Takdir Gintani

Takdir Gintani
Bersama Om Alex


__ADS_3

Putri mengerjapkan matanya. Dia melihat ke arah dua orang dewasa yang tengah bercakap-cakap itu.


"Mama," ucap Putri, lirih.


Gintani terhenyak, sejurus kemudian, dia menghampiri Putri dan duduk di kursi samping ranjang.


"Kamu sudah bangun, Nak?" ucap Gintani, mengusap lembut rambut putrinya.


Putri berusaha untuk tersenyum agar mamanya tidak merasa cemas.


"Iya, Ma," jawab Putri.


"Apa Putri mau minum?" tawar Gintani.


Putri mengangguk. Gintani kemudian mengambil air minum di atas nakas dan memberikannya kepada Putri. Setelah minum, Putri pun menyandarkan punggungnya pada sandaran ranjang.


"Ma, Putri mau pulang," pinta Putri pada ibunya.


Gintani terkejut. "Tapi Putri masih sakit, kata om dokter, Putri harus menginap dulu di rumah sakit," jawab Gintani.


"Putri enggak mau, Ma. Putri mau pulang!" Putri mulai merengek pada ibunya.


Gintani menatap Alex. Sejurus kemudian, Alex mengangguk dan mendekati Putri.


"Putri Sayang, untuk malam ini saja, Putri mau, ya, tidur di sini!" bujuk Alex.


"Tapi Putri enggak betah, Om," jawab Putri.


"Om tahu, siapa pun pasti tidak akan betah menginap di rumah sakit. Tapi, Putri harus mau ya, semua ini demi kebaikan Putri juga. Apa Putri mau, demam Putri kambuh pada saat Putri berada di rumah? Nanti, siapa yang akan mengobati. Mama dan Uteng Mina, 'kan, bukan dokter," ujar Alex.


Putri terdiam.


"Om janji, Om akan temani Putri bobo di sini," lanjut Alex.


Senyum tipis pun terukir di kedua sudut bibir Putri yang mungil.


"Baiklah, Putri mau tidur di sini. Tapi, Om harus janji, Om bakalan temenin Putri tidur," ucap Putri.


"Janji!" kata Alex mengacungkan jari kelingkingnya.


Putri pun menautkan jari kelingking kecil miliknya. Mereka akhirnya tertawa dan saling berpelukan.


🍀🍀🍀

__ADS_1


Argha tiba di rumah nin Ifah, saat malam mulai semakin larut. Setelah membersihkan dirinya sejenak, Argha pun merebahkan tubuhnya. Matanya menerawang melihat langit-langit kamar.


"Baiklah, langkah pertama yang harus aku lakukan adalah meyakinkan Gintani tentang ikatan pernikahan ini yang masih sah di mata hukum. Aku harus bisa mengembalikan kepercayaan Gintani dan membuatnya kembali menerimaku. Bagaimanapun juga, ada Putri yang menjadi pengikat di antara kami berdua. Setelah Gintani kembali padaku, pelan-pelan Aku akan menjelaskan pada Putri tentang siapa aku yang sebenarnya. Ah, Putri ... Gadis kecilku ... Papa janji sayang, setelah mama menerima Papa kembali, Papa tidak akan meninggalkan kalian lagi," gumam Argha.


Argha yakin, hari itu pasti akan tiba. Hari di mana dia akan kembali merengkuh kebahagiaan bersama istri dan anaknya. Tunggu Papa, sayang. Papa pasti akan membawa kalian ke rumah kita, batin Argha.


Asyik melamun, Argha pun mulai terbuai ke alam mimpinya. Rasa lelah yang mengungkungnya membuat matanya semakin berat. Argha pun terpejam untuk melepaskan lelahnya.


🍀🍀🍀


Keesokan harinya, di rumah sakit.


"Apa Abang tidak kerja hari ini?" tanya Gintani pada Alex yang baru keluar dari kamar mandi.


"Hari ini abang cuti. Putri pulang, dan Abang sudah janji akan bermain dengannya," jawab Alex.


Gintani tersenyum. "Maafkan Putri, ya, Bang. Akhir-akhir ini dia selalu rewel dan selalu minta ditemani oleh laki-laki dewasa. Seminggu yang lalu, dia minta ditemani mas Heru, sekarang, Abang," ucap Gintani.


"Tidak apa-apa, Tan. Mungkin karena emang Putri membutuhkan figur seorang ayah. Maklumlah, anak seusia dia sedang masanya untuk segala ingin tahu," ucap Heru.


"Selamat pagi, semuanya!"


Tiba-tiba percakapan mereka terhenti dengan kehadiran seorang perawat yang memasuki kamar Putri.


"Eh, pagi Sus," jawab Gintani dan Alex berbarengan.


Gadis kecil itu mengangguk dan membiarkan perawat itu memeriksa tubuhnya.


"Begini, Bu. Sebenarnya hari ini Putri sudah diizinkan pulang. Tapi nanti, ya, tunggu visit dokter terlebih," ucap perawat itu.


"Kira-kira, visit dokternya jam berapa, Sus?" tanya Alex.


"Sekitar jam 10, Pak," jawab perawat itu.


"Baiklah," ucap Alex.


Setelah selesai memeriksa Putri, akhirnya perawat itu pergi.


Gintani mulai membereskan barang-barang. Sedangkan Alex menemani Putri bercerita. Beberapa jam berlalu, visit dokter yang dinantikan pun akhirnya datang juga. Setelah melewati beberapa pemeriksaan, akhirnya Putri diizinkan pulang oleh dokter muda tersebut


"Apa Om Alex ikut ke rumah Putri?" tanya Putri di tengah jalan.


"Tentu saja, Sayang. Bukankah kita akan diantarkan oleh mobilnya Om Alex juga," jawab Gintani.

__ADS_1


"Bukan begitu. Maksud Putri, apa Om Alex mau menemani Putri di rumah?" Putri mengulang pertanyaannya.


"Iya, Nak. Hari ini Om cuti kerja khusus buat kamu. Nanti begitu sampai di rumah, kita akan main sepuasnya. Dengan catatan, permainannya jangan dulu melakukan permainan fisik, ya! Yang ringan-ringan saja. Putri, 'kan baru sembuh," ucap Alex.


"Yeaay.. !" Putri bersorak gembira. "Kita main monopoli ya, Om!" pinta putri.


Alex mengangguk. Dia kembali mendorong kursi roda dan membawa Putri ke luar lobi rumah sakit. Tiba di lobi, Alex menyuruh Gintani dan Putri menunggu di depan lobi, sedangkan dia sendiri pergi ke tempat parkir untuk mengambil mobilnya.


Sepuluh menit kemudian Alex tiba di depan mereka. Alex segera membantu Gintani menggendong Putri dan memasukkannya ke dalam mobil. Setelah itu, dia membuka pintu depan untuk Gintani. Dan kembali mengelilingi mobil untuk membuka pintu kemudi. Setelah menyalakan mesin mobilnya, Alex pun mulai melajukan mobilnya.


Jalanan terlihat lengang. Tak membutuhkan waktu sejam, Alex pun tiba di rumah Gintani. Setelah membantu Putri turun dari mobilnya, Alex pergi ke dapur untuk meminta makanan kepada Mina.


"Tolong kamu siapkan makan siang untuk Putri ya Min?" pinta Alex pada pengasuhnya putri.


"Iya, Pak," jawab mina.


Setelah itu, Alex kembali ke kamar Putri. Tiba di sana, dia melihat Putri sedang menggelar mainan monopoli di atas kasurnya. Alex pun menghampiri Putri.


"Hei, kok putri Om sudah menggelar mainan seperti ini. Apa enggak sebaiknya istirahat dulu, Sayang?" tanya Alex penuh kelembutan.


Putri mendongak. Dia tersenyum ke arah Alex. "Putri bosan tiduran terus, Om. Lebih baik Putri main monopoli saja, biar kepala Putri enggak pusing," jawab Putri.


Alex tersenyum, dia kemudian duduk di hadapan Putri. "Memangnya Putri enggak sakit kepala?" tanya Alex


"Enggak Om, Putri sudah baikan, kok. Ayo main! Ajak Putri.


Alex tersenyum, dia pun mulai mengikuti permainan monopoli tersebut. Alex bermain monopoli sambil sesekali tangannya menyuapi Putri hingga makanan yang dia minta dari Mina tadi siang, ludes dimakan Putri. Alex tersenyum, dia kemudian meraih obat Putri di atas nakas. Kemudian menyuapi Putri meminum obatnya.


Hari terus merangkak, tanpa terasa kumandang azan dzuhur mulai terdengar. Gintani segera menyelesaikan pekerjaannya. Dia ingat jika Putri belum makan siang.


Gintani kemudian pergi ke dapur untuk mengambil makanan.


"Untuk siapa, Nya? tanya Mina yang heran melihat ulah majikannya.


"Untuk Putri, Min," jawab Gintani.


"Mohon maaf Nya, tadi pak Alex sudah membawakan makanan untuk Putri. Mungkin saat ini dia sedang menyuapi Putri," jawab Mina


Gintani mengernyit, sejurus kemudian dia meletakkan kembali piringnya ke atas meja makan. Setelah itu, Gintani melangkahkan kakinya menuju kamar Putri.


Begitu Gintani membuka pintu, dia tampak terkejut dengan penampakan Putri yang tengah tertidur di atas dada bidangnya Alex. Tanpa terasa, air mata mulai menetes di kedua pipi Gintani


Mungkin dia memang sangat merindukan sosok seorang ayah dalam hidupnya. Ya Tuhan ... Apa yang harus aku lakukan?

__ADS_1


Bersambung


Jangan lupa, like, vote n komennya yaa 🤗🙏


__ADS_2