
"Ayo pergi!" ajak Argha, menarik tangan Gintani.
"Tidak! Tunggu Kakak! Aku bisa menjelaskan semuanya! Aku tidak pernah pergi darimu. Tapi mereka...mereka yang memaksa aku untuk pergi meninggalkan kamu. Aku mohon, beri aku kesempatan untuk menjelaskan alasannya, Kak. Aku mohon!"
Ilona mengejar Argha dan menghalangi langkah Argha dengan merentangkan kedua tangannya. Namun Argha tak menggubrisnya. Dia tetap menggandeng tangan Gintani dan mempercepat langkahnya untuk menghindari Ilona.
"Kakak! Aku mohon dengarkan aku dulu! Beri aku kesempatan untuk berbicara, aku mohon!" Ilona masih terus berteriak-teriak menghentikan langkah kaki Argha.
"Mas!" panggil Gintani, lirih.
Argha menghentikan langkahnya. Dia menatap Gintani.
"Bicaralah! Mungkin ada hal yang penting yang ingin dia sampaikan." Entah mendapat keberanian dari mana hingga Gintani sanggup berkata seperti itu.
"Kita sudah sangat terlambat, Gin. Aku tidak ingin membuang waktuku lagi," jawab Argha dengan napas yang memburu karena emosi.
"Mas, aku mohon! Apa kamu ingin, kita jadi pusat perhatian? Apa kamu tidak lihat, jika orang-orang sedang memperhatikan kita sekarang?"
Argha mengedarkan pandangannya. Memang benar apa yang dikatakan Gintani. Semua orang yang berada di lobi sedang menatap kepo ke arah mereka. Argha mendengus kesal, hingga akhirnya dia membalikkan badan untuk menunggu Ilona mendekatinya.
Dengan napas terengah-engah, Ilona berdiri di hadapan Argha.
"Waktumu lima menit, bicaralah!" ucap Argha masih dengan nada dinginnya.
Ilona menatap Gintani.
Mengerti arti tatapan wanita itu, Gintani pun segera melepaskan tangannya. "Mas, aku ke dalam dulu!" izin Gintani.
"Tunggu, Gin! Kita pergi sama-sama."
"Tapi, Mas!"
"Diamlah!" titah Argha, kembali meraih tangan Gintani dan menggenggamnya dengan erat. "Katakan! Apa yang ingin kamu bicarakan?"
"Bisakah kita bicara empat mata, saja?" pinta Ilona.
"Dia istriku, dan dia berhak tahu apa yang ingin kamu sampaikan padaku," jawab Argha masih dengan nada dinginnya.
Ilona menghela napas. Dia kemudian membuka resleting tas selempangnya. Ilona meraih ponsel, mengotak-atiknya sebentar, kemudian menyerahkan ponsel itu kepada Argha.
Argha menatap Gintani, meminta izin. Gintani pun mengangguk, sebagai jawaban atas tatapan suaminya.
__ADS_1
Argha meraih ponsel itu. Bola matanya membulat sempurna saat melihat foto Ilona yang tengah terbaring di rumah sakit dengan kain kasa yang membalut sebagian wajahnya.
"A-apa ini?" tanya Argha.
"Lihatlah semua fotonya!" jawab Ilona.
Argha menggulir foto-foto yang berada di galeri ponsel itu. Bahunya bergidik saat mendapati foto yang memperlihatkan sebagian wajah Ilona yang melepuh seperti mengalami luka bakar.
"Apa yang terjadi? Ada apa dengan semua ini? Katakan padaku, apa yang sebenarnya terjadi padamu? Apa kau mengalami kecelakaan?"
"Bukan kecelakaan, Kak! Tepatnya, sengaja dicelakai!" jawab Ilona, sinis.
"Mas, sebaiknya kita bicara di tempat tertutup. Tidak enak dilihat orang-orang yang lalu lalang," usul Gintani.
Argha yang paham dengan ucapan Gintani, segera meminta Bram untuk menyiapkan private room. Lima menit menunggu, akhirnya Bram membawa mereka ke ruangan yang telah direservasi.
Untuk sejenak, hanya keheningan yang terjadi di antara mereka. Sebenarnya, Gintani merasa canggung dan tidak ingin berada di ruangan ini. Namun Argha tak sedetik pun melepaskan tangan Gintani.
"Bicaralah!" perintah Argha.
Brugh!
Tiba-tiba, Ilona berlutut di depan kaki Argha.
Ilona menghentikan ucapannya dan mulai mengatur napas karena isak tangisnya membuat dadanya sedikit terasa nyeri.
"Dia? Siapa dia? Dan apa maksud semua ucapan kamu?" teriak Argha, geram.
Gintani mengelus-elus pundak suaminya untuk meredakan amarah sang suami. "Sabar, Mas!" ucap Gintani.
"Di...dia...menyiram wajahku dengan air raksa. Wanita kejam itu telah membuat wajahku cacat, Kak...hu...hu...hu...." Tangis Ilona pecah seketika saat mengingat kembali kejadian buruk yang menimpanya.
Argha, Gintani dan Bram sangat terkejut mendengar pengakuan Ilona.
"Siapa? Siapa wanita itu? Katakan padaku? Siapa yang telah berani mencelakai kamu?" teriak Argha seraya mengguncang-guncang kedua bahu Ilona. Matanya memerah penuh dengan amarah.
"Mas, bersabarlah!" ucap Gintani mencoba menenangkan suaminya.
"Diam kamu! Jangan ikut campur urusanku! Bagaimana mungkin aku bisa sabar jika ada orang yang sudah mencelakai Na!" bentak Argha, kasar.
Gintani terkesiap, dia tidak menyangka jika reaksi suaminya akan semarah itu. Bahkan, Argha tega membentak dirinya. Sakit! Rasanya sakit sekali mendapatkan bentakan suami tepat di depan orang yang mencintai suaminya. Apa mungkin, Mas Argha masih memiliki perasaan pada gadis itu?
__ADS_1
Gintani beringsut, dia pun kembali membatasi diri untuk tidak terlalu ikut campur.
"Katakan, Na! Katakan siapa orang yang sudah menyakitimu!" teriak Argha semakin kalap.
"Je... Jessica...! Di-dia yang sudah menyiram wajahku dengan air raksa, Kak."
"Damn!" Argha segera berdiri. Tanpa banyak bicara, dia pun mulai berlari keluar dari ruangan itu.
"Mas! Tunggu!" Gintani berlari menyusul Argha keluar.
Bram menatap Ilona penuh iba. Entah apa yang dia rasakan, namun sejujurnya, dia merasa prihatin atas nasib Ilona.
"Jadi inilah kebenarannya, Na? Inilah alasan yang membuat kamu pergi begitu saja. Apa kamu tahu, jika perasaanku begitu hampa tanpamu? Apa kamu tahu jika Argha juga sangat terluka karena kepergian kamu? Lalu sekarang, kenapa kamu baru kembali sekarang, Na? Di saat aku dan Argha mulai terbiasa hidup tanpamu. Kenapa harus kembali di waktu yang tidak tepat, Na? Argha telah menikah, aku mohon, jangan pernah mengganggu pernikahan mereka!" pinta Bram.
"Tapi aku masih mencintainya, Kak! Dari dulu sampai detik ini, perasaanku masih tetap sama. Aku selalu menjaga kesucian cintaku untuk kak Argha. Kenapa kak Argha tidak pernah bisa menungguku? Kenapa dia harus menikah, Kak? Kenapa dia mengkhianati aku?" ratap Ilona.
"Itu bukan salahnya, Na! Itu bukan salahnya!Kanu yang telah pergi meninggalkannya. Kamu pergi di saat dia mulai membuka pintu hatinya untukmu. Apa kamu tahu, jika malam itu Argha telah menyiapkan dinner spesial untukmu? Meski hatiku sakit, tapi aku ikhlas menerimanya. Karena aku tahu, Argha mencintai kamu dengan tulus. Malam itu dia menunggumu, Na! Dalam derasnya guyuran air hujan, dia tetap menunggumu di meja itu. Dia telah menyiapkan dinner khusus untuk melamar kamu. Tapi, malang sekali nasibnya. Sekali lagi, dia harus kehilangan rasa cinta itu. Aku benar-benar tidak tahu harus berbicara apa. Tapi, sebagai seorang sahabat, aku hanya bisa memberimu saran, lupakan Argha, Na! Biarkan dia meraih kebahagiaan bersama istrinya. Argha yang sekarang, bukanlah milikmu lagi, Na!"
"Tidak! Aku tidak mau! Kak Argha masih mencintaiku. Aku yakin Kak Argha masih sangat mencintai aku!" teriak Ilona.
"Itu dulu, Na! Sekarang semuanya telah berubah. Aku bisa melihat jika Argha sangat mencintai istrinya. Jadi aku mohon, jangan pernah muncul lagi di hadapan mereka!"
"Tidak! Dia hanya milikku! Kak Argha hanya milikku! Akan aku pastikan, kalau aku bisa merebut kembali apa yang seharusnya menjadi milikku!"
Braakk!
Ilona keluar seraya membanting pintu ruangan itu.
Bram tertegun melihat sikap Ilona yang telah berubah. Tidak ada lagi tatapan teduh di matanya. Yang ada hanyalah sebuah ambisi dan obsesi.
Lindungi pernikahan mereka, Tuhan...
Bersambung....
Hai kakak-kakak readers sekalian. Othor ucapkan ribuan terima kasih karena berkenan mampir di karya recehan ini. Semoga like, vote dan komentar readers sekalian, menjadi sebuah amalan kebaikan. Othor hanya mampu mengucap ribuan terima kasih, biarlah Tuhan yang akan membalas semua kebaikan anda dengan ribuan kebaikan kembali....
Makasih...
Makasih...
Makasih...
__ADS_1
Love you all.... 😘🙏🤗