua sikap lembutmu, aku menyadari posisiku yang hanya sekedar istri cadangan."
Setelah puas mengutarakan isi hatinya. Gintani pun pergi meninggalkan Argha yang sedang terpaku mendengar semua ucapan Gintani.
Kini, batin Argha tersiksa di antara wanita yang nyata istrinya dan bayangan gadis kecilnya. Melihat bagian tubuh polos Gintani, membuat Argha tak kuasa untuk menahan gairahnya. Aroma tubuhnya seolah menjadi candu baginya. Ingin rasanya Argha menjadikan dia ratu di singgasana hatinya. Namun janjinya terhadap gadis kecil itu, membuat Argha harus bersikap angkuh dan mengingkari perasaannya.
Bersambung....
__ADS_1
Jangan lupa like vote n komennya yaaa
Makasih....